Requiem17 min read

09.05

Jam sembilan pagi, pengawas ujian datang. Aku tak menyangka kalau yang menjadi pengawas di ruang ujian kami adalah seorang pria muda yang terlihat seperti masih mahasiswa—mungkin ia kerja sambilan di bimbingan belajar ini. Walaupun sebagai sesama lelaki, aku bisa mengatakan bahwa wajahnya lumayan tampan, meski tubuhnya agak pendek untuk ukuran orang seumurnya. Ia mengenakan kemeja putih bergaris-garis coklat yang agak kusut, celana jeans biru yang warnanya sudah memudar, dan sepatu kets yang sepertinya sudah satu semester tidak dicuci. Meski begitu, tetap saja banyak teman-teman wanitaku yang berbisik-bisik genit ketika ia memasuki ruangan (mungkin itu karena kami sudah kelas tiga SMA, sehingga perbedaan umurnya tak terlalu jauh). Aku sendiri, hanya senang saja meperhatikan tingkah laku mereka.

Ia meletakkan tas ranselnya di bawah papan tulis dan meletakkan amplop coklat berisi lembar soal dan lembar jawaban di atas meja. Kemudian dia berdeham, memberi isyarat agar seisi kelas memperhatikannya.

“Tolong perhatikan, waktu kalian untuk mengerjakan soal, masing-masing satu jam tiap mata pelajaran. Yang sudah selesai boleh keluar lebih dulu, tapi dilarang berisik. Untuk nomor peserta dan nomor sekolah bisa dilihat di daftar hadir,” ia menunjukkan selembar kertas yang ada di tangannya, “ada pertanyaan?”

Aku sedang menyiapkan pinsil 2B ketika Silvia mengangkat tangannya. Ia duduk tepat di depanku, sehingga aku dapat melihatnya dengan jelas.

“Ya?” tanya pengawas.

“Nama Kakak siapa?” tanya Silvia dengan lembut.

Spontan suara whuuu seisi kelas langsung terdengar menyoraki Silvia dan pertanyaannya, beberapa orang tertawa terbahak-bahak. Silvia memang primadona di kelas bimbel ini: cantik (rambut panjang sebahu dicat agak pirang), seksi (hampir semua murid pria hapal berapa senti jarak dari pinggang ke tepi roknya), tapi ia terlalu genit, terlalu sering cari-cari perhatian. Aku lebih suka dengan tipe seperti Amel—wanita yang duduk dua bangku di sebelah kananku—yang tidak banyak bicara, cantik, dan cerdas.

“Evan. Nama saya Evan,” ucap pengawas itu sambil tersenyum. Tampaknya dia terkena perangkap Silvia, atau malah sebaliknya ya?

Kak Evan membagikan soal dan lembar jawaban satu persatu kepada kami, setelah itu ia meminta kami untuk mengisi daftar hadir. Suara alunan musik klasik yang lembut mulai terdengar dari speaker yang ditempelkan di sudut atap ruangan ini. Begitulah kebiasaan di tempat bimbel kami, mereka selalu memasang musik-musik klasik saat pelajaran dimulai, sebab mereka percaya ada semacam hubungan yang baik antara musik klasik dan kinerja otak. Silvia dan teman segengnya masih saja berisik dengan bisik-bisiknya, sementara aku sudah siap mengerjakan soal. Bagiku, try out ini memang bertujuan untuk menguji kemampuan sebelum Ujian Nasional nanti. Meskipun aku punya hobi bermusik dan bercita-cita menjadi musisi, namun tetap saja setelah lulus SMA ini aku berencana untuk kuliah di perguruan tinggi negeri favorit, sehingga aku tidak boleh main-main. Tentu dalam ujian yang sesungguhnya nanti aku tak menutup kemungkinan untuk memanfaatkan contekan, tapi tidak untuk try out ini.

 

10.55

 

Menit-menit berlalu tanpa terasa, sementara soal-soal matematika di hadapanku seperti menari-nari mengejek. Dari dua puluh lima soal, baru tujuh saja yang berhasil kujawab. Kadang-kadang aku tergoda untuk melirik teman di sebelahku, tapi aku tahu itu tak ada gunanya, sebab mereka pun sama saja. Kak Evan mengawasi kami dari tempat duduknya di muka kelas, kadang memainkan ponselnya, kadang juga berjalan berkeliling sambil memeriksa lembar jawaban peserta—seringnya sih ia bolak-balik di sekitar tempat duduk anak perempuan, dasar mahasiswa pemburu daun muda.

“Waktunya tinggal lima menit lagi!” ucap Kak Evan lantang.

Tiba-tiba saja sura kerisauan peserta ujian memenuhi ruangan yang semula hening, aku juga termasuk orang yang tiba-tiba mengeluh. Banyak teman-temanku yang terlihat pusing sambil garuk-garuk kepala, tapi lebih banyak lagi yang sibuk mengoper contekan. Dari tadi pun Silvia tidak henti-hentinya bertukar lembar jawaban dengan temannya, dan aku yakin Kak Evan tahu, tapi ia membiarkannya.

“Diperpanjang dong Kak, waktunya…,” ucap temanku, Yoga.

“Nggak bisa, bukan saya yang bikin peraturan,” ucap Kak Evan sambil tersenyum.

“Iya Kak, tadi kan waktunya kepotong buat baca pengumuman, absen, dan ngisi data di lembar jawaban,” rayu Yuni, salah satu anggota geng Silvia.

“Kakak ganteng deh…. Boleh ya? Sepuluh menit lagi aja….,” ucap Silvia manja, kali ini mendapat dukungan penuh dari seisi kelas.

Kak Evan tampak berpikir sambil memegang dagunya, lalu berjalan bolak-balik, “Yaudah, sepuluh menit.”

Spontan saja suara sorak luapan kegembiraan terdengar di seisi kelas, dan aku pun tak bisa menyangkal kalau aku ikut bersorak juga. Berarti waktunya tinggal lima belas menit lagi, mungkin aku masih bisa mengerjakan satu atau dua soal lagi, sisanya adalah untuk tes keberuntungan. Namun di antara suara sorakan yang masih tersisa, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang jauh lebih nyaring, sebuah suara yang membuat seisi kelas mengunci mulut rapat-rapat. Suara ledakan. Bukan, aku tahu suara itu, suara tembakan.

Suara itu benar-benar mengagetkan kami, bahkan jantungku terasa seperti berhenti untuk beberapa saat. Sepertinya suara itu berasal dari lantai dasar (ruangan kami ada di lantai dua), tapi aku tak bisa memastikan itu. Teman-temanku terlihat melongo; beberapa mencoba menaiki kursi dan mengintip ke jendela yang dipasang lebih tinggi dari tubuh kami, tapi tetap tak sampai. Kak Evan tampak kebingungan, lalu secara refleks ia bergegas ke arah pintu dan berniat akan keluar ruangan mengecek asal suara itu.

Saat ia membuka pintu, tiba-tiba suara musik klasik dari speaker yang ada di sudut atap ruangan berubah menjadi suara lain yang lebih nyaring. Suara itu adalah suara bising yang tidak jelas, samar-samar seperti terdengar suara teriakan dan keributan, tapi semua itu tertutup oleh suara dengungan. Beberapa saat kemudian, suara seseorang terdengar dari speaker tersebut.

“…zzzztt… jangan…. Zzzttt… keluar! Semua…. Dalam ruangan…. Tetap… zzzzttt… di dalam,”

Suasana kelas menjadi mencekam. Aku dapat mendengar suara tarikan nafas semua orang di dalam ruangan ini yang terjadi bersamaan. Aku dapat merasakan kepanikan mereka semua yang muncul tiba-tiba. Murid-murid berdiri dari duduknya dan saling memandang satu sama lain. Sementara itu, Kak Evan tidak jadi keluar ruangan, ia menutup kembali rapat-rapat pintu kelas yang tadi ia buka. Ia bahkan mengunci selotnya.

Suara dengung dari speaker menghilang, berganti dengan alunan musik Mozart, Piano Sonata In A Major, sebuah alunan piano bernada ceria yang terasa berbenturan dengan suasana yang kami rasakan saat ini. Aku hapal hampir semua judul-judul musik klasik yang sering diputar di sini, sebab aku memang sudah lama ikut les piano klasik, satu fakta yang sebenarnya tak begitu berguna untuk saat ini.

“Ada apa sih? Tadi itu suara apa?” tanya Yoga panik.

“Nggak tahu. Tapi yang jelas, kita nggak boleh keluar dari ruangan ini,” jawabku.

Suara bisik-bisik ramai terdengar di dalam kelas, beberapa murid menghampiri Kak Evan untuk bertanya, tapi ia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Apakah terjadi sesuatu yang berbahaya di luar sana, sampai-sampai kami harus tetap berada di dalam kelas?

DOR! Suara tembakan terdengar lagi. Kami menutup telinga karena kaget, kali ini aku jadi merinding. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kami sedang disandera? Aku ingat sebulan lalu aku melihat berita tentang sebuah sekolah di Amerika yang disandera oleh teroris, mereka mengancam pemerintah dengan melakukan penyanderaan itu. Kalau memang semacam itu keadaannya, kenapa mesti tempat bimbingan belajar ini yang disandera?

“Mungkin… teroris?” ucapku ketika Yoga menatap.

Yoga mengangguk pelan, lalu murid-murid yang lain juga ikut menatapku. Ternyata mereka mendengar ucapanku tadi. Suasana menjadi semakin panik, suara bisik-bisik kini menjadi semakin jelas terdengar. Beberapa anak perempuan terlihat pucat, mata mereka berkaca-kaca karena ketakutan. Jantungku pun tak hentinya berdetak kencang.

“Tenang…, jangan panik! Jangan berisik!” ucap Kak Evan dengan suara ditahan-tahan, “Kalau memang tempat ini disandera teroris, kita nggak boleh menarik perhatian mereka, kita harus tetap di sini sampai semuanya aman.”

 

 

11.25

 

Setengah jam telah berlalu, kami terkurung di dalam kelas. Selama setengah jam itu, Kak Evan berinisiatif menyuruh kami mengerjakan soal lagi, mungkin maksudnya untuk mengalihkan perhatian kami agar tidak terjadi kepanikan atau keributan. Namun mana mungkin kami bisa mengerjakan soal dalam kondisi seperti ini? Nyawa kami mungkin sedang di ujung tanduk saat ini, dan mendengar dua suara tembakan tadi, mungkin ada dua orang di luar kelas yang sudah dibunuh. Dalam kondisi menakutkan ini, soal matematika terlihat seperti hal yang sangat tidak berarti, hanya Amel saja yang masih terus mengerjakan soal meskipun air mata mengambang di matanya. Silvia, Yuni, Agnes dan anak-anak perempuan lain banyak yang menangis sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Sementara itu, anak laki-laki terlihat pucat dan tegang. Terutama Kak Evan, ia duduk di lantai, bersandar pada pintu keluar, keringat menetes dari dahi dan lehernya; mungkin ia merasa memikul tanggung jawab.

Kak Evan menengadahkan kepalanya ketika Silvia tiba-tiba datang menghampiri.

 

“Kak, aku mau ke toilet,” ucap Silvia pelan.

Kak Evan menarik nafas panjang, “tahan.”

“Kalau masih bisa ditahan aku nggak akan ngomong. Kak…, gimana dong?”

“Pipis aja di botol! Pakai sedotan!” ucap seorang murid bernama Bobby. Tak ada yang tertawa.

“Di luar bahaya. Kita nggak tahu ada apa, tapi yang jelas tadi ada dua kali suara tembakan,” Kak Evan berusaha menjelaskan.

“Aku nggak minta diantar. Aku pergi sendiri kok.”

“Tapi….”

“Tapi aku nggak mungkin…. Nggak mungkin di sini…. Toiletnya nggak jauh kan…. Masih di lantai dua, suara tadi kan dari lantai satu….”

Kak Evan berdiri dengan lemas. Perlahan-lahan ia membuka kunci selot di pintu keluar, lalu membuka pintunya. Ia melongok keluar dengan hati-hati, memastikan bahwa keadaan di luar aman. Mungkin saja tidak ada apa-apa. Mungkin saja teoriku tentang teroris tadi sama sekali salah. Mungkin ini cuma semacam acara reality show? Bukankah akhir-akhir ini banyak acara tivi semacam itu.

Setelah memastikan keadaan aman, ia menengok ke arah Silvia, “ayo, saya antar.”

Silvia melewati pintu dengan gerakan agak berjinjit, mungkin menahan buang air kecil—atau air besar, aku tak mau tahu. Sebelum menutup pintu, Kak Evan menatap kami yang masih ada di dalam ruangan dengan tatapan mata yang serius.

“Kunci rapat-rapat pintunya. Jangan ada yang keluar. Jangan asal buka pintu kalau ada yang ketuk-ketuk.”

Setelah mereka berdua keluar ruangan dan menutup pintu, aku dan Yoga segera berlari ke arah pintu untuk menguncinya. Dua orang murid pria yang lain segera menggotong meja besar dari depan kelas ke depan pintu, sebagai penghalang bila ada yang memaksa masuk. Setelah itu kami terdiam lagi, saling pandang satu sama lain, tak tahu apa yang harus dilakukan. Suara musik berubah menjadi German Dance In C Major, masih terasa berbenturan dengan suasana.

Aku meraih ponselku dari dalam saku celana. Aku akan menghubungi orangtuaku. Kutekan tombol untuk menelepon rumah, namun yang selanjutnya kudengar hanya nada-nada panjang yang menandakan bahwa tak ada yang mengangkat teleponnya. Sekarang kucoba menelepon kakakku, teman-temanku yang ada di luar, dan semua nomor telepon yang ada di ponselku, bahkan kantor polisi dan pemadam kebakaran. Panggilan tersambung, sinyal lancar, hanya saja tak ada satu pun yang mengangkat panggilan teleponku. Rupanya tindakanku itu juga dilakukan oleh teman-temanku yang lain.

“Percuma. Nggak ada yang angkat. Tadi aku udah coba panggil semua yang ada di hp-ku, koneksi lancar, tapi nggak ada yang angkat,” ucap Amel tanpa berdiri dari kursinya.

“Kok bisa begitu?” tanya Yuni.

“Nggak tahu,” jawab Amel.

“Mungkin…, mungkin seisi kota ini udah disandera teroris,” gumamku spontan.

Teman-temanku terperangah, wajah mereka semakin ketakutan. Entah kenapa, aku lagi-lagi mengucapkan kemungkinan yang membuat semua orang semakin panik. Yoga mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi sesorang. Ia terdiam selama beberapa saat, lalu menatapku dalam.

“…yang di luar kota, juga sama, nggak ada yang angkat,” ucap Yoga dengan suara yang bergetar.

Kami terdiam lagi. Ini benar-benar aneh, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang kami benar-benar merasa terkurung, tak bisa keluar, tak bisa menghubungi siapapun. Apa mungkin ini juga permainan reality show?

 

12.00

Suara pintu yang digedor-gedor mengagetkan kami yang sedang larut dalam lamunan masing-masing. Seseorang memukul-mukul pintu dari luar, sepertinya minta dibukakan. Tapi siapa? Kak Evan dan Silvia? Atau teroris? Dalam benakku, aku membayangkan sesosok laki-laki bertopeng hitam yang membawa senapan besar dan berusaha untuk masuk ke dalam ruangan ini karena sandera di luar sana sudah habis mereka bunuhi.

Yoga dan Bobby bergegas ke arah pintu dan mencoba menggeser meja yang menghadang.

“Jangan dibuka!” ucapku lantang.

“Bagaimana kalau Silvia dan Kak Evan? Mereka harus cepat masuk!” ucap Yoga.

“Bagaimana kalau teroris?” balasku.

Mereka saling bertatapan karena merasa ragu. Aku juga tidak tahu yang mana yang benar. Kalau itu Silvia dan Kak Evan, mereka harus segera masuk, karena mungkin mereka sedang dalam bahaya. Kalau itu teroris, sebaiknya kita menutup mulut dan berpura-pura tak ada siapa-siapa di ruangan ini.

“Naik!” ucap Jaka, temanku yang bertubuh tinggi besar, sambil menunjukkan punggungnya yang lebar itu.

“Apa?”

“Naik, lihat dari jendela!”

Aku segera memanjat punggungnya, lalu menghimpitkan tubuhku pada dinding dekat jendela. Jendela yang tinggi itu kini bisa kuraih. Jaka meluruskan tubuhnya, membuatku semakin tinggi. Kini aku dapat melihat ke luar ruangan melalui kaca jendela ini. Ternyata Silvia. Ia terus memukul-mukul pintu sambil sesekali menoleh ke belakang, seperti sedang dikejar-kejar sesuatu. Tapi kenapa dia sendirian? Di mana Kak Evan?

“Siapa?” tanya Yoga sambil mendongak ke arahku.

“Silvia! Buka pintunya!” jawabku setengah berteriak.

Yoga dan Bobby segera menggeser meja dan membuka pintu, sementara aku turun dari punggung Jaka. Semua mata tertuju pada pintu itu, dan ketika Silvia berlari masuk dengan tangan yang berlumuran darah, kami terkejut dan menahan nafas.

12.40

Ruangan kelas ditutup sebisa mungkin. Satu-satunya pintu diselot, dihalangi dengan meja, tumpukan kursi, dan semua benda berat yang bisa kami temukan. Kaca-kaca jendela kami tutupi dengan kertas, lampu kami matikan, sehingga ruangan ini menjadi gelap, hanya sedikit cahaya remang-remang yang tembus dari sela-sela kertas. Kami berusaha untuk mengesankan bahwa ruangan ini tak berpenghuni, sebab tampaknya teroris itu belum sampai menggeledah seluruh isi gedung ini. Suara musik klasik masih terus terdengar lewat speaker, kami tak bisa mematikannya, karena speaker tersebut tersambung dengan seluruh speaker yang ada di gedung ini, dan untuk mematikannya harus melalui ruangan di lantai dasar.

Darah yang tadi berlumuran di tangan Silvia kini tercetak jelas di dinding kelas, ia membersihkan tangannya dengan cara menggesek-gesekkannya pada dinding. Kami tidak tahu itu darah siapa, sebab Silvia tak mau memberi penjelasan. Ia bahkan tak mau bicara sama sekali. Sejak kembali ke ruangan ini, ia hanya meringkuk di sudut ruangan sambil menangis, dan apabila ada yang mengajaknya bicara ia akan menutupi wajahnya sendiri. Aku rasa ia benar-benar mengalami syok berat. Entah apa yang dilihatnya.

Kami sekarang duduk di atas lantai, bersandar pada dinding, sebab semua kursi sudah kami pakai untuk menghalangi pintu. Di sebelah kananku ada Amel yang sejak tadi terus menerus berusaha menelepon orangtuanya, meskipun ia tahu tak ada yang mengangkat. Di sebelah kiriku ada Yoga yang sejak tadi tak hentinya berdoa.

“Aku nggak ngerti, kenapa tiba-tiba jadi begini?” gumam Amel pelan.

“Kalau sampai seisi kota disandera, aku rasa ini bukan terorisme biasa…,” ucapku.

“Lalu apa?”

“Mungkin ini… kudeta? Kudeta bersenjata?”

“Kudeta? Secepat ini? Tadi pagi waktu kita berangkat, semuanya masih normal-normal aja kan?” ujarnya heran.

Amel benar. Kalau memang ini sebuah kudeta, tentara macam apa yang mereka miliki sampai bisa menguasai seluruh kota hanya dalam waktu beberapa jam saja? Tapi meski begitu, seharusnya mereka hanya akan mengincar orang-orang pemerintahan saja kan? Mereka tidak mungkin membunuhi anak-anak SMA seperti kami yang tidak ada hubungannya dengan politik atau pemerintahan, kecuali kalau kami melawan. Lalu bagaimana dengan Kak Evan? Apa ia dibunuh juga karena melawan?

Tiba-tiba aku teringat pada sesuatu yang sejak tadi aku lupakan. Aku meraih tas ranselku dan mengambil sebuah headset untuk ponsel. Amel dan Yoga memperhatikanku ketika aku menyambungkan headset itu pada ponselku.

“Radio,” ucapku.

Mereka mengangguk. Aku menekan tombol loud speaker dan menyetel fitur radio FM pada ponsel. Terdengar suara gemerisik pelan, tapi tak ada suara apa-apa lagi. Satu menit, dua menit, masih tak terdengar suara apapun. Bahkan setelah kucoba semua frekuensi yang ada, tak ada satupun yang melakukan siaran. Seolah semuanya lenyap begitu saja.

Yoga menghembuskan nafas kecewa. Amel kembali bersandar ke dinding.

“Kalau begini terus, kita akan mati ketakutan, kita nggak tahu ada apa di luar sana,” ucap Yoga.

“Terus, harus bagaimana lagi?” tanyaku.

“Keluar dari kelas ini! Aku mau keluar dari sini!” jawab Yoga sambil beranjak bangun.

“Kamu gila ya? Kamu nggak lihat apa yang terjadi dengan Silvia?”

“Kalau kita di sini terus, kita akan lebih gila dari dia!”

Yoga berjalan ke tengah kelas dan menatap seisi kelas yang remang-remang ini. Semua mata tertuju padanya, ingin mendengar apa yang akan ia ucapkan.

“Yang mau ikut denganku, ayo kita keluar dari kelas ini. Aku tahu ada bahaya di luar sana, tapi lebih baik kalau kita lihat sendiri dan kita tahu apa bahaya itu, daripada kita terus di sini, cepat atau lambat mereka akan menemukan kita!” ucap Yoga dengan suara agak lantang.

Tiga orang laki-laki, salah satunya Bobby, berjalan ke arah Yoga dan menyatakan ingin ikut dengannya. Sementara itu tak ada satu pun anak perempuan yang sepertinya setuju dengan kenekatan Yoga.

“Mungkin semua ini cuma permainan reality show, sebaiknya kalian periksa tiap sudut kelas, siapa tahu ada kamera tersembunyi,” ucap Bobby sambil memaksakan diri untuk tersenyum, “dan mungkin Silvia adalah salah satu krunya.”

Yoga berjalan ke arah pintu dan bersiap mengangkati kursi-kursi agar mereka dapat keluar kelas. Pada saat itulah, sebuah suara terdengar dari radio yang kubiarkan menyala sejak tadi.

“Kepada… semua orang yang mendengarkan siaran ini,” ucap suara di radio itu.

Suara itu terdengar seperti suara penyiar radio biasa, tapi anehnya aku dapat mendengar suara desahan nafasnya tiap kali ia mengucapkan satu kata. Seisi ruangan—kecuali Silvia yang terus meringkuk di pojok—bergerak mendekat ke arahku. Mereka ingin mendengarkan suara siaran radio ini, bahkan Yoga dan Bobby pun tak jadi keluar. Kuperbesar volume suaranya.

“…kami menyiarkan siaran rekaman ini setiap lima belas menit sekali, agar semua orang mengetahui. Kami mengumumkan bahwa… dalam waktu kurang dari dua jam… kami sudah mengambil alih kekuasaan penguasa kalian…,” suara itu berhenti selama beberapa detik, “… dengan itu maka…, planet kalian sudah berada dalam kekuasaan kami.”

Bobby tertawa pelan, sementara yang lainnya mengerutkan dahi kebingungan. Aku pun merasa heran, kenapa mereka menyebutkan planet, bukannya kota atau negara?

“Mereka mau bilang kalau mereka itu makhluk luar angkasa. Sekarang udah jelas kan, ini semua cuma acara reality show! Cukup, aku keluar dari sini!”

Bobby berjalan dengan cepat dan langsung mengangkati kursi-kursi sendirian. Sementara itu seluruh murid yang lain—termasuk Yoga—masih tertarik untuk mendengarkan siaran radio itu.

“…kami datang dari dunia yang namanya tak bisa diucapkan oleh lidah kalian, dan karena sekarang kami berkomunikasi menggunakan lidah kalian, maka kami tak dapat mengucapkannya. Apabila kalian, makhluk bumi, bersedia mengakui kekuasaan kami, maka kami datang dengan damai. Kami akan masuk ke dalam tubuh kalian tanpa rasa sakit atau menimbulkan luka fisik, hanya sedikit syok yang segera hilang.”

Bobby masih terus mengangkati kursi-kursi, sepertinya ia kesulitan, tapi tak ada yang berniat untuk membantu.

“…namun apabila kalian melawan dengan cara apapun, kami tak segan-segan untuk menumpahkan darah kalian. Saat kami masuk ke dalam tubuh fisik kalian, maka kalian akan bergabung bersama kami, lalu kita bisa membangun planet ini menjadi tempat yang lebih baik. Siaran ini disiarkan dari negara Indonesia. Siaran lain dari negara-negara yang telah menyerahkan diri: Inggris, Amerika Serikat, Spanyol, Cina, Korea….,”

Ini benar-benar tak masuk akal, akan lebih mudah diterima olehku kalau mereka mengatakan bahwa mereka itu teroris atau kelompok separatis. Sebenarnya mereka itu siapa? Makhluk dari dunia lain? Kalau memang benar, fakta bahwa makhluk itu berbicara dengan suara penyiar radio, menjelaskan bahwa makhluk itu memiliki kemampuan untuk merasuki tubuh fisik manusia. Itu artinya mereka menguasai bumi dengan cara merasuki manusia-manusia, ini seperti di film-film. Apakah mereka itu seperti serangga? Atau virus? Aku menatap wajah teman-temanku yang lain, wajah kebingungan lebih terlihat daripada wajah ketakutan.

Bergabung, syok, menumpahkan darah; tiba-tiba saja aku teringat pada sesuatu.

Dengan cepat aku segera bangkit dan menoleh ke arah Silvia tadi berada. Tapi ia sudah tak ada di sana. Aku memandang seisi ruangan yang gelap itu, dan pada akhirnya aku menemukan sepasang mata yang memancarkan sinar berwarna keemasan. Benda apa itu? Siapa itu? Teriakan tertahan terdengar dari suara teman-temanku, kami semua mundur, menjaga jarak dari Silvia yang melayang-layang di tengah ruangan. Di dekat pintu, Bobby terduduk lemas.

Beberapa saat kemudian, Silvia menjadi semakin pucat, sementara sinar yang keluar dari matanya menjadi semakin terang menyinari ruangan ini. Jantungku berdetak dengan kencang, aku tak bisa mempercayai apa yang terlhat di hadapanku, ini seperti mimpi. Di balik jendela tinggi yang kami tutupi dengan kertas, samar-samar aku dapat melihat bayangan kepala orang-orang. Ada sekitar lima siluet kepala yang berusaha menatap kami dari balik kaca jendela. Mereka seperti Silvia sekarang, bisa meraih jendela yang tinggi tanpa digendong, tapi dengan melayang.  Mereka menonton kami.

 

13.13

Kami tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kami bahkan tak tahu apakah kami akan tetap memiliki kesadaran apabila kami telah bergabung dengan makhluk-makhluk itu. Satu-satunya hal yang bisa aku ketahui sekarang adalah musik klasik yang mulai mengalun dari speaker di sudut langit-langit, musik yang seharusnya tidak termasuk dalam playlist kami: Requiem k.626. Satu-satunya musik latar yang terdengar cocok dengan suasana hari ini.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).