Pahlawan Farfar

Kabar Farfar
Artikel: Pahlawan Saja Tidak Cukup

Dua hari yang lalu, selusin setan hitam muncul di perempatan Jl. Rosii, sebagaimana sehari sebelumnya mereka membuat kekacauan di Hotel Belfars dan melukai tiga orang tak berdosa. Tidak pernah sepanjang sejarah, Kota Farfar menghadapi serangan setan hitam sesering ini. Tentu saja, siapapun tahu, para setan hitam telah membuat kekacauan semenjak dua dekade lalu, semenjak Raja Setan Osimir membuat sarang di pulau tanpa nama yang terletak di seberang pantai kota ini. Namun semenjak saat itu juga, seorang pahlawan bertopeng berkekuatan super bernama Pyror selalu menolong kota ini dengan kemampuannya yang di luar akal manusia biasa: kekuatan dan kecepatan super, tombak api, atau melompat setinggi gedung. Selama itu Pyror selalu membuat kota ini aman, sementara polisi dan tentara lebih banyak berpangku tangan—entah karena ketidakmampuan atau kemalasan. Meskipun pujian dan penghargaan diberikan kepada dirinya, namun tak sekalipun ia meminta imbalan. Semenjak saat itulah, anak-anak kita tak perlu membeli komik lagi untuk sekedar melihat aksi pahlawan super.

Tiga bulan yang lalu, dalam sebuah konferensi pers, Pyror mengklaim bahwa ia telah menghancurkan sarang Osimir di pulaunya. Semua orang bersorak gembira. Namun ada satu hal yang kita lupa, bahwa Pyror tak menyebutkan apakah ia telah membunuh Osimir atau tidak. Beberapa minggu kemudian, segala jenis serangan setan hitam terhenti, dan kita mulai berpikir bahwa Osimir memang telah mati. Namun tak lama setelah itu, dugaan tersebut terbukti meleset, karena sepasukan setan hitam hampir selalu menyerang kota setiap harinya tanpa henti. Meningkatnya jumlah korban yang berjatuhan menandakan bahwa Pyror kewalahan untuk menghadapi mereka, sementara polisi juga tak banyak membantu. Apakah yang sebenarnya terjadi? Apakah Osimir yang masih hidup menjadi murka terhadap kota ini sehingga ia semakin sering mengirim pasukannya? Seandainya saja ada pahlawan berkekuatan super lainnya maka…. (Bersambung ke halaman 11)

Urel Karta meletakkan harian Continue reading Pahlawan Farfar

Satu: Dari Dalam Semangkuk Bubur

 

Cerita ini adalah bagian dari seri Wa Merah

Suara seorang perempuan berteriak-teriak dari ponselku, suaranya sangat berisik bagaikan sederet petasan yang meledak di malam lebaran, atau seperti kaleng rombeng yang dipukuli dengan gagang kayu; tak ada bedanya, malah mungkin lebih buruk lagi.

“…kamu tuh lama banget! Seenaknya aja kamu ninggalin Mama ngurusin adik kamu sendirian di sini? Mana adik kamu tuh rewelnya minta ampun! Kamu sengaja ya, kabur dari tanggung jawab?” suara itu Continue reading Satu: Dari Dalam Semangkuk Bubur

Dua: Dari Dalam Rekaman Itu

 

Cerita ini adalah bagian dari seri Wa Merah

Hari ini sebuah kartu memori berisi sekumpulan rekaman suara sampai di tanganku. Rekaman dalam bentuk memory card ini adalah benda penyingkap kebenaran yang ditemukan oleh anak buahku yang bertugas di lapangan, ditemukan di dalam sebuah puing-puing rumah setelah kejadian misterius yang menyebabkan satu desa terbakar habis tanpa sisa. Mereka bisa bilang ini adalah kegagalan kepolisian, atau kegagalanku karena akulah yang bertugas dalam kasus Desa Sirna Maya ini. Tapi aku tak peduli, asalkan aku bisa mengetahui kebenarannya, itu sudah cukup, bahkan seandainya karirku terancam karena telah ceroboh membiarkan satu desa terbakar dan membunuh sebagian besar warganya. Ini kasus langka, bahkan untuk ukuran internasional, ini tetap kasus langka yang Continue reading Dua: Dari Dalam Rekaman Itu

Tiga: Dari Atas Kursi Merah

 

Cerita ini adalah bagian dari seri Wa Merah

Dulu, sewaktu aku masih berumur lima tahun, aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Aku adalah anak tunggal, jadi tak ada yang menghalangi kasih sayang orang tuaku kepadaku. Kami bertiga hidup dalam kebersamaan yang erat. Kami makan bersama tiga kali sehari, sebab bagi kami makan bersama di meja makan adalah suatu keharusan. Ibu memasak di rumah, Bapak selalu menyempatkan pulang dari tempat kerjanya setiap jam dua belas siang, aku juga selalu ada di rumah, karena aku tidak sekolah. Pekerjaanku di rumah hanya sekedar bermain puzzle dan melihat buku cerita bergambar, sebab aku tak punya teman selain ibuku yang suka membacakan dongeng.

Pagi itu adalah hari minggu yang cerah, cahaya Continue reading Tiga: Dari Atas Kursi Merah

Requiem

09.05

Jam sembilan pagi, pengawas ujian datang. Aku tak menyangka kalau yang menjadi pengawas di ruang ujian kami adalah seorang pria muda yang terlihat seperti masih mahasiswa—mungkin ia kerja sambilan di bimbingan belajar ini. Walaupun sebagai sesama lelaki, aku bisa mengatakan bahwa wajahnya lumayan tampan, meski tubuhnya agak pendek untuk ukuran orang seumurnya. Ia mengenakan kemeja putih bergaris-garis coklat yang agak kusut, celana jeans biru yang warnanya sudah memudar, dan sepatu kets yang sepertinya sudah satu semester tidak dicuci. Meski begitu, tetap saja banyak teman-teman wanitaku yang berbisik-bisik genit ketika ia memasuki ruangan (mungkin itu karena kami sudah kelas tiga SMA, sehingga perbedaan umurnya tak terlalu jauh). Aku sendiri, hanya senang saja meperhatikan tingkah laku mereka.

Ia meletakkan tas ranselnya di bawah papan tulis dan meletakkan amplop coklat berisi lembar soal dan lembar jawaban di atas meja. Kemudian dia berdeham, memberi isyarat agar seisi kelas memperhatikannya.

“Tolong perhatikan, waktu kalian untuk mengerjakan soal, masing-masing satu jam tiap mata pelajaran. Yang sudah selesai boleh keluar lebih dulu, tapi dilarang berisik. Untuk nomor peserta dan nomor sekolah bisa dilihat di daftar hadir,” ia menunjukkan selembar kertas yang ada di tangannya, “ada pertanyaan?”

Aku sedang menyiapkan pinsil 2B ketika Silvia Continue reading Requiem

Bandung Lautan Zombi

Catatan: Cerita ini tidak atau belum diselesaikan

Prologue:
An Incompetent Truth

Bandung, 15 November 2012. Sebuah pabrik tahu di pinggiran kota Bandung yang bernama PT Berkah Jaya melakukan penelitian mengenai rekayasa genetika pada kacang kedelai yang memungkinkan manusia untuk merubah tahu menjadi daging. Dalam prosesnya, Berkah Jaya Research Department membuat sebuah laboratorium rahasia yang dibantu oleh pemerintah, di sebuah bangunan bawah tanah bersistem keamanan mutakhir di Kota Bandung. Pemerintah juga mensuplai berbagai jenis senyawa kimia dan tenaga-tenaga ahli baik dari dalam maupun luar negeri untuk menjalankan proyek ini. Proyek ini oleh pemerintah RI disebut dengan istilah “Koproll jauh ke depan”, yang melambangkan rencana pengembangan ekonomi pangan yang lebih baik di Indonesia, mengalahkan RRC. Proyek ini dirahasiakan dari dunia internasional, terutama Amerika Serikat.

Awalnya eksperimen merubah tahu menjadi daging ini merupakan suatu usaha mulia untuk Continue reading Bandung Lautan Zombi

Harry Potter And The Attachment Grandma

Chapter One
Extraordinary Exotic Exorcism

Pada suatu waktu (tentunya sebelum kejadian di Harry Potter and The Deathly Hallows), sekolah sihir Hogwarts diundang untuk menghadiri open house sebuah sekolah sihir di Indonesia. Bagi penyihir-penyihir di daratan Eropa, bisa mengunjungi sekolah sihir di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat jarang terjadi, sebab selama ini para penyihir Indonesia selalu menutup diri dari dunia luar, sehingga kesaktian mereka kerap kali menjadi misteri. Pada acara tersebut rencananya akan diadakan pertandingan-pertandingan dari berbagai macam cabang sihir dan juga pertandingan persahabatan Quidditch. Tentu saja seeker terbaik Hogwarts, Harry Potter diikutsertakan dalam pertandingan itu, bersama dengan pemain Quidditch terbaik lainnya yang dipiih dari seluruh asrama. Mereka benar-benar tak punya bayangan pemain Quidditch seperti apa yang dimiliki Indonesia, sebab olahraga ini masih terbilang asing bagi penyihir Indonesia.

Kereta sihir Hogwarts terbang di atas daerah tropis di garis khatulistiwa, sementara langit Continue reading Harry Potter And The Attachment Grandma

Mereka Tidak Menangis

Suara tangisan itu terdengar lagi. Malam ini adalah malam kedua aku mendengar suara tangisan misterius itu di kamarku. Suaranya seperti suara tangisan anak kecil, seperti suara bocah laki-laki yang sering bermain kelereng di dekat rumahku. Awalnya aku memang mengira anak itu yang menangis malam-malam, mungkin dia mengigau atau apa, tapi yang jelas, tak mungkin kan ia menangis di kolong tempat tidurku?

Aku memiringkan tubuhku ke arah kanan, berbaring menghadap ke dinding dan berusaha untuk tak mempedulikan suara aneh itu. Tapi suara itu semakin nyaring, bahkan terdengar meraung-raung. Aku berusaha Continue reading Mereka Tidak Menangis

Ganasnya Istriku di Malam Pertama

Ini adalah pengalaman pribadi yang aku alami saat aku baru saja menikah, tepatnya pada malam pengantin. Pengalaman ini sebenarnya agak kurang sopan untuk diceritakan pada khalayak umum, tapi aku harap para pembaca dapat menikmatinya seperti halnya aku menikmati pengalaman ini. Oh ya, cerita ini spesial hanya untuk pembaca yang sudah dewasa dan berusia 18 tahun ke atas. Selamat menikmati. Continue reading Ganasnya Istriku di Malam Pertama

Bermimpi dan Terjaga

Aku terbangun, duduk tegak di atas tempat tidurku. Keringat mengucur deras di pelipis dan leherku. Sambil meluruskan badan, aku berusaha mengatur nafas yang terengah-engah. Aku baru saja bermimpi buruk. Mimpi yang membuatku kelelahan dan kehabisan tenaga. Kulihat jam di ponselku, jam delapan pagi. Sudah kesiangan rupanya.

Sulit sekali mengingat mimpi apa yang kualami, tapi rasanya mimpi itu sangat panjang. Rasanya aku sudah tidur berhari-hari, dan sekarang baru sadar kalau aku bisa terjaga. Sepertinya aku Continue reading Bermimpi dan Terjaga

Tlng

Api di perapian itu bergoyang-goyang ketika aku menambahkan sebatang kayu bakar. Kucoba meniup-niup perapian itu agar apinya dapat menyala lebih besar, tapi tak berhasil. Tubuhku tetap menggigil, padahal aku sudah mengenakan sweater yang cukup tebal. Kurasa tubuhku sudah terbiasa dengan udara kota Karawang yang panas, sehingga sulit menyesuaikan diri dengan udara dingin Pangalengan. Sejak dua hari yang lalu saat awal libur kuliah, aku dan dua orang temanku, Norman dan Sonia, berlibur di perkebunan ini. Perkebunan kentang dan sayuran di selatan Bandung yang cukup luas ini—aku tak tahu berapa hektar tepatnya—adalah Continue reading Tlng

Loteng

Apakah kalian pernah melihat hantu? Waktu masih kecil, aku sering mendengar ada yang berkata bahwa setiap orang pasti akan melihat hantu, setidaknya sekali dalam seumur hidupnya. Aku tidak tahu apakah itu benar atau cuma bualan, tapi sampai saat ini aku belum merasa pernah melihat hantu. Banyak orang yang bicara tentang kesaksian mereka melihat hantu, jin, dedemit, atau apalah namanya, tapi aku masih sanggup bersikap skeptik ketika mendengar cerita-cerita itu. Memang, ada juga pengalaman aneh yang terasa menakutkan yang bisa kuingat sampai sekarang, walau mungkin tak semua orang setuju bahwa apa yang pernah kulihat itu merupakan hantu atau setan. Continue reading Loteng