Kefanaan dan Ketakutan akan Kehampaan Makna

Kita semua tahu bahwa kita akan mati. Entah sejak kapan. Mungkin pada suatu titik di masa kanak-kanak, kita menyadari bahwa semua realitas yang kita jalani itu suatu saat akan runtuh dan lenyap. Mungkin kita mengetahuinya lewat cerita dan dongeng. Mungkin juga kita menyadarinya dari fenomena yang kita saksikan sendiri: meninggalnya anggota keluarga, matinya hewan peliharaan, atau menyadari potongan ayam goreng yang kita makan ternyata berasal dari makhluk hidup yang sudah mati.

Sepertinya tidak seorang pun, seberapa pun bebal atau bodohnya, menganggap bahwa dirinya akan abadi. Pengetahuan akan kefanaan hidup adalah sesuatu yang dimiliki setiap manusia, tapi tak selalu ingin kita sadari. Kesadaran itu selalu kita tunda, kita simpan sebagai sebuah keniscayaan yang tak bisa diapa-apakan lagi. Mungkin, pengabaian ini dalam batas tertentu memang dibutuhkan agar kita dapat menjalani kehidupan dan menjadi bagian dari peradaban. Orang yang selalu dihantui kesadaran akan kematian mungkin tak bisa membuat rencana dan tak bisa menikmati aktivitasnya. Kesadaran itu akan sesekali bangkit dalam momentum tertentu, misalnya ketika keselamatan terancam (sakit parah, turbulensi pesawat, peristiwa kriminal, dsb.) atau menyaksikan orang-orang terdekat meninggal dunia. Berbagai tradisi spiritual mendorong manusia untuk mengingat kefanaannya dari waktu ke waktu melalui upacara pemakaman, ziarah kubur, dan berbagai ritual lainnya. Memento mori. Kesadaran akan kematian dianggap baik, karena kesadaran ini dianggap dapat membuat manusia memikirkan makna kehidupan dan kemudian meningkatkan spiritualitasnya.

Di samping hal-hal tersebut, kesadaran akan kematian juga meningkat karena faktor usia. Tentu saja, kematian tidak selalu terjadi pada orang yang lebih tua terlebih dulu. Orang-orang berusia muda, bahkan bayi dan anak-anak, sering kali meninggal karena berbagai faktor. Namun, dalam benak kita, kondisi dasar dari kematian alamiah (natural death) selalu berbanding lurus dengan waktu. Ini semacam naluri kita terhadap entropi. Kita tahu bahwa segala hal di dunia ini senantiasa bergerak secara alami menuju ketidakteraturan, atau dengan kata lain, kehancuran. Kita tidak tahu kapan, tapi kita tahu bahwa semakin lama waktu bergulir, ia akan semakin dekat.

Ketika kita masih muda, kita meletakkan kesadaran itu di ujung cakrawala pikiran kita. Kita tahu bahwa kita bisa mati kapan saja karena sebab-sebab tak terduga, tapi normalnya (atau setidaknya harapan kita), kita baru akan mati ketika usia kita sudah tua, dan itu adalah waktu yang masih sangat lama. Mungkin di usia 70, 80, atau 100? Kecemasan itu bisa ditunda. Banyak hal lain yang lebih mendesak dan memiliki probabilitas lebih tinggi. Diam-diam, benak kita melakukan kalkulasi itu. Dunia ini terasa seperti bentangan luas tanpa batas yang siap untuk dijelajahi, meski kadang gelap dan menakutkan, tapi juga sering kali penuh gairah.

Seorang anak yang bangun tidur di pagi hari mungkin akan memikirkan tugas-tugas sekolahnya, apa yang ingin ia lakukan sepulang sekolah nanti, mainan apa yang ingin ia beli dengan uang tabungannya, dan di saat-saat melamun, akan memikirkan seperti apa kehidupannya setelah dewasa nanti. Mungkin ia sudah punya cita-cita yang ia inginkan. Mungkin ia membayangkan akan bekerja, memiliki penghasilan sendiri dan menikmati berbagai kebebasan yang hanya dimiliki orang dewasa: bisa tidur hingga larut malam, nonton film kapan saja dia mau, dan membeli mainan apa pun yang ia inginkan. Mungkin ia juga membayangkan bahwa nanti ia akan menikah lalu memiliki keluarganya sendiri. Hal itu akan membuatnya sedikit cemas tapi juga merona malu. Ia juga akan sekilas membayangkan, bahwa pada saat itu, kedua orang tuanya yang sudah tua mungkin akan meninggal terlebih dulu. Seperti itulah roda kehidupan yang ia pahami. Kesadaran itu membuat ia sedikit sedih dan cemas. Namun ia segera mengusir pikiran itu, menyimpannya rapat-rapat dalam peti bertuliskan “untuk dipikirkan lain kali”. Dalam benaknya, kemungkinan itu masih jauh lebih kecil daripada kemungkinan ia dimarahi ibunya karena tidak menghabiskan bekal makan.

Ketika ia menginjak usia dewasa, banyak hal yang berubah. Waktu tiba-tiba saja terasa begitu sempit dan cepat. Apa yang ia bayangkan ketika kecil, mungkin sebagiannya sudah mencapai kesimpulan. Mungkin ia menjalani hidup seperti yang ia cita-citakan dulu, mungkin juga tidak. Bila tidak, ia harus menerima kenyataan bahwa ia tak bisa kembali ke masa lalu dan ia sudah tak punya waktu untuk mengubah kehidupannya. Orang tuanya mungkin masih hidup, tapi mungkin juga sudah meninggal. Beberapa teman-temannya, saudara, sanak keluarga juga mungkin sudah meninggal. Semakin lama, ia akan semakin sering menghadiri pemakaman dan mendengar ucapan bela sungkawa. Anehnya, bagi organisme yang berhasil selamat melewati seleksi alam seperti dirinya, ini bukanlah hal yang menyenangkan atau melegakan. Setiap kali menyaksikan peristiwa-peristiwa itu, kecemasan yang sewaktu kecil ia simpan dalam peti tadi perlahan mulai menjelma menjadi sesosok hantu. Hantu itu akan mengetuk-ngetuk dari dalam, mengintip, dan bahkan menjerit lirih.

Namun, hidup harus tetap berjalan, dan ia berjalan dengan sangat cepat. Ia mungkin hanya bolos setengah hari dari tempat kerjanya untuk menghadiri pemakaman. Setelah jenazah dikuburkan, ia harus kembali menjalani peran sebagai manusia hidup yang fungsional. Masa depan yang dulu terasa luas membentang kini lebih mirip seperti labirin tanpa ujung. Kecil dan sempit, tapi harus dijalani. Hantu kecemasan kematian yang sempat mengganggunya tadi harus ia kalahkan. Sebagai orang dewasa, ia akan menjalani berbagai terapi pengusiran arwah, exorcism, untuk mengusir hantu itu dan mengurungnya lagi di dalam peti rapat-rapat. Dalam benaknya saat itu, lebih mungkin merasa cemas karena tenggat pekerjaan yang mendesak atau tagihan bulanan yang belum dibayar daripada memikirkan kefanaan hidupnya.

Namun, semakin hari, hantu kecemasan itu akan semakin tumbuh besar, berakumulasi dalam diam pada malam-malamnya yang terasa semakin singkat. Pada satu titik, sosok hantu itu akan memberontak keluar dari peti dan menerkamnya. Mungkin, saat itu ia memang sudah tua renta. Mungkin juga, saat itu ia masih muda, tetapi tengah mengalami peristiwa yang membuatnya terpuruk. Namun yang jelas, saat itu ia sudah tak mampu lagi mengalihkan perhatiannya. Ia terlalu lemah untuk menutup peti itu lagi.

Awalnya, ia tak mengenali sosok itu. Sudah terlalu lama ia menyimpannya di dalam peti di ujung kesadarannya, sehingga ketika akhirnya sosok itu menampakkan diri, ia akan tampak begitu asing. Sosok yang ganjil, aneh, uncanny, tapi juga terasa seperti nostalgia. Ia sudah mengenalnya sejak masa kanak-kanak dulu, saat kesadarannya sebagai makhluk berakal baru mulai terbentuk. Dulu, sosok itu tampak begitu mungil dan mudah disisihkan. Sekarang, ia sudah besar dan mendominasi.

Ini adalah konsekuensinya sebagai makhluk berakal. Andai saja ia hanya seonggok batu atau tumbuh-tumbuhan, mungkin kecemasan akan kefanaan tidak akan pernah melintas dalam benaknya—dan ia tak akan dihantui sosok itu. Ia hanya akan menjadi force of nature. Benda mati yang sekadar mengikuti hukum alam. Jatuh karena gravitasi, hancur karena tekanan, tumbuh karena nutrisi. Ada, tapi tak pernah menyadari keberadaannya. Sayangnya, ia sudah terlahir seperti ini. Ia tak pernah memilih untuk terlahir sebagai makhluk berkesadaran, dan sebenarnya ia tak mungkin memilihnya. Untuk bisa memilih, ia harus lebih dulu memiliki kesadaran sebelum ia lahir. Dan kesadaran itu pun harus dipilih, yang mensyaratkan kesadaran sebelumnya lagi, dan seterusnya tanpa ujung. Syarat agar ia bisa memilih untuk menjadi sadar adalah kesadaran yang abadi—justru hal yang paling tak bisa ia bayangkan sekarang.

Akibat yang dirasakan dari kehadiran sosok hantu itu bukanlah rasa takut akan kesakitan fisik. Ya, kematian mungkin terasa menyakitkan bagi banyak orang. Mereka yang meninggal karena penyakit, kecelakaan, dibunuh, atau bunuh diri tentu mengalami sakit. Namun bukan kemungkinan rasa sakit itu sendiri yang selalu menghantuinya. Bahkan ketika ia membayangkan bahwa ia akan meninggal dengan damai di atas kasur yang empuk sambil ditemani orang-orang yang ia cintai, perasaan itu tak kalah menyiksanya.

Akibat paling menakutkan yang ia rasakan adalah kesadaran bahwa kini ia sudah tak punya masa depan. Masa depan itu, yang dulu terasa luas membentang dan penuh petualangan, kini terasa seperti tembok tinggi di ujung jalan buntu. Sosok itu mengejarnya, memojokkannya hingga ke hadapan tembok itu. Sekarang, menatap ke depan terasa menyesakkan. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menoleh ke belakang. Ketika ia menoleh ke belakang, ia melihat semua hal dengan penglihatan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Kesadaran bahwa ia sudah tak memiliki masa depan untuk dibayangkan, membuat ia mencari makna dari masa lalu. Jika ia pada akhirnya hanya berhenti di jalan buntu, lalu untuk apa ia melalui semua itu? Apa artinya semua rasa sakit, kebahagiaan, jerih payah, rasa cinta, persahabatan, dan kesuksesan yang sudah ia alami?

Sejenak ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa makna kehidupan ada pada prosesnya, bukan pada hasil akhirnya. Bahwa semua yang sudah ia jalani memiliki makna pada dirinya sendiri saat itu terjadi. The journey is the destination. Tidak masalah jika ia berakhir di tembok buntu. Ia telah menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya selama ini.

Andai saja ia benar-benar berpikir demikian. Andai saja semua itu benar. Namun di depan tembok tinggi dan hantu yang tak sabaran itu, “telah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya” terdengar seperti sebuah justifikasi yang harus dinilai secara skeptis. Dari mana ia tahu bahwa ia telah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya? Apa itu hidup yang baik? Apa pembandingnya, sementara ia hanya pernah menjalani hidup ini satu kali? Bagaimana jika semua pilihan hidupnya selama ini bukanlah pilihan terbaik yang bisa ia buat? Bagaimana jika ia telah menyia-nyiakan waktu hidupnya untuk hal-hal yang tidak benar-benar berharga? Mengapa ia baru menyadari betapa jauh jarak yang sudah ia tempuh, ketika ia sudah berada di ujung kebuntuan?

Sayangnya, ia sudah terlambat. Andai ia memiliki kesadaran itu ketika jalannya masih panjang, ia pasti akan melangkah dengan sebaik-baiknya, berusaha hidup dengan sehidup-hidupnya. Sekarang, kesadaran itu sudah tak ada artinya, sebab yang ada hanya kecemasan.

Ia juga membayangkan, bahwa mungkin saja tembok itu bukanlah akhir. Mungkin ada dunia lain di belakang tembok. Andai saja ia memiliki keyakinan itu, ia dapat membatalkan semua kecemasan yang seharusnya ia alami. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang beriman. Mereka tidak membayangkan sebuah akhir, tetapi sebuah fase. Mereka tidak bersiap untuk menghadapi sebuah tembok tinggi, tetapi untuk melintasi sebuah gerbang. Cerdiknya lagi, dunia yang mereka yakini berada di balik dinding itu adalah konsep dunia yang tak terbatas, abadi, tanpa ujung. Mereka tidak mengalami kecemasan seperti yang dialami dirinya, sebab mereka tidak pernah “merasa kehabisan masa depan”. Sosok hantu yang semula menjadi hantu kecemasan, bagi orang-orang yang beriman itu hanyalah sosok yang akan membukakan gerbang dan mempersilakan mereka melintas jika waktunya telah tiba.

Namun, ia tidak bisa tiba-tiba memiliki keyakinan itu. Berpura-pura beriman adalah konyol, seperti Pascal’s Wager, oportunisme metafisik yang sia-sia. Keyakinan sejati mengharuskan penganutnya untuk menjalani hidup sesuai prinsip-prinsip yang ia yakini, dan di depan matanya sekarang, sudah tak ada hidup untuk dijalani.

Sejak saat itu, waktu tak lagi terasa sebagaimana mestinya. Ia seperti berada dalam cakrawala peristiwa. Waktu berjalan sangat lambat, bahkan nyaris abadi. Ia sudah tak bisa kembali, tapi tak juga lekas mencapai kematiannya. Di belakangnya, sosok hantu melangkah pelan ke arahnya. Di hadapannya, tembok tinggi menatapnya tanpa ekspresi. Semua berjalan dengan sangat lambat, hingga sesekali ia berpikir bahwa tembok itu mungkin memang tercipta bukan untuk dilewati—bahwa bagi orang yang tak pernah menghidupi hidupnya, tak akan pernah ada akhir. Tak ada kemusnahan, tapi juga tak ada pembebasan. Keabadian kesadaran yang dulu tak sanggup ia bayangkan sebelum kelahirannya, kini justru ia jalani di ujung hidupnya.

Di dalam gerak lambat tanpa akhir itu, ia punya seluruh waktu untuk membayangkan. Andai saja ia bisa kembali ke masa lalu, ia akan lebih sering mengunjungi peti itu. Bukan untuk membukanya dan membuat sosok itu berkeliaran menebar teror, tapi untuk mengintipnya, menyapanya sesekali, mengajaknya berbincang dan berdiskusi sebagai sosok sahabat. Ia mungkin tak akan pernah tahu apakah ia dapat menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Namun, dari hasil diskusi itu, setidaknya ia tahu bahwa ia akan hidup dengan sehidup-hidupnya.

7 Tips Mencegah Kebangkitan PKI di Indonesia

Wah, tidak terasa kita sudah memasuki penghujung bulan September. Bagi bangsa Indonesia, bulan September adalah bulannya anti-PKI. Pada bulan ini, para politisi berlomba-lomba mengajak masyarakat untuk senantiasa mencegah kebangkitan PKI.

Namun setelah puluhan tahun melanggengkan tradisi ini, anehnya masyarakat masih saja dihantui kebangkitan PKI setiap tahunnya. Apakah semua usaha puluhan tahun itu tidak berhasil? Apakah strategi yang diterapkan selama ini tidak efektif? Mungkinkah selama ini kita justru sebenarnya sudah masuk ke dalam jebakan licik  kaum komunis? Lalu bagaimanakah cara yang benar untuk mencegah kebangkitan PKI terbaru di tahun 2020?

Pada tulisan ini, saya akan berbagi tips untuk mencegah kebangkitan PKI. Dengan mengikuti tips-tips ini, segala macam propaganda dan hasutan kaum komunis tidak akan mampu mengoyak sendi-sendi kebangsaan kita lagi.

Nah, apa saja yang harus kita lakukan untuk mencegah kebangkitan PKI? Simak tips-tips berikut!

Continue reading 7 Tips Mencegah Kebangkitan PKI di Indonesia

Tanggung Jawab Slender Man

Slender man

Dua orang gadis berumur 12 tahun mengajak seorang temannya untuk menginap di rumah mereka. Keesokan harinya mereka bermain petak umpet di sebuah hutan, dan di hutan itulah mereka memegangi dan menusuk temannya sebanyak sembilan belas kali di bagian badan, lengan, dan kaki. Ini bukan dendam atau perampokan, ini adalah sebuah persembahan untuk Slender Man yang mendatangi mimpi salah satu dari mereka. Dengan penuh luka, sang korban berhasil keluar dari hutan dan ditemukan oleh seorang pesepeda yang kebetulan melintas. Untunglah ia selamat. Tusukan-tusukan itu meleset beberapa milimeter dari bagian vital.

Paragraf di atas bukanlah sebuah fanfiction Slender Man dari situs Continue reading Tanggung Jawab Slender Man

Horor yang Menghukum dan Mengendalikan

By: Raíssa Ruschel – CC BY 2.0

Seorang teman pernah berkata bahwa baginya dalam cerita horor selalu ada tokoh yang dihukum karena berbuat salah. Ia mungkin bukan fans horor, tapi pendapatnya mencerminkan pesan yang ditangkap kebanyakan orang dari cerita horor: sekolompok turis yang nekat masuk ke hutan terlarang akhirnya kesurupan, anak muda yang tidak peduli dengan tradisi leluhur dihantui suara gamelan, lelaki pemerkosa dikejar-kejar hantu korbannya. Inti cerita horor bisa disederhanakan dalam rumus “tokoh A melakukan kesalahan X sehingga menanggung akibat menakutkan berupa Y”.

Benarkah cerita horor adalah alat yang digunakan untuk menghukumi dan menghakimi karakter yang (menurut penulisnya) telah melakukan kesalahan? Continue reading Horor yang Menghukum dan Mengendalikan

Mencoba Menerjemahkan: On the River

Setiap membaca novel-novel terjemahan, saya sering merasa kesulitan hingga harus mencari tulisan dalam bahasa aslinya (maksudnya: bahasa Inggris) terlebih dahulu. Meski membaca buku terjemahan (apalagi yang diterjemahkan dengan buruk) adalah hal yang menyebalkan, tapi saya sadar bahwa menerjemahkan tulisan bukanlah hal yang mudah. Beberapa kali saya mencobanya, dan biasanya gagal.

Siang tadi, dari sebuah grup literatur horor, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah cerpen yang lumayan menarik. Cerpen itu berjudul “On the River” oleh Guy de Maupassant (1850-1893). Iseng-iseng, saya mencoba menerjemahkan cerpen tersebut. Awalnya tidak terlalu sulit. Namun memasuki pertengahan cerita, terjemahan saya semakin amburadul. Selain karena terjebak dengan penerjemahan kata per kata, penyebab kekacauan lain adalah gaya bahasa cerpen yang agak tidak biasa. Ketika narator berganti peran menjadi si pendayung, kalimat-kalimatnya menjadi penuh dengan tanda koma dan terputus-putus. Mungkin penulisnya sengaja melakukan itu, mungkin juga tidak. Yang jelas, ketika saya mencoba menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, tulisan ini menjadi buruk. Apalagi ketika ternyata di tengah-tengah cerpen ada sebuah puisi yang sulit saya pahami. Lengkaplah usaha saya memorak-porandakan karya orang ini. Lain kali saya akan mencari tulisan yang lebih mudah.

Update: Sepertinya cerpen yang saya terjemahkan dari bahasa Inggris ini asalnya ditulis dalam bahasa Prancis.

Cerpen sumbernya bisa dibaca di sini. Cerpen yang sudah saya terjemahkan (dan harus saya katakan, tidak terlalu berhasil) bisa dibaca di bawah ini. Silakan bila ada yang ingin mengoreksi atau memperbaiki.

—————————————————————————————————–

Di Atas Sungai

Musim panas lalu aku menyewa sebuah rumah kecil di tepi sungai Seine, beberapa leagues1 dari Paris, dan tidur di sana setiap malam. Setelah beberapa hari, aku berkenalan dengan salah seorang tetanggaku, laki-laki berumur antara tiga puluh dan empat puluh tahun, contoh orang paling mengherankan yang pernah kutemui. Ia telah lama berperahu dan tergila-gila dengan kegiatan berperahu. Ia selalu berada di tepi sungai, di atas sungai, atau di dalam sungai. Ia pasti dilahirkan di atas perahu, dan pada akhirnya juga akan meninggal di atas perahu.

Suatu malam ketika kami berjalan di sepanjang tepi sungai Seine, kuminta ia menceritakan kehidupannya di sungai. Lelaki yang baik itu langsung tertarik, bicaranya menjadi fasih, bahkan puitis. Ada gairah di dalam hatinya, sebuah gairah yang mengisap-isap dan tak tertahankan—sungai itu. Continue reading Mencoba Menerjemahkan: On the River

#5BukuDalamHidupku | Bag of Bones: Stephen King dan Tanda Kurung

Sebenarnya saya merasa sangat bimbang untuk menentukan buku keempat ini. Ada banyak kandidat, mulai dari Perang (novel Putu Wijaya yang pernah saya baca saat SMA), Kumpulan Budak Setan (buku horor lokal favorit saya), hingga Bumi Manusia (ini pasti pilihan yang sangat mainstream). Namun saya kembali teringat bahwa buku yang saya pilih haruslah buku yang paling berpengaruh, bukan yang paling bagus atau keren. Oleh karena itu pada akhirnya saya memilih Bag of Bones, novel Stephen King pertama yang saya baca. Dengan demikian, saya terpaksa melanggar perkataan saya kepada Irwan Bajang bahwa empat buku pilihan saya setelah Goosebumps bukanlah bergenre horor. Ups!

Continue reading #5BukuDalamHidupku | Bag of Bones: Stephen King dan Tanda Kurung

#5BukuDalamHidupku | Peri Sayap Kupu-Kupu, Novel Pertama

Alkisah di zaman dahulu kala sebelum manusia memiliki peradaban modern dan ketika dewa-dewi kahyangan masih bertahta, saya pernah menyelesaikan sebuah novel. Utuh. Sampai ending. Tanpa bantuan Nanowrimo atau himpitan deadline. Novel legendaris itu berjudul “Peri Sayap Kupu-Kupu”. Continue reading #5BukuDalamHidupku | Peri Sayap Kupu-Kupu, Novel Pertama

#5BukuDalamHidupku | Doraemon: Sains Populer dan Orgasme Kosmis

Siapa yang tidak kenal Doraemon? Komik buatan Fujio F. Fujio ini sudah menjelma menjadi ikon masa kanak-kanak bagi sebagian besar orang yang hidup saat ini. Lalu mengapa saya memasukkan Doraeomen dalam daftar ini? Bukan, bukan karena saya sudah kehabisan ide di postingan kedua ini dan terpaksa memasukan judul komik anak-anak yang sangat mainstream ini. Namun setelah melakukan perenungan yang cukup panjang, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Doraemon memiliki peran penting dalam rasa keingintahuan saya seputar sains populer. Doraemon adalah guru pertama yang memperkenalkan saya dengan fisika populer dan pada akhirnya membuat saya menemukan ungkapan konyol semacam “orgasme kosmis”.

Continue reading #5BukuDalamHidupku | Doraemon: Sains Populer dan Orgasme Kosmis

#5BukuDalamHidupku Goosebumps: Misteri Anjing Hantu

Saya perlu berpikir agak keras ketika memutuskan mengikuti acara #5BukuDalamHidupku dari situs irwanbajang.com. Selain karena saya bukan seorang pembaca yang rajin (butuh waktu lama untuk menghabiskan satu buku), deskripsi acara itu juga lumayan berat: “berisi 5 buku paling berpengaruh, 5 buku yang mengubah hidup Anda!”. Rasanya hidup saya yang biasa-biasa ini belum pernah berubah sampai lima kali, itu kalau perubahan yang dimaksud adalah sesuatu yang transformatif atau luar biasa. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil definisi yang pertama yaitu “5 buku paling berpengaruh”, atau dalam penafsiran saya, “5 buku yang paling berkesan dan paling mudah saya ingat saat ini”.

Tanpa lebih lanjut mengorupsi word count, saya akan memperkenalkan buku pertama saya untuk acara ini. Sudah bisa ditebak dari judul tulisan, buku itu adalah Goosebumps: Misteri Anjing Hantu.

ANJING-ANJING HANTU ITU SUDAH MENUNGGUNYA SELAMA BERABAD-ABAD! Continue reading #5BukuDalamHidupku Goosebumps: Misteri Anjing Hantu

Suspense dan Bom di Bawah Meja

“Anggaplah ada sebuah bom di kolong meja di hadapan kita. Tak ada yang terjadi, lalu tiba-tiba bum! Muncul ledakan. Penonton terkejut, tapi sebelum kejutan itu, yang terlihat hanya adegan biasa-biasa saja. Sekarang coba bandingkan dengan situasi suspense. Bomnya ada di bawah meja, tapi penonton mengetahui itu, mungkin karena mereka melihat sang pelaku meletakkannya di sana. Penonton tahu bahwa bom itu akan meledak pada pukul satu. Terdapat sebuah jam di dalam ruangan. Penonton melihat bahwa jam itu menunjukkan pukul satu kurang lima belas menit. Dalam kondisi tersebut, penonton ikut berpartisipasi dalam adegan yang dilihatnya. Mereka tergoda untuk memberi peringatan pada tokoh-tokoh di layar, ‘Jangan mengobrol terus. Ada bom di bawah meja dan bom itu akan segera meledak!’. Pada kasus pertama, kita membuat penonton merasakan kejutan selama lima belas detik, sementara pada kasus kedua kita membuat mereka merasakan ketegangan selama lima belas menit.”

Paragraf di atas adalah terjemahan bebas dari penjelasan Alfred Hitchcock ketika diwawancarai oleh Francois Truffaut mengenai perbedaan antara suspense (tegangan) dan surprise (kejutan). Analogi bom ini sangat terkenal (mungkin sampai terkesan klise) sehingga sering dijadkan acuan untuk membuat adegan suspense dalam cerita.

Dalam bahasa Indonesia, suspense diterjemahkan menjadi “tegangan”. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan tegangan sebagai istilah sastra yang berarti “ketidakpastian yang berkelanjutan atau suasana yang makin mendebarkan yang diakibatkan oleh jalinan alur dalam cerita rekaan atau lakon” dan juga istilah psikologi yang berarti “keadaan mencekam sebagai akibat perasaan khawatir, terhambat, frustrasi, atau terlalu bergelora”. Namun dalam tulisan ini saya tetap akan menggunakan istilah suspense agar tidak membingungkan.

Kalau melihat contoh “bom di kolong meja tersebut”, mungkin bisa dimaklumi bahwa suspense sering kali disandingkan dengan genre thriller (selain itu juga horor dan misteri), sebab genre ini memang yang paling sering menggunakan suspense secara maksimal. Oleh karena itu, kita sering mendengar istilah suspense thriller. Meski begitu, suspense pada dasarnya bukanlah sebuah genre, melainkan teknik bercerita yang dapat digunakan dalam berbagai media, baik sastra, film, atau pertunjukan, dan dapat digunakan dalam genre apa pun, mulai dari komedi hingga percintaan dengan kadar yang bervariasi.

Tegangan dalam cerita percintaan misalnya adegan seorang pemuda yang berselingkuh dan hampir berpapasan dengan pacarnya di tengah jalan, atau sebuah lamaran pernikahan yang nyaris ditolak. Dalam cerita komedi, suspense bisa berupa adegan tokoh yang melakukan hal bodoh yang tanpa disadari akan mempermalukan dirinya sendiri. Dalam cerita horor dan thriller, contoh suspense sudah sangat banyak dan sepertinya tak perlu disebutkan lagi.

Ada sangat banyak tips membuat adegan suspense yang bisa kita temukan di internet. Namun hanya dengan penjelasan Hitchcock di awal tulisan, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa ciri penting dari suspense adalah adanya ketidakpastian. Ketidakpastian ini harus didahului dengan memberi tahu pembaca tentang sesuatu yang “mungkin” akan terjadi. Dalam contoh tersebut, ketidakpastiannya adalah berupa bom yang mungkin akan meledak (dan mungkin juga tidak). Ketidakpastian itulah yang membuat pembaca merasakan suspense.

Hal lain yang sangat berpengaruh dalam suspense adalah besarnya taruhan. Semakin besar taruhannya, berarti semakin besar juga suspense yang ditimbulkan. Taruhan yang dimaksud di sini adalah suatu peristiwa yang bisa menimpa tokoh atau memengaruhi jalannya cerita. Bayangkan bila bom dalam contoh tersebut diganti dengan beberapa batang petasan korek, tentu pembaca/penonton akan merasakan intensitas suspense yang berbeda, sebab hal yang dipertaruhkan relatif lebih kecil (hanya luka-luka).

Suspense juga bisa dibedakan dari kejutan dan misteri. Perbedaan antara suspense dan kejutan sudah dijelaskan lewat analogi bom di atas, yaitu ada-tidaknya ketidakpastian yang diantisipasi oleh penonton/pembaca. Hitchcock juga membedakan antara suspense dan misteri. Menurutnya, ketika kita menebak-nebak pelaku kejahatan dalam cerita misteri, yang menonjol adalah teka-teki intelektual yang tidak emosional, padahal emosi adalah hal penting dalam suspense. Meski demikian, tentu saja cerita misteri atau detektif juga bisa memasukkan suspense dalam plotnya sehingga teka-teki intelektual itu ikut terasa menegangkan secara emosional.

Penggunaan suspense dalam sebuah cerita adalah hal yang penting, sebab bisa mencegah cerita menjadi terlalu datar dan membosankan. Bisa dibilang, ini adalah teknik paling mujarab untuk “mengunci” perhatian pembaca/penonton agar tidak berpaling hingga cerita selesai. Namun menerapkan suspense bukanlah hal yang mudah, sebab seperti teknik bercerita lainnya, kreativitas dan latihan lebih dibutuhkan daripada sekadar pengetahuan teori.

Referensi:

Click to access hitchcockinterview.pdf

http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
http://www.doctorsyntax.net/2010/09/alfred-hitchcocks-bomb-suspense.html

Cerita Horor Kota

CHK

Beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti sebuah lomba menulis cerpen horor yang diselenggarakan oleh penerbit PlotPoint. Lomba ini sebenarnya adalah bagian dari rangkaian lomba cerpen lain yang bertema kota. Saya sangat tertarik dengan lomba ini karena lomba cerpen yang “khusus” mengangkat genre horor bisa dibilang sangat jarang.

Cerpen yang saya kirimkan mengambil latar di kota Karawang, kota tempat saya (setidaknya secara resmi, di KTP) tinggal. Seperti yang dipikirkan kebanyakan orang, awalnya saya mencoba mencari urband legend atau kisah mistis yang khas dari kota tersebut. Saya menanyakan hal ini pada seseorang yang sejak kecil tinggal di Karawang, tetapi di luar dugaan ia menyarankan saya untuk tidak mengambil tema tersebut, alasannya karena takut menyinggung pihak-pihak tertentu. Saya agak khawatir juga mendengarnya. Bukan karena takut disantet atau semacamnya, tapi karena merasa alasan saya menulis cerita horor bukan untuk melakukan “demonisasi” terhadap orang-orang yang melakukan praktik tradisi atau kepercayaan kuno. Selama ini ada kecenderungan dalam cerita horor untuk memosisikan budaya tradisional dan kuno sebagai sesuatu yang menyeramkan bagi orang-orang modern. Akhirnya saya memutuskan untuk membalik kebiasaan tersebut, yaitu dengan mengambil sudut pandang orang pribumi yang merasa terancam dengan kedatangan hal-hal asing. Saya kira sudut pandang ini cocok dengan keadaan Karawang yang telah berubah dari lumbung padi menjadi kota industri dengan segala permasalahan sosialnya. Sangat pretensius, ya?

Saya sangat beruntung karena ternyata cerpen saya terpilih menjadi salah satu cerpen yang dibukukan. Buku berjudul “Cerita Horor Kota” itu sudah terbit sekitar seminggu yang lalu dengan cover yang [bagi saya] sangat menarik, begitu pula dengan ilustrasi cat air di dalamnya. Satu-satunya kekurangan dari segi sampul adalah tangan monster yang “keluar” dari belakang buku, itu agak mengganggu (walaupun terlihat keren saat buku masih dibungkus plastik). Kualitas kertas dan cetakannya juga bagus, layak dikoleksi.

Saya tidak akan membahas buku ini, karena saya pikir hal itu bukan bagian saya. Yang jelas, saya merasa agak geli ketika membandingkan cerpen yang saya buat dengan cerpen pemenang lain, sepertinya cerpen saya yang paling tidak nyambung dengan konsep buku ini. Entahlah, biar pembaca yang menilai.

Buku ini bisa didapatkan di toko-toko buku pada umumnya.