7 Tips Mencegah Kebangkitan PKI di Indonesia

Wah, tidak terasa kita sudah memasuki penghujung bulan September. Bagi bangsa Indonesia, bulan September adalah bulannya anti-PKI. Pada bulan ini, para politisi berlomba-lomba mengajak masyarakat untuk senantiasa mencegah kebangkitan PKI.

Namun setelah puluhan tahun melanggengkan tradisi ini, anehnya masyarakat masih saja dihantui kebangkitan PKI setiap tahunnya. Apakah semua usaha puluhan tahun itu tidak berhasil? Apakah strategi yang diterapkan selama ini tidak efektif? Mungkinkah selama ini kita justru sebenarnya sudah masuk ke dalam jebakan licik  kaum komunis? Lalu bagaimanakah cara yang benar untuk mencegah kebangkitan PKI terbaru di tahun 2020?

Pada tulisan ini, saya akan berbagi tips untuk mencegah kebangkitan PKI. Dengan mengikuti tips-tips ini, segala macam propaganda dan hasutan kaum komunis tidak akan mampu mengoyak sendi-sendi kebangsaan kita lagi.

Nah, apa saja yang harus kita lakukan untuk mencegah kebangkitan PKI? Simak tips-tips berikut!

Continue reading 7 Tips Mencegah Kebangkitan PKI di Indonesia

Menolak Togel (Totoro Gelap)

Hari ini saya menemani anak-anak menonton film animasi My Neighbor Totoro. Film klasik karya Studio Ghibli ini dibuat pada tahun 1988, jadi kira-kira ia memiliki umur yang sama dengan saya. Sebenarnya sudah beberapa hari ini kami membuat program menonton satu film pilihan per hari untuk anak-anak, sebagai konsekuensi telah melarang penggunaan smartphone karena mereka sudah kecanduan Wormzone dan Youtube Kids.

Setelah menonton Petualangan Sherina dan Garuda di Dadaku di Netflix, kami memilah-milah film apa lagi yang cocok untuk anak-anak tetapi tetap menarik bagi kami sebagai orang tua yang mendampinginya. Syaratnya, film tersebut harus berbahasa Indonesia (bagi saya anak usia 4 tahun belum waktunya belajar bahasa Inggris), dapat ditonton sekali duduk (bukan film seri), dan tentunya aman untuk anak-anak.

Film Disney tampaknya membosankan dan aplikasi Disney + Hotstar tidak bisa di-screencast ke TV menggunakan dongle KW buatan Cina (anehnya, Netflix bisa). Akhirnya saya kembali menjelajah Netflix dan menemukan film-film animasi karya Studio Ghibli yang sudah di-dubbing ke dalam bahasa Indonesia. Salah satunya, yang paling terkenal sepanjang masa, tentu saja adalah My Neighbor Totoro (となりのトトロ).

Continue reading Menolak Togel (Totoro Gelap)

Kuliner Liar Januar

Bagi sebagian orang, merah berarti gairah, amarah, tanda berhenti, atau revolusi. Bagi sebagian lainnya, merah berarti darah. Seperti kutipan yang terkenal dari film PKI buatan Orde Baru dulu: Darah itu merah, Jenderal! Namun bagi bisikan-bisikan dalam kepala Januar, kutipan itu sedikit berbeda: Merah itu darah, Januar! Dan bukan hanya sekadar darah, tapi darah yang lebih spesifik, darah yang tidak bisa ia dapatkan dari ikan, ayam, atau hewan-hewan lain yang pernah ia makan hidup-hidup dalam acara reality show-nya: Kuliner Liar Januar.

Baca selengkapnya

Mengusir Hantu Bernama Sayu (2)

Part 2: Urban Legend

Hujan tak kunjung reda. Para pegawai kantor bertahan di menara mereka, berteduh di antara jendela-jendela kaca dan tembok-tembok kaku. Sebagian yang cukup beruntung membawa mobil pribadi memutuskan untuk pulang sambil menerjang hujan, sementara yang lain berusaha untuk tetap sabar sambil bertanya-tanya apakah malam ini banjir akan kembali melanda ibukota. ​​

​​Meski tidak membawa kendaraan pribadi, Denny tidak bisa bertahan di kantor. Ia sudah cukup muak melihat meja kerjanya. Sudah seribu satu malam ia habiskan untuk lembur tetapi berkas pekerjaan masih saja menumpuk. Ia merasa dijajah.

Sambil keluar dari kubikel, ia memesan taksi online lewat ponselnya. Biasanya ia tidak akan memesan mobil bila bepergian seorang diri, tapi hujan deras ini tak memberinya pilihan. Apalagi ia teringat bahwa masih ada voucher diskon lima puluh persen yang sudah lama tak digunakan.

Sambil menunggu notifikasi di ponsel, ia turun menggunakan lift dari lantai enam, kemudian menyusuri lorong hingga ke lobi gedung tanpa bertegur sapa dengan siapa pun. Tak banyak yang mengenalnya di gedung ini. Ia baru dua bulan pindah dan sebagian besar waktunya ia habiskan di depan meja.

Selain satpam gedung yang sedang berjaga di samping pintu, hanya ada dua orang karyawan yang berdiri menunggu mobil di lobi. Musik lounge terdengar samar-samar dari pengeras suara. Melodinya bercampur dengan ritme suara hujan dari luar, menimbulkan ambience yang cocok untuk bermalas-malasan. Tiba-tiba, saku celana Denny terasa bergetar. Ia memeriksa ponselnya sekali lagi.

​​Kami menemukan pengemudi untuk Anda. Mohon memenunggu.

Continue reading Mengusir Hantu Bernama Sayu (2)

Mengusir Hantu Bernama Sayu (1)

Part 1: Atmosfero

Gantungan tasbih bergoyang-goyang ketika mobil yang Adam kemudikan mengerem mendadak. Malam itu, pukul dua puluh, cuaca lumayan cerah dan jalanan masih ramai dengan orang-orang yang pulang dari kantor menuju rumah masing-masing. Namun kali ini tujuan Adam bukanlah rumah, melainkan sebuah tempat yang baru pertama kali ia datangi.

“Di sini, Pak?” tanya Adam kepada Haris, manajernya yang sedang duduk di sampingnya sambil mengetik sesuatu di ponsel.

Haris menoleh.

“Oh iya, belok kiri ke sini. Masuk aja ke parkiran.”

Sejak siang tadi, Haris memang sudah meminta Adam untuk mengantarnya ke tempat ini. Alasannya, karena hari ini adalah tanggal ganjil dan mobil BMW yang ia miliki bernomor genap. Sementara itu, mobil Avanza Adam bernomor ganjil sehingga tidak akan terkena razia ganjil-genap. Meski Adam tentunya bukanlah supir pribadinya, tapi ia adalah stafnya yang paling akrab. Sudah dua tahun ini mereka bekerja bersama dan kedekatan Adam dengan bosnya seringkali membuat staf yang lain merasa iri.

Area parkir itu lumayan luas. Ada tiga buah mobil yang sudah diparkir di sana, semua terlihat lebih mewah dan bersih daripada mobilnya. Dalam hati, Adam menduga satu-satunya alasan Haris memintanya mengantar adalah untuk menutupi jejak agar tidak ada yang tahu (termasuk supir pribadinya) bahwa ia berkunjung ke tempat ini. Ia memarkikran mobilnya di sebelah Fortuner hitam dengan hati-hati. Tak jauh dari tempat parkir terdapat plang neon kecil bertuliskan “Atmosfero Relaxation” berwarna pink dan biru yang berkedip-kedip. Ia membayangkan, tempat ini mungkin semacam griya pijat, atau spa, atau apa pun yang berhubungan dengan suasana relaks.

Continue reading Mengusir Hantu Bernama Sayu (1)

Selamat Tahun Baru, Hantu-Hantu yang Selalu Menunggu

Sudah hampir sebulan pesan itu masuk ke inbox Facebook-ku, tapi aku tidak pernah menyadarinya. Mungkin karena pengirimnya tidak termasuk dalam friendlist, mungkin juga karena kotak masukku sudah penuh dengan berbagai spam. Namun, pada malam tahun baru itu aku tergoda untuk membukanya lewat ponsel.  

Isi pesan itu singkat: Kamu penulis Kara Reshita ya?  

Continue reading Selamat Tahun Baru, Hantu-Hantu yang Selalu Menunggu

Pertanyaan Paling Aneh

Ada sebuah pertanyaan paling aneh yang pernah diucapkan Sri kepada suaminya. Saat itu ia baru pulang kerja, berjalan kaki selama lima belas menit dari bus karyawan, dan tiba di sebuah rumah kontrakan sederhana. Sebenarnya ia sudah lama ingin pindah dari rumah itu. Dapurnya sempit dan air PAM-nya kurang bersih. Sayangnya, kondisi keuangan mereka masih jauh dari cukup untuk mencari kontrakan yang lebih baik, apalagi membeli rumah sendiri. Sudah dua bulan sejak Aji, suaminya, di-PHK dari pabrik tempat ia bekerja. Satu-satunya sumber penghasilan mereka sekarang, termasuk untuk membayar kontrakan, adalah gaji Sri sebagai buruh yang tidak seberapa.

Sebelum masuk ke dalam, Sri menghela napas dalam, kemudian mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Mungkin Aji sudah tidur, pikirnya. Sejak menjadi pengangguran, suaminya memang sangat pemalas. Ia tak mau lagi bergaul dengan tetangga. Setiap hari ia hanya berdiam diri di rumah. Tidur, makan, dan minta dilayani seperti seorang raja.

Sri membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu, lalu meletakkan sepatunya ke dalam rak kecil di belakang pintu. Tiba-tiba telinga Sri menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ia mendengar suara musik, pelan dan sayup-sayup. Tidak ada yang pernah menyalakan musik di dalam rumahnya. Aji adalah lelaki yang kaku dan membosankan, ia tidak suka mendengarkan musik atau radio sambil beraktivitas. Satu-satunya orang yang suka menyalakan musik adalah tetangganya, si maniak dangdut. Namun ia yakin musik itu berasal dari dalam rumah, dan musik yang ia dengar bukanlah musik dangdut. Itu musik jazz, atau blues, atau apalah namanya, ia tidak kenal aliran musik semacam itu. Ia hanya ingat pernah mendengar musik seperti itu di film-film.

Tanpa sempat membuka seragam kerjanya, Sri berjalan pelan ke arah sumber suara musik itu. Lantunan nada itu menggiringnya ke arah dapur. Ini mungkin cuma soal sepele, tapi sebagai orang yang mengetahui seluk beluk rumah, ia merasakan keganjilan. Ada “orang lain” di rumah ini, pikirnya. Sri memperlambat langkahnya, matanya awas, dan ia mulai mengendap-endap. Apakah sebaiknya ia segera keluar rumah dan mencari pertolongan? Pikiran itu datang dan pergi dalam benak Sri, tapi ia selalu membatalkannya. Ini cuma suara musik. Mana mungkin ada maling yang melakukan aksinya sambil menyalakan musik?

Dari balik dinding, ia mengintip ke arah dapur. Hidungnya mencium bau harum daging yang sedang dimasak. Ia merasa seperti sedang berada di dapur sebuah restoran, hanya saja dapur di hadapannya penuh dengan kardus-kardus bekas dan perabotan yang jarang dipakai. Di salah satu sisi dapur, di depan kompor, ia dapat melihat sesosok lelaki bertubuh tinggi–setinggi Aji, tapi cara berdirinya agak lebih tegap–berdiri membelakanginya. Ia dapat melihat tali celemek di belakang leher lelaki itu. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu.

“Udah pulang, Sayang? Nggak kena macet, kan?” ucap lelaki itu tiba-tiba tanpa menoleh. Suara itu terdengar merdu, manis, dan sangat lancar meluncur dari mulutnya. Tidak seperti Aji yang ucapannya selalu datar dan pantang berbasa-basi. Sri tidak menjawab pertanyaan itu, kepalanya terasa hampa dan ringan.

Ketika lelaki itu membalikkan badan dan memperlihatkan senyum paling manis yang pernah ia lihat, Sri pun mengucapkan pertanyaan itu–pertanyaan paling aneh yang pernah ia ucapkan kepada suaminya.

“Kamu siapa?” Continue reading Pertanyaan Paling Aneh

Patuh

“Tidak seperti dia, saya patuhi perintah tanpa emosi. Kalau Bos bilang siapkan tali, saya akan siapkan tali dan biarkan Bos gantung diri,” ujarnya.

“Kalau dia?”

“Dia pasti menolak,” jawabnya.

“Dia akan siapkan pistol. Karena menurutnya bunuh diri dengan pistol lebih keren.”

Mata

siapa yang mengajarimu
caranya menyembunyikan sendu?

kamu berdiri di situ
mengalihkan matamu dari mataku

seolah tahu
sepasang kaki yang tak berpisah
tak bisa melangkah maju

Baju Pink Nala

Mungkin Nala seperti bunga. Ia memakai baju pink pada pesta itu untuk menarik perhatian serangga dan burung yang dapat membantunya melakukan penyerbukan. Namun mungkin Nala tidak tahu, bahwa warna pink pada bunga juga berfungsi untuk menjauhkan predator, dan aku merasa diriku lebih mirip sesosok predator daripada burung penyerbuk. Itulah kenapa aku sama sekali tak membalas sinyal-sinyal yang ia berikan selama pesta, baik senyuman, kerlingan mata, atau bahasa tubuh lainnya. Bahkan ketika ia lewat di depanku dan mencoba menyapa, secara halus aku menghindarinya.
Continue reading Baju Pink Nala

Suara Mesin, Suara Rakyat

“Setelah berabad-abad, akhirnya kita menyadari bahwa manusia tidak mampu mewakili aspirasi manusia lain. Power tends to corrupt. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan suatu demokrasi langsung yang adil, bersih, dan efisien, kita membutuhkan suatu alat yang mampu mengelola, mengalkulasi, dan mengeksekusi aspirasi tiap-tiap warga negara dengan rasional, cerdas, tegas, ringkas, tanpa bias, dan tanpa faktor-faktor emosional yang membatasi seorang manusia.”

Aku sedang membaca paragraf itu ketika kudengar namaku dipanggil lewat pengeras suara. Kutitipkan buku berjudul Demokrasi Mesin: Sebuah Pengantar di atas pangkuan Aini yang sedang asyik bermain game ponsel, kemudian segera melangkah menuju bilik suara. Kotak besi setinggi tiga meter itu berpendar kehijauan, dan ketika aku membuka pintunya, aku dapat melihat sebuah kursi dan helm kaca yang tergantung di atasnya. Ternyata benar, interior bilik suara sudah lebih nyaman dibandingkan Pemilu sebelumnya. Kursinya tampak lebih empuk dan pencahayaannya lebih memadai.

Seketika, aku teringat pada buku yang kubaca tadi. Menurut buku itu, dahulu kala bilik suara Pemilu hanya berisi selembar kertas dan paku.


Cerita ini memenangkan Sayembara Fiksi Ilmiah Vol. 2 di Serana 42. Baca selengkapnya.

 

Raja

Kami terdiam di tengah kemacetan lalu lintas. Ia di kursi kemudi, mencoba bersabar memainkan kopling dan rem, sementara aku membaca linimasa Facebook yang sedang diriuhi postingan tentang kedatangan Raja Arab Saudi.

“Di tengah ketimpangan ekonomi ini, ternyata banyak juga ya, rakyat Indonesia yang bangga melihat kekayaan dan kemewahan Raja Saudi,” gumamku sambil merebahkan punggung dan membetulkan posisi sabuk pengaman.

“Memangnya kenapa?” tanyanya, masih suntuk memandangi kemacetan tanpa ujung.

“Aku kira orang-orang akan cemburu melihat keluarga kerajaan superkaya itu, apalagi dibandingkan dengan kondisi kehidupan mereka yang melarat,” jawabku.

“Jangan naif. Tidak semua orang miskin cemburu kepada orang kaya. Ada juga yang sudah ikhlas menerima kasta sosialnya. Melihat orang kaya, mereka akan merasa kagum. Apalagi kalau orang kaya itu seorang raja.”

“Lho, memangnya kenapa kalau raja? Raja orang lain, bukan raja mereka,” tanyaku, mencoba mendebatnya.

“Memang bukan, tapi mereka rindu memiliki seorang raja,” ujarnya, mobil melaju beberapa meter, “dan menurutku, orang Indonesia memang lebih cocok hidup dalam sistem kerajaan.”

“Kenapa?”

“Itu karakter orang Indonesia pribumi selama berabad-abad. Demokrasi a la Barat adalah sistem asing yang baru masuk kemarin sore, kurang cocok dengan kultur kita. Lagipula, sistem kerajaan itu lebih efisien dan efektif. Semua orang fokus dengan bidangnya masing-masing. Tidak seperti sekarang, semua orang dipaksa membuat pilihan di luar kapasitasnya. Hasilnya? Geser terus linimasa Facebook-mu, dan kamu akan lihat betapa bodoh pilihan yang mereka buat.”

Aku agak kesal mendengar penjelasannya itu. Aku tidak suka membayangkan hidup dalam sistem yang mengizinkan segelintir orang mendapatkan status sosial eksklusif hanya karena hubungan darah, seefektif dan seefisien apa pun pemerintahannya. Namun aku dapat memahaminya. Ia sudah merasa putus asa dengan kondisi negara ini. Ia tampak lelah. Aku pun memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.

Saat sedang asyik membahas meme Polwan cantik, tiba-tiba suara sirine terdengar nyaring di belakang kami. Mobil-mobil berusaha bergerak ke pinggir, tapi kondisi jalan terlalu padat untuk bergerak. Sirine di belakang semakin nyaring, meraung-raung. Ia memutar setirnya dengan gusar.

“Pejabat kampret! Sok penting!” makinya saat melihat sedan hitam melaju di sebelah kami, diiringi beberapa pengawal.