Jalan Gerhana

Hari ini aku pulang tengah malam lagi. Ya, ini memang menye­balk­an. Di kam­pus­ku, masa ori­en­ta­si (ali­as OSPEK ali­as per­pe­lon­co­an ali­as kade­ri­sa­si ali­as lega­li­zed bully) ter­ja­di sela­ma satu tahun. Coba kali­an bayangk­an itu! Memang, tidak benar-benar satu tahun non-stop, tapi hanya pada hari-hari ter­ten­tu saja, ter­u­ta­ma malam sab­tu seper­ti seka­rang. Jangan tanya bagai­ma­na cara­nya kegi­at­an itu bisa dia­dak­an di kam­pus sam­pai tengah malam, mere­ka punya seri­bu satu cara—tidak benar-benar seri­bu satu sih, mung­kin sepu­luh atau lima belas, tapi itu sudah cukup banyak—untuk meng­um­pulk­an kami di ruang ter­tu­tup, lalu mema­ra­hi dan mema­ki-maki kami. Untungnya, kami tidak disu­ruh mema­kai paka­i­an yang aneh-aneh, kami hanya dibe­ri PR mem­bu­at sesu­a­tu, dan kalau kami gagal atau salah, habis­lah kami. Kalau kami sam­pai disu­ruh mema­kai dan­dan­an aneh-aneh dan disu­ruh pulang tengah malam begi­ni, aku tak bisa Continue rea­ding Jalan Gerhana

Suara-Suara Kirana

Aku tidak tahu, sebe­ra­pa sering pada umum­nya manu­sia mela­kuk­an mono­log. Pada saat mela­mun sen­di­ri­an, pada saat mera­sa bos­an, atau saat kese­pi­an. Manusia kadang ber­bi­ca­ra pada diri­nya sen­di­ri. Bentuk pem­bi­ca­ra­an itu sering­ka­li ber­u­pa intros­pek­si, dan kadang juga ber­u­pa per­ten­tang­an batin yang dihi­a­si oleh kera­gu­an. Tapi seta­hu­ku, sema­kin sering seo­rang manu­sia mela­kuk­an hubung­an sosi­al dengan orang lain, sema­kin sedi­kit wak­tu yang ia punya untuk mela­kuk­an monolog—meskipun tak menu­tup kemung­kin­an untuk mela­kuk­an dia­log dan mono­log pada saat yang ber­sa­ma­an. Aku yakin kali­an yang mem­ba­ca tulis­an ini juga suka mela­kuk­an mono­log.

Aku ada­lah Continue rea­ding Suara-Suara Kirana

Airen, Ada Hadiah

Perempuan can­tik itu ter­ge­le­tak tak ber­da­ya di hada­pan­ku, baru bebe­ra­pa menit yang lalu ia menu­tup mata dan meng­a­khi­ri hidup­nya. Kini, hanya ada aku dan tubuh per­em­pu­an itu di dalam bangun­an ter­beng­ka­lai ini. Garis-garis caha­ya mata­ha­ri dari luar menem­bus sela-sela kayu atap bangun­an yang seo­lah akan rubuh. Ada banyak bayang­an yang jatuh di seki­tar kami. Ruangan itu cukup luas, namun tak ada sua­ra apa­pun sela­in ber­at­nya hem­bus­an nafas­ku dan sua­ra detak jan­tung yang tak per­nah melam­bat sedi­ki­tpun.

Kupeluk tubuh per­em­pu­an itu. Ia, per­em­pu­an yang paling aku cin­tai, kini ber­a­da dalam deka­pan­ku, dingin dan ber­sim­bah darah. Tanganku juga Continue rea­ding Airen, Ada Hadiah

Sebuah Film Berjudul Sin

 

Sepulang kuli­ah sore ini, aku ber­hen­ti di sebu­ah ren­tal DVD yang tidak begi­tu ter­ke­nal di dekat tem­pat kost-ku: Dwi Mitra DVD. Aku rasa pas­ti ada­lah ide yang bagus untuk meng­ha­bisk­an hari libur dengan menon­ton film. Walau tem­pat ren­tal ini tidak ter­li­hat besar, tapi har­ga sewa­nya sangat murah, dan tidak per­lu men­daf­tar men­ja­di ang­go­ta sega­la. Sudah cukup sering aku menye­wa film di tem­pat ini, dan aku menya­da­ri kalau keba­nyak­an film yang dise­wak­an di sini ada­lah kopi bajak­an. Tidak masa­lah buat­ku.

Tok! Tok!

Aku meng­e­tuk pin­tu­nya sam­bil masuk ke dalam, rupa­nya sedang sepi, cuma Continue rea­ding Sebuah Film Berjudul Sin

Momentum

Cerpen ini dibu­at untuk event Tantangan di Kemudian, pada tahun 2008

Schnee

Salju itu hing­gap di kelo­pak mata­nya. Basah. Andra ber­di­ri di sam­ping­ku sam­bil meme­gang kame­ra­nya, sese­ka­li mem­ber­sihk­an salju yang menem­pel pada ben­da kesa­ya­ngan­nya itu. Hari ini ada banyak objek lagi yang ingin ia ama­ti, tapi ia ter­li­hat agak lelah siang ini. Kulit wajah­nya mulai ter­li­hat pucat seper­ti orang-orang­an salju. Aku meng­eng­gam tangan­nya dan meng­a­jak ia ber­te­duh di teras rumah kami yang mungil. Semburat senyum tenang mere­kah di bibir­nya sam­bil ber­la­ri kecil meng­i­ku­ti lang­kah­ku. Aku ter­ta­wa Continue rea­ding Momentum

Setan Ondel-Ondel

 

Hari itu, sete­lah pulang seko­lah aku per­gi meng­a­ji seper­ti bia­sa­nya. Pak Ustadz mema­ra­hi­ku kare­na belum bisa meng­ha­pal Ayat Kursi dan surat Al-Falaq. Menyebalkan seka­li, aku kan anak kecil, masa dima­ra­hi seper­ti itu? Tapi aku pulang meng­a­ji dengan per­a­sa­an senang, aku ingat masih punya main­an baru, hadi­ah ulang tahun dari Papa.

Sesampainya di rumah, aku sege­ra ber­ma­in dengan main­an itu: sebu­ah robot-robot­an Gundam yang tam­pak keren seka­li. Di sam­ping­ku duduk Ahmad, sepu­pu­ku yang usi­a­nya dua tahun lebih tua dari­ku, saat pulang meng­a­ji tadi ia Continue rea­ding Setan Ondel-Ondel

Robert Langdon Goes To Indonesia

Perhatian: Cerpen ini ada­lah paro­di dari novel Da Vinci Code. Khusus bagi yang per­nah mem­ba­ca novel ter­se­but.

CHAPTER 1

Cuaca tam­pak men­dung keti­ka lela­ki tamp­an itu turun dari pesa­wat sam­bil meli­hat- lihat seki­tar ban­da­ra Soekarno-Hatta. Ini ada­lah per­ta­ma kali­nya ia meng­in­jakk­an kaki­nya di Republik Indonesia semen­jak bebe­ra­pa tahun yang lalu saat ia meng­a­dak­an pene­li­ti­an di Bali. Ia tam­pak bingung, men­ca­ri- cari orang yang ber­jan­ji akan men­jem­put­nya. Ia tidak tahu orang itu seper­ti apa, ia bahk­an tak tahu masa­lah seper­ti apa yang telah mem­ba­wa­nya ke sini. Sesuatu yang sangat besar, pas­ti­nya.

Seminggu yang lalu ia mene­ri­ma sebu­ah paket kilat dari seo­rang yang menye­but diri­nya Guru. Ia meme­rik­sa ala­mat­nya, dan ter­nya­ta ber­a­sal dari Jakarta, Indonesia. Paket itu ber­i­si sebu­ah gam­bar bin­tang ber­su­dut lima, atau pen­ta­kel. Sesuatu yang amat mem­pe­so­na pikir­an aka­de­mis­nya. Ia pun Continue rea­ding Robert Langdon Goes To Indonesia

Selfi Yang Bodoh

Hari ini ada­lah hari pem­ba­gi­an rapor di kelas­ku. Kami duduk di ruang kelas sam­bil menung­gu dengan hati yang ber­de­bar-debar. Beberapa murid tam­pak men­co­rat-coret buku­nya dengan geli­sah, semen­ta­ra seba­gi­an yang lain ada pula yang tam­pak tidak pedu­li. Aku sen­di­ri, aku tak begi­tu pedu­li dengan nilai. Bagiku nilai ada­lah sebu­ah opi­ni, aku tak harus sela­lu setu­ju dengan opi­ni wali kelas­ku, buk­an? Ketidakpedulianku ini ada­lah gara- gara Selfi, tem­an seke­las kami yang baru saja per­gi mening­galk­an kelas ini.

Baiklah, biar kuce­ri­tak­an ten­tang Selfi. Selfi ada­lah seo­rang gadis manis yang Continue rea­ding Selfi Yang Bodoh

Unggas

Malam itu, di sebu­ah kota meng­a­pung yang men­ja­di pusat per­a­dab­an, Ciko meng­hem­pask­an tubuh­nya pada sebu­ah selok­an. Manusia malang yang men­ja­di buron­an poli­si inter­na­sio­nal itu hanya bisa diam sam­bil meli­hat ke langit. Ia sese­ka­li meri­ngis menah­an rasa sakit sam­bil meme­ga­ngi lengan­nya yang ber­sim­bah darah kare­na ter­se­rem­pet pelu­ru. Ia nya­ris saja mati ter­tem­bak. Kalau saja pelu­ru itu tidak mele­set, pas­ti sudah menem­bus kepa­la­nya.

Ia bangun ber­di­ri. Sambil meng­en­dap-ngen­dap ia ber­ge­rak menyu­su­ri Continue rea­ding Unggas