Setelah berabad-abad, akhirnya kita menyadari bahwa manusia tidak mampu mewakili aspirasi manusia lain. Power tends to corrupt. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan suatu demokrasi langsung yang adil, bersih, dan efisien, kita membutuhkan suatu alat yang mampu mengelola, mengalkulasi, dan mengeksekusi aspirasi tiap-tiap warga negara dengan rasional, cerdas, tegas, ringkas, tanpa bias, dan tanpa faktor-faktor emosional yang membatasi seorang manusia.
Aku sedang membaca paragraf itu ketika kudengar namaku dipanggil lewat pengeras suara. Kutitipkan buku berjudul Demokrasi Mesin: Sebuah Pengantar di atas pangkuan Aini yang sedang asyik bermain game ponsel, kemudian segera melangkah menuju bilik suara. Kotak besi setinggi tiga meter itu berpendar kehijauan, dan ketika aku membuka pintunya, aku dapat melihat sebuah kursi dan helm kaca yang tergantung di atasnya. Ternyata benar, interior bilik suara sudah lebih nyaman dibandingkan Pemilu sebelumnya. Kursinya tampak lebih empuk dan pencahayaannya lebih memadai.
Seketika, aku teringat pada buku yang kubaca tadi. Menurut buku itu, dahulu kala bilik suara Pemilu hanya berisi selembar kertas dan paku. Orang-orang akan meggunakan paku untuk mencoblos foto calon wakil rakyat, calon presiden, calon kepala daerah, atau lambang partai pilihan mereka. Pihak dengan suara terbanyak akan diberi wewenang untuk mewakili suara rakyat. Aku tidak bisa membayangkan betapa cacatnya sistem itu. Tidak heran, sang penulis berulang kali menekankan bahwa pada zaman itu, “korupsi” (satu istilah yang sekarang hampir punah) merajalela di seluruh lapisan masyarakat.
Setelah menarik napas dalam, aku duduk dan mengambil helm kaca itu. Helm itu tersambung dengan beberapa buah kabel yang muncul dari atap bilik. Aku tidak begitu paham apa fungsinya, tapi aku dapat menebak bahwa kabel-kabel itu menghantarkan isi pikiranku kepada Mesin lewat suatu mekanisme. Kupasang helm itu. Bagian dalamnya terasa agak dingin, tapi beranjak hangat ketika dinding bilik kembali berpendar hijau. Inilah saatnya aku mengunggah semua aspirasiku kepada Mesin Demokrasi.
Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang aku inginkan untuk lima tahun ke depan. Aku tidak punya kepentingan politik. Aku hanya ingin Aini menerima cintaku. Entah apakah aspirasi semacam ini bisa diterima. Mereka selalu bilang bahwa momentum di dalam kotak suara harus digunakan sebaik-baiknya. Hindari memenuhi “suara rakyat” dengan hal-hal trivial seperti masalah pribadi yang bisa diselesaikan tanpa campur tangan Mesin. Meski begitu, aku percaya bahwa kepak sayap kupu-kupu di satu tempat dapat menimbulkan badai di tempat lain.
-—
“Udah? Kamu minta apa tadi?” tanya Aini sambil mengembalikan bukuku saat aku kembali ke kursi tunggu.
“Minta?” jawabku sambil mengernyitkan dahi. “Emangnya di dalam sana aku habis ketemu Om Jin?”
Aini tertawa. Sejujurnya aku tidak suka dengan istilah semacam itu. Belakangan ini mulai ada orang-orang yang skeptis terhadap Demokrasi Mesin. Mereka dengan sinisnya menyamakan proses pemungutan suara dengan ritual keagamaan. Seolah saat memasuki bilik suara itu, kami berdoa kepada “Tuhan”. Bagi mereka, Mesin tak ubahnya “Tuhan” yang diciptakan manusia untuk diimani secara buta.
Aku kasihan pada mereka. Andai saja mereka lebih banyak membaca literatur dan sejarah, kesalahpahaman semacam itu pasti tidak akan terjadi. Mereka seharusnya paham, bahwa meskipun Mesin memiliki kecerdasan super yang melebihi manusia dalam hal pengambilan keputusan, Mesin tetaplah sebuah alat. Ia seperti sebuah kalkulator canggih untuk menghitung aspirasi rakyat. Dengan menghapus lembaga perwakilan, peradilan, dan presiden kemudian menggantikannya dengan Mesin, kekuasaan kini benar-benar berada di tangan rakyat. Hanya orang gila yang menganggap Mesin sebagai raja, penguasa, apalagi Tuhan.
“Aspirasiku sederhana. Cuma pingin cepat dapat jodoh,” candaku, tapi sebenarnya setengah serius.
“Emangnya boleh masukin aspirasi kayak gitu? Itu kan nggak ada hubungannya dengan kepentingan publik.”
“Aku kan nggak mentah-mentah bilang begitu. Maksudnya, aku menuntut hal-hal yang secara nggak langsung mempermudah aku untuk dapat jodoh.”
“Misalnya?”
“Misalnya, turunkan harga tiket bioskop atau kurangi jam kerja supaya aku bisa gampang mendekati perempuan yang aku sukai.”
Aini mengangguk-angguk sambil bergumam bahwa itu adalah ide yang bagus, tapi kemudian mengelus-elus dagunya sendiri seolah ia punya jenggot.
“Tapi bagaimana kalau banyak orang yang aspirasinya bertolak belakang? Misalnya orang-orang justru pingin menambah jam kerja atau menaikkan harga tiket bioskop. Bisa-bisa kamu jadi jomblo seumur hidup, dong?” tanya Aini sambil melirikku.
“Ah, Mesin pasti punya jalan keluarnya,” jawabku.
Aku yakin Aini sudah tahu jawabannya, tapi ia sengaja berakting naif hanya untuk memancing perdebatan. Mungkin itu cara dia untuk mencari perhatianku.
“Misalnya?”
Aku menarik napas dalam.
“Aini, adil itu nggak berarti mengabulkan keinginan semua orang. Aku kasih contoh sederhana. Misalnya, keinginanku diberi simbol tujuh, sementara keinginanmu tiga. Keinginan kita jelas beda, tapi Mesin bisa memutuskan kebijakan paling adil bagi kita, misalnya tujuh ditambah tiga dibagi dua, hasilnya lima. Itu contoh paling bodohnya. Dalam kehidupan berdemokrasi, keinginan manusia itu rumit. Inilah yang nggak bisa dilakukan oleh pemerintahan di zaman dahulu. Kebijakan mereka nggak adil dan nggak efektif bukan cuma karena mereka korup, tapi juga karena mereka nggak punya kemampuan membuat perhitungan yang rasional dan akurat.”
Aini terdiam mendengar penjelasanku, tapi kemudian ia segera tersenyum dan bertepuk tangan. Orang-orang di sekitar kami ikut menoleh.
“Luar biasa! Nggak salah kamu dipilih jadi Duta Demokrasi tingkat kecamatan!”
Aku pura-pura memalingkan wajah, tidak yakin apakah ia benar-benar memujiku atau sedang menyindir. Namun sebelum aku sempat membalasnya, nama Aini sudah dipanggil. Ia segera bangkit dan menitipkan tas serta ponselnya di pangkuanku. Kumasukkan ponsel itu ke dalam tas yang ternyata hanya berisi powerbank dan lipstik. Perempuan memang tak pernah lepas dari kosmetik.
“Ai!” panggilku ketika ia mulai melangkah pergi.
“Ya?” ia menoleh.
“Bocoran, dong. Kamu mau ‘minta’ apa?” tanyaku, secara ironis menggunakan istilah yang kubenci.
Aini terdiam sejenak, kemudian tersenyum dan bibir merahnya membuatku meleleh.
“Sama kayak kamu. Aku juga pingin cepat dapat jodoh!”
-—
Bila pemenuhan aspirasi rakyat diibaratkan sebagai tempat tujuan, KKD atau Kitab Kebijakan Demokrasi adalah petunjuk jalannya. KKD dicetak oleh Mesin dalam bentuk buku, disebarkan secara digital, dan dimuat di semua surat kabar. Karena isinya sangat tebal, kebanyakan orang tidak benar-benar membacanya secara utuh. Mereka hanya mengambil bab atau pasal yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Aku adalah kebanyakan orang. Aku duduk di kafe sambil menonton berita pagi. Pembawa acara mulai membacakan beberapa isi KKD yang dianggap berhubungan dengan mayoritas pemirsanya.
“Pasal 17 menyatakan bahwa rasio otomatisasi birokrasi akan ditingkatkan menjadi 90%. Artinya, akan semakin banyak pegawai negeri yang dirumahkan dan digantikan dengan mesin. Apakah ini akan menimbulkan kekecewaan masyarakat?” tanya wanita pembawa acara kepada narasumbernya, seorang pakar hukum dan pengamat kebijakan Mesin.
“Saya rasa tidak. Masyarakat sudah paham bahwa yang paling cocok untuk menjalankan birokrasi adalah mesin, termasuk dalam bidang pelayanan. Di zaman modern ini, kita lebih membutuhkan kecepatan dan ketepatan dari apa pun juga,” jawab sang pakar.
“Baik. Selain masalah otomatisasi, ada perubahan lain yang cukup signifikan dalam KKD terbaru ini. Pasal 50 dalam bab mengenai keamanan, disebutkan bahwa ‘pelaku terorisme dan makar akan dihukum dengan hukuman mati’. Apakah ini bertentangan dengan bab mengenai HAM?”
Sang pakar menyeruput kopinya. “Saya kira, kita harus melihatnya dalam sudut pandang yang lebih luas. Bab tentang HAM tidak mencakup perlindungan terhadap pihak-pihak yang anti-demokrasi — dalam hal ini tentunya Demokrasi Mesin. Jangan lupa, bab tentang keamanan adalah prasyarat untuk menjalankan bab tentang HAM.”
Aku tidak memperhatikan seluruh isi pembicaraan mereka, tapi ada dua kebijakan yang membuatku cukup gembira. Pertama adalah peningkatan otomatisasi birokrasi. Dengan dihapusnya seluruh pegawai pencatatan sipil dan diganti dengan mesin-mesin pelayanan, mengurus administrasi pernikahan akan jauh lebih mudah. Kedua, Mesin juga meningkatkan kuota pernikahan untuk lima tahun ke depan. Tampaknya, jumlah populasi dinilai sudah mulai seimbang sehingga program Keluarga Terencana dapat sedikit dilonggarkan. Kalau aku beruntung, mungkin saja dalam lima tahun ini aku bisa melamar Aini.
Sambil mendengarkan siaran televisi itu, aku membuka-buka buku yang kupegang sejak tadi. Demokrasi Mesin: Sebuah Pengantar. Aku memang belum sempat membacanya lagi sejak Pemilu. Namun saat membuka salah satu halamannya, jantungku tertahan sesaat.
Ada yang mencoret-coret halaman ini. Halaman-halaman selanjutnya pun penuh dengan tulisan yang tampaknya dibuat menggunakan lipstik merah.
SINAPSIS DAN SIRKUIT LISTRIK
APA BEDANYA?
MESIN ADALAH DIKTATOR YANG SEMPURNA
ABSOLUTE POWER
CORRUPTS ABSOLUTELY
Buru-buru kututup buku itu. Sudut mataku melirik orang-orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri. Jarak mereka terlalu jauh, mereka tidak mungkin membaca tulisan tadi. Segera kumasukkan buku itu ke dalam tas dan kuambil ponselku. Suara nada tunggu terdengar berkali-kali. Aini tidak mengangkat teleponku. Perasaanku semakin gelisah. Ke mana dia?
“Pemirsa, kami mendapat berita terbaru mengenai penangkapan kelompok teroris dan pelaku makar. Menurut pihak kepolisian, nama-nama teroris sudah diterbitkan oleh Mesin sesaat setelah KKD disahkan. Berikut adalah nama dan foto para pelaku yang sedang dalam proses pengejaran,” ucap pembawa berita sambil menampilkan begitu banyak foto dan nama di layar secara bergantian.
Sekejap di sudut kiri bawah layar aku melihat foto Aini. Itu adalah pas foto yang selalu ia gunakan. Kumatikan ponselku dan berusaha bersikap sewajar mungkin, meski sebenarnya tubuhku terasa lemas. Pembawa berita kembali membacakan pasal mengenai hukuman mati. Penerapannya kepada para teroris dinilai berguna dalam mengendalikan jumlah populasi. Ini adalah hasil kalkulasi Mesin yang paling akurat atas aspirasi seluruh rakyat.
Sambil meredam emosi yang hampir meledak, aku bergegas keluar dari kafe dan mendengar kata-kataku sendiri: Adil itu tidak berarti mengabulkan keinginan semua orang.
Cerita ini memenangkan Sayembara Fiksi Ilmiah Vol. 2 di Serana 42. Baca selengkapnya.