Suara Mesin, Suara Rakyat

Setelah ber­a­bad-abad, akhir­nya kita menya­da­ri bah­wa manu­sia tidak mam­pu mewa­ki­li aspi­ra­si manu­sia lain. Power ten­ds to cor­rupt. Oleh sebab itu, untuk mewu­judk­an sua­tu demok­ra­si lang­sung yang adil, ber­sih, dan efi­si­en, kita mem­bu­tuhk­an sua­tu alat yang mam­pu meng­e­lo­la, meng­al­ku­la­si, dan meng­ek­se­ku­si aspi­ra­si tiap-tiap war­ga nega­ra dengan rasio­nal, cerdas, tegas, ring­kas, tan­pa bias, dan tan­pa fak­tor-fak­tor emo­sio­nal yang mem­ba­ta­si seo­rang manu­sia.”

Aku sedang mem­ba­ca para­graf itu keti­ka kude­ngar nama­ku dipang­gil lewat penge­ras sua­ra. Kutitipkan buku ber­ju­dul Demokrasi Mesin: Sebuah Pengantar di atas pang­ku­an Aini yang sedang asyik ber­ma­in game pon­sel, kemu­di­an sege­ra melang­kah menu­ju bilik sua­ra. Kotak besi seting­gi tiga meter itu ber­pen­dar kehi­ja­u­an, dan keti­ka aku mem­bu­ka pin­tu­nya, aku dapat meli­hat sebu­ah kur­si dan helm kaca yang ter­gan­tung di atas­nya. Ternyata benar, inte­ri­or bilik sua­ra sudah lebih nyam­an diban­dingk­an Pemilu sebe­lum­nya. Kursinya tam­pak lebih empuk dan pen­ca­ha­ya­an­nya lebih mema­dai.

Seketika, aku ter­i­ngat pada buku yang kuba­ca tadi. Menurut buku itu, dahu­lu kala bilik sua­ra Pemilu hanya ber­i­si selem­bar ker­tas dan paku.


Cerita ini meme­nangk­an Sayembara Fiksi Ilmiah Vol. 2 di Serana 42. Baca seleng­kap­nya.

 

Raja

Foto: CNN Indonesia

Kami ter­di­am di tengah kema­cet­an lalu lin­tas. Ia di kur­si kemu­di, men­co­ba ber­sa­bar mema­ink­an kopling dan rem, semen­ta­ra aku mem­ba­ca lini­ma­sa Facebook yang sedang diri­u­hi pos­ting­an ten­tang keda­tang­an Raja Arab Saudi.

Di tengah ketim­pang­an eko­no­mi ini, ter­nya­ta banyak juga ya, rakyat Indonesia yang bang­ga meli­hat keka­ya­an dan keme­wah­an Raja Saudi,” gumam­ku sam­bil mere­bahk­an pung­gung dan mem­be­tulk­an posi­si sabuk pengam­an.

Memangnya kena­pa?” tanya­nya, masih sun­tuk meman­da­ngi kema­cet­an tan­pa ujung.

Aku kira orang-orang akan cem­bu­ru meli­hat kelu­ar­ga kera­ja­an super­ka­ya itu, apa­la­gi diban­dingk­an dengan kon­di­si kehi­dup­an mere­ka yang mela­rat,” jawab­ku.

Jangan naif. Tidak semua orang mis­kin cem­bu­ru kepa­da orang kaya. Ada juga yang sudah ikh­las mene­ri­ma kas­ta sosi­al­nya. Melihat orang kaya, mere­ka akan mera­sa kagum. Apalagi kalau orang kaya itu seo­rang raja.”

Lho, memang­nya kena­pa kalau raja? Raja orang lain, buk­an raja mere­ka,” tanya­ku, men­co­ba men­de­bat­nya.

Memang buk­an, tapi mere­ka rin­du memi­li­ki seo­rang raja,” ujar­nya, mobil mela­ju bebe­ra­pa meter, “dan menu­rut­ku, orang Indonesia memang lebih cocok hidup dalam sis­tem kera­ja­an.”

Kenapa?”

Itu karak­ter orang Indonesia pri­bu­mi sela­ma ber­a­bad-abad. Demokrasi a la Barat ada­lah sis­tem asing yang baru masuk kema­rin sore, kurang cocok dengan kul­tur kita. Lagipula, sis­tem kera­ja­an itu lebih efi­si­en dan efek­tif. Semua orang fokus dengan bidang­nya masing-masing. Tidak seper­ti seka­rang, semua orang dipak­sa mem­bu­at pilih­an di luar kapa­si­tas­nya. Hasilnya? Geser terus lini­ma­sa Facebook-mu, dan kamu akan lihat beta­pa bodoh pilih­an yang mere­ka buat.”

Aku agak kesal men­de­ngar pen­je­la­san­nya itu. Aku tidak suka mem­ba­yangk­an hidup dalam sis­tem yang meng­i­zink­an sege­lin­tir orang men­da­patk­an sta­tus sosi­al eks­klu­sif hanya kare­na hubung­an darah, see­fek­tif dan see­fi­si­en apa pun peme­rin­ta­han­nya. Namun aku dapat mema­ha­mi­nya. Ia sudah mera­sa putus asa dengan kon­di­si nega­ra ini. Ia tam­pak lelah. Aku pun memu­tusk­an untuk meng­gan­ti topik pem­bi­ca­ra­an.

Saat sedang asyik mem­ba­has meme Polwan can­tik, tiba-tiba sua­ra siri­ne ter­de­ngar nya­ring di bela­kang kami. Mobil-mobil ber­u­sa­ha ber­ge­rak ke ping­gir, tapi kon­di­si jal­an ter­la­lu padat untuk ber­ge­rak. Sirine di bela­kang sema­kin nya­ring, mera­ung-raung. Ia memu­tar setir­nya dengan gusar.

Pejabat kamp­ret! Sok pen­ting!” maki­nya saat meli­hat sed­an hitam mela­ju di sebe­lah kami, dii­ri­ngi bebe­ra­pa penga­wal.

Pohon Titit

1

Satu malam sete­lah dikhit­an, aku duduk ter­me­nung di kamar sam­bil menah­an rasa per­ih dan meman­da­ngi titit­ku yang masih dibung­kus per­b­an. Ayah datang sam­bil mem­ba­wa tum­puk­an amplop. Ia meng­a­jak­ku ber­hi­tung. Kalau uang­ku cukup, kata­nya, aku boleh mem­be­li sepa­tu roda. 

Aku tidak begi­tu mem­per­ha­tik­an keti­ka ia meng­e­lu­ark­an lem­bar­an uang dari seti­ap amplop dan men­ca­tat jum­lah­nya. Saat itu, ada per­ta­nya­an lain yang mem­bu­at kepa­la­ku gatal. Pertanyaan ini bagi orang lain mung­kin ter­a­sa remeh, tapi kelak akan meng­han­tu­i­ku seu­mur hidup. 

Aku ber­ta­nya, ada di mana potong­an kulit titit­ku yang disu­nat itu? 

Ayah ter­ta­wa men­de­ngar­nya. Ia bilang, aku tidak per­lu kha­wa­tir. Potongan kulit titit­ku itu diam­bil dr. Yatno, diku­bur di halam­an bela­kang kli­nik­nya di anta­ra pohon petai dan pot ang­grek. 

Dokter Yatno ada­lah orang yang meng­khi­tan­ku. Ia tam­pak ter­la­lu sangar untuk ukur­an dok­ter yang menyu­nat anak kecil. Wajahnya lebar, hidung­nya besar, dan ia memi­li­ki bre­wok tebal yang mem­bu­at­ku takut. Bahkan seba­gai anak kelas 5 SD saat itu, aku mera­sa penam­pil­an dr. Yatno tidak men­cer­mink­an seo­rang dok­ter yang ber­sih dan higi­e­nis. 

Lantas, untuk apa ia mena­nam potong­an kulit titit­ku? Ayah kem­ba­li ter­ta­wa. Katanya, dari potong­an titit yang dita­nam itu, nan­ti­nya akan tum­buh pohon titit. Pohon itu sema­kin lama akan sema­kin besar, daun­nya lebat dan ran­ting­nya pan­jang-pan­jang. Bila musim­nya tiba, di seti­ap ran­ting pohon itu akan tum­buh men­jun­tai titit-titit kecil yang sama per­sis dengan titit­ku. 

Aku mem­ba­yangk­an bah­wa dr. Yatno akan meme­tik titit-titit kecil itu saat ia tidak sem­pat mem­be­li makan­an. Ia akan mema­sak­nya dengan kecap asam manis, lalu mela­hap­nya. 

Ayah ter­ke­jut. Imajinasiku ter­la­lu meng­e­rik­an, kata­nya. Dokter Yatno buka­nlah seo­rang kani­bal. Titit-titit kecil itu kelak akan ber­gu­na untuk­ku seba­gai titit cadang­an. Aku ter­i­ngat bah­wa bebe­ra­pa wak­tu sebe­lum­nya titit­ku memang per­nah ter­je­pit rits­le­ting cela­na dan itu mem­bu­at­ku mena­ngis kare­na takut titit­ku akan putus. Aku tidak per­lu kha­wa­tir lagi seka­rang. Itulah alas­an sebe­nar­nya meng­a­pa laki-laki harus dikhit­an. 

Penasaran, aku ber­ta­nya apa­kah ayah juga mena­nam pohon titit saat ia dikhit­an dulu. Ayah meng­ang­guk, kemu­di­an sam­bil menye­le­sa­ik­an hitu­ngan­nya, ia ber­ka­ta bah­wa semen­jak meni­kah dengan Ibu, ia sudah tiga kali ber­gan­ti titit cadang­an. 

Aku tidak sem­pat ber­ta­nya lebih lan­jut, sebab saat itu aku baru sadar bah­wa ber­da­sark­an catat­an yang Ayah tulis, uang­ku sudah lebih dari cukup untuk mem­be­li sepa­sang sepa­tu roda. 

Baju Pink Nala (Potongan)

Saya memang sedang meng­a­la­mi keje­nuh­an, entah dalam menu­lis atau mem­bu­at kar­ya lain­nya. Saya mera­sa harus menyen­tuh medi­um lain yang jarang saya sen­tuh, seka­dar untuk merang­sang sema­ngat ber­kar­ya lagi. Kebetulan, malam lalu saya baru saja mem­be­li hea­dset kare­na mic di pon­sel saya rusak, dan audio ini ada­lah ben­tuk per­co­ba­an­nya. Jadi mohon maaf apa­bi­la audio ini cuma sepo­tong, masih men­tah (tidak die­dit), dan saya buk­an pemi­lik sua­ra yang merdu.

Gambar ilus­tra­si diam­bil dari www.pexels.com

Perbankan Gaib

Sampean tidak per­ca­ya saya bisa meng­gan­dak­an uang?” tanya Eyang Sanca, alis­nya meng­e­rut dan posi­si duduk­nya maju ke arah­ku.

Nggak per­ca­ya. Mana mung­kin uang bisa digan­dak­an? Apa Eyang pikir saya ini orang kam­pung yang bisa dibo­do­hi? Saya ini orang kota, ber­pen­di­dik­an!” jawab­ku sam­bil menah­an tawa.

Eyang Sanca mena­rik napas dalam, lalu meng­u­rut-urut jeng­got­nya. “Pernah ke bank, kan?”

Pernah dong!” jawab­ku.

Sampean jangan kaget kalau saya bilang, bank itu sama seper­ti saya, sama-sama dukun peng­gan­da uang!”

Aku ber­de­ham, seper­ti­nya aku mulai paham jal­an piki­ran­nya, tapi aku ingin meng­u­ji­nya sedi­kit. “Maksud Eyang?”

Kalau sam­pe­an per­gi ke bank, masu­kin uang di tabung­an, depo­si­to, atau inves­ta­si lain­nya, uang sam­pe­an ber­tam­bah banyak, kan?” ujar­nya sam­bil meli­pat tangan di dep­an dada.

Iya, saya tau itu.”

Nah, apa beda­nya? Uang sam­pe­an sama-sama jadi ber­li­pat gan­da tan­pa sam­pe­an harus ker­ja dan cuma tidur-tidur­an di rumah. Berarti, kon­sep meng­gan­dak­an uang itu buk­an sesu­a­tu yang ndak masuk akal. Iya toh?”

Kutatap raut muka­nya. Aku tak bisa mere­mehk­an dukun ini, ter­nya­ta ia pin­tar ber­ke­lit juga.

Kalau Eyang sama saja dengan bank, lalu buat apa saya per­gi ke Eyang? Lebih enak ke bank, bia­ya admi­nis­tra­si­nya lebih ren­dah; kan­tor­nya sejuk pakai AC, nggak bau keme­ny­an seper­ti ini; petu­gas­nya juga per­em­pu­an can­tik, buk­an kakek-kakek peyot begi­ni,” ucap­ku pel­an.

Jangan kurang ajar, ya!” sua­ra­nya mening­gi. “Biar saya kasih tau kena­pa saya lebih hebat, bunga yang saya tawark­an itu lima ratus per­sen! Lebih ting­gi dari bank mana pun!”

Tawaku ham­pir mele­dak men­de­ngar pen­je­la­san­nya. Jelas-jelas dia ingin meni­pu­ku. “Omong kosong! Mana bisa bunga sebe­sar itu? Diinvestasikan untuk bis­nis apa uang saya? Saham apa?”

Investasi gaib!”

Apaan gaib?”

Ini per­bank­an gaib! Jelas beda dengan per­bank­an kon­ven­sio­nal!”

Ia meng­e­lu­ark­an sebu­ah buku dari kan­tong keme­ja batik­nya. Sebuah buku tabung­an ber­war­na hitam dengan tulis­an putih “Bank Gaib, Sanca Bank”.

Ia men­je­lask­an, “Sampean tau, kan, kalau nilai mata uang itu beda-beda? Nilai dolar Amerika lebih besar dari nilai rupi­ah, misal­nya. Sekarang biar saya kasih tau, nilai mata uang di dunia gaib itu nila­i­nya ber­a­tus-ratus kali lipat dari nilai rupi­ah!”

Mata uang gaib? Apa lagi itu?”

Sampean belum per­nah ke alam jin, kan? Pantas ndak tau. Saya bisa kasih bunga sam­pai lima ratus per­sen kare­na saya ini men­ja­lank­an usa­ha per­bank­an dan per­e­ko­no­mi­an anta­rdi­men­si, tepat­nya alam manu­sia dengan alam jin,” jelas­nya. “Ndak semua orang bisa, cuma dukun yang punya keku­at­an saja yang bisa”

Aku meng­he­la napas. Menarik juga dukun ini.

Sejak Kita Menghujat Para Koruptor

sejak kita meng­hu­jat para korup­tor tan­pa nama
koru­psi men­ja­di basa-basi saja
men­ja­di bah­an obrol­an kita di warung kopi
sepu­lang ker­ja sele­pas sen­ja

meng­um­pat telah mem­bu­at kita akrab
cang­kir demi cang­kir kita lahap
hing­ga dada kita ber­de­bar-debar
oh!
itu pas­ti rasa kea­dil­an
yang datang ber­ko­bar-kobar

tena­nglah kaw­an
mari kita hapalk­an
empat puluh lima butir Pancasila
beser­ta mak­na­nya
dan kita pun men­ja­di anti koru­psi

anti koru­psi
anta koru­psi
antum koru­psi
ana koru­psi

lama-lama kita
sama gom­bal­nya dengan cin­ta


konon orang koru­psi kare­na
cin­ta dunia
mis­kin iman di dalam dada

konon orang koru­psi kare­na
bapak ibu­nya
lupa ber­doa sebe­lum seng­ga­ma

mung­kin orang koru­psi sema­ta
demi men­ja­di
bah­an obrol­an kita di warung kopi
sepu­lang ker­ja sele­pas sen­ja

Refleksi

Kutatap wajah mungil­nya, saat ia ter­se­nyum, saat ia mena­ngis. Betapa aku men­cin­ta­i­nya atas caha­ya harap­an yang ia pan­cark­an. Mungkin dulu aku juga seper­ti diri­nya. Mungkin dulu aku juga men­jan­jik­an harapan-harapan–yang hing­ga kini tak benar-benar aku penu­hi.
 
Pantaskah bila aku ber­ha­rap ia akan men­cin­ta­i­ku juga? Tidak. Mungkin kelak ia akan melu­pa­kan­ku. Mungkin kelak ia akan meng­a­ba­i­kan­ku. Seperti aku melu­pak­an masa kecil­ku, yang per­lah­an-lah­an teng­ge­lam dalam laut­an wak­tu.
 
Hanya ada keping­an ingat­an yang kini meng­am­bang di atas per­mu­ka­an, yai­tu saat aku ber­ba­ris di dep­an pin­tu masuk seko­lah, ber­sa­ma-sama mera­pal doa yang mak­na­nya tak kupa­ha­mi hing­ga dua puluh tahun kemu­di­an: Tuhanku, saya­ngi­lah kedua orang tua­ku, seba­gai­ma­na mere­ka menya­ya­ngi aku keti­ka aku masih kecil.

Hijrah ke Ubuntu

Sejak dua bul­an lalu, saya kem­ba­li men­co­ba hijrah dari Windows ke Linux (baca: Ubuntu). Saya sadar bah­wa saya hanya peng­gu­na kom­pu­ter bia­sa, buk­an pro­gram­mer atau­pun IT geek. Kegiatan yang saya lakuk­an di dep­an kom­pu­ter tak jauh dari meng­e­tik, bro­wsing, menon­ton film, men­de­ngark­an musik, meng­o­lah gam­bar, dan sese­ka­li ber­ma­in video game. Namun, sema­kin hari dorong­an untuk hijrah itu ter­a­sa sema­kin kuat.

Kita sebe­nar­nya sudah sema­kin ter­bi­a­sa dengan Linux–terutama bagi peng­gu­na smar­tpho­ne ber­ba­sis Android–sehingga pro­ses hijrah ke Linux di desk­top tidak ter­a­sa sebe­rat dulu. Tambah lagi, per­kem­bang­an OS open sour­ce itu kini sudah kian pesat dan sema­kin user-fri­en­dly.

Awalnya, saya hanya bera­ni mema­sang Xubuntu di netbo­ok kecil saya yang murah meri­ah. Saya memi­lih Xubuntu kare­na konon ia mem­bu­tuhk­an spe­si­fi­ka­si yang lebih ringan diban­dingk­an Ubuntu ver­si GNOME. Netbook itu umum­nya saya gunak­an untuk meng­e­tik ringan, tapi masih ter­a­sa agak lam­bat, mung­kin kare­na saya ini ada­lah tipe orang yang suka meng-insta­ll apa saja, lapar mata saat men­je­la­ja­hi Ubuntu Software Center. Di luar ken­da­la hardwa­re dan bebe­ra­pa bugs kecil, rupa­nya tidak ada masa­lah yang ber­ar­ti.

Sasaran saya ber­i­kut­nya ada­lah lap­top “uta­ma” yang sudah saya gunak­an sela­ma lima tahun ini, yang sela­ma ini sudah dihu­ni oleh Windows 7. Namun, saya hanya bera­ni mema­sang Kubuntu seca­ra dual boot ber­sa­ma Windows, kare­na bebe­ra­pa alas­an. Pertama, saya masih belum ter­bi­a­sa dengan GIMP dan Inkscape. Saya buk­an digi­tal artist, tapi Adobe Photoshop dan Corel Draw sudah men­ja­di can­du seti­ap kali saya harus meng­o­lah gam­bar seca­ra digi­tal. Kedua, sese­ka­li saya juga masih ber­ma­in video game yang ada di Windows, mes­ki­pun kesi­buk­an bela­kang­an ini mem­bu­at saya sema­kin jarang mela­ku­kan­nya. Khilafah Dual boot ada­lah solu­si­nya.

Hijrah memang tidak harus dila­kuk­an seca­ra total dalam seka­li jal­an. Ketika kaum mus­li­min mela­kuk­an hijrah dari Mekah ke Madinah, mere­ka pun mela­ku­kan­nya seca­ra ber­ta­hap. Saya mung­kin masih akan mem­bu­tuhk­an Windows untuk hal-hal daru­rat, tapi sedi­kit demi sedi­kit kebu­tuh­an itu akan terus ber­ku­rang.

Setelah bebe­ra­pa ming­gu men­co­ba, Kubuntu ter­nya­ta tidak ter­a­sa nyam­an di geng­gam­an saya. Rasanya agak ber­at dan saya ter­la­lu sering meng­a­la­mi masa­lah dalam mema­sang pro­gram-pro­gram yang saya ingink­an. Akhirnya, saya meng­ha­pus Kubuntu dan meng­gan­ti­nya dengan Ubuntu MATE. Ternyata, saya menyu­ka­i­nya. Lebih ringan, lebih sta­bil.

Benar saja, sete­lah dua bul­an mela­kuk­an dual boot dengan Ubuntu MATE, saya sudah sema­kin jarang meng­ak­ses Windows di lap­top ini. Semua kebu­tuh­an ber­kom­pu­ter saya (kecu­a­li game) bisa ter­a­ko­mo­da­si. Saya akan mulai bela­jar meng­gu­nak­an GIMP dan Inkscape pel­an-pel­an (dan juga WINE, kalau saya benar-benar putus asa). Selain itu, saya juga sudah jarang ber­ma­in game kelas ber­at, lebih sering ber­ma­in di pon­sel bila benar-benar bos­an. Kalaupun sua­tu saat saya men­ja­di kaya raya, punya banyak wak­tu luang, dan ingin ber­ma­in game di kom­pu­ter lagi, toh masih ada Steam di Linux.

Saya kira, hanya ting­gal wak­tu saja sam­pai saya bisa seca­ra kaffah mening­galk­an Windows. Semoga saya bisa terus isti­qo­mah.

Kantong Plastik 200

Sore tadi, saya ber­be­lan­ja bebe­ra­pa makan­an ringan di Indomaret. Saat tiba di kasir, saya meli­hat pap­an-pap­an ber­i­si per­i­ngat­an ten­tang baha­ya lim­bah plas­tik, dukung­an ter­ha­dap pro­gram peme­rin­tah, dan pem­be­ri­ta­hu­an bah­wa saat ini kan­tong plas­tik diju­al sehar­ga Rp200. Namun kasir tidak men­je­lask­an atau mena­nyak­an apa-apa kepa­da saya. Ia hanya mema­sukk­an barang-barang belan­ja­an ke dalam kan­tong plas­tik ber­u­kur­an sedang, kemu­di­an meng­hi­tung total har­ga­nya. Saat saya meme­rik­sa struk belan­ja­an, ter­nya­ta saya telah mem­be­li kan­tong plas­tik ter­se­but sehar­ga Rp200.

Sebuah tran­sak­si yang aneh. Ternyata benar, diam ber­ar­ti mem­be­li.

Tentu saya tidak hen­dak menu­duh Indomaret telah mela­kuk­an “peni­pu­an”, sebab saya belum ber­be­lan­ja di toko Indomaret lain­nya. Mungkin hal ini hanya­lah kesa­lah­an oknum kasir yang tidak meng­i­ku­ti SOP (seper­ti apa SOP-nya?) atau kesa­lah­an saya yang senga­ja tidak meng­i­ngat­kan­nya. Di luar itu, saya juga sem­pat ber­be­lan­ja di Alfamart dan 7-Eleven, dan kedu­a­nya meng­on­fir­ma­si dahu­lu apa­kah saya ingin mem­be­li kan­tong plas­tik mere­ka atau tidak.

Meski begi­tu, rasa­nya wajar bila saya memi­li­ki kecu­ri­ga­an ter­sen­di­ri ter­ha­dap supermarket/minimarket. Ketika sang kasir mema­sukk­an barang belan­ja­an saya ke dalam plas­tik tan­pa ber­ta­nya, saya ter­i­ngat pada kasus “kem­ba­li­an per­men” yang dulu sem­pat menim­bulk­an pro­tes sehing­ga akhir­nya dila­rang. Apakah pro­gram plas­tik ber­ba­yar ini akan diman­fa­atk­an mini­mar­ket untuk mera­ih keun­tung­an eks­tra seca­ra ter­se­lu­bung? Memang, uang yang dida­patk­an dari pen­ju­al­an kan­tong plas­tik kata­nya akan digu­nak­an seba­gai dana CSR. Namun bukan­kah CSR memang sudah men­ja­di kewa­jib­an perusahaan–dengan atau tan­pa men­ju­al kan­tong plas­tik ber­ba­yar?

Tindakan kon­su­men yang paling masuk akal untuk men­du­kung pro­gram ini ten­tu buka­nlah mem­be­li kan­tong plas­tik sehar­ga Rp200 sam­bil mem­ba­yark­an kewa­jib­an CSR mini­mar­ket, teta­pi dengan sebi­sa mung­kin tidak mem­be­li kan­tong plas­tik di mini­mar­ket. Salah satu solu­si yang banyak disa­rank­an ada­lah dengan mem­ba­wa tas atau kan­tong belan­ja­an sen­di­ri seti­ap kali ber­be­lan­ja.

Sementara itu, bila mini­mar­ket memang seri­us men­du­kung diet plas­tik, mere­ka harus lebih eks­pli­sit dalam menen­tang peng­gu­na­an (dan pembelian)-nya. Status kan­tong plas­tik saat ini ada­lah sama dengan barang dagang­an mini­mar­ket lain­nya, sehing­ga tidak per­lu dita­wark­an seca­ra khu­sus kepa­da kon­su­men bila kon­su­men tidak memintanya–kecuali, ten­tu­nya, bila kasir mini­mar­ket juga merang­kap seba­gai SPG kan­tong plas­tik.

Memberi Tanpa Imbalan

Setiap pagi, ada seo­rang penge­mis tua yang men­da­ta­ngi rumah Bu Darma. Saat Bu Darma mem­be­ri sede­kah kepa­da si penge­mis tua, penge­mis itu meng­u­capk­an teri­ma kasih ber­ka­li-kali, menam­pakk­an wajah baha­gia sam­bil ber­cu­cur­an air mata, ser­ta men­do­ak­an Bu Darma agar sehat dan banyak reze­ki. Bu Darma ikut baha­gia meli­hat eksp­re­si penge­mis tua itu dan meng­a­mi­ni doa-doa­nya. Sejak saat itu, si penge­mis sela­lu datang seti­ap hari, dan Bu Darma sela­lu mem­be­ri­nya sede­kah. Namun, lama-kela­ma­an, Bu Darma menya­da­ri ada sesu­a­tu yang ber­u­bah dari penge­mis itu. Lama-lama, senyum syu­kur di wajah si penge­mis itu sema­kin pudar, doa-doa­nya sema­kin pen­dek, dan bahk­an pada sua­tu keti­ka, si penge­mis ber­hen­ti meng­u­capk­an teri­ma kasih kepa­da Bu Darma.

Bu Darma pun kesal. Ia mera­sa penge­mis itu sudah lan­cang seka­rang, seo­lah-olah sede­kah Bu Darma diang­gap seba­gai kewa­jar­an dan buk­an sua­tu anu­ge­rah lagi. Ia pun memu­tusk­an untuk ber­hen­ti mem­be­ri sede­kah kepa­da si penge­mis tua itu dan men­ca­ri penge­mis lain yang [menu­rut­nya] lebih meng­har­gai sede­kah­nya.

Pertanyaannya, apa­kah sejak awal, Bu Darma memang benar-benar ikh­las mem­be­ri sede­kah?

Terkadang, kegi­at­an mem­be­ri yang dikla­im ikh­las atau tan­pa pam­rih bisa jadi memi­li­ki motif yang tak disa­da­ri. Mungkin, seca­ra seder­ha­na, kita bisa meng­a­tak­an Bu Darma “kurang” ikh­las kare­na ia masih meng­ha­rapk­an imbal­an dari si penge­mis, yai­tu ber­u­pa senyum syu­kur dan doa-doa. Kegiatan mem­be­ri sede­kah pun pada akhir­nya ber­u­bah men­ja­di kegi­at­an tran­sak­si bela­ka, yai­tu tran­sak­si menu­kark­an sejum­lah uang dengan ucap­an teri­ma kasih dan doa-doa. Ketika Bu Darma tidak men­da­patk­an imbal­an yang ia harapk­an, tran­sak­si pun ia hen­tik­an. Jual-beli diba­talk­an.

Lebih dari itu, mung­kin juga ada sema­cam “pene­gas­an keku­a­sa­an” yang tim­bul dari kegi­at­an mem­be­ri. Bukan hal yang sulit dipa­ha­mi, bah­wa orang yang mem­be­ri bia­sa­nya memi­li­ki “kele­bih­an” diban­ding orang yang dibe­ri.

Ibaratnya begi­ni: Saya mem­be­ri kamu uang, ber­ar­ti saya lebih ting­gi dari kamu, oleh kare­na itu kamu harus menun­jukk­an sikap seba­gai orang yang lebih ren­dah di hadap­an saya: menun­duk-nun­duk, ber­li­nang air mata, bahk­an menyem­bah-nyem­bah. Bila kamu tidak menun­jukk­an sikap itu (atau malah menun­jukk­an sikap ber­la­wan­an), ber­ar­ti kamu lan­cang, tidak tahu diri. Saya akan meng­hu­kum kamu dengan ber­hen­ti mem­be­ri kamu uang. Inilah “pene­gas­an keku­a­sa­an” yang saya mak­sud bisa ter­ja­di dalam kegi­at­an mem­be­ri.

Tentu saya tidak sedang ber­u­sa­ha meng­e­cilk­an man­fa­at prak­tis dari kegi­at­an ber­se­de­kah. Dalam jang­ka pen­dek, sede­kah yang kurang ikh­las seka­li pun masih lebih ber­man­fa­at bagi orang lain dari­pa­da tidak sama seka­li. Misalnya, bagi orang yang sedang kela­par­an, nasi bung­kus yang dibe­rik­an oleh poli­ti­si pen­ji­lat diang­gap lebih pen­ting dari­pa­da bea­sis­wa kuli­ah atau modal usa­ha.

Saya jadi ter­i­ngat pada kata-kata anak jalan­an di bus kota, bah­wa “mem­be­ri uang seri­bu-dua ribu tidak akan mem­bu­at Anda jatuh mis­kin dan tidak akan mem­bu­at kami kaya raya”. Kalimat itu ada benar­nya. Biasanya, orang mem­be­ri sede­kah memang buk­an untuk mele­nyapk­an jurang anta­ra si kaya dan si mis­kin, mela­ink­an untuk meng­a­ta­si masa­lah jang­ka pen­dek. Bahkan, ada juga orang yang ber­se­de­kah sam­bil tetap ingin mem­per­ta­hank­an jurang kaya-mis­kin dengan alas­an “kalau semua orang jadi kaya, nan­ti sia­pa yang mau mene­ri­ma sede­kah saya?”.

Dalam kehi­dup­an nya­ta, tidak banyak kegi­at­an mem­be­ri yang bisa dika­tak­an mur­ni tan­pa pam­rih. Program CSR per­u­sa­ha­an-per­u­sa­ha­an ber­tu­ju­an untuk mem­per­ba­i­ki citra di mata masya­ra­kat dan mening­katk­an pen­ju­al­an, ban­tu­an dari lem­ba­ga-lem­ba­ga inter­na­sio­nal hanya dibe­rik­an dengan sya­rat-sya­rat ter­ten­tu yang meng­un­tungk­an pen­do­nor, dona­tur-dona­tur LSM memi­li­ki agen­da poli­tik­nya sen­di­ri, peng­hu­ni rumah mem­be­rik­an hadi­ah kepa­da tetang­ga­nya demi mera­wat hubung­an sosi­al yang saling meng­un­tungk­an, pelangg­an rumah mak­an mem­be­ri uang kepa­da penge­mis supa­ya penge­mis cepat per­gi, orang yang mem­be­ri sede­kah hanya untuk menim­bulk­an per­a­sa­an nyam­an dan ten­te­ram dalam diri­nya sen­di­ri, dan lain seba­gai­nya.

Lantas, apa­kah manu­sia memang makh­luk yang sela­lu pam­rih? Mustahilkah bagi seo­rang manu­sia untuk mem­be­ri kepa­da manu­sia lain atas dasar kepe­du­li­an yang tulus, tan­pa meng­ha­rapk­an imbal­an apa pun–bahkan seka­dar doa, ucap­an teri­ma kasih, atau per­a­sa­an lega? Entahlah. Biasanya, kita meng­hin­da­ri per­a­sa­an “riya’” dengan men­ce­gah orang lain menyak­sik­an keba­ik­an kita. Padahal, pihak yang paling sering menyak­sik­an keba­ik­an kita jus­tru ada­lah orang yang mene­ri­ma keba­ik­an kita itu sen­di­ri.

Basa-Basi Tentang Cuaca

Sudah cukup lama saya tidak menu­lis di blog ini. Saya ingin ber­a­las­an bah­wa saya sedang ter­ke­na writer’s block, tapi itu pas­ti akan ter­de­ngar lucu, sebab sela­ma ini saya memang buk­an orang yang pro­duk­tif menu­lis. Meski banyak tem­an-tem­an yang ber­pes­an agar saya lebih rajin menu­lis, kenya­ta­an­nya, moti­va­si menu­lis saya malah sema­kin menu­run bela­kang­an ini.

Banyak hal yang ber­u­bah dalam hidup saya, mulai dari peker­ja­an baru, tem­pat ting­gal baru, ritme hidup baru, dan sta­tus baru seba­gai calon ayah. Dengan banyak­nya “pem­ba­ru­an-pem­ba­ru­an” itu, bukan­kah seha­rus­nya ada banyak ide untuk mem­bu­at tulis­an? Kenyataannya jus­tru tidak. Hal-hal baru itu menun­tut saya untuk ber­a­dap­ta­si sece­pat mung­kin, dan saya buka­nlah orang yang pan­dai ber­a­dap­ta­si. Konsentrasi dan pikir­an saya ter­pak­sa harus dia­lo­ka­sik­an lebih besar untuk hal-hal baru itu sehing­ga akhir­nya, keti­ka meng­ha­da­pi layar lap­top, kepa­la saya sela­lu men­ja­di kosong. Saya tidak tahu apa yang harus saya ceri­tak­an. Sebagian penga­lam­an-penga­lam­an saya ter­la­lu pri­ba­di, seba­gi­an ter­la­lu mem­bo­sank­an, dan seba­gi­an lagi masih sete­ngah matang. Meski begi­tu, saya tetap harus menu­lis sesu­a­tu di sini.

Tapi ten­tang apa?

Jawabannya, ten­tang cua­ca.

Cuaca ada­lah topik pusa­ka penye­la­mat momen-momen cang­gung dan pem­bu­ka obrol­an paling stan­dar. Ketika kita ingin memu­lai per­ca­kap­an dengan tem­an, kera­bat, atau bahk­an orang asing, cua­ca ada­lah tema yang paling mudah.

Aduh, panas banget hari ini.”

Iya, gerah banget nih. Kapan huj­an, ya?”

Parah banget, bad­an gue leng­ket semua.”

Aku udah man­di empat kali hari ini.”

Dan sete­rus­nya, dan sete­rus­nya. Kadang, kita bisa meng­u­lang infor­ma­si yang sama (bah­wa cua­ca hari ini panas banget) sam­pai sepu­luh kali dalam seha­ri. Dilihat dari segi efi­si­en­si, ini ada­lah komu­ni­ka­si yang sangat boros, redun­dant. Informasi meng­e­nai kea­da­an cua­ca hanya per­lu diu­capk­an seka­li saja bila memang tidak ada per­u­bah­an, tidak per­lu diu­la­ngi seti­ap lima belas menit seka­li. Namun, seper­ti yang kita keta­hui ber­sa­ma, manu­sia ada­lah makh­luk yang penuh dengan basa-basi. Manusia sering kali meng­a­tak­an hal-hal yang tidak ber­mak­na demi meme­nu­hi kebu­tu­han­nya akan inte­rak­si sosi­al. Kadang, kita juga ber­ba­sa-basi kare­na ter­pak­sa, sebab nilai-nilai dalam masya­ra­kat meng­ang­gap ber­di­am-diam­an dengan orang di hadap­an kita seba­gai per­bu­at­an buruk dan anti-sosi­al. Kita harus mema­klu­mi itu.

Lalu, kena­pa harus cua­ca? Mungkin kare­na cua­ca ada­lah topik yang paling netral dan paling mudah. Siapa pun bisa meng­o­men­ta­ri cua­ca tan­pa harus men­ja­di ahli mete­o­ro­lo­gi dan geo­fi­si­ka. Selain itu, cua­ca ada­lah topik yang paling mudah untuk kita setu­jui ber­sa­ma. Kita jarang seka­li meli­hat orang ber­de­bat, ter­sing­gung, apa­la­gi ber­ke­la­hi kare­na mem­bi­ca­rak­an cua­ca.

Bayangkan kalau orang-orang meng­gu­nak­an topik ten­tang poli­tik, aga­ma, atau mora­li­tas saat mem­bu­ka obrol­an dengan orang yang baru dike­nal­nya. Mungkin obral­an yang tim­bul akan jauh lebih seru, inte­lek­tu­al, dan vari­a­tif, tapi tidak semua orang ingin ber­de­bat dan meme­ras otak seti­ap saat, kan?

Basa-basi ten­tang cua­ca juga kadang ter­a­sa iro­nis. Kita mem­bi­ca­rak­an cua­ca seo­lah ini ada­lah masa­lah sepe­le yang tidak mem­bu­tuhk­an pemi­kir­an seri­us, tapi di sisi lain kita juga tahu bah­wa masa­lah cua­ca dan kon­di­si alam seca­ra umum  menyang­kut kelang­sung­an hidup kita semua. Cuaca yang kering dan panas telah menim­bulk­an keba­kar­an di mana-mana, ter­ma­suk keba­kar­an hut­an (atau pem­ba­kar­an hut­an?) yang asap­nya sulit diken­da­lik­an. Kekeringan melan­da, orang-orang sam­pai harus mela­kuk­an sho­lat isti­sqo dan mem­bu­at huj­an buat­an. Pemanasan glo­bal, gun­dul­nya hut­an, kepu­nah­an hew­an; banyak yang per­ca­ya bah­wa kehan­cur­an bumi ting­gal menung­gu wak­tu saja.

Mungkinkah lain kali kita harus lebih seri­us keti­ka mem­bi­ca­rak­an ten­tang cua­ca dan kon­di­si alam? Mungkinkah seha­rus­nya kita ber­wa­jah pucat dan ber­te­ri­ak his­te­ris keti­ka meng­a­bark­an kon­di­si alam yang buruk? Entahlah. Saya tidak tahu apa­kah kecen­de­rung­an kita untuk men­ja­dik­an topik cua­ca seba­gai basa-basi ber­hu­bung­an dengan cara pan­dang kita ter­ha­dap keles­ta­ri­an alam.

Di luar jen­de­la kamar saya saat ini, ada awan men­dung yang ter­ba­wa angin. Gerimis sem­pat turun sela­ma bebe­ra­pa menit, tapi huj­an deras seper­ti­nya akan ter­ja­di di tem­pat lain. Mungkin tak lama lagi musim peng­huj­an akan tiba, dan kita bisa meng­gan­ti basa-basi cua­ca kita, dari “hari ini panas banget” men­ja­di “hujan­nya deras banget”, atau “ban­jir­nya dalem banget”. Mudah-mudah­an tulis­an basa-basi sing­kat ini bisa men­ja­di pem­bu­ka untuk mem­per­lan­car tulis­an-tulis­an ber­i­kut­nya.

Ayam Saja Bisa Hidup

Pak Ade bingung. Pengeluaran keu­a­ngan­nya ter­a­sa tidak ter­ken­da­li. Baru saja satu ming­gu pasca-gaji­an, tapi saldo di reke­ning­nya ting­gal seu­jung kuku. Ia tidak tahu ke mana saja uang­nya ia belan­jak­an. Sebagian untuk jaj­an, seba­gi­an untuk hura-hura, seba­gi­an lagi untuk menun­jang gaya hidup, tapi tak ada alo­ka­si untuk tabung­an, apa­la­gi inves­ta­si.

Ia pun duduk di dep­an rumah­nya, mema­kai sarung dan kaos oblong, sam­bil meng­o­brol dengan anak dan istri­nya. Istrinya ber­ke­luh kesah men­de­ngar kon­di­si keu­ang­an kelu­ar­ga. Ia menya­lahk­an Pak Ade yang bela­kang­an hobi meng­o­lek­si batu akik, bahk­an mem­be­li bebe­ra­pa batu dengan har­ga fan­tas­tis hanya kare­na dibu­juk tem­an-teman­nya. Sementara itu, Pak Ade dengan san­tai menya­lahk­an istri­nya yang sering kalap belan­ja onli­ne, mem­be­li baju dan sepa­tu yang cuma sese­ka­li dipa­kai saat per­gi ke undang­an. Anak mere­ka yang masih TK tidak meng­er­ti apa-apa, tidak paham kalau sebe­nar­nya ia juga ikut disa­lahk­an kare­na sering mere­ngek min­ta dibe­lik­an main­an BoBoiBoy dan Avengers. Continue rea­ding Ayam Saja Bisa Hidup