Pahlawan Farfar15 min read

Kabar Farfar
Artikel: Pahlawan Saja Tidak Cukup

Dua hari yang lalu, selusin setan hitam muncul di perempatan Jl. Rosii, sebagaimana sehari sebelumnya mereka membuat kekacauan di Hotel Belfars dan melukai tiga orang tak berdosa. Tidak pernah sepanjang sejarah, Kota Farfar menghadapi serangan setan hitam sesering ini. Tentu saja, siapapun tahu, para setan hitam telah membuat kekacauan semenjak dua dekade lalu, semenjak Raja Setan Osimir membuat sarang di pulau tanpa nama yang terletak di seberang pantai kota ini. Namun semenjak saat itu juga, seorang pahlawan bertopeng berkekuatan super bernama Pyror selalu menolong kota ini dengan kemampuannya yang di luar akal manusia biasa: kekuatan dan kecepatan super, tombak api, atau melompat setinggi gedung. Selama itu Pyror selalu membuat kota ini aman, sementara polisi dan tentara lebih banyak berpangku tangan—entah karena ketidakmampuan atau kemalasan. Meskipun pujian dan penghargaan diberikan kepada dirinya, namun tak sekalipun ia meminta imbalan. Semenjak saat itulah, anak-anak kita tak perlu membeli komik lagi untuk sekedar melihat aksi pahlawan super.

Tiga bulan yang lalu, dalam sebuah konferensi pers, Pyror mengklaim bahwa ia telah menghancurkan sarang Osimir di pulaunya. Semua orang bersorak gembira. Namun ada satu hal yang kita lupa, bahwa Pyror tak menyebutkan apakah ia telah membunuh Osimir atau tidak. Beberapa minggu kemudian, segala jenis serangan setan hitam terhenti, dan kita mulai berpikir bahwa Osimir memang telah mati. Namun tak lama setelah itu, dugaan tersebut terbukti meleset, karena sepasukan setan hitam hampir selalu menyerang kota setiap harinya tanpa henti. Meningkatnya jumlah korban yang berjatuhan menandakan bahwa Pyror kewalahan untuk menghadapi mereka, sementara polisi juga tak banyak membantu. Apakah yang sebenarnya terjadi? Apakah Osimir yang masih hidup menjadi murka terhadap kota ini sehingga ia semakin sering mengirim pasukannya? Seandainya saja ada pahlawan berkekuatan super lainnya maka…. (Bersambung ke halaman 11)

Urel Karta meletakkan harian Kabar Farfar yang baru saja dibacanya itu, kemudian meneguk secangkir kopi di hadapannya. Kepalanya pusing bukan main, seolah ada sebuah pusaran yang menyedot-nyedotnya keluar. Ia duduk di atas sofa reot di dalam rumah kontrakannya dan sesekali mengacak-acak rambutnya yang sudah panjang seleher. Kota ini membutuhkan pahlawan lain, adalah kata-kata yang terus bermunculan di otaknya setelah membaca berita di koran dan berbagai siaran radio beberapa minggu terakhir ini. Sementara orang lain hanya bisa berharap, ia tahu bahwa ia bisa lebih dari itu. Ia punya kemampuan untuk itu.

Sebuah sendok melayang di hadapannya, masuk ke dalam kaleng berisi gula, menyendok isinya, lalu secara perlahan memasukkannya ke dalam cangkir kopi. Sangat praktis, pikirnya. Sejak bangun tidur dua hari yang lalu, ia menyadari bahwa ia memiliki kemampuan untuk menggerakkan benda hanya dengan membayangkannya saja. Telekinesis, psikokinesis, apalah namanya. Sekarang, ia dihadapkan pada sebuah dilema yang berat: menjadi seorang pemalas yang bisa menyeduh kopi dan menyalakan televisi tanpa beranjak dari tempat tidur, atau membantu Pyror Si Pahlawan Super dengan melemparkan batu-batu kerikil berkecepatan supersonik pada sekelompok setan hitam. Baginya, itu adalah masalah besar. Namun, saat melihat sendok itu mengaduk cangkir kopi dengan sendirinya, ia berpikir bahwa mungkin Pyror masih bisa menjaga kota ini seorang diri, buktinya meskipun banyak warga terluka tapi tak pernah ada satu pun korban tewas dalam setiap insiden.

Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu rumahnya.

“Ya, siapa?” tanya Urel sambil beranjak dari sofanya.

“Amelita!” suara perempuan yang terdengar merdu menggelitik perasaannya, membuatnya melangkah lebih cepat ke arah pintu.

Ketika pintu itu terbuka, sesosok wanita berrambut kemerahan dan memakai baju hangat warna putih menampakkan rupanya sambil tersenyum ramah. Amelita adalah tetangga barunya semenjak dua bulan yang lalu. Ia seorang diri menempati rumah kontrakan yang ukurannya setengah kali rumah Urel. Pada pandangan pertama, Urel sudah jatuh cinta kepadanya, namun ia agak enggan karena meskipun selalu bersikap ramah, Amelita adalah wanita yang tertutup mengenai kehidupan pribadinya. Urel bahkan tak tahu dimana Amelita tinggal sebelum menjadi tetangganya.

“Ini, sudah selesai kujahit,” ucap Amel sambil menyerahkan kantong plastik berisi kaos milik Urel. Kaos itu sobek ketika ia membantu Amel memindahkan barang, dan Amel menawarkan diri untuk menjahitnya kembali.

“Wow, terima kasih. Jahitan yang rapi,” Urel memperhatikan bagian kaosnya yang pernah sobek, “kamu pernah kursus menjahit?”

“Entah. Aku tidak merasa pernah belajar hal semacam itu,” jawab Amel.

“Ayolah. Boleh saja kamu merahasiakan kehidupan pribadimu, tapi ada hal-hal yang bahkan sama sekali tidak penting untuk dirahasiakan,” ucap Urel sambil tersenyum.

Amel hanya tertawa kecil, seolah tidak ingin menanggapi komentar itu, “Hmmm…, jadi apa aku boleh masuk? Aku rasa kamu tidak perlu membayar ongkos jahit, tapi akan lebih sopan kalau kamu menjamuku dengan teh hangat dan makanan ringan.”

Seolah baru sadar, Urel segera mempersilakan Amel masuk, dan beberapa saat kemudian mereka sudah duduk di atas sofa. Urel menawarkan Amel untuk dibuatkan secangkir kopi, namun ia menolaknya dan lebih memilih secangkir teh. Di dalam hati, Urel merasa sangat bahagia wanita itu mengunjunginya. Sebagai seorang lelaki yang hidup sebatang kara, ia sering menjalani hari-harinya dengan perasaan kesepian.

“Eh, kalau kamu memang begitu inginnya menyimpan rahasia, akan aku tunjukkan satu rahasia padamu. Aku punya rahasia yang lebih besar dari semua rahasiamu,” ucap Urel tenang, padahal jantungnya berdebar kencang.

“Coba saja.”

“Oke, lihat ini.”

Urel memusatkan pikirannya pada tombol televisi. Ia tahu ia bisa melakukan ini, ia sudah mencobanya berkali-kali. Plop! Sedetik kemudian televisi pun menyala dengan sendirinya. Urel menatap Amel yang terlihat kaget.

“Televisi otomatis?” tanya Amel heran.

Belum sempat Amel menoleh kembali ke arah televisi, ia dikagetkan dengan sebuah vas bunga yang melayang-layang di hadapannya. Ia memundurkan posisi duduknya, seolah ingin melarikan diri dari tempat itu.

“Aku bisa melakukan itu,” ucap Urel.

“Kau.. kau pesulap ya? Ilusionis?” tanya Amel terkagum-kagum.

“Bukan, ini bukan sulap! Aku bisa menggerakkan benda dengan kekuatan pikiranku,” jawab Urel sambil meletakkan vas bunga itu di atas meja.

Amel menghela nafas untuk menenangkan diri dan menggeleng-gelengkan kepala, lalu bergegas ke meneliti vas bunga itu. Ia memutar-mutar benda beling itu dan memeriksa isinya.

“Pasti ada triknya. Mungkin ada tali atau apa. Aku sudah sering melihat sulap semacam ini di tivi, Rel,” ujar Amel sambil matanya memeriksa langit-langit.

“Tapi ini kemampuan sungguhan. Kamu tidak percaya?”

Amel tidak menjawab, ia hanya menaikkan pundak dan kemudian duduk lagi di atas sofa. Urel menghela nafasnya, ia berpikir mungkin ada baiknya juga kalau ia jadi pahlawan super seperti Pyror, sehingga kekuatan ajaibnya tak hanya dianggap sebagai tipuan sulap. Namun ada satu hal yang sebenarnya ditakuti Urel apabila ia melakukan hal tersebut, ia takut ia tak bisa menghabiskan waktu bersama Amel lagi seperti yang dilakukannya sekarang ini. Menghabiskan waktu bersama seorang pahlawan super bertopeng yang menyeramkan tentunya bukan hal yang ia inginkan dalam hidupnya.

2

Malam itu Urel dan Amel dalam perjalanan pulang setelah menonton film di bioskop pusat kota. Meskipun banyak orang yang memilih untuk tetap diam di rumah karena takut diserang oleh setan hitam, namun Urel memberanikan diri untuk mengajak Amel keluar, ia selalu merasa bahwa semua berita di media tentang setan hitam terlalu dibesar-besarkan.

Setelah turun dari bis, mereka memutuskan untuk berjalan kaki. Kebetulan, jarak dari jalan raya ke rumah mereka memang tidak begitu jauh, sehingga mereka tidak perlu menggunakan kendaraan umum lagi. Saat itu sudah pukul sebelas malam, cahaya dari lampu-lampu jalan membuat bayangan mereka terbentuk di dinding, menimbulkan perasaan teror dalam hati mereka. Perlahan-lahan Amel mengenggam tangan Urel, mungkin karena takut atau hanya karena terbawa perasaan. Urel menoleh sedikit dan jantungnya berdetak dengan sangat kencang, ia gugup bukan main.

Tiba-tiba saja suara gemuruh terdengar dari kejauhan, membuat tubuh kedua orang itu gemetar. Suara gemuruh itu diikuti dengan suara desisan yang semakin lama semakin menyakitkan telinga. Genggaman tangan Amel pada lengan Urel semakin erat, ia membutuhkan perlindungan. Kemudian beberapa sosok bayangan melesat secepat kilat dan berhenti di hadapan mereka. Urel dan Amel mundur selangkah, sekarang mereka sadar mereka dalam bahaya. Sosok makhluk-makhluk yang berada di hadapan mereka kini dapat terlihat dengan lebih jelas. Makhluk-makhluk itu memiliki bentuk seperti manusia yang kurus dan tinggi, tangan mereka ada empat dan menggantung panjang sampai melewati lutut, sehingga membuat postur tubuh mereka bungkuk. Seluruh kulit mereka berwarna hitam dan licin, mata mereka berbentuk bulat dan seperti pusaran yang menyedot-nyedot. Merekalah yang selama ini disebut sebagai setan hitam, dan sekarang ada lima ekor di hadapan Urel dan Amel.

“Berbalik, lari!” ucap Urel memberi aba-aba.

Baru selangkah Amel berbalik, tubuhnya berhenti bergerak. Tenggorokannya tercekat sehingga ia tak mampu berteriak atau berkata apa-apa. Ternyata di belakang mereka telah berdiri tiga ekor setan hitam, mereka telah dikepung. Tubuh kedua orang itu merapat, Urel memeluk tubuh Amel, seolah itu bisa melindunginya dari bahaya. Awalnya Urel berpikir semoga saja ada Pyror yang segera datang menolong mereka dan menghabisi setan-setan itu, atau setidaknya ada polisi patroli yang bisa membantu mereka melarikan diri, tapi kemudian ia sadar, sekarang ia punya kekuatan, ia tak perlu mengharapkan orang lain lagi.

Seekor setan hitam melesat cepat dan berniat menerkam mereka berdua, gerakannya yang sangat gesit membuat siapapun tak sanggup menghindar atau melindungi diri. Amel memejamkan mata dalam pelukan Urel, pasrah dengan apa yang akan terjadi. Urel tidak akan membiarkan hal itu, dalam waktu yang sangat singkat ia memusatkan pikirannya, dan seketika itu juga terkaman setan hitam itu berbalik, makhluk itu terpental beberapa meter ke belakang dan menghantam tanah. Setan-setan yang lain tampak resah, mereka mendesis semakin nyaring, seolah menyadari bahwa mereka mendapat perlawanan.

Amel membuka matanya perlahan, menyadari bahwa rasa sakit yang ia kira akan menimpa dirinya tidak benar-benar terjadi. Ketika ia menoleh ke wajah Urel, ia menyaksikan pancaran kepercayaan diri dari kedua mata pria itu, pancaran cahaya yang pernah ia lihat pada diri pria lain yang tak pernah ia ceritakan pada siapapun.

“Tenang, aku akan melindungimu!” ujar Urel.

Dua ekor setan hitam menyerang secara bersamaan, satu dari kanan dan satu dari kiri. Setan dari kanan melesat lebih cepat, cakarnya yang tajam mengarah ke tubuh Urel, namun dengan kekuatan telekinesis-nya Urel berhasil menepis tangan setan itu, lalu melemparkannya ke arah samping. Setan dari kiri berusaha menebas kepala Urel dengan kedua tangannya, namun kali ini Urel menggunakan kemampuannya pada besi-besi rongsokan yang tergeletak di pinggir jalan. Besi-besi itu melesat dengan cepat, lebih cepat dari gerakan setan itu, sehingga sebelum kuku-kuku hitamnya berhasil menyentuh Urel atau Amel, besi-besi itu menembus tubuh Sang Setan, menimbulkan suara lengkingan pelan, dan membuatnya jatuh terkapar. Kepercayaan diri Urel meningkat dengan pesat. Diam-diam, sebenarnya ia telah sering melatih kemampuan spesialnya itu dalam beberapa hari belakangan ini. Ia sadar suatu hari ia akan menggunakan kemampuan telekinesisnya untuk sesuatu yang lebih dari sekedar menyeduh kopi atau menyalakan televisi. Fakta bahwa ia telah berhasil melumpuhkan tiga ekor setan hitam tanpa banyak menggerakkan badan adalah bukti bahwa latihannya itu sangat efektif.

“Sekarang kita bisa lari!” ucap Amel sambil menggenggam tangan Urel dan berusaha menariknya.

“Tunggu. Aku bisa menghadapi mereka semua,” jawab Urel sambil menahan tangannya.

“Tapi, mereka terlalu banyak! Sebaiknya sekarang kita lari selagi kita punya kesempatan,” sanggah Amel. Para setan hitam tidak berhenti mendesis dan mengamati mangsanya.

“Tapi sekarang kamu percaya kalau aku bukan sekedar pesulap?” Urel tersenyum, kemudian menatap setan-setan itu satu persatu, “aku mungkin bukan pahlawan super seperti Pyror, tapi mungkin saja kan, kalau ternyata aku lebih kuat dariya?”

“Urel!” Amel merasa kesal melihat kepercayaan diri Urel yang tampak berlebihan. Dalam hati ia membanding-bandingkan Urel dengan pria yang pernah ditemuinya sebelumnya, mungkin mereka tak jauh berbeda.

Lengkingan panjang dari para setan hitam menandakan bahwa mereka akan menyerang secara bersamaan. Empat ekor setan hitam melompat tinggi dan menerkam ke arah Urel, tubuh mereka yang berwarna hitam membuat keberadaan mereka sulit dideteksi pada malam hari, apalagi dengan gerakan yang sangat cepat. Urel tidak kehabisan akal untuk menghadapi serangan dari segala penjuru itu, ia menggunakan telekinesis untuk menguasai gerakan satu ekor setan kemudian secara cepat melempar tubuh setan itu dengan gerakan memutar ke samping, sehingga tubuh setan itu menghantam tubuh setan yang lainnya, begitu seterusnya hingga membentuk lingkaran. Setan-setan itu terlempar dan terjatuh ke tanah.

Namun belum sempat Urel merasakan kemenangan, ia menyadari ada satu ekor setan yang sedang berusaha menyerang Amel. Kuku-kuku setan itu meluncur cepat ke arah kepala Amel, membuat wanita itu menjerit ketakutan. Dengan segenap kekuatan pikirannya, Urel berusaha mengentikan gerakan setan yang menyerang Amel itu. Ia memang berhasil, tapi itu membuatnya lengah dan tidak menyadari ada seekor setan lain di belakang dirinya yang telah bangkit berdiri. Setan itu kemudian mengayunkan cakarnya yang tajam mengkilap, mengoyak punggung Urel, membuat bagian belakang bajunya sobek beserta dengan kulit tubuhnya. Rasa perih yang bukan main menjalar dari punggung Urel, disertai dengan darah yang terus menerus keluar membuat ia berlutut lemah. Dengan rasa sakit yang dirasakannya itu, kini ia tidak mampu berkonsentrasi lagi, ia tidak mampu menggunakan kekuatan telekinesis yang telah membuatnya bertahan hidup selama ini. Tamatlah riwayatnya, ia tidak mampu lagi melindugi diri ataupun melindungi Amel. Dalam benaknya terlintas pikiran menyesali semua ini, ia akan tetap baik-baik saja seandainya kekuatannya tetap digunakan untuk menyeduh kopi dan menyalakan tivi.

Seperti biasanya, saat orang yang lemah berada dalam keputusasaan, maka seorang pahlawan akan datang menolong. Semua orang di kota Farfar sudah tahu siapa yang seharusnya mendapatkan peranan itu, dia adalah orang yang selama ini melindungi kota ini, seorang pahlawan bertopeng bernama Pyror. Ketika Urel memejamkan mata dan bersiap menerima apapun yang akan terjadi pada dirinya, ia mendengar suara kelebat angin, kemudian tercium bau hangus yang tajam. Perlahan-lahan ia membuka mata, dan ia menyadari bahwa setan-setan yang tadi berada di sekelilingnya kini sudah berubah menjadi abu, terlihat sisa-sisa bekas terbakar pada kumpulan abu itu. Kemudian ia mencari-cari Amel, ia ingat bahwa tadi Amel sedang diserang oleh seekor setan hitam, apa yang terjadi dengannya sekarang? Sedetik kemudian, ia berhasil menemukan Amel, wanita itu masih hidup dan tampak baik-baik saja. Di depan Amel berdiri sesosok pria bertopeng merah gelap, jubah hitam yang dikenakannya panjang sampai melewati lutut, dan ia berdiri dengan tegap. Orang itu adalah Pyror. Dengan perasaan kagum dan kaget, Urel menyaksikan Pyror yang sedang menusuk tubuh seekor setan hitam dengan tombak apinya, sebuah tombak yang secara ajaib tercipta dari kobaran api. Dalam hitungan detik, setan hitam itu terbakar, api terlihat menjalar cepat dari luka bekas tusukan yang dihasilkan tombak api, kemudian melumat sekujur tubuh setan itu. Makhluk mengerikan itu kini langsung berubah menjadi kumpulan abu.

Amel menatap wajah pahlawan bertopeng yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Namun tidak ada raut wajah senang atau kagum yang terpancar dari wajah Amel, ia malah mundur selangkah dan menunduk, kemudian berlari menghampiri Urel yang terluka.

“Rel… kamu, kamu tidak apa-apa?” tanya Amel sambil membelai wajah Urel yang penuh keringat karena menahan sakit.

“Tidak apa-apa, cuma punggungku sobek sedikit,” jawab Urel sambil memaksakan diri tertawa.

Amel memeluk tubuh Urel dan memperhatikan keadaan punggungnya yang terluka parah. Ia kemudian menggunakan jaket yang dikenakannya untuk menutup luka tersebut agar darahnya tidak terus keluar. Dalam hati, Urel merasa lega karena Amel sangat mengkhawatirkannya. Tadinya ia sempat takut kalau Amel akan membencinya karena kesombongannya telah memasukkan diri mereka dalam bahaya, apalagi setelah menyaksikan bahwa yang menyelamatkan Amel ternyata adalah Pyror, ia semakin merasa bersalah.

“Lain kali, kalau bisa lari, lari saja,” ucap Pyror dengan suara yang agak aneh karena terhalang topengnya. Ucapannya itu terkesan dingin bagi Urel, karena si pahlawan itu sama sekali tak berniat membantu Amel mengobati lukanya.

“Aku…, aku punya kekuatan, aku akan membantumu melawan makhluk-makhluk itu!” ucap Urel dengan terengah-engah menahan rasa sakit.

“Aku tidak butuh bantuanmu,” jawab Pyror pelan.

Urel terdiam mendengar jawaban itu, sekarang bukan hanya punggungnya yang sakit, tapi hatinya juga sakit, “Kau memang tidak membutuhkan aku, tapi kota ini membutuhkan aku!”

“Apa kau lihat betapa mudahnya aku menghabisi makhluk-makhluk itu? Aku tidak pernah kewalahan. Media suka membesarkan hal kecil,” ujar Pyror ketus.

“Pergilah,” ucap Amel pelan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Pyror segera melompat ke atap bangunan di pinggir jalan itu. Kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, ia berlari di atas gedung, melompat dari satu atap ke atap yang lain, lalu ia menghilang dalam kegelapan malam. Sementara itu, Amel dengan bersusah payah berusaha merangkul Urel dan membantunya berjalan. Mereka berharap akan bertemu orang lain atau polisi yang sedang berpatroli sehingga Urel bisa segera dibawa ke rumah sakit. Dalam hati, Urel tidak mengurungkan niatnya untuk menjadi pahlawan super, ia tidak peduli dengan Pyror. Setidaknya ia ingin bisa melindungi Amel dengan kekuatannya sendiri, tanpa harus ditolong oleh pahlawan bertopeng yang menyebalkan itu.

“Sekarang aku percaya kalau kamu bukan pesulap,” ucap Amel sambil tersenyum, “kamu orang gila!”

Mereka pun tertawa.

3

Di sebuah tempat tersembunyi di bawah tanah kota Farfar, Sang Pahlawan Super melepaskan topengnya. Terlihatlah wajah pria yang masih terlihat tampan meskipun ada bekas luka sayatan di bawah mata kanannya, wajah itu adalah wajah asli Pyror. Ia mendengus pelan, seolah merasa lega bisa bernafas bebas lagi. Tanpa sempat beristirahat terlebih dahulu, ia mengambil sebuah bola seukuran bola tenis yang berwarna hitam pekat. Bola itu ia dapatkan saat ia menyerang sarang Raja Setan Osimir beberapa bulan yang lalu, sebuah bola sihir yang dapat memanggil setan hitam dari dimensi lain.

“Valeria, kenapa kau melupakan aku?” gumamnya dengan suara yang serak.

Valeria adalah nama kekasihnya yang sangat ia cintai. Empat bulan yang lalu, Valeria diculik oleh Raja Setan Osimir, dan karena itulah ia menyerbu pulau raja setan itu seorang diri. Saat itu, dengan susah payah ia berhasil menyelamatkan Valeria dan mengambil alih bola sihir pemanggil setan yang selama ini digunakan Osimir untuk meneror kota. Namun, hatinya terasa remuk dan pikirannya terguncang ketika menyadari bahwa Valeria kehilangan ingatannya karena guncangan dahsyat saat bertempur dengan Osimir. Terlebih lagi ketika Valeria ternyata malah menjauhi dirinya, dan mengatakan bahwa ia tidak mencintainya. Merasa terpukul, Pyror membiarkan Valeria pergi dan menjalani kehidupan barunya sebagai seseorang yang bernama Amelita: memiliki tempat tinggal baru, pekerjaan baru, dan jatuh cinta pada pria baru. Namun ia selalu mengawasi wanita itu dari kejauhan, bertekad untuk membuatnya ingat kembali akan masa lalu mereka.

“Aku tidak peduli sebanyak apa setan hitam yang harus kupanggil dan kemudian kumusnahkan kembali, asalkan kau bisa melihat aku sebagai Pyror sang pahlawan super, seperti saat pertama kali kita bertemu, dan kau akan ingat bahwa kau sangat mencintaiku,” ucap Pyror sambil menggenggam bola hitam di tangannya, lalu sebuah gerbang sihir terbuka, dan setan-setan hitam berdesakan keluar dari dalamnya.

Catatan:

Cerita ini dibuat untuk kontes Fantasy Fiesta 2009

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).