Kefanaan dan Ketakutan akan Kehampaan Makna

Kita semua tahu bahwa kita akan mati. Entah sejak kapan. Mungkin pada suatu titik di masa kanak-kanak, kita menyadari bahwa semua realitas yang kita jalani itu suatu saat akan runtuh dan lenyap. Mungkin kita mengetahuinya lewat cerita dan dongeng. Mungkin juga kita menyadarinya dari fenomena yang kita saksikan sendiri: meninggalnya anggota keluarga, matinya hewan peliharaan, atau menyadari potongan ayam goreng yang kita makan ternyata berasal dari makhluk hidup yang sudah mati.

Sepertinya tidak seorang pun, seberapa pun bebal atau bodohnya, menganggap bahwa dirinya akan abadi. Pengetahuan akan kefanaan hidup adalah sesuatu yang dimiliki setiap manusia, tapi tak selalu ingin kita sadari. Kesadaran itu selalu kita tunda, kita simpan sebagai sebuah keniscayaan yang tak bisa diapa-apakan lagi. Mungkin, pengabaian ini dalam batas tertentu memang dibutuhkan agar kita dapat menjalani kehidupan dan menjadi bagian dari peradaban. Orang yang selalu dihantui kesadaran akan kematian mungkin tak bisa membuat rencana dan tak bisa menikmati aktivitasnya. Kesadaran itu akan sesekali bangkit dalam momentum tertentu, misalnya ketika keselamatan terancam (sakit parah, turbulensi pesawat, peristiwa kriminal, dsb.) atau menyaksikan orang-orang terdekat meninggal dunia. Berbagai tradisi spiritual mendorong manusia untuk mengingat kefanaannya dari waktu ke waktu melalui upacara pemakaman, ziarah kubur, dan berbagai ritual lainnya. Memento mori. Kesadaran akan kematian dianggap baik, karena kesadaran ini dianggap dapat membuat manusia memikirkan makna kehidupan dan kemudian meningkatkan spiritualitasnya.

Di samping hal-hal tersebut, kesadaran akan kematian juga meningkat karena faktor usia. Tentu saja, kematian tidak selalu terjadi pada orang yang lebih tua terlebih dulu. Orang-orang berusia muda, bahkan bayi dan anak-anak, sering kali meninggal karena berbagai faktor. Namun, dalam benak kita, kondisi dasar dari kematian alamiah (natural death) selalu berbanding lurus dengan waktu. Ini semacam naluri kita terhadap entropi. Kita tahu bahwa segala hal di dunia ini senantiasa bergerak secara alami menuju ketidakteraturan, atau dengan kata lain, kehancuran. Kita tidak tahu kapan, tapi kita tahu bahwa semakin lama waktu bergulir, ia akan semakin dekat.

Ketika kita masih muda, kita meletakkan kesadaran itu di ujung cakrawala pikiran kita. Kita tahu bahwa kita bisa mati kapan saja karena sebab-sebab tak terduga, tapi normalnya (atau setidaknya harapan kita), kita baru akan mati ketika usia kita sudah tua, dan itu adalah waktu yang masih sangat lama. Mungkin di usia 70, 80, atau 100? Kecemasan itu bisa ditunda. Banyak hal lain yang lebih mendesak dan memiliki probabilitas lebih tinggi. Diam-diam, benak kita melakukan kalkulasi itu. Dunia ini terasa seperti bentangan luas tanpa batas yang siap untuk dijelajahi, meski kadang gelap dan menakutkan, tapi juga sering kali penuh gairah.

Seorang anak yang bangun tidur di pagi hari mungkin akan memikirkan tugas-tugas sekolahnya, apa yang ingin ia lakukan sepulang sekolah nanti, mainan apa yang ingin ia beli dengan uang tabungannya, dan di saat-saat melamun, akan memikirkan seperti apa kehidupannya setelah dewasa nanti. Mungkin ia sudah punya cita-cita yang ia inginkan. Mungkin ia membayangkan akan bekerja, memiliki penghasilan sendiri dan menikmati berbagai kebebasan yang hanya dimiliki orang dewasa: bisa tidur hingga larut malam, nonton film kapan saja dia mau, dan membeli mainan apa pun yang ia inginkan. Mungkin ia juga membayangkan bahwa nanti ia akan menikah lalu memiliki keluarganya sendiri. Hal itu akan membuatnya sedikit cemas tapi juga merona malu. Ia juga akan sekilas membayangkan, bahwa pada saat itu, kedua orang tuanya yang sudah tua mungkin akan meninggal terlebih dulu. Seperti itulah roda kehidupan yang ia pahami. Kesadaran itu membuat ia sedikit sedih dan cemas. Namun ia segera mengusir pikiran itu, menyimpannya rapat-rapat dalam peti bertuliskan “untuk dipikirkan lain kali”. Dalam benaknya, kemungkinan itu masih jauh lebih kecil daripada kemungkinan ia dimarahi ibunya karena tidak menghabiskan bekal makan.

Ketika ia menginjak usia dewasa, banyak hal yang berubah. Waktu tiba-tiba saja terasa begitu sempit dan cepat. Apa yang ia bayangkan ketika kecil, mungkin sebagiannya sudah mencapai kesimpulan. Mungkin ia menjalani hidup seperti yang ia cita-citakan dulu, mungkin juga tidak. Bila tidak, ia harus menerima kenyataan bahwa ia tak bisa kembali ke masa lalu dan ia sudah tak punya waktu untuk mengubah kehidupannya. Orang tuanya mungkin masih hidup, tapi mungkin juga sudah meninggal. Beberapa teman-temannya, saudara, sanak keluarga juga mungkin sudah meninggal. Semakin lama, ia akan semakin sering menghadiri pemakaman dan mendengar ucapan bela sungkawa. Anehnya, bagi organisme yang berhasil selamat melewati seleksi alam seperti dirinya, ini bukanlah hal yang menyenangkan atau melegakan. Setiap kali menyaksikan peristiwa-peristiwa itu, kecemasan yang sewaktu kecil ia simpan dalam peti tadi perlahan mulai menjelma menjadi sesosok hantu. Hantu itu akan mengetuk-ngetuk dari dalam, mengintip, dan bahkan menjerit lirih.

Namun, hidup harus tetap berjalan, dan ia berjalan dengan sangat cepat. Ia mungkin hanya bolos setengah hari dari tempat kerjanya untuk menghadiri pemakaman. Setelah jenazah dikuburkan, ia harus kembali menjalani peran sebagai manusia hidup yang fungsional. Masa depan yang dulu terasa luas membentang kini lebih mirip seperti labirin tanpa ujung. Kecil dan sempit, tapi harus dijalani. Hantu kecemasan kematian yang sempat mengganggunya tadi harus ia kalahkan. Sebagai orang dewasa, ia akan menjalani berbagai terapi pengusiran arwah, exorcism, untuk mengusir hantu itu dan mengurungnya lagi di dalam peti rapat-rapat. Dalam benaknya saat itu, lebih mungkin merasa cemas karena tenggat pekerjaan yang mendesak atau tagihan bulanan yang belum dibayar daripada memikirkan kefanaan hidupnya.

Namun, semakin hari, hantu kecemasan itu akan semakin tumbuh besar, berakumulasi dalam diam pada malam-malamnya yang terasa semakin singkat. Pada satu titik, sosok hantu itu akan memberontak keluar dari peti dan menerkamnya. Mungkin, saat itu ia memang sudah tua renta. Mungkin juga, saat itu ia masih muda, tetapi tengah mengalami peristiwa yang membuatnya terpuruk. Namun yang jelas, saat itu ia sudah tak mampu lagi mengalihkan perhatiannya. Ia terlalu lemah untuk menutup peti itu lagi.

Awalnya, ia tak mengenali sosok itu. Sudah terlalu lama ia menyimpannya di dalam peti di ujung kesadarannya, sehingga ketika akhirnya sosok itu menampakkan diri, ia akan tampak begitu asing. Sosok yang ganjil, aneh, uncanny, tapi juga terasa seperti nostalgia. Ia sudah mengenalnya sejak masa kanak-kanak dulu, saat kesadarannya sebagai makhluk berakal baru mulai terbentuk. Dulu, sosok itu tampak begitu mungil dan mudah disisihkan. Sekarang, ia sudah besar dan mendominasi.

Ini adalah konsekuensinya sebagai makhluk berakal. Andai saja ia hanya seonggok batu atau tumbuh-tumbuhan, mungkin kecemasan akan kefanaan tidak akan pernah melintas dalam benaknya—dan ia tak akan dihantui sosok itu. Ia hanya akan menjadi force of nature. Benda mati yang sekadar mengikuti hukum alam. Jatuh karena gravitasi, hancur karena tekanan, tumbuh karena nutrisi. Ada, tapi tak pernah menyadari keberadaannya. Sayangnya, ia sudah terlahir seperti ini. Ia tak pernah memilih untuk terlahir sebagai makhluk berkesadaran, dan sebenarnya ia tak mungkin memilihnya. Untuk bisa memilih, ia harus lebih dulu memiliki kesadaran sebelum ia lahir. Dan kesadaran itu pun harus dipilih, yang mensyaratkan kesadaran sebelumnya lagi, dan seterusnya tanpa ujung. Syarat agar ia bisa memilih untuk menjadi sadar adalah kesadaran yang abadi—justru hal yang paling tak bisa ia bayangkan sekarang.

Akibat yang dirasakan dari kehadiran sosok hantu itu bukanlah rasa takut akan kesakitan fisik. Ya, kematian mungkin terasa menyakitkan bagi banyak orang. Mereka yang meninggal karena penyakit, kecelakaan, dibunuh, atau bunuh diri tentu mengalami sakit. Namun bukan kemungkinan rasa sakit itu sendiri yang selalu menghantuinya. Bahkan ketika ia membayangkan bahwa ia akan meninggal dengan damai di atas kasur yang empuk sambil ditemani orang-orang yang ia cintai, perasaan itu tak kalah menyiksanya.

Akibat paling menakutkan yang ia rasakan adalah kesadaran bahwa kini ia sudah tak punya masa depan. Masa depan itu, yang dulu terasa luas membentang dan penuh petualangan, kini terasa seperti tembok tinggi di ujung jalan buntu. Sosok itu mengejarnya, memojokkannya hingga ke hadapan tembok itu. Sekarang, menatap ke depan terasa menyesakkan. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menoleh ke belakang. Ketika ia menoleh ke belakang, ia melihat semua hal dengan penglihatan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Kesadaran bahwa ia sudah tak memiliki masa depan untuk dibayangkan, membuat ia mencari makna dari masa lalu. Jika ia pada akhirnya hanya berhenti di jalan buntu, lalu untuk apa ia melalui semua itu? Apa artinya semua rasa sakit, kebahagiaan, jerih payah, rasa cinta, persahabatan, dan kesuksesan yang sudah ia alami?

Sejenak ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa makna kehidupan ada pada prosesnya, bukan pada hasil akhirnya. Bahwa semua yang sudah ia jalani memiliki makna pada dirinya sendiri saat itu terjadi. The journey is the destination. Tidak masalah jika ia berakhir di tembok buntu. Ia telah menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya selama ini.

Andai saja ia benar-benar berpikir demikian. Andai saja semua itu benar. Namun di depan tembok tinggi dan hantu yang tak sabaran itu, “telah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya” terdengar seperti sebuah justifikasi yang harus dinilai secara skeptis. Dari mana ia tahu bahwa ia telah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya? Apa itu hidup yang baik? Apa pembandingnya, sementara ia hanya pernah menjalani hidup ini satu kali? Bagaimana jika semua pilihan hidupnya selama ini bukanlah pilihan terbaik yang bisa ia buat? Bagaimana jika ia telah menyia-nyiakan waktu hidupnya untuk hal-hal yang tidak benar-benar berharga? Mengapa ia baru menyadari betapa jauh jarak yang sudah ia tempuh, ketika ia sudah berada di ujung kebuntuan?

Sayangnya, ia sudah terlambat. Andai ia memiliki kesadaran itu ketika jalannya masih panjang, ia pasti akan melangkah dengan sebaik-baiknya, berusaha hidup dengan sehidup-hidupnya. Sekarang, kesadaran itu sudah tak ada artinya, sebab yang ada hanya kecemasan.

Ia juga membayangkan, bahwa mungkin saja tembok itu bukanlah akhir. Mungkin ada dunia lain di belakang tembok. Andai saja ia memiliki keyakinan itu, ia dapat membatalkan semua kecemasan yang seharusnya ia alami. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang beriman. Mereka tidak membayangkan sebuah akhir, tetapi sebuah fase. Mereka tidak bersiap untuk menghadapi sebuah tembok tinggi, tetapi untuk melintasi sebuah gerbang. Cerdiknya lagi, dunia yang mereka yakini berada di balik dinding itu adalah konsep dunia yang tak terbatas, abadi, tanpa ujung. Mereka tidak mengalami kecemasan seperti yang dialami dirinya, sebab mereka tidak pernah “merasa kehabisan masa depan”. Sosok hantu yang semula menjadi hantu kecemasan, bagi orang-orang yang beriman itu hanyalah sosok yang akan membukakan gerbang dan mempersilakan mereka melintas jika waktunya telah tiba.

Namun, ia tidak bisa tiba-tiba memiliki keyakinan itu. Berpura-pura beriman adalah konyol, seperti Pascal’s Wager, oportunisme metafisik yang sia-sia. Keyakinan sejati mengharuskan penganutnya untuk menjalani hidup sesuai prinsip-prinsip yang ia yakini, dan di depan matanya sekarang, sudah tak ada hidup untuk dijalani.

Sejak saat itu, waktu tak lagi terasa sebagaimana mestinya. Ia seperti berada dalam cakrawala peristiwa. Waktu berjalan sangat lambat, bahkan nyaris abadi. Ia sudah tak bisa kembali, tapi tak juga lekas mencapai kematiannya. Di belakangnya, sosok hantu melangkah pelan ke arahnya. Di hadapannya, tembok tinggi menatapnya tanpa ekspresi. Semua berjalan dengan sangat lambat, hingga sesekali ia berpikir bahwa tembok itu mungkin memang tercipta bukan untuk dilewati—bahwa bagi orang yang tak pernah menghidupi hidupnya, tak akan pernah ada akhir. Tak ada kemusnahan, tapi juga tak ada pembebasan. Keabadian kesadaran yang dulu tak sanggup ia bayangkan sebelum kelahirannya, kini justru ia jalani di ujung hidupnya.

Di dalam gerak lambat tanpa akhir itu, ia punya seluruh waktu untuk membayangkan. Andai saja ia bisa kembali ke masa lalu, ia akan lebih sering mengunjungi peti itu. Bukan untuk membukanya dan membuat sosok itu berkeliaran menebar teror, tapi untuk mengintipnya, menyapanya sesekali, mengajaknya berbincang dan berdiskusi sebagai sosok sahabat. Ia mungkin tak akan pernah tahu apakah ia dapat menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Namun, dari hasil diskusi itu, setidaknya ia tahu bahwa ia akan hidup dengan sehidup-hidupnya.

Burn Out dan Anxiety sebagai Alarm Kesadaran

Menurut artikel di situs WHO, lebih dari 1 miliar manusia di bumi hidup dengan gangguan kesehatan jiwa, sebagian besarnya adalah gangguan depresi dan anxiety (kecemasan). Bayangkan, satu miliar manusia. Itu jumlah yang masif. Sebagai gambaran, jumlah penduduk Indonesia adalah sekitar 285 juta jiwa. Dengan kata lain, jika semua orang dengan masalah kejiwaan itu dikumpulkan, mereka bisa membentuk 3,5 negara sebesar Indonesia yang penduduknya cemas dan depresi semua.

Membayangkan jumlah itu, tidak heran jika setiap harinya kita selalu berinteraksi dengan orang-orang cemas dan depresi. Di jalan, di tempat kerja, di dunia maya. Mungkin saya adalah salah satunya, mungkin kamu juga, mungkin kita semua. Kita semua lelah dan cemas.

Lalu, apa artinya satu miliar orang itu? Bagi banyak lembaga di dunia, ini adalah permasalahan ekonomi. Bukan, bukan sebagai penyebab, tapi sebagai dampak. Dalam artikel yang sama, WHO (lembaga yang mengurusi kesehatan dunia itu) mengatakan bahwa:

Dampak ekonomi dari gangguan kesehatan mental sangat mencengangkan. Meskipun biaya perawatan kesehatan sangat besar, biaya tidak langsung – khususnya dalam hal hilangnya produktivitas – jauh lebih besar. Depresi dan kecemasan saja diperkirakan merugikan ekonomi global sebesar US$ 1 triliun setiap tahunnya.

Ya, ya, ya. Kita depresi, cemas, dan sebagian di antara kita mungkin berpikiran untuk mengakhiri diri. Namun kamu tahu apa yang mencengangkan? Bahwa kita juga merugikan ekonomi dunia sebesar 1 triliun dolar setiap tahunnya! Apakah ini semacam gaslighting?

Namun, saya paham. Artikel itu mungkin mencoba membujuk lembaga-lembaga keuangan dan pemerintah-pemerintah negara di dunia untuk lebih banyak menganggarkan dana bagi penanganan kesehatan jiwa. Bagi para politisi dan kapitalis Machiavellian di atas sana, satu-satunya bahasa yang mereka pahami adalah uang dan kekuasaan. Ibaratnya, kita berbicara kepada mereka: “Hei! Hewan-hewan ternakmu ini banyak yang sakit. Mereka saling menggigit dan menyeruduk satu sama lain. Bermurah-hatilah dan luangkan dana untuk kesehatan mereka. Ini untuk kepentinganmu juga, lho! Sebab kalau dibiarkan, mereka tak akan bisa bertelur dan daging mereka jadi beracun. Peternakanmu bisa rugi satu triliun dolar setiap tahun!”.

Mendengar ancaman kerugian materi itu, kita harapkan Paman Gober sekalipun akan berpikir logis dan menyisihkan sebagian kekayaannya. Alternatifnya, Paman Gober mungkin malah akan menemukan ide jenius: Ia akan membuat pabrik obat untuk mengobati ternak yang sakit—dan semua orang harus membeli darinya.

Sayangnya, kita bukanlah WHO, IMF, Presiden, atau Paman Gober. Kamu mungkin hanyalah satu dari satu miliar orang dengan gangguan jiwa depresi atau kecemasan kronis. Sekarang lihat dirimu, dan ingatlah bahwa kesehatan jiwamu itu penting. Dirimu adalah manusia, bukan sekadar angka dalam spreadsheet. Persetan dengan kerugian ekonomi global.

Luka batin, sama seperti luka fisik, tidak muncul serta-merta tanpa sebab. Bayangkan jika kamu harus berkendara melintasi sebuah jalan yang berlubang, lalu kamu terjungkal, dan kakimu patah. Itu adalah luka fisik. Hal paling urgent yang harus kamu lakukan adalah menemui dokter. Dokter akan mendiagnosa seberapa parah kondisi kakimu dan memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan atau setidaknya meredakan rasa sakit itu. Namun, bukanlah wewenang dokter untuk memperbaiki jalan berlubang yang membuatmu celaka, dan bukan kepentingannya pula untuk menuntut pemerintah setempat segera memperbaiki jalanan tersebut.

Begitu pula dengan kesehatan jiwa dan gangguan mental. Faktor bawaan lahir memang bisa ikut berperan, tapi itu pembahasan tersendiri yang tak akan saya masuki di sini. Untuk sebagian besar dari kita, anxiety dan depresi tidak muncul tanpa sebab. Ada lubang di jalan yang memaksa kita menjadi seperti itu. Luka adalah akibatnya. Rasa sakit adalah reaksinya. Namun, ketika kita terlanjur mengalaminya, hal yang paling logis dan urgent untuk dilakukan adalah meminta bantuan profesional. Mereka akan membantu sesuai batas kewenangan mereka. Seorang dokter hanya bertugas mengobati luka di kakimu, bukan menambal lubang yang membuatmu celaka. Seorang psikolog/psikiater/terapis hanya bertugas menangani kondisi kejiwaanmu, mereka tidak mungkin menyelesaikan masalah pekerjaan/keluarga/keuanganmu yang membuatmu cemas. Selanjutnya, itu adalah tugasmu. Tugas kita.

Gangguan kesehatan mental seperti kecemasan adalah alarm. Namun bukan sekadar alarm untuk mengobati diri. Ini adalah alarm untuk bangun dari mimpi buruk yang terlalu lama dialami. Ada lubang di jalan, dan mengobati kaki kita saja tidak lantas berarti menambal jalan tersebut dan mencegah orang-orang berikutnya untuk terjatuh di lubang yang sama. Gangguan tersebut adalah alarm kesadaran bahwa ada yang salah, dan sebagai reaksi dari alarm tersebut, kita perlu melakukan setidaknya tiga hal: mengobati diri sendiri, menganalisis penyebab hingga ke akar-akarnya, serta melakukan apa pun dalam batas kemampuan kita untuk memperbaiki atau menghentikan penyebab tersebut.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, mengobati diri dilakukan dengan menghubungi tenaga profesional, menjalani terapi atau apa pun yang dianggap perlu. Tahap kedua, menganalisis akar penyebab, harus dilakukan dengan rasa ingin tahu yang tulus dan penuh gairah, bahkan nyaris ilmiah. Saya rasa, bentuk balas dendam dan pemberontakan paling manis terhadap hal-hal yang membuat kita sakit adalah dengan menganalisis, membedah, dan menelanjanginya satu demi satu. Kita mulai dengan mengapa, lalu bagaimana. Dalam tahap ini, kita harus bisa membedakan mana hal-hal yang bisa diubah segera dengan tindakan nyata; mana yang hanya bisa diubah dengan proses jangka panjang, kolektif, dan terstruktur; mana yang hanya bisa dipandang sebagai visi atau cita-cita; dan mana yang memang sama sekali tak bisa diubah karena merupakan bagian dari alam atau kenyataan. Kalau setelah ditelusuri ternyata sebagian penyebabnya tak bisa diubah, atau bahkan tak bisa ditemukan dengan pasti, itu juga merupakan hasil yang valid.

Tahap ketiga, yaitu tindakan nyata, harus dilakukan dengan hati-hati dan mawas diri. Ini adalah tahap yang sangat sensitif dan hanya dapat dilakukan setelah menjalankan tahap satu dan tahap dua. Kita tidak bisa menambal jalan berlubang kalau kaki kita masih patah dan tidak tahu di mana lubang itu berada. Berdasarkan analisis yang dilakukan di tahap dua, kita harus memilah mana faktor yang bisa kita perbaiki, mana yang belum, dan mana yang tidak bisa sama sekali. Mencoba memperbaiki hal-hal yang tidak bisa diubah hanya akan menimbulkan beban mental dan rasa bersalah yang justru memperburuk keadaan. Begitu pula sebaliknya, mengabaikan hal-hal yang bisa diperbaiki juga cepat atau lambat akan membuat kita kembali terpuruk di kondisi yang sama—seperti orang yang terbangun karena alarm kebakaran dan tidak mencoba memadamkan apinya.

Jika kamu atau orang yang kamu kenal sedang berada dalam tekanan psikologis berat atau punya pikiran untuk menyakiti diri, kamu bisa hubungi layanan Healing119.id/SEJIWA dari Kementerian Kesehatan lewat telepon 119 ekstensi 8, gratis dan siaga 24 jam, atau mengaksesnya via healing119.id. Untuk situasi yang mengancam nyawa, segera hubungi 119 atau datangi IGD/Puskesmas terdekat.

Calo: Parasit yang Hidup di Celah Sistem

Orang-orang percaya bahwa celah atau lubang kosong yang sunyi dan lembab merupakan tempat tinggal bangsa jin. Namun, tampaknya bukan hanya bangsa jin yang gemar hidup di dalam celah. Celah dan lubang memang tempat yang nyaman bagi entitas-entitas misterius untuk hidup dan berkembang biak, termasuk celah di dalam sistem. Bedanya, entitas yang hidup di dalam celah sistem bukanlah bangsa jin, melainkan bangsa gaib lain yang kita kenal dengan nama “calo”.

Calo adalah orang-orang yang menyadari keberadaan celah di dalam sistem, kemudian mereka menyusup dan mengambil keuntungan dari celah itu. Mereka tidak memproduksi nilai baru, tetapi hanya mengeksploitasi nilai yang sudah ada di dalam sistem untuk dapat bertahan hidup. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan celah di dalam sistem, antara lain:

  1. Desain sistem yang memang sudah cacat sejak awal, baik secara disengaja (untuk tujuan eksploitatif) atau tidak disengaja (kesalahan dalam perancangan);
  2. Pelaksana/operator yang gagal menjalankan sistem sebagaimana mestinya;
  3. Pengguna yang tidak memiliki akses, pengetahuan, atau keahlian yang dipersyaratkan (hal ini bermuara kembali kepada faktor nomor 1 mengenai masalah desain sistem).

Oleh karena itu, keberadaan calo bisa dibilang merupakan simtom atau gejala atas sistem yang cacat. Mereka mengisi celah-celah kosong yang muncul karena salah satu atau ketiga faktor tadi. Keberadaannya adalah gejala alamiah, sebagaimana parasit atau benalu yang hidup di alam dan mengambil saripati kehidupan organisme lain untuk mempertahankan kehidupannya sendiri.

Dalam sebuah sistem pelayanan publik, calo dianggap sebagai pihak yang merugikan, tapi di sisi lain juga mendorong sistem yang cacat untuk dapat terus berjalan. Misalnya, sebuah instansi pemerintah membangun sistem untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mereka membangun serangkaian aturan dan prosedur (SOP) untuk mengumpulkan data, memverifikasi, dan mencatat pelayanan tersebut. Mereka juga mempekerjakan para pegawai sebagai operator untuk menjalankan sistem sesuai aturan. Di ujungnya, terdapat pihak yang menjadi pengguna dari sistem, yaitu masyarakat yang berhak mendapatkan pelayanan.

Namun sistem tersebut memiliki beberapa celah. Misalnya, terdapat aturan bahwa agar dapat menerima pelayanan, masyarakat harus memiliki Surat A, B, dan C, menghubungi Pihak A,B, dan C, serta memahami informasi A, B, dan C. Pada awalnya, semua persyaratan itu dibuat untuk memastikan sistem berjalan dengan adil dan akuntabel. Masalahnya, sebagian masyarakat tidak memiliki waktu, akses, atau kemampuan untuk memenuhi semua syarat tersebut. Di sinilah timbul celah yang dapat diisi oleh calo.

Para calo ini memiliki sumber daya tingkat menengah yang dapat diputar atau direproduksi di dalam celah tadi. Sumber daya mereka tidak cukup besar untuk membuat sistem baru, tapi masih lebih memadai daripada yang dimiliki masyarakat pengguna. Sumber daya ini bisa berupa uang, peralatan, waktu luang, pengetahuan, kemampuan, atau akses jejaring. Misalnya, calo punya waktu luang untuk membantu masyarakat mengurus surat A, B, dan C. Mereka mungkin juga memiliki pengetahuan untuk memahami peraturan A, B, dan C, atau memiliki kenalan di lembaga A, B, dan C.

Tentu saja, jasa “tambal celah” atau jasa perantara yang mereka lakukan tidaklah gratis. Mereka akan mengambil keuntungan dari sistem tersebut sebagai upah atas jasa mereka. Hal ini membuat keberadaan mereka, meski membantu menjalankan sistem, juga dianggap merugikan karena menggerogoti distribusi nilai di dalamnya. Misalnya, masyarakat yang seharusnya mendapatkan pelayanan secara gratis, karena menggunakan jasa calo, jadi harus mengeluarkan uang. Terlebih lagi, uang yang dikeluarkan tadi tidak masuk ke kantong operator atau pembuat sistem, tetapi masuk ke pihak luar (calo)—penyusup yang sejak awal tak direncanakan berada dalam sistem. Jika hal ini dibiarkan berlangsung terus menerus, lambat laun para calo akan mampu mengakumulasi modal secara masif, lalu menggunakannya untuk membuat subsistem mereka sendiri, dan pada satu titik akan bermutasi menjadi entitas yang lebih kuat, misalnya mafia. Pada tahap ini, sistem utama dapat diambil alih sepenuhnya.

Oleh karena itu, ketika keberadaan calo dianggap sebagai ancaman, pengelola sistem akan berusaha memberantas mereka. Namun, sebagaimana sebuah organisme parasit yang memiliki insting bertahan hidup, para calo akan melakukan pertahanan diri. Ketika sistem berusaha menutup satu atau dua celah yang berhasil diidentifikasi, para calo akan berusaha mempertahankan agar celah tersebut tetap terbuka, baik secara nyata maupun dengan cara mempengaruhi persepsi para inangnya.

Dalam upaya memberantas calo, pengelola sistem akan melakukan berbagai cara, tapi sering kali, upaya-upaya tersebut mengalami kegagalan atau justru menimbulkan paradoks.

Mencabut Paksa

Cara paling sederhana memberantas calo adalah lewat metode represif seperti ancaman atau hukuman sehingga memaksa para calo berhenti beroperasi. Namun ketika hal ini dilakukan tanpa memperbaiki celah yang ada, akibat yang ditimbulkan justru menjadi lebih fatal. Sistem yang sejak awal cacat akan berhenti total dan menghancurkan semua kepentingan di dalamnya. Dalam contoh pelayanan publik, masyarakat menjadi tidak mendapatkan hak mereka, dan pemerintah gagal menjalankan tugasnya—yang dapat berakhir dengan hilangnya legitimasi kekuasaan negara. Lagipula, selama celah tersebut tetap dibiarkan ada, cepat atau lambat calo-calo lain akan datang dan mengisinya kembali.

Jika dilihat dari sudut pandang ini, maka analogi sebelumnya bahwa calo merupakan parasit sebenarnya kurang tepat. Jika pengelola sistem mau mengakuinya, simbiosis yang terjadi bukanlah parasitisme, tapi lebih cenderung menjadi mutualisme.

Meningkatkan Kompleksitas

Cara lain adalah tindakan yang bersifat preventif. Anggaplah pengelola sistem telah berhasil memberantas calo secara represif—meski temporer. Untuk mencegah para calo lain menyusup lagi, sistem pun dibuat menjadi lebih ketat, lebih rumit, lebih sulit ditembus. Misalnya, dalam contoh pelayanan publik, petugas akan memberlakukan pemeriksaan yang lebih ketat untuk memastikan bahwa masyarakat yang menerima pelayanan bukanlah calo. Namun bagaimana caranya? Masyarakat tersebut harus mengisi Formulir A, B, dan C; mendaftarkan diri di website A, aplikasi B, dan platform C; serta, tentu saja, menandatangani Surat Pernyataan Bukan Calo di atas materai yang tidak gratis. Cara-cara ini dapat dipahami sebagai upaya untuk mengambil alih kendali sistem ke tangan operator. Konsekuensinya, operator harus bekerja ekstra. Mereka tidak hanya mendata dan mencatat pengguna, tetapi juga memastikan bahwa para pengguna tersebut bukanlah calo/parasit yang berusaha menyusup.

Dalam pergulatan yang berkelanjutan ini, sistem akan terus diperbarui dan dibuat semakin rumit, semakin besar, semakin berjenjang. Mau tak mau, operator pun harus memiliki sumber daya yang semakin besar pula untuk dapat mengimbangi dan mengendalikannya. Jika tidak, maka akan terjadi overload. Operator mengalami burn-out dan teralienasi. Tugas-tugas mereka menjadi semakin spesifik dan terfragmentasi. Akibatnya, tidak ada yang merasa bertanggung jawab karena setiap operator hanyalah kepingan kecil yang terlalu kecil untuk melihat keseluruhan sistem. Sistem yang semakin rumit pun membuat informasi menjadi semakin asimetris. Hanya segelintir operator yang telah mengalami pelatihan khusus bertahun-tahun, komitmen luar biasa, serta memiliki sertifikat A, B, dan C yang dianggap mampu memahami sistem besar ini.

Kompleksitas ini melahirkan paradoks. Semakin besar dan rumit sebuah sistem, semakin banyak pula celahnya. Celah-celah ini akan mengundang lebih banyak calo dari yang pernah ada sebelumnya, baik di sisi pengguna maupun di antara operator.

Merangkul dan Melegalkan

Pengelola sistem yang menyadari kemungkinan tadi, mungkin akan mencoba mencari jalur alternatif yang cukup radikal. Alih-alih memberantas calo dan mencegahnya tumbuh, ia dapat melakukan hal yang bertolak belakang: mengakui dan meresmikan keberadaan mereka.

Jika selama ini calolah yang membuat sistem cacat tetap berjalan, mungkin keberadaan mereka memang dibutuhkan sebagai bagian dari sistem. Para calo dapat diberikan penghasilan yang tetap. Dengan begitu, nilai yang mereka serap dari sistem dapat lebih terkendali dan diprediksi. Mereka pun dapat diikat oleh serangkaian aturan, atau dengan kata lain, menjadi bagian dari sistem. Namun, calo bukanlah satu atau beberapa individu tertentu. Mereka adalah fenomena. Jika sekelompok calo dirangkul dan diintegrasikan ke dalam sistem, mereka bukan lagi calo. Sistem mengubah calo menjadi operator, mengubah ekstraksi ilegal menjadi struktural. Masalah pada poin sebelumnya pun masih dapat terjadi. Apalagi, mengintegrasikan calo ke dalam sistem bukanlah hal yang mudah. Sistem akan melakukan seleksi, persaingan, dan penyesuaian untuk memaksa mereka menjadi tunduk dan akuntabel. Bukan tidak mungkin, proses ini justru akan melahirkan calonya para calo.

Sisyphus Bermain Whack-a-Mole

Pada akhirnya, apa yang dapat dilakukan pengelola sistem hanyalah berusaha sebaik mungkin menutup celah-celah yang telah teridentifikasi sembari mencegah agar sistem tidak berkembang menjadi terlalu rumit dan besar. Setiap satu celah ditutup, celah lain akan terbuka. Calo mungkin tidak dapat hilang sepenuhnya. Sebagian perlu dipukul, sebagian lagi perlu dirangkul, tetapi yang terpenting adalah memastikan keberadaan mereka tetap dalam batas yang bisa ditoleransi. Ini adalah pekerjaan yang melelahkan dan tak ada habisnya, bahkan terasa absurd, seperti Sisyphus yang bermain whack-a-mole.

Bagian dari Sistem yang Lebih Besar?

Coba kita bayangkan seorang petani yang memiliki sebidang kebun. Bagi petani, kebun itu adalah sebuah sistem tersendiri. Ketika terdapat parasit atau benalu di kebunnya, petani akan berusaha membasminya. Keberadaan benalu dapat mengganggu sistem yang ia ciptakan dan merusak hasil panen yang ia inginkan, sehingga ia menganggapnya sebagai hal buruk. Namun jika kita zoom out satu atau dua kali dari kebun petani, kita akan mendapati bahwa keberadaan benalu itu adalah hal yang alamiah. Benalu itu adalah bagian dari ekosistem alam, sebagaimana petani dan seluruh tanaman yang ada di dalam kebunnya. Ia pun memiliki perannya sendiri dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem. Apa yang membuatnya menjadi buruk adalah karena petani menciptakan sistem artifisial (kebun) untuk memenuhi kepentingannya (menghasilkan panen yang baik, laku dijual, dsb) sendiri.

Sistem pelayanan publik tadi dapat kita bayangkan sebagai sebuah sistem yang juga menjadi bagian dari sistem yang lebih tinggi, misalnya birokrasi, pemerintahan, negara, politik, dan ekonomi. Keberadaan calo bisa jadi adalah mekanisme sistem yang lebih tinggi untuk memastikan kepentingannya tetap berjalan. Kalau demikian, calo mungkin bukan sekedar penyusup di dalam sistem, tetapi juga agen rahasia dari sistem yang lebih tinggi yang sedang menjalankan peran alamiahnya.


Setidaknya

setidaknya tirai telah ditutup
dan para penonton beranjak bangkit dari kursinya
melanjutkan cerita baru,
peran-peran yang lainnya
meninggalkan hantu-hantu terkurung
di lorong, di ruang rias, di belakang panggung
di gudang penyimpanan rasa malu dan penyesalan

lalu kita berbincang ringan di lobi
mengulas sambil menertawai diri
mereka bilang komedi adalah tragedi
yang jinak dibilas waktu

setidaknya gerbang telah ditutup
dan para penonton beranjak pergi dari parkiran
sambil berjabat tangan, saling menitip pesan:

bersyukurlah
setidaknya kakimu masih melangkah pulang
meski terseok dan penuh lumpur
bersyukurlah
setidaknya kamu
tidak hancur
lebur

maka berjalanlah
dengan napas sekepal demi sekepal
selembar demi selembar
hanya saja
setiap yang selamat harus menggenapi satu syarat
: utangmu pada kehidupan
adalah lelah menjalaninya

Potong-di-sini

Wajahmu adalah hal yang sudah tak asing, tapi terasa begitu baru. Cukup lama kita tak bertemu, agak kurus dirimu. Sekarang pakai kacamata pula. Kurang cocok, ya.
Hey, Nona, sudah berapa pertengkaran yang kita lewati? Sudah berapa percintaan yang kita lalui? Sudah berapa sering kukatakan aku akan pergi melupakanmu dan jangan cari aku lagi, tapi kini kita bicara disini, aku masih saja pencinta yang lalu. Rasanya rindu. Makin tua ya, ibumu. Lama juga kita tak pergi ke bioskop bersama. Ah, masih murah ya tiketnya? Tenang, biar aku yang bayar. Oh ya, mari bertukar buku cerita. Sebenarnya. Aku berpikir untuk bicara tentang kita lagi, jadi

———potong-di-sini———– >8

Puisi Cinta Pagi-Pagi

1

tiap pagi aku mencipta puisi
untuk wanita, bukan lelaki
yang selalu kubuat terharu
ia tanya: bagaimana mencipta puisi?
kujawab: puisi memilih aku
dan aku memilih kamu
ia tersipu
maka aku dinobatkan sebagai lelaki paling romantis
sejagat raya

tiap pagi di tiap hari aku mencipta puisi
untuk dirinya, yang kucintai
cinta ditukar puisi, dan ia akan berikan apa saja
karena puisi. jiwa raga hati pikiran perhatian hidup mati
ia tanya: darimana sumber insprasi
kujawab: tak perlu tahu
itu rahasia karya seni
ia tersipu
kata-kata di atas kertas bagaikan melodi
meluluhkan hati

2

tiap pagi aku mencipta puisi
puisi cinta bagai pelet
yang dengan sebenar-sebenarnya kubuat
sambil berjongkok di toilet

sambil kentut.

Dalam-Dalam

entah sejak kapan kamu tiarap di dalam jejak-jejak
menjadi tanda yang memberiku firasat: aku tengah tersesat
aku mendengar pelan suaramu merangkak
mengendap-endap

di ujung jarimu ada rantai yang mengikat
di ujung jariku ada bayang
yang terlahir dari residu terang
saat tubuhmu tampak sekarat, pelan-pelan mendekat
aku menghilang

entah bagaimana caranya kamu menyesak di dalam retak-retak
menjadi tanda yang memberiku ratap: di antara kita tak ada jarak
aku melihat kamu menyelam,
ke dalam tulang
dalam-dalam
dalam-dalam