Harry Potter And The Attachment Grandma25 min read

Chapter One
Extraordinary Exotic Exorcism

Pada suatu waktu (tentunya sebelum kejadian di Harry Potter and The Deathly Hallows), sekolah sihir Hogwarts diundang untuk menghadiri open house sebuah sekolah sihir di Indonesia. Bagi penyihir-penyihir di daratan Eropa, bisa mengunjungi sekolah sihir di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat jarang terjadi, sebab selama ini para penyihir Indonesia selalu menutup diri dari dunia luar, sehingga kesaktian mereka kerap kali menjadi misteri. Pada acara tersebut rencananya akan diadakan pertandingan-pertandingan dari berbagai macam cabang sihir dan juga pertandingan persahabatan Quidditch. Tentu saja seeker terbaik Hogwarts, Harry Potter diikutsertakan dalam pertandingan itu, bersama dengan pemain Quidditch terbaik lainnya yang dipiih dari seluruh asrama. Mereka benar-benar tak punya bayangan pemain Quidditch seperti apa yang dimiliki Indonesia, sebab olahraga ini masih terbilang asing bagi penyihir Indonesia.

Kereta sihir Hogwarts terbang di atas daerah tropis di garis khatulistiwa, sementara langit malam yang gelap dapat terlihat dari jendela kereta dimana Harry, Hermione, dan Ron duduk sambil melamun.

“Selamat datang di negeri eksotis,” gumam Ron, memecah lamunan mereka.

“Well, aku merasa kita akan segera melihat makhluk-makhluk sihir yang tak pernah kita lihat sebelumnya,” ucap Hermione sambil membolak-balik sebuah buku tebal setebal buku telepon.

“Apa maksudmu, Hormon?” tanya Harry dengan suara yang aneh.

“Hermione!” protes Hermione diikuti oleh suara tawa cekikikan Ron.

“Harry baru saja memakan coklat Namus Scramblus , dia tidak akan bisa mengucapkan nama orang dengan benar selama tiga hari tiga malam,” Ron menjelaskan sambil menahan tawa.

“Dan kau yang memberikan coklat itu?” tanya Hermione sambil melirik pada Ron.

Not really….”

“Hei, Hormon, kau belum menjawab pertanyaanku,” ujar Harry.

Hermione memukul wajah Harry dengan buku tebal di tangannya sebanyak tiga belas kali, menimbulkan luka yang cukup serius, namun tidak menyembuhkan kutukan Namus Scramblus yang ada di lidah Harry saat ini. Harry hanya bisa pasrah dengan perlakuan yang ia terima sambil kemudian menangkap buku tebal itu saat Hermione melemparnya.

“Hantupedia: Ensiklopedia hantu dan makhluk-makhluk sihir di Indonesia,” Harry membaca judul yang tertera di buku itu dengan lantang.

“Sst… jangan keras-keras, aku merasa salah satu dari mereka akan mendatangi kita,” ucap Hermione sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Mereka bertiga memasang telinga baik-baik, berusaha mendengarkan suara-suara halus yang nyaris tak terdengar. Selain mereka bertiga, tampaknya para murid yang lain sudah tertidur lelap, sementara para guru berada di gerbong yang lain, sehingga suasana menjadi begitu hening. Di antara suara mesin kereta yang digerakan dengan tenaga sihir, terdengar pelan suara sesuatu yang bergesekan, atau lebih tepatnya seperti sesuatu yang diseret. Suara itu semakin lama semakin terdengar jelas, pertanda bahwa makhluk apapun yang membuat suara itu sudah semakin dekat dengan tempat duduk mereka.

Tidak sampai satu menit kemudian, sesosok perempuan berbaju perawat lewat di samping mereka. Perempuan itu tidak berjalan, melainkan menyeret tubuhnya sendiri di lantai dengan gerakan yang pelan namun berat. Tubuh makhluk itu dipenuhi darah dan kotoran, beberapa bagian bajunya tampak terkoyak-koyak. Harry, Hermione dan Ron menatap makhluk itu sambil menahan nafas. Suasana pun menjadi tegang, sementara Hermione mengambil Ensiklopedia dari tangan Harry dan mencari-cari data mengenai makhluk itu.

“Ah, ini dia. Nama makhluk itu adalah Suster Ngeshoot,” bisik Hermione.

“Apa artinya?” tanya Ron sambil melirik.

“Dalam Bahasa Inggris, berarti Sliding Nurse,” jawab Hermione.

“Sliding Nurse?” gumam Harry, ia merasa bisa mengucapkan nama itu dengan benar, sebab itu bukan nama manusia.

“Benar-benar eksotis,” gumam Hermione lagi.

Di belakang makhluk itu, sesosok raksasa tinggi besar muncul dan menimbulkan suara berdebam yang keras setiap kali melangkah. Makhluk itu tercatat sebagai Buto Ijo atau The Blind Green, masih merupakan kerabat jauh dari Troll. Di belakang The Blind Green, sekelompok anak kecil berkepala botak berlarian ke sana ke mari sambil sesekali mengambil dompet para murid yang tertidur. Makhluk-makhluk itu teridentifikasi sebagai Tuyul atau Indonesian Pickpocket Dwarf, spesialisasi dalam mencuri uang. Di belakangnya lagi, seekor babi sihir sedang menggesek-gesekkan tubuhnya ke setiap pintu gerbong. Babi itu tercatat sebagai Babi Ngepet, atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan Itchy Boar, spesialisasi juga dalam mencuri uang—seperti orang Indonesia pada umumnya.

Mereka bertiga tidak hentinya berdecak kagum saat melihat parade makhluk-makhluk sihir asal Indonesia itu. Namun mereka tak mampu lagi berdecak kagum ketika makhluk-makhluk yang lebih menyeramkan muncul, misalnya ketika Sundal Bolong atau Hollow Bitch menatap mereka dan memperlihatkan punggungnya yang berlubang penuh darah, sambil makan sate seratus tusuk. Atau ketika Child of Kunti menghampiri mereka dan mencekik Harry.

“Expeliarmus!” Ron berusaha menyerang makhluk itu, tapi ternyata tidak mempan.

“Tampaknya mantra semacam itu tidak berguna, kita harus mencari mantra yang lebih lokal!” ucap Hermione sambil membolak-balik halaman bukunya, sementara Harry sudah hampir mati kehabisan nafas.

Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya Hermione menemukan juga sebuah mantra lokal yang mungkin bisa ia gunakan untuk mengusir makhluk berbahaya itu.

“Ini dia!”

“Cepatlah! Wajah Harry sudah terlihat seperti Kau-Tahu-Siapa, begitu buruk,” ucap Ron.

“A… ana kidung rumeksa ing wengi, teguh hayu huputa ing lar. Luputa bilahi jin setan datan purun, paneluhan tan ana wani miwah panggawe ala,” Hermione mengambil nafas sebelum melanjutkan mantranya, ia tidak biasa merapal mantra yang panjang dan berbahasa aneh seperti itu.

Sementara itu, Harry sudah hampir mati dicekik Child of Kunti sejak sepuluh menit yang lalu, wajahnya sudah membiru dan matanya melotot, “Ho… Hormon… cepattt… cepat…,”

“Gu… gu… gumaning wong luput, geni atemah tirta, maling adon tan ana ngarah ing mami, guna duduk pan sirna!” lalu Hermione mengayunkan tongkat sihirnya.

Child of Kunti tertawa cekikian dengan suara yang melengking, setelah itu baru ia melepaskan tangannya dari leher Harry. Harry terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang terasa sakit bukan main, sementara itu Child of Kunti meninggalkan mereka bertiga dan bergabung dengan rombongan hantu lainnya yang sudah bergerak ke gerbong berikut. Mereka bertiga akhirnya bisa bernafas dengan lega—kecuali Harry. Untunglah setelah itu tak ada lagi rombongan hantu yang lewat sehingga mereka bisa beristirahat dan tertidur pulas. Namun sayangnya, Hermione tidak menyadari bahwa mantra yang tadi ia bacakan selain berfungsi untuk menghilangkan pengaruh sihir juga berguna untuk mempermudah jodoh. Itulah mengapa dari luar jendela kereta, Child of Kunti terus memandangi Harry tanpa berkedip.

Chapter 2
The Witch Which Watches Who Wears Watch Wich is a Bitch

Esok paginya, rombongan Hogwarts telah sampai di tempat yang ditunjukkan oleh surat undangan sihir. Mereka semua turun dari kereta dipimpin oleh para guru dan kemudian berhenti di depan sebuah papan besar yang berhiaskan tengkorak manusia dan bertuliskan: PADEPOKAN ILMU GAIB GUNUNG MERAPI (sedang dalam renovasi, hati-hati banyak jenglot berkeliaran). Di sebelahnya ada terjemahan dalam Bahasa Inggris yang tampaknya baru saja dibuat: WIZARDRY AND BLACK MAGIC SCHOOL OF MOUNT MERAPI (renovation in progress, beware of Ugly-Looking-Long Haired-Vampiric-Living-Mini-Voodo-Doll).

“Tempat yang menyeramkan, bukan begitu?” ujar Dumbledore ketika Severus Snape menghampirinya.

“Ah, kurasa demikian,” Snape memicingkan matanya dan menatap puncak gunung merapi.

“Kita harus menjauhkan anak-anak dari Kita-Tidak-Tahu-Siapa,” ucap Dumbledore lagi.

“Ya. Dia adalah Seseorang-Yang-Namanya-Tak-Bisa-Disebut-Karena-Sekalipun-Kita-Ingin-Menyebutnya-Kita-Tidak-Tahu-Siapa-Namanya-Atau-Bahkan-Siapa-Dia,” Snape lalu menghela nafas dan berdeham pelan.

“Untuk itulah kau ada di sini, Severus.”

“Jangan khawatir, anak-anak ada dalam pengawasanku. Terutama bocah itu.”

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di dalam Padepokan, dan kini mereka menyaksikan sebuah lapangan besar yang merupakan arena pertandingan Quidditch dan pertandingan lain yang akan diadakan. Di salah satu sudut stadion, para pendukung tim Quidditch Indonesia bersorak-sorai dan membuat keributan, mereka tampak begitu brutal sehingga bagian tempat duduk mereka harus dijaga dengan segel sihir tingkat tinggi. Harry dapat melihat sekelompok supporter Quidditch yang membawa bendera bertuliskan Viking sedang adu mulut dengan kelompok supporter lain yang membawa bendera bertuliskan The Jak. Keributan mereka semakin lama semakin parah, sehingga seorang pengawas keamanan harus menyetrum mereka dengan listrik sihir bertegangan tinggi.

Harry duduk di antara Severus Snape dan Dumbledore. Sejak masuk ke dalam sini ia sudah merasa tak nyaman dengan cara Snape mengawasinya, seolah-olah ia tak pernah sedetikpun melepaskan pandangannya. Di sebelah kanan Harry, Albus Dumbledore sedang mengelus-ngelus jenggotnya yang berwarna putih sambil menonton pertandingan pertama yang akan digelar. Quidditch ada di rangkaian pertandingan ke-empat, jadi Harry punya banyak waktu untuk menonton pertandingan sebelumnya.

Pertandingan pertama adalah Transfigurasi, yaitu kemampuan untuk merubah diri sendiri menjadi bentuk lain, misalnya binatang—dikenal juga dengan istilah Animorph. Seorang siswa Hogwarts yang cukup berbakat maju ke tengah lapangan dan menunjukkan kemampuannya, dalam sekejap saja ia telah berubah menjadi seekor kucing hitam yang lincah. Beberapa saat kemudian, seorang siswa yang lain langsung berubah menjadi seekor kelelawar yang bisa terbang kemana-mana. Para pendukung dari Hogwarts memberikan tepuk tangan meriah, sementara para pendukung dari Indonesia tak henti mencacinya.

“Siapa yang paling hebat? Padepokan Merapi yang terkuat…, ganyang Hogwarts! Ganyang Hogwarts!” begitulah bunyi yel-yel mereka.

Ketika tiba giliran Padepokan Merapi, seorang anak laki-laki berumur lima belas tahun maju ke tengah lapangan dan memperkenalkan diri sebagai Ki Karang Anom. Ia lalu merapal sebuah mantra, dan seketika itu juga ia berubah menjadi sesosok makhluk. Bukan kelelawar, bukan kucing, apalagi tikus; ia berubah menjadi Tyranosaurus! Siswa-siswi Hogwarts terdiam, mereka tidak menyangka ada kemampuan seperti itu, bahkan para guru Hogwarts pun dibuat terkejut. Tidak hanya sampai disitu, Tyranosaurus itu pun berubah lagi menjadi seekor kalajengking raksasa yang tidak memiliki bayangan dan memiliki kontras warna yang berbeda dengan lingkungan sekitarnya.

“Mencengangkan…,” gumam Snape.

“Aku belum pernah melihat sihir semacam itu sebelumnya,” tambah Dumbledore.

“Tak bisa dipercaya, seolah dibuat dengan efek komputer,” ujar Harry.

Setelah pertunjukan pembuka itu, tibalah saatnya bagi Kepala Sekolah Padepokan Merapi untuk memberi kata sambutan dan ucapan selamat datang. Kepala Sekolah Padepokan Merapi ternyata adalah seorang wanita, sama tuanya dengan Dumbledore, namun memiliki wajah yang lebih menakutkan dan berpakaian serba hitam. Dumbledore seketika itu juga gemetar, begitu pula dengan Snape. Seseorang-Yang-Kita-Tidak-Tahu-Siapa ternyata adalah Mereka-Tahu-Siapa.

“Wanita… wanita itu…,” gumam Dumbledore cemas, keringat menetes di pelipisnya.

“Ini berbahaya. Aku tidak menyangka dialah kepala sekolahnya,” ucap Snape.

“Siapa dia?” tanya Harry penasaran.

“Dia adalah… Mak Lampir…,” jawab Dumbledore.

“Atau dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai, Attachment Grandma,” tambah Snape.

Setelah beberapa kali melakukan check sound, Mak Lampir akhirnya memulai pidato penyambutannya. Pertama-tama, ia mulai dengan tertawa sepuas-puasnya, kurang lebih selama sepuluh menit, baru setelah itu ia mulai berbicara.

“Tamu undangan dari sekolah Hogwarts yang kami hormati, senang sekali rasanya bisa menjamu kalian di sekolah kami yang megah ini. Sudah lima ratus tahun kami tidak pernah mengundang siapapun ke dalam sekolah ini, ini adalah kehormatan buat kalian. Dahulu kala, ketika negara kalian menjajah negara kami, kami sebagai para penyihir tak pernah tinggal diam. Kami selalu pro-aktif dalam menjalankan berbagai konspirasi, yang kadang berpihak kepada penguasa, kadang berpihak kepada para pejuang. Lalu setelah Indonesia merdeka, kami pun tetap berperan di balik layar, mengendalikan para penguasa, pejabat, dan infotainment. Oleh karena itu, saya selaku kepala sekolah di tempat ini, ingin memberikan satu wejangan: Jas Hitam! Jangan sekali-sekali meremehkan ilmu hitam! Hahahahaha….“

Pidato Mak Lampir ditutup dengan tertawa bersama-sama kurang lebih selama lima belas menit—itulah mengapa penjual permen pelega tenggorokan begitu laku di stadion ini— setelah itu ia pun terbang dan menghilang di balik stadion. Susunan acara selanjutnya dibacakan oleh seorang MC tamu, yaitu Laksmini Pendekar Seksi dari Gunung Lawu.

Snape dan Dumbledore terlihat semakin gelisah, terlihat dari tatapan mata Snape yang semakin tajam dan Dumbledore yang mengelus jenggotnya semakin cepat. Sementara itu Harry juga tampak gugup, karena sebentar lagi ia harus bertanding Quidditch melawan penyihir-penyihir Indonesia yang tampak menyeramkan itu.

“Tampaknya aku harus pergi,” ujar Snape.

“Baiklah, lakukan apa yang seharusnya dilakukan,” ucap Dumbledore sambil mengelus jenggotnya dengan gerakan semakin cepat.

Snape mengangguk pelan, lalu segera bangkit dari tempat duduknya. Namun sebelum ia pergi, ia menatap Harry sekali lagi, “Potter, tetap di sini, jangan pergi kemana-mana.”

“Tapi sebentar lagi aku harus bertanding,” ujar Harry.

“Aku tidak peduli,” ucap Snape ketus.

“Profesor Dumb…?” Harry meminta pembelaan dari Dumbledore, tapi ia malah ditampar oleh Dumbledore menggunakan jenggotnya.

“Jangan memanggilku begitu, itu membuatku terdengar bodoh!”

“Ma.. maaf, Profesor Dumb, tapi aku terkena sihir Na…,”

Harry ditampar lagi oleh jenggot Dumbledore, berkali-kali. Sementara itu, Snape langsung pergi ke belakang stadion, menuju sebuah lorong gelap yang sepi.

***

Lorong itu sangat gelap dan hanya diterangi oleh cahaya lampu petromak di dindingnya, selain itu bau kemenyan terasa begitu menyegat dan memenuhi setiap bagan lorong. Ketika Snape melangkah lebih jauh lagi, ia menemukan sebuah nampan berisi makanan ringan, ayam, dan nasi. Ia bergumam pelan, menggerutu tentang bagaiman penyihir Indonesia terlalu berbaik hati kepada makhluk-makhluk sihir mereka. Gerutuan Snape berhenti ketika dari kejauhan ia melihat sesosok penyihir yang sedang ia cari-cari.

“Attachment Grandma…,” ucap Snape pelan sambil menghampiri sosok Mak Lampir di lorong itu.

Mak Lampir berbalik, lalu tertawa terbahak-bahak—jenis tawa yang sudah dipatenkan agar tak ditiru oleh penyihir Malaysia. Kemudian ia menatap Snape, seolah sudah begitu lama mengenalnya, begitu mendalam, begitu penuh kenangan.

“Ah…, Siphilis Snake!” ucapnya.

“Severus Snape!” ucap Snape kesal.

Mak Lampir tertawa lagi, lalu memukul-mukulkan tongkat kepala manusianya ke atas lantai. Ia mengambil sirih dan mengunyahnya. Terkadang ia memang lebih dikenal sebagai nenek sirih daripada nenek sihir.

“Ki Sanak, sudah lama kita tak berjumpa,” ucap Mak Lampir.

“Aku bukan Ki Sanak!” Snape semakin kesal.

Mak Lampir tertawa lagi, kali ini sampai terbatuk-batuk—tampaknya ia menelan sirihnya.

“Bagaimana? Kau suka sekolahku? Mungkin sebaiknya kau pindah saja ke sini, tampangmu lebih cocok di sekolah ini,” ucap Mak Lampir, lalu tertawa, lagi.

“Tempat ini, penuh dengan aroma kegelapan. Ya, mungkin cocok untukku,” jawab Snape tenang.

“Hmm…, bagaimana kabar Dumb-Ble-Dore itu? Tadi aku melihatnya dari lapangan, ia masih bersama anak itu ya?”

“Ya,” diam-diam Snape menyiapkan tongkat sihir di balik jubahnya, “dan sekarang aku mulai berpikir, tentang tujuanmu yang sebenarnya mengundang kami ke sini.”

“Tentu saja untuk studi banding. Sekolah kami sedang berusaha untuk mendapatkan lisensi sekolah sihir standar internasional atau SSSI, makanya kami ingin studi banding dengan kalian. Tapi tampaknya kalianlah yang harus belajar dari kami,” ia tertawa lagi.

“Jangan bohong kepadaku. Aku tak akan membiarkan kau menyentuh anak itu!”

Snape mengeluarkan tongkat sihirnya dan akan membaca mantra, tapi ternyata Mak Lampir memiliki gerakan yang lebih cepat.

“Amburadul!” ucap Mak Lampir sambil menggoyangkan tongkatnya.

Seketika itu juga, sebuah sinar hijau keluar dari kepala tengkorak di tongkat Mak Lampir dan langsung menghantam Snape. Ia tersungkur dan merasakan sesuatu perubahan telah terjadi pada tubuhnya. Ia kaget bukan main ketika menyadari bahwa susunan tubuhnya telah berubah. Kaki di kepala, kepala di kaki. Mata ada di mata kaki, sementara mata kaki ada di mata. Sementara itu Mak Lampir tertawa puas, suara tawanya dapat memekakkan telinga Snape yang kini sudah berada di pantatnya.

“Kau jauh lebih lemah dariku. Aku ini Date Eater, terutama saat berbuka puasa,” ucap Mak Lampir, “kau sendiri tahu bahwa kekuatanku lebih unggul, bahkan dari Voldemort sekalipun.”

“Kalau memang kau sekuat dan sekejam itu, kenapa kau tidak membunuhku saja?” tanya Snape sambil mengejek. Mulutnya kini ada di dengkul.

“Tentu saja karena kau masih dibutuhkan di buku Harry Potter episode selanjutnya, bodoh! Apa harus kuberikan spoiler tentang siapa yang akan membunuhmu nanti?” ucap Mak Lampir sambil mengetuk-ngetukkan tongkatnya.

“Ja… jangan.”

Mak Lampir tertawa lagi, seolah 75% waktu hidupnya ia habiskan hanya untuk tertawa—dan karena dia immortal, maka itu akan sangat lama sekali. Kemudian ia berjalan melewati Snape yang masih dalam keadaan amburadul, ia keluar menuju lapangan dimana pertandingan Quidditch sedang berlangsung, dimana Harry tengah bertanding.

Chapter 3
The “Half Blood” Prince

Di lapangan utama, pertandingan Quidditch antara tim Hogwarts dan tim Merapi Jaya sedang berlangsung. Pertandingan ini jauh lebih ramai daripada pertandingan-pertandingan sebelumnya, sebab pertandingan ini akan sangat menentukan kehormatan kedua sekolah yang saling bersaing itu. Pertandingan yang berjalan dengan sengit itu dipenuhi oleh sorak sorai penonton, terutama dari pendukung tim Merapi Jaya.

“Merapi Jaya, Merapi Jaya, ayoo bantai Hogwarts…! Merapi Jaya, Merapi Jaya… ayoooo bantai Hogwarts,” begitulah yel-yel para penonton.

Sementara itu, pendukung dari tim Hogwarts lebih banyak diam dan mendukung secara sembunyi-sembunyi, hal itu disebabkan karena para pendukung Hogwarts tiba-tiba saja mendapat surat ancaman misterius yang ditulis secara bilingual:

——————————————————————-
-Surat Ancaman Bilingual-

Dalam Bahasa Indonesia: Dulu kalian pernah menjajah kami, namun sekarang… kalian masih menjajah negara kami. Namun setidaknya kami akan menjaga harga diri sekolah kami, dan oleh karena itu kami akan menang, apapun yang terjadi. Merapi Jaya adalah jiwa raga kami, darah daging kami! Kami yang miskin dan jarang bayar pajak ini rela mengeluarkan uang untuk menyokong tim Merapi Jaya. Kami rela berkelahi dan tawuran demi membela tim Merapi Jaya, mencorat-coret pagar, tembok dan bangunan lainnya. Dan oleh karena itu, kalau sampai Hogwarts menang, jangan harap kalian bisa pulang ke negara kalian dengan selamat! Kami akan mencincang kalian, mengirimkan santet atau teluh ke sekolah kalian! Kalian akan mandul tujuh turunan, sehingga untuk mencapai tujuh turunan itu kalian harus melakukan kloning. Kalian akan menderita serangan jantung, kanker, gangguan kehamilan dan janin, serta impotensi! Awas!

In English: I kill you! I kill you!

———————————————————————-

Di tengah lapangan, Harry Potter tampak begitu kewalahan. Ia sudah pernah bertanding dengan berbagai tim Quidditch dari negara-negara lain, namun belum pernah menghadapi lawan setangguh ini. Seperti beberapa waktu lalu, ia masih mampu mengalahkan tim Quidditch dari Arab yang bertanding menggunakan permadani terbang, tapi tim Quidditch dari Indonesia sungguh berbeda, mereka tidak menaiki sapu atau permadani, melainkan terbang begitu saja, mengendarai angin (seperti Voldemort).

Sementara itu, di sudut lapangan, Mak Lampir memperhatikan Harry yang sedang bertanding di atas sapu terbangnya. Kemudian ia mengangkat tongkat tengkoraknya setinggi bahu, memutarnya sampai ujung tongkat mengarah ke atas. Dari mata tengkorak di ujung tongkat itu, keluarlah sebuah sinar merah yang menyerupai garis lurus, sinar itu mengarah sampai ke atas, sampai membuat sebuah titik di dada Harry. Mak Lampir sedang membidik Harry. Harry menyadarinya ketika ia melihat sebuah titik merah yang mengikuti kemanapun ia pergi, dan ia pun menyadari dari mana sinar itu berasal.

“Amburadul!” Mak Lampir mengucapkan mantra.

Sebuah sinar hijau keluar dari tongkat Mak Lampir dan langsung melesat secepat kilat ke arah Harry, untungnya Harry sudah menyadarinya terlebih dahulu, sehingga ia masih sempat menghindar. Sinar hijau itu menghantam sapu terbang Harry dan merubahnya menjadi vacuum cleaner, Harry pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Tolooong!” Harry berteriak.

Di sudut lapangan yang lain, Dumbledore menyadari hal itu, kemudian ia segera mengayunkan tongkat sihirnya. Dari tongkat sihirnya itu keluar sebuah sinar yang langsung membungkus Harry dan membawanya dengan selamat ke dekat Dumbledore berada.

“Te… terima kasih…,” nafasnya terengah-engah, “terima kasih Profesor Dumb.”

Plak. Jenggot Dumbledore menampar Harry.

“Kau tidak apa-apa? Aku tidak menyangka kalau ia akan langsung mengincarmu,” ucap Dumbledore polos.

“Siapa dia sebenarnya?” tanya Harry sambil memegangi pipinya yang merah.

“Dia adalah Attachment Grandma, seorang penyihir yang sangat kuat dan kejam. Mungkin kekuatannya setara dengan….,”

“Dengan siapa?”

“Dengan Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut, Tom Riddle alias Voldemort.”

“Tapi kau baru saja menyebutnya.”

“Aku lupa.”

“Berkali-kali?”

“Sudahlah. Ayo Harry, kita harus memperingatkan murid-murid yang lain sebelum keadaan menjadi gawat,” Dumbledore menoleh ke arah deretan bangku penonton yang diduduki oleh siswa-siswi Hogwarts.

Mak Lampir yang tadi berada di sudut lapangan, kini langsung terbang ke tengah-tengah arena Quidditch, “Bubar! Bubar kalian semua!,” ia tertawa selama tiga menit, “sekarang, tangkap Harry Potter!”

Para anggota tim Merapi Jaya yang sedang bertanding Quidditch segera menuruti perintah Mak Lampir untuk mengejar Harry dan mengabaikan pertandingan. Para supporter yang ganas pun juga dilepaskan dari penjara bertegangan tinggi yang mengurung mereka atas perintah Mak Lampir. Mereka semua mengejar Harry dan Dumbledore, mengeluarkan seluruh kemampuan sihir mereka untuk menyerang atau berubah wujud: menjadi naga, kalajengking raksasa, tyranosaurus, brontosaurus, atau Dewi Persik. Dumbledore kewalahan menghalau semua serangan itu, bahkan ketika para guru Hogwarts yang lain ikut membantu, ternyata tak membawa banyak perubahan.

Harry yang sedang berlindung di balik kursi penonton, dikagetkan oleh Mak Lampir yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Jurus Mak Lampir berpindah tempat adalah pada tingkat yang tinggi, sehingga tak seperti penyihir-penyihir amatir yang saat berpindah tempat harus memunculkan awan atau asap—-atau pada beberapa penyihir berpengalaman biasanya mengeluarkan suara plop atau bang, Mak Lampir bisa menghilang dan berpindah tempat tanpa mengeluarkan asap atau awan, tapi hanya sebuah efek suara yang berbunyi “ting!”.

“Akhirnya kita bisa bertemu juga,” ucap Mak Lampir, lalu ia tertawa selama tujuh menit.

“Kenapa? Kenapa? Kenapa sepertinya seluruh penyihir jahat dan kuat selalu saja mengincarku?” Harry mengeluh sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

“Aku tidak ke sini untuk membunuhmu, tapi aku hanya ingin mengajakmu bergabung bersamaku,” Mak Lampir tertawa selama satu detik.

“Bergabung? Kenapa?”

“Baiklah, tentunya kau ingin mengetahui rahasia terbesar tentang dirimu, bukan begitu? Apakah kau sudah siap untuk mendengarkan siapa jati dirimu sebenarnya, Harry Potter?”

“Certainly.”

Mak Lampir kemudian tertawa selama dua puluh menit sebelum akhirnya memulai penjelasannya, “Kau… sebenarnya… kau adalah… Gerandong!” ia tertawa lagi.

Harry membenarkan kacamatanya, lalu menatap Mak Lampir dengan tenang, tidak ada sedikitpun raut terkejut di wajahnya.

“Kenapa kau tidak terkejut sama sekali? Apakah kau sudah tahu sejak awal?” tanya Mak Lampir heran.

“Tentu saja aku sudah tahu. Kau bukan orang pertama yang menyebutku demikian. Aku sadar, aku memang Gerandong,” ucap Harry tenang, lalu seberkas senyum tersungging di bibirnya.

“Tidak mungkin! Mustahil…, seharusnya cuma aku saja yang tahu bahwa kau adalah jelmaan Gerandong! Siapa yang memberitahumu sebelum aku?” Mak Lampir tampak kebingungan.

Harry tersenyum penuh kemenangan, “Sudah sering terjadi. Setiap kali tante-tante atau wanita yang lebih tua berusaha mendekatiku, mereka selalu mengatakan bahwa aku adalah Gerandong.”

“Itu Berondong!” ucap Mak Lampir setengah berteriak dengan suara seraknya.

Harry Potter tampak terkejut, keringat menetes di pelipisnya, jantungnya berdetak semakin kencang, “Apa? Lalu… apa itu Gerandong?”

“Gerandong adalah monster terkuat yang pernah aku ciptakan. Dulu, setelah Gerandong dipenjara di kahyangan, aku menggunakan Ajian Pengunduh Sukma untuk melebur jiwa Gerandong dan membentuknya menjadi seorang anak kecil. Namun karena saat itu baskom ajaibku sedang mengalami gangguan koneksi, akhirnya terjadilah kesalahan yang menyebabkan kau terlempar ke Inggris dari kahyangan. Dan sekarang, adalah saatnya kau kembali padaku, Gerandong, Pangeran Berdarah Campuran: manusia dan siluman,” ucap Mak Lampir, kali ini tidak tertawa.

“Fitnah! Fitnah! Semua itu adalah kebohongan! Aku adalah Harry Potter, ayahku bernama James Potter!” ucap Harry sambil berteriak-teriak.

“Bukan! Ayahmu adalah Mardian Si Siluman Harimau!”

“Aaahhh!!!” Harry berteriak kesakitan, seperti ada sesuatu yang menyeruak keluar dari dalam dirinya. Tenggorokannya tercekat, kepalanya terasa berat bukan main, secara sekilas muncul potongan-potongan ingatannya di masa lalu sebagai Gerandong.

“Sekarang kau mengerti kan, kenapa kau bisa selamat dari mantra Voldemort ketika kau masih kecil dulu? Itu karena pada saat itu aku menggunakan kekuatanku untuk melindungimu dari jauh. Yang melindungimu bukan Lilly Potter, tetapi aku! Kau juga bisa berbicara parseltongue karena kau adalah setengah siluman!”

“Jangan dengarkan dia, Harry! Itu semua dusta!” tiba-tiba Dumbledore hinggap di samping Harry.

“Oh, rupanya kau, Ki Dumbi,” ucap Mak Lampir ketika melihat Dumbledore.

“Namaku Albus Dumbledore!” ucap Dumbledore sambil menatap Mak Lampir tajam.

“Lihatlah sekarang, apa yang terjadi pada murid kesayanganmu itu? Ia akan kembali ke wujud aslinya! Hahaha!”

Dumbledore memeriksa keadaan Harry yang sudah berlutut sambil terlihat menggigil. Ia dapat melihat rambut-rambut hitam yang tumbuh di sekujur tubuh Harry secara cepat: di kening, leher, tangan, dan betisnya. Bekas luka di keningnya juga tampak bercahaya dan menjadi semakin besar. Sementara itu Harry terus mengerang kesakitan, ia berguling-guling di atas lantai.

“Hentikan semua ini!” ucap Dumbledore pada Mak Lampir, kemudian ia segera mengayunkan tongkat sihirnya dan sebuah sinar biru menyerang Mak Lampir.

Mak Lampir menggerakkan ujung tongkatnya dan menyerap sinar yang dikeluarkan Dumbledore, kemudan ia tertawa terkekeh-kekeh. Merasa kekuatannya tidak sebanding, Dumbledore mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. Ia terlihat gugup dan berpikir keras tentang apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Kau sudah tahu, kekuatan sihirmu masih jauh di bawahku. Kau tidak memiliki apapun untuk mengalahkanku!” ucap Mak Lampir sambil maju beberapa langkah.

Mak Lampir mengayunkan tongkatnya, lalu sebuah sinar merah terpancar dan menghantam kaki sebelah kanan Dumbledore, memaksanya untuk berlutut. Ia meringis menahan sakit, tapi kemudian ia menatap Mak Lampir dalam-dalam.

“Baiklah, Attachment Grandma. Kau memang memiliki segalanya, segala kekuatan yang tak kumiliki. Tapi tahukah kau? Aku sungguh kasihan padamu, karena ada sesuatu yang kumiliki…, tapi tidak pernah kau miliki seumur hidupmu…,” ucap Dumbledore dengan tenang.

Mak Lampir terdiam sejenak, ia menatap mata Dumbledore dengan tajam sambil berpikir. Tidak lama kemudian ia terkekeh geli, “Biar kutebak… Cinta? Kasih sayang? Persahabatan?”

“Bukan! Jenggot sepanjang satu meter!” Dumbledor mengambil tongkat sihirnya dan mengayunkannya ke arah jenggotnya sendiri, “Beardus Extensius!”

Tiba-tiba saja jenggot putih Dumbledore menjadi semakin panjang dan semakin kuat, lalu jenggot itu menjalar menuju ke arah Mak Lampir. Mak Lampir terkejut dengan apa yang dilihatnya, lalu jenggot itu pun membelit tubuh Mak Lampir dan mengangkatnya sampai empat meter di atas tanah. Mak Lampir menjerit kesakitan karena tubuhnya diremas oleh jenggot Dumbledore.

“Sekarang, menyerahlah dan kembalikan Harry Potter ke wujudnya semula!” ancam Dumbledore sambil mengacungkan tongkat sihirnya.

“Itulah yang sedang kulakukan, bodoh! Wujud asli Harry Potter adalah Gerandong!” suara Mak Lampir terdengar agak terputus-putus.

Dumbledore mengerutkan keningnya, dengan berbuat demikian ia membuat jenggotnya lebih erat lagi mengikat Mak Lampir. Mak Lampir berteriak-teriak kesakitan, sementara Harry sudah menjadi setengah manusia berbulu lebat.

Dalam keadaan yang menegangkan tersebut, tiba-tiba terdengar sebuah suara ledakan, dan tempat itu pun terasa berguncang dengan hebatnya. Dumbledore kehilangan keseimbangan, sehingga Mak Lampir terjatuh dari ikatannya. Semua orang di tempat itu menerka-nerka dari mana asal ledakan itu. Awalnya mereka mengira itu adalah salah satu ledakan yang berasal dari pertarungan antara murid-murid Hogwarts dan murid-murid Padepokan Merapi, tapi ternyata ledakan itu berasal dari sebuah bom yang meledak di pintu masuk stadion.

Sekonyong-konyong sekelompok orang berbaju gamis dan berbaju koko—beberapa di antaranya memakai sorban—masuk ke tengah-tengah lapangan. Mereka membawa golok atau bambu runcing dan ada juga yang membawa bendera yang diacung-acungkan ke atas. Di tengah lapangan mereka membuat formasi, dan salah seorang pemimpinnya mulai berorasi dengan memakai pengeras suara.

“Kami umumkan pada semua yang berada di sini, bahwa tempat ini akan kami tutup dan segel karena merupakan tempat praktek ilmu sihir! Kalian semua para penyihir adalah orang-orang musyrik yang bekerja sama dengan setan, oleh karena itu kami tidak akan segan-segan untuk melakukan tindakan apapun yang diangap perlu!“

Tiba-tiba saja seorang siswa Padepokan Merapi yang telah berubah menjadi T-Rex berusaha menyerang orang yang sedang berorasi tersebut dengan cara mencakarnya. Laki-laki itu terpental beberapa meter, tapi kemudian bangkit kembali. Ia memperlihatkan tubuhnya yang sama sekali tak menunjukkan luka atau cedera apapun, lalu ia tersenyum lebar.

“Percuma saja kalian menyerang kami! Kami kebal terhadap senjata tajam dan senjata api! Karena kami adalaaah… Pasukan Berani Kebal!” ucap orang itu dengan bangga. Kemudian masing-masing anggotanya yang lain mempertontonkan kemampuan kebal senjata mereka dengan cara membacok dan menusuk tubuh mereka sendiri yang tentunya tak menimbulkan luka sedikitpun.

Ternyata mereka berasal dari PBK atau Pasukan Berani Kebal, salah satu kelompok bersenjata yang sebenarnya berniat untuk pergi ke Gaza pada saat terjadi konflik dengan Israel beberapa minggu lalu, namun karena mereka ditolak oleh Palestina, akhirnya mereka memutuskan untuk menggerebek Padepokan Merapi yang terbukti sebagai tempat praktek sihir dan perdukunan.

Seorang penyihir dari Padepokan Merapi menggunakan tongkat sihirnya untuk menyerang salah seorang anggota PBK dengan sebuah bola api yang cukup besar. Anggota PBK yang memakai sorban itu memukul bola api tersebut dan melenyapkannya, sekali lagi ia membacok tubuhnya sendiri untuk memperlihatkan kekebalannya, “Ilmu sihir kalian tidak akan mempan terhadap kami. Tapi jangan disalahartikan, imu kebal kami bukan ilmu sihir, soalnya kami membaca doa dulu. Hiaaa!” orang itu kemudian berlari dan bertarung dengan penyihir Padepokan Merapi yang tadi menyerangnya.

Di sisi lain, Dumbledore memanfaatkan kekacauan itu untuk menggendong Harry dan menyelamatkannya, namun Mak Lampir menyadari hal itu, ia segera menghadang Dumbledore yang jenggotnya sudah kembali ke bentuk semula.

“Kau tak akan pergi membawa anak itu!” tukas Mak Lampir.

“Tidak. Tidak akan kubiarkan kau merusak masa depan anak ini seperti yang kau lakukan kepadaku dulu!” ujar Dumbledore berang.

“Dulu?”

“Ya, dulu! Ketika aku masih sangat kecil dan kau sedang bertamasya keliling Eropa, kau yang saat itu sudah setua dan sejelek sekarang, tiba-tiba saja menghampiriku. Kau melakukan hal yang sangat buruk kepadaku, sehingga semenjak saat itu aku kehilangan rasa tertarik terhadap perempuan, semenjak saat itulah aku menjadi gay! Dan sekarang, banyak penggemar Harry Potter yang menghakimi aku!” Dumbledore terlihat semakin berang sekaligus sedih.

“Itu bukan urusanku! Sekarang berikan anak itu kepadaku…!”

Tiba-tiba saja sebuah ledakan besar terjadi tepat di samping Mak Lampir, sehingga ia terpental sampai beberapa meter. Mak Lampir terbatuk-batuk dan berusaha bangkit, namun seketika itu juga tiga orang anggota PBK menyerang Mak Lampir dan cukup membuat Mak Lampir kewalahan. Melihat kejadian itu, Dumbledore tidak membuang-buang kesempatan, ia segera menghilang bersama Harry ke dalam asap hijau yang ia ciptakan.

Epilogue

Harry, Hermione, dan Ron duduk dengan tenang di dalam kereta sihir yang akan membawa mereka kembali ke Hogwarts. Masing-masing dari mereka tampak begitu kelelahan, bahkan Ron dan Hermione sempat tertidur beberapa jam yang lalu. Namun tidak demikian dengan Harry, ia tidak sempat tidur, karena ia harus terus menerus mencukur rambut-rambut yang tumbuh di sekujur tubuhnya. Dumbledore telah meyakinkan dirinya bahwa kata-kata Mak Lampir mengenai dirinya sebagai Gerandong adalah kebohongan belaka, dan rambut yang tumbuh di sekujur tubuhnya itu adalah semacam kutukan yang belum ditemukan penangkalnya. Oleh karena itu sampai penangkalnya ditemukan, Harry harus terus membawa alat cukur kemanapun ia pergi.

“Hormon, apa kau tahu mantra untuk membebaskanku dari kutukan ini?”

Plak.

Kunjungan ke Indonesia ternyata telah membawa pengaruh besar bagi para murid Hogwarts. Selain mereka telah menyaksikan sendiri sisi gelap dan anarkis dari dunia sihir, mereka juga mendapatkan pengalaman dan oleh-oleh yang unik. Seperti misalnya Ron yang menyelundupkan tuyul di dalam tasnya, atau Si Kembar Weasley yang berhasil menguasai ilmu babi ngepet: sepanjang perjalanan pulang George menjelma menjadi babi ngepet dan berkeliaran di seluruh gerbong, sementara Fred dengan sabar menjaga lilin—-dan terkadang dengan usil sengaja meniupnya.

Sementara itu, di gerbong utama, para guru masih sibuk berusaha mengembalikan tubuh Severus Snape ke dalam bentuknya semula. Sampai sejauh ini, mereka berhasil memperbaiki 90% dari susunan tubuh Snape, namun beberapa bagian masih sulit untuk diperbaiki; telinganya masih ada di pantat dan letak ibu jari tangannya masih tertukar dengan jari telunjuk. Mereka mengakui, bahwa mantra amburadul yang digunakan oleh Mak Lampir sangat berbeda dengan mantra-mantra sejenis yang mereka ketahui, sehingga untuk menghilangkan kutukannya mereka harus menggunakan mantra yang lokal pula. Dumbledore masih sibuk meraba-raba sekujur tubuh Snape untuk mencari bagian yang salah—-dan Snape menatapnya dengan perasaan terganggu—-sementara McGonagall masih terus membolak-balik halaman buku Mantrapedia Indonesia.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Dumbledore.

“…yes,” jawab Snape singkat dengan tatapan matanya yang dingin dan wajah yang pucat.

“Jangan merasa terganggu. Kita harus menyelesaikan masalah ini sebelum buku Harry Potter bagian selanjutnya terbit,” ucap Dumbledore, “atau Voldemort akan menertawakan kita.”

“…yes.”

THE END

Keterangan:

1) PBK bukan nama partai dan tidak ada hubungannya dengan organisasi manapun di Indonesia.
2) Viking dan The Jak yang ada dalam cerita ini tidak ada hubungannya dengan yang ada di dunia nyata.
3) Dumbledore adalah gay diambil dari pernyataan J.K. Rowling sendiri, dan bukan bertujuan untuk mendiskreditkan kelompok tertentu.
4) Harry Potter, Ron, Hermione, Dumbledore, Severus Snape, George & Fred Weasley, Mc Gonagall, Lort Voldemort, Quidditch, Mak Lampir, dan Gerandong adalah tokoh-tokoh yang tetap merupakan milik penulis asli masing-masing.
5) Terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada cerita Harry Potter dan Mak Lampir/Misteri Gunung Merapi yang asli.
6) Nama Dewi Persik hanya cameo.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).