Perbankan Gaib2 min read

Sampean tidak per­ca­ya saya bisa meng­gan­dak­an uang?” tanya Eyang Sanca, alis­nya meng­e­rut dan posi­si duduk­nya maju ke arah­ku.

Nggak per­ca­ya. Mana mung­kin uang bisa digan­dak­an? Apa Eyang pikir saya ini orang kam­pung yang bisa dibo­do­hi? Saya ini orang kota, ber­pen­di­dik­an!” jawab­ku sam­bil menah­an tawa.

Eyang Sanca mena­rik napas dalam, lalu meng­u­rut-urut jeng­got­nya. “Pernah ke bank, kan?”

Pernah dong!” jawab­ku.

Sampean jangan kaget kalau saya bilang, bank itu sama seper­ti saya, sama-sama dukun peng­gan­da uang!”

Aku ber­de­ham, seper­ti­nya aku mulai paham jal­an piki­ran­nya, tapi aku ingin meng­u­ji­nya sedi­kit. “Maksud Eyang?”

Kalau sam­pe­an per­gi ke bank, masu­kin uang di tabung­an, depo­si­to, atau inves­ta­si lain­nya, uang sam­pe­an ber­tam­bah banyak, kan?” ujar­nya sam­bil meli­pat tangan di dep­an dada.

Iya, saya tau itu.”

Nah, apa beda­nya? Uang sam­pe­an sama-sama jadi ber­li­pat gan­da tan­pa sam­pe­an harus ker­ja dan cuma tidur-tidur­an di rumah. Berarti, kon­sep meng­gan­dak­an uang itu buk­an sesu­a­tu yang ndak masuk akal. Iya toh?”

Kutatap raut muka­nya. Aku tak bisa mere­mehk­an dukun ini, ter­nya­ta ia pin­tar ber­ke­lit juga.

Kalau Eyang sama saja dengan bank, lalu buat apa saya per­gi ke Eyang? Lebih enak ke bank, bia­ya admi­nis­tra­si­nya lebih ren­dah; kan­tor­nya sejuk pakai AC, nggak bau keme­ny­an seper­ti ini; petu­gas­nya juga per­em­pu­an can­tik, buk­an kakek-kakek peyot begi­ni,” ucap­ku pel­an.

Jangan kurang ajar, ya!” sua­ra­nya mening­gi. “Biar saya kasih tau kena­pa saya lebih hebat, bunga yang saya tawark­an itu lima ratus per­sen! Lebih ting­gi dari bank mana pun!”

Tawaku ham­pir mele­dak men­de­ngar pen­je­la­san­nya. Jelas-jelas dia ingin meni­pu­ku. “Omong kosong! Mana bisa bunga sebe­sar itu? Diinvestasikan untuk bis­nis apa uang saya? Saham apa?”

Investasi gaib!”

Apaan gaib?”

Ini per­bank­an gaib! Jelas beda dengan per­bank­an kon­ven­sio­nal!”

Ia meng­e­lu­ark­an sebu­ah buku dari kan­tong keme­ja batik­nya. Sebuah buku tabung­an ber­war­na hitam dengan tulis­an putih “Bank Gaib, Sanca Bank”.

Ia men­je­lask­an, “Sampean tau, kan, kalau nilai mata uang itu beda-beda? Nilai dolar Amerika lebih besar dari nilai rupi­ah, misal­nya. Sekarang biar saya kasih tau, nilai mata uang di dunia gaib itu nila­i­nya ber­a­tus-ratus kali lipat dari nilai rupi­ah!”

Mata uang gaib? Apa lagi itu?”

Sampean belum per­nah ke alam jin, kan? Pantas ndak tau. Saya bisa kasih bunga sam­pai lima ratus per­sen kare­na saya ini men­ja­lank­an usa­ha per­bank­an dan per­e­ko­no­mi­an anta­rdi­men­si, tepat­nya alam manu­sia dengan alam jin,” jelas­nya. “Ndak semua orang bisa, cuma dukun yang punya keku­at­an saja yang bisa”

Aku meng­he­la napas. Menarik juga dukun ini.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).