Loteng16 min read

Apakah kalian pernah melihat hantu? Waktu masih kecil, aku sering mendengar ada yang berkata bahwa setiap orang pasti akan melihat hantu, setidaknya sekali dalam seumur hidupnya. Aku tidak tahu apakah itu benar atau cuma bualan, tapi sampai saat ini aku belum merasa pernah melihat hantu. Banyak orang yang bicara tentang kesaksian mereka melihat hantu, jin, dedemit, atau apalah namanya, tapi aku masih sanggup bersikap skeptik ketika mendengar cerita-cerita itu. Memang, ada juga pengalaman aneh yang terasa menakutkan yang bisa kuingat sampai sekarang, walau mungkin tak semua orang setuju bahwa apa yang pernah kulihat itu merupakan hantu atau setan.

Hantu yang menakutkan itu kutemui ketika aku masih kelas satu SMA. Waktu itu adalah hari kedua Idul Fitri, saatnya untuk bersilaturahmi mengunjungi keluarga-keluarga jauh. Di antara semua rumah keluarga ibuku, ada satu rumah yang paling enggan kami kunjungi, tapi mau tidak mau tetap kami kunjungi setiap lebaran. Rumah itu adalah rumah Bang Yusup, tak jauh jaraknya dengan rumah nenekku di Jakarta Selatan.

“Nanti jangan lama-lama ya, di rumah Bang Yusup. Ngeri gue,” ucap bibiku dengan logat betawinya ketika kami baru turun dari mobil.

“Ya elah, kite kan cuman di bawah doang, kaga usah naik ke atas,” ujar ibuku.

“Anaknya itu ya, Ma?” tanyaku.

“Iya.”

Sejak dulu, aku sering diceritakan oleh orang tuaku, bahwa Bang Yusup adalah seorang yang berilmu, ilmu yang dimaksud adalah ilmu supranatural. Ia memiliki kemampuan gaib untuk menyembuhkan penyakit orang lain, dan dari praktek itulah ia mencari nafkah. Meski begitu, tak banyak orang yang tahu, bahwa ilmunya itu dibayar dengan harga yang amat mahal. Orang bilang, bekerja sama dengan setan atau jin akan menuntut tumbal. Dalam kasus Bang Yusup, anak perempuannya sendiri yang menjadi tumbal. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan anak perempuannya itu, tapi menurut ibuku, sampai sekarang anak Bang Yusup yang bernama Maisaroh masih tinggal di loteng rumah, dikurung oleh ayahnya sendiri. Entah seperti apa rupanya, karena kabarnya di loteng itulah jin-jin peliharaan Bang Yusup tinggal dan menemani Maisaroh bermain.

Bang Yusup mempersilakan kami duduk di ruang tamu sambil menyediakan beberapa toples kue dan coca cola. Keponakan-keponakanku yang masih kecil langsung saja melupakan rasa takutnya ketika telah disuguhi cola. Dasar norak, gumamku dalam hati. Bang Yusup sebenarnya adalah orang yang ramah. Umurnya yang kutaksir sudah hampir sama dengan nenekku membuat kerutan dan cekungan gelap di wajahnya tampak jelas. Selain dengan Maisaroh dan kabarnya makhluk-makhluk halus, ia tinggal bersama istrinya yang juga sudah tua walau tak setua dirinya.

Aku meraup kacang goreng yang disediakan di atas meja. Sambil mengunyah kacang, kuperhatikan seisi rumah Bang Yusup. Rumahnya gelap dan terasa lembab. Yang menerangi ruang tamu kecil tempat kami duduk hanya sebuah lampu neon yang sudah mulai redup. Di dinding rumahnya yang putih kekuningan terdapat beberapa foto monokrom kakek-kakek bersorban yang kurasa masih bagian dari keluargaku, hanya saja aku lupa nama mereka. Rumah itu memang terasa angker, suasananya sama sekali tak memberikan rasa nyaman untukku.

“Gitu-gitu aje, diem di loteng. Masih dipasung,” jawab Bang Yusup ketika ayahku memberanikan diri menanyakan kabar Maisaroh.

Anggota keluarga yang lain hanya menggerutu pelan ketika mendengar jawaban itu. Mereka akhirnya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih menyenangkan. Pamanku menggoda Si Adi, keponakanku yang masih TK, ketika ia dimarahi ibunya karena terlalu banyak minum cola. Kami semua tertawa melihat tingkahnya. Namun pada saat itulah, hal yang tidak terduga terjadi, perutku terasa mulas dan sakit. Aku mencoba menahannya sekuat tenaga. Aku tak perlu buang air di rumah menakutkan ini.

“Kenapa?” tanya ibuku ketika melihat ekspresi wajahku.

Aku langsung memberi tanda dengan tangan dan wajahku bahwa aku sakit perut, dan perlu ke WC.

“Nanti aja, jangan di sini.”

Aku seratus persen setuju dengan saran ibuku, tapi rupanya tidak dengan Bang Yusup. Sikap ramahnya yang sedang tidak dibutuhkan tiba-tiba muncul ketika ia melihat ekspresi di wajahku. Sementara perutku semakin sakit tak tertahankan, Bang Yusup menawarkan aku untuk menggunakan kamar mandinya. Ibuku dan keluargaku yang lain tak kuasa menolak tawaran itu. Kalau menolak makanan atau minuman sih, masih wajar. Tapi mana ada orang yang pantas menolak tawaran memakai WC ketika ekspresi mulas ingin buang air besar terlihat jelas di wajahnya? Kalau saja di sini ada batu, pasti sudah kuambil, sebab katanya menggenggam batu bisa menahan rasa mulas.

Sayangnya, di sini tidak ada batu. Dan aku sudah bukan anak kecil lagi, sangat konyol kalau aku minta ditemani oleh ayahku. Kalau aku bilang aku takut ke WC karena rumah ini angker, Bang Yusup pasti akan tersinggung, dan keluargaku tentunya tak ingin ada kerenggangan hubungan keluarga hanya karena aku ingin buang air besar. Akhirnya ibuku pasrah dan menyuruhku mengikuti Bang Yusup ke arah kamar mandi.

“Nggak pa-pa. Kamar mandinya di lantai satu kok,” bisik ibuku saat aku beranjak pergi.

Aku mengikuti tubuh tua Bang Yusup yang berjalan pelan ke arah kamar mandi. Sementara itu Mpok Aminah, istrinya, masih menemani keluargaku di ruang tamu. Tidak kusangka rumah ini lumayan besar juga. Meski begitu, rumah ini sangat tak terawat. Terlihat dengan jelas atap rumah yang bolong-bolong, juga bekas rembesan air hujan yang menimbulkan warna kekuningan di lapisan temboknya. Mungkin karena yang tinggal di sini hanya sepasang kakek-nenek dan anaknya yang dipasung, jadi tak ada yang mengurus rumah.

Semakin aku masuk jauh ke dalam rumah itu, suasananya semakin gelap. Samar-samar dapat kucium bau wangi kemenyan di salah satu sudut ruangan, tapi aku berusaha tak menghiraukannya. Mungkin ia tak punya uang untuk membeli pengharum ruangan lain, pikirku. Akhirnya Bang Yusup berhenti. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang berpintu reot, kutebak itulah kamar mandinya. Setelah beberapa saat ia menghilang ke dalam kamar mandi, ia keluar lagi. Pada tahap ini dapat kurasakan bahwa rasa mulasku sudah menghilang entah kemana, tapi aku dapat bertaruh kalau aku kembali ke ruang tamu dan duduk di kursi, rasa mulas itu pasti datang lagi.

“Airnye kaga ade… mati dari sononye,” Bang Yusup bergumam pelan sambil menutup kembali pintu kamar mandi.

“Iya, nggak apa-apa lah.”

“Pake kamar mandi yang di atas aje ye?” Bang Yusup memberi tanda kepadaku untuk mengikutinya.

Aku merasa benar-benar enggan. Gawat, aku sama sekali tak berpikir akan naik ke lantai dua. Kalau tahu begini, sebaiknya kutahan saja sejak tadi. Tapi Bang Yusup tak bertanya apa-apa padaku, ia langsung menaiki sebuah tangga curam menuju lantai dua. Usia tua dan keriput di kulitnya ternyata tak membuatnya jadi loyo dan sempoyongan seperti orang tua lainnya. Ia tampak sangat segar dan sehat walaupun sedikit bungkuk. Aku tidak tahu apakah kesehatannya itu disebabkan oleh ilmu pengobatan yang ia miliki atau karena ia rajin berolahraga saat masih muda. Seolah tak punya pilihan lain, aku mengikutinya dari belakang. Maisaroh kan dikurung di loteng, bukan di lantai dua, aku tak perlu khawatir, pikirku dalam hati.

Tak lama kemudian aku sudah berdiri di hadapan sebuah pintu yang tak kalah reot dari pintu di lantai bawah. Rupanya ini kamar mandi yang ada di lantai dua. Sesaat setelah memeriksa keran air, Bang Yusup segera pergi sambil mempersilakanku memakai kamar mandinya. Ia turun lagi ke bawah, tampaknya ingin segera kembali mengobrol dengan keluargaku yang masih di ruang tamu. Aku tak punya pilihan lain, tak ada WC lain. Semoga saja aku tak perlu berlama-lama di dalam sana.

Kamar mandinya gelap, penerangan pada ruangan kecil itu pun hanyalah sebuah bohlam yang hampir putus. Cahaya kuning redup dari lampu itu menimbulkan bayangan yang menyeramkan pada dinding kamar mandi. Tentu saja aku tak perlu menyebutkan keadaan kamar mandi yang kotor dan bau pesing dimana-mana. Sambil mencoba menahan bau itu, aku membuka celana dan berjongkok di atas kloset. Aku mencoba membayangkan hal-hal yang menyenangkan, hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan hantu atau ilmu hitam, tapi bayangan suram di dinding kamar mandi yang kotor itu tampaknya sama sekali tak mendukung pikiran positif apapun.

Ayo keluar…. Cepat keluar, selesaikan, dan aku bisa segera keluar dari sini, gumamku sambil mengejan.

Saat aku masih berjongkok di atas kloset dan belum selesai membuang hajat, sesuatu memecah konsentrasiku. Sehelai benda tipis putih jatuh dan menempel di atas lututku. Apa itu? Benang? Kuambil dan kuamati benang putih itu, panjangnya kira-kira sama dengan satu hasta. Kuperhatikan teksturnya. Ini bukan benang…ini rambut! Rambut putih alias uban.

Secara refleks, aku mendongak ke atas dan mencari tahu dari mana asal rambut ini. Di atap kamar mandi ternyata terdapat sebuah lubang cukup besar yang sedikit terhalang dengan kayu-kayu yang tampak rapuh. Kupikir-pikir, lubang itu sepertinya langsung terhubung ke loteng. Aku memperhatikan lubang yang gelap itu, tapi karena sumber cahaya yang kurang, aku tak bisa melihat apa-apa. Anehnya, semakin lama kuperhatikan, aku seperti melihat sesuatu di atas sana. Sesuatu yang putih dan mulus di dalam lubang itu sepertinya memantulkan cahaya suram dari lampu bohlam, dan yang kulihat bukan hanya permukaan seperti kulit, aku juga melihat ada mata yang terbuka lebar dan beberapa helai rambut putih yang menjuntai keluar.

Aku memejamkan mata. Maisaroh? Apa itu Maisaroh?

Aku membuka mata lagi. Kuharap yang tadi itu hanya khayalanku saja, dan sekarang pasti sudah hilang. Aku melihat lagi ke atas, dan ternyata aku salah. Mata itu masih ada, rambut itu juga masih ada. Aku tidak bisa lari keluar begitu saja sementara kegiatanku di sini masih belum selesai, selain itu kakiku rasanya keram, aku tak bisa bangkit. Akhirnya selama sekitar lima menit kemudian aku menyelesaikan buang air besar dengan menyadari bahwa ada seseorang atau sesuatu yang selalu memperhatikanku dari balik lubang di atas sana, dan sesekali aku bisa mendengar desahan nafasnya yang meniup-niup dari atap kamar mandi.

Sesaat sebelum aku keluar dari kamar mandi, aku mendengar suara gesekan dari balik lubang itu, dan mata itu pun menghilang. Aku segera keluar dan menutup pintu serapat-rapatnya. Pintu yang rapuh itu seperti akan rubuh ketika aku memaksanya untuk tertutup erat. Sekarang, aku akan segera turun ke lantai bawah, dan apa yang kulihat tadi akan jadi cerita penting seumur hidupku. Aku menghembuskan nafas, mencoba menenangkan diri.

SRAAK! SRAAK!

Suara gesekan terdengar dari atas loteng, tepat di atas kepalaku ketika aku melangkah. Aku menoleh ke atas. Ada semacam tonjolan sebesar ukuran tubuh manusia pada atap, seolah-olah atap itu akan runtuh, dan siapapun orang yang merayap di atas sana, akan jatuh dan menimpa tubuhku. Aku merinding, kakiku semakin lemas, tapi aku paksakan untuk tetap maju. Aku maju selangkah. Sraak! Ia juga maju selangkah. Aku maju dua langkah, ia juga maju dua langkah. Ia terus mengikutiku dari atas sana, seolah-olah ia dapat mengetahui posisiku. Aku tak punya pilihan lain, aku harus berlari!

Aku menahan nafas dan berlari sekuat mungkin. Suara langkahku terasa berat menghujam lantai yang terbuat dari papan ini (lantai dua rumah ini terbuat dari papan, semacam triplek tebal), sampai-sampai aku khawatir lantai ini akan berlubang. Sementara itu suara gesekan panjang terdengar dari atas sana, mengikuti gerakan lariku, secepat apapun aku berlari. Maisaroh! Itu pasti Maisaroh! Maisaroh, anak perempuan Bang Yusup yang gila karena menjadi tumbal dari praktek perdukunan bapaknya!

DUAK!

Kakiku tersandung sebuang tangga kayu dan gerakan tubuhku yang sedang dalam posisi berlari membuat kepalaku menghantam dinding dengan sangat keras. Setidaknya, itulah dugaanku ketika benturan keras itu menggema di kepala. Aku mengaduh pelan, memegangi kepalaku, lalu terduduk lemas. Pandangan mataku tiba-tiba saja menjadi buram, ditambah kepalaku yang terasa sakit bukan main. Aku tidak bisa melihat apa-apa, semuanya berputar-putar di sekelilingku, seperti naik roller coaster. Kupejamkan mata dan kupijat-pijat kepalaku untuk menghilangkan rasa sakit. Benar-benar sial! Kenapa di saat aku dalam keadaan gawat, aku malah mengalami kejadian seperti ini? Setelah rasa sakit itu mulai mereda, kucoba untuk membuka lagi kedua mataku.

Ketika kubuka mata, pemandangan di hadapanku masih terlihat buram. Tapi lambat laun, pengelihatanku semakin jelas, dan aku mulai bisa menyadari bahwa ada sesosok wajah di hadapanku. Sangat dekat. Kira-kira hanya satu jengkal saja jaraknya. Wajah itu putih, sangat putih, seperti pemain kabuki dari Jepang yang pernah kulihat di tivi. Rambutnya panjang, sangat panjang, dan juga berwarna putih. Setelah pengelihatanku benar-benar normal, aku dapat memperhatikan kulit wajahnya yang tampak sangat halus, tanpa ada kerutan atau noda bekas jerawat sedikitpun. Meski aku yakin bahwa ia adalah seorang perempuan, tapi bentuk wajahnya sangat tidak lazim. Sangat menakutkan. Alisnya yang berwarna putih sangat tebal dan panjang, bahkan beberapa helai seperti menjuntai melewati matanya yang bulat besar. Bola matanya adalah satu-satunya warna hitam yang terdapat pada wajahnya, membuat efek kontras yang seolah menyedot apapun di sekitarnya. Bentuk hidungnya, seperti hidung Michael Jackson setelah dioperasi plastik—yakinlah, itu bukan sesuatu yang lucu! Dan bibirnya sangat pucat, berwarna abu-abu dan hampir mendekati kebiru-biruan, seperti orang yang sakit atau keracunan zat mematikan. Aku menahan nafas, aku tak ingin hembusan nafasku mengenai wajahnya, aku tak tahu apa reaksinya kalau hal itu sampai terjadi. Jantungku berdetak sangat cepat. Makhluk apa yang ada di hadapanku ini? Maisaroh?

Beberapa detik kemudian, sebuah sensasi dingin dan lembut hinggap di ujung hidungku. Jari telunjuk Maisaroh menyentuh hidungku dengan perlahan, rasanya seperti kapas yang halus, tapi sangat dingin. Di wajahnya yang menyeramkan, aku dapat melihat ekspresi penasaran dan keluguan, seiring dengan kedua matanya yang semakin terbuka lebar dan memperhatikanku dengan seksama. Aku menurunkan pandanganku, dan aku dapat melihat pakaian yang ia pakai: daster gombrong yang tampak lusuh, entah sudah berapa hari—atau berapa tahun—tak pernah diganti. Aku menghembuskan nafas sepelan mungkin.

Kalau aku pikir-pikir, umur Bang Yusup kira-kira hampir sama dengan umur nenekku, berarti umur Maisaroh yang sekarang ada di hadapanku ini setara dengan umur kedua orangtuaku. Tapi aku sama sekali tak melihat ada tanda-tanda penuaan, bahkan di balik bentuk wajah yang tidak menyenangkan itu aku melihat sorot mata anak-anak. Apakah Maisaroh sudah kerasukan jin? Ataukah ia sekedar manusia yang dilahirkan dengan memiliki kelainan?

Maisaroh melepaskan jari telunjuknya dari hidungku, tapi matanya tetap fokus ke arahku. Dalam posisi duduk itu, aku merangkak mundur, berusaha menjaga jarak. Tapi ia malah merangkak maju, membuatku kembali menahan nafas. Apa yang harus kulakukan sekarang? Dalam hati, aku terus membaca semua doa dan surat Al-Quran yang kuhapal, tapi semua itu tak membuat perubahan berarti pada tatapan matanya.

Tiba-tiba aku mendengar suara langkah ringan dari tangga di sebelah kiriku, tangga yang menghubungkan lantai dua ini dengan lantai dasar. Bang Yusup berdiri di sampingku, ia menatap tajam pada Maisaroh. Sekarang aku melihat bayangan gelap yang menyelimuti wajah Bang Yusup, wajah yang jauh lebih menyeramkan daripada wajah Maisaroh. Aku membuka mulutku, mencoba berkata-kata, tapi suaraku tercekat di tenggorokan. Sekarang aku berada di tengah tekanan suasana aneh yang luar biasa, membuatku tak bisa menggerakkan seluruh tubuhku.

Bang Yusup berjongkok di dekatku dan Maisaroh, tapi ia sama sekali tak berbicara atau menoleh padaku. Ia hanya menatap Maisaroh, seolah aku tak ada di sini. Semerta-merta, ia menggerakkan tangannya dengan cepat dan menjambak rambut putih Maisaroh. Sangat kasar. Maisaroh berusaha menggerak-gerakkan kepalanya untuk melawan, tapi tenaganya tak cukup kuat. Ia membuka mulutnya, seperti berusaha untuk teriak, tapi yang keluar hanya tetesan air liur bening di antara bibirnya. Dalam keadaan ini, tiba-tiba aku merasa iba pada manusia tidak normal ini.

Dengan tenaga yang tak pernah kubayangkan, Bang Yusup menyeret Maisaroh dengan menarik rambutnya. Aku tak menyangka kalau ia bisa berbuat seperti ini. Ia memang bukan kakek-kakek biasa. Desisan pelan keluar dari mulut Maisaroh, dan matanya yang bulat masih terus berusaha menatapku, seolah ingin meminta tolong. Tiba-tiba aku merasa ingin menolongnya, tapi apa yang bisa kuperbuat? Apakah normal kalau aku merasa kasihan padanya? Tapi yang kurasa tidak normal adalah Bang Yusup. Dia dikenal sebagai ahli pengobatan alternatif, tapi dengan menjual jiwa anaknya sendiri kepada setan! Manusia macam apa yang bisa berbuat seburuk itu, kecuali kalau dia adalah setan itu sendiri? Seumur hidup aku belum pernah melihat hantu atau setan sebelumnya, dan sekarang aku dapat melihatnya di hadapanku, laki-laki ini!

Maisaroh ditariknya mendaki tangga menuju loteng. Berkali-kali kepala Maisaroh terbentur tepi anak tangga, tapi tampaknya tak menimbulkan memar atau luka sedikitpun. Entah kenapa, Maisaroh terlihat sangat lemah dan tidak bisa melawan di hadapan ayahnya sendiri. Apakah karena ia tahu bahwa laki-laki itu adalah ayahnya? Beberapa saat kemudian, Bang Yusup dan Maisaroh menghilang ke dalam loteng, aku sudah tak dapat memperhatikan mereka lagi. Aku masih terduduk lemas dan tak bergerak sejak tadi, sampai kemudian aku mendengar suara berdebam keras dari atas sana. Suara itu terdengar berkali-kali, disertai suara lengkingan tipis dan nyaring, seperti jeritan anak kucing yang ekornya terlindas sepeda. Aku tak tahan mendengarnya, ada semacam perasaan sesak di dalam dadaku, perasaan sedih yang tiba-tiba muncul. Setelah menarik nafas dalam dan menenangkan diri, aku menggunakan seluruh tenagaku untuk turun ke lantai bawah.

Setelah sampai di lantai bawah, aku berkumpul lagi bersama keluargaku di ruang tamu. Ayahku bertanya kenapa aku lama sekali, dan kenapa ada memar di keningku. Aku tak tahu bagaimana cara menjelaskannya, jadi aku hanya beralasan kalau tadi kepalaku terbentur tangga karena terpeleset. Mpok Aminah meminta maaf dan mengatakan kalau tangga di rumahnya memang terlalu curam. Aku menatapnya dengan curiga. Apakah dia tidak tahu perbuatan suaminya? Tidak mungkin. Ia pasti tahu! Mungkin mereka berdua sama saja! Akhirnya, kami sekeluarga pamit pulang tanpa menunggu Bang Yusup turun dari loteng. Mpok Aminah beralasan kalau suaminya mungkin sedang di kamar mandi, tapi aku tahu ia ada dimana dan apa yang sedang ia lakukan. Keluargaku tak peduli dan tak mau lagi berlama-lama di rumah itu, kami pun segera pergi.

Di dalam mobil, ibuku terus menginterogasiku tentang apa saja yang aku alami, tapi aku sama sekali tak sanggup menjelaskan peristiwa itu. Ada hal-hal tidak menyenangkan yang berkecamuk di kepalaku.

“Ma… Bang Yusup itu dukun ya?” tanyaku.

“Orang-orang manggil dia ‘orang pinter’, atau ‘tabib’, tapi katenye sih dia tuh make ilmu,” jawab ibuku tenang.

“Ilmu? Ilmu sihir?” tanyaku lagi.

“Sihir putih.”

Sihir putih? Ilmu sihir itu semuanya jahat! Penyihir baik cuma ada di film Harry Potter! Orang tuaku seharusnya tahu akan hal itu. Menyebalkan, tiba-tiba saja aku jadi menggerutu sendiri.

“Tapi dia tuh jahat! Masa anaknya sendiri dijadiin tumbal!” umpatku kesal.

“Yah… itu kan cuma gosipnye doang. Mungkin aje Maisaroh emang sakit jiwa?”

“Kalo emang sakit kenapa nggak dibawa ke rumah sakit? Kenapa rambutnya putih dan tampangnya aneh?” tanyaku.

Ibuku menoleh padaku dan menatapku dengan kaget. Ia baru sadar kalau aku sudah bertemu dengan Maisaroh.

“Kamu… ngeliat?” tanyanya heran.

“Pokoknya dukun kaya gitu tuh jahat! Musyrik! Kafir! Buat apa nyembuhin penyakit orang, jadi tabib, tapi minta bantuan setan? Anaknya sendiri dijadiin tumbal! Orangtua apaan?” ucapku. Aku sendiri tak paham kenapa aku jadi emosional begini.

Ibuku memalingkan wajah, lalu menarik nafas dalam dan tampak khawatir. Aku tak bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya sekarang, tapi tampaknya ia menyembunyikan sesuatu sejak tadi.

“Kamu harus tau. Waktu kamu kecil, kamu tuh pernah sakit,” ujar ibuku pelan.

“Sakit?”

“Iya. Penyakit kamu aneh. Nggak ada dokter yang bisa nyembuhin kamu. Waktu itu… waktu itu…,” ia menelan ludah karena suaranya tercekat, “Bang Yusup…, nawarin diri buat nolongin kamu….”

Perasaan berat di dalam dada yang sejak tadi kurasakan tiba-tiba lumer setelah mendengar penjelasan dari ibuku. Aku tak mengerti mengapa aku harus ditolong oleh orang itu. Apakah aku seharusnya bersyukur karena masih hidup sampai sekarang, atau mengutuk diriku sendiri karena telah menambah penderitaan yang dialami Maisaroh? Tapi rupanya kebingungan itu redup dengan sendirinya, ketika pada Idul Fitri tahun berikutnya yang kami kunjungi di rumah tadi hanyalah Mpok Aminah seorang. Bang Yusup meninggal dunia beberapa hari setelah peristiwa di lantai dua itu, dan Maisaroh juga meninggal sebulan kemudian. Kini, setiap kali berkunjung ke rumah itu, yang teringat hanyalah tatapan mata Maisaroh yang polos dan desisan suaranya yang menyayat hati.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).