Ayam Saja Bisa Hidup4 min read

Pak Ade bingung. Pengeluaran keu­a­ngan­nya ter­a­sa tidak ter­ken­da­li. Baru saja satu ming­gu pasca-gaji­an, tapi saldo di reke­ning­nya ting­gal seu­jung kuku. Ia tidak tahu ke mana saja uang­nya ia belan­jak­an. Sebagian untuk jaj­an, seba­gi­an untuk hura-hura, seba­gi­an lagi untuk menun­jang gaya hidup, tapi tak ada alo­ka­si untuk tabung­an, apa­la­gi inves­ta­si.

Ia pun duduk di dep­an rumah­nya, mema­kai sarung dan kaos oblong, sam­bil meng­o­brol dengan anak dan istri­nya. Istrinya ber­ke­luh kesah men­de­ngar kon­di­si keu­ang­an kelu­ar­ga. Ia menya­lahk­an Pak Ade yang bela­kang­an hobi meng­o­lek­si batu akik, bahk­an mem­be­li bebe­ra­pa batu dengan har­ga fan­tas­tis hanya kare­na dibu­juk tem­an-teman­nya. Sementara itu, Pak Ade dengan san­tai menya­lahk­an istri­nya yang sering kalap belan­ja onli­ne, mem­be­li baju dan sepa­tu yang cuma sese­ka­li dipa­kai saat per­gi ke undang­an. Anak mere­ka yang masih TK tidak meng­er­ti apa-apa, tidak paham kalau sebe­nar­nya ia juga ikut disa­lahk­an kare­na sering mere­ngek min­ta dibe­lik­an main­an BoBoiBoy dan Avengers.

Di tengah kese­sak­an itu, Pak Ade mere­nung. Ia meli­hat ayam peli­ha­ra­an­nya yang sedang mema­tuk-matuk tanah di peka­rang­an ber­sa­ma anak-anak­nya yang masih piyik. Ayam itu jarang seka­li ia beri mak­an. Ia per­ca­ya bah­wa ayam kam­pung seja­ti harus­lah dile­pas agar men­ca­ri mak­an sen­di­ri, entah dari remah-remah sisa makan­an, cacing, atau serang­ga. Tiba-tiba renu­ngan­nya itu sam­pai pada sebu­ah titik pun­cak, ia seper­ti men­da­patk­an sato­ri, pen­ce­rah­an, ilu­mi­na­si. Hidayah.

Ayam saja bisa hidup,” kata Pak Ade sam­bil meng­e­lus-elus jang­gut­nya.

Istrinya hanya meng­ang­guk, ber­u­sa­ha mema­ha­mi ke mana arah pem­bi­ca­ra­an sua­mi­nya, semen­ta­ra anak­nya sedang asyik menon­ton DVD.

Pak Ade menyam­bung uca­pan­nya, kali ini dengan sua­ra yang dalam dan bijak seper­ti Morgan Freeman.

Tuhan Maha Adil, semua makh­luk ada reze­ki­nya masing-masing. Tidak ada yang per­lu kita kha­wa­tirk­an,” ucap­nya. “Lihatlah ayam-ayam itu. Mereka tidak beker­ja, apa­la­gi gaji­an. Setiap hari ker­ja­nya cuma mema­tuk-matuk tanah, ciap-ciap, petok-petok, tapi mere­ka bisa hidup. Beranak pinak pula. Apa per­nah Ibu lihat ayam yang mati kela­par­an?”

Istri Pak Ade meng­ge­leng. Tiba-tiba saja, ber­kat opti­mis­me yang aja­ib itu, ia tidak lagi mera­sa kha­wa­tir dengan masa depan­nya. Ia tidak kha­wa­tir apa­kah bul­an ini uang mere­ka cukup untuk belan­ja, mem­ba­yar tagih­an lis­trik, dan bia­ya seko­lah anak. Cukup dengan pikir­an posi­tif itu. Tawakal, pikir­nya. Ayam saja bisa hidup, apa­la­gi manu­sia.

Namun tan­pa dike­ta­hui Pak Ade dan kelu­ar­ga­nya, diam-diam sang induk ayam meng­u­ping pem­bi­ca­ra­an mere­ka ber­dua. Sambil mon­dar-man­dir meng­gi­ring anak-anak­nya, ayam beti­na itu meng­ge­ru­tu, bahk­an mema­ki-maki Pak Ade yang telah meren­dahk­an har­ga diri­nya seba­gai ayam. Tentu saja, bagi manu­sia yang tidak paham baha­sa ayam, sua­ra­nya hanya ter­de­ngar petok-petok ran­dom.

Manusia bang­sat!” caci si ayam beti­na itu. “Kamu kok tidak tahu kalau seti­ap hari aku beker­ja mem­ban­ting tulang? Kamu pikir kami cuma petok-petok, ciap-ciap, mema­tuk-matuk tanah, lalu serang­ga dan cacing akan mun­cul dengan sen­di­ri­nya, menye­rahk­an diri seo­lah mere­ka tidak butuh kehi­dup­an? Kampret! ‘Ayam saja bisa hidup’ kata­mu? Ya ten­tu saja aku hidup, kare­na aku mati-mati­an beker­ja, menaf­ka­hi anak-anak­ku yang banyak dan kecil-kecil ini. Bahkan anak-anak­ku ini pun sudah kua­jak men­ca­ri mak­an. Kamu pikir, mere­ka bisa hidup begi­tu saja kalau tidak beker­ja? Kamu pikir, anak-anak­ku ini turun dari langit, teko­te­ko­te­ko­tek, begi­tu? Kamu tidak tahu bela­kang­an ini aku pusing memi­kirk­an jum­lah popu­la­si serang­ga yang sema­kin ber­ku­rang. Belum lagi cacing tanah yang sulit dite­muk­an kare­na tanah­nya sudah kali­an tutup dengan beton dan aspal semua. Aku ini per­em­pu­an, single parent, tapi aku ber­ju­ang, tidak per­nah pas­rah. Tidak seper­ti kepa­la gun­dul­mu itu! Kalau kamu mere­mehk­an per­ju­a­ngan­ku, sini kamu! Sini, kamu dan kelu­ar­ga­mu itu, coba mema­tuk-matuk tanah seper­ti­ku! Memangnya kamu mau? Dasar monyet sok pen­ting.”

Pak Ade masih menik­ma­ti semi­lir angin di sore hari. Ia sem­pat ber­pi­kir untuk men­ca­ri ker­ja sam­ping­an atau meng­ga­da­ik­an barang-barang sim­pa­nan­nya, tapi sejak men­da­patk­an pen­ce­rah­an tadi, ia meng­u­rungk­an niat itu. Santai saja, pikir­nya. Pikiran harus posi­tif. Kalau pikir­an kita posi­tif, semes­ta pun akan beker­ja untuk meme­nu­hi sega­la kei­ngin­an kita. Itulah raha­sia kehi­dup­an.

Sang ayam masih mon­dar-man­dir di dep­an Pak Ade, sese­ka­li mena­tap­nya tajam penuh keben­ci­an. Ia ingin lihat, sam­pai kap­an opti­mis­me aja­ib Pak Ade itu akan ber­tah­an. Mungkin nan­ti, pikir­nya, sam­pai mere­ka keha­bis­an uang dan kela­par­an. Barulah pada saat itu mere­ka akan sadar bah­wa Tuhan tidak akan meng­u­bah nasib pema­las seper­ti diri­nya. Ayam beti­na itu ter­ke­keh-kekeh. Ia ingin lihat. Ia ingin lihat Pak Ade dan kelu­ar­ga­nya mema­tuk-matuk tanah.

Benarlah duga­an­nya. Tak lama kemu­di­an, Pak Ade keha­bis­an uang. Bukan lagi nol, teta­pi minus. Barang-barang sim­pa­nan­nya diju­al dan diga­da­ik­an. Mereka mulai hidup pri­ha­tin. Sang ayam ter­ta­wa-tawa puas. Itulah aki­bat­nya kalau opti­mis mem­ba­bi buta. Optimis itu harus rea­lis­tis, ujar­nya. Tawakal boleh, tapi ikhti­ar tidak bisa dita­war-tawar.

Ayam itu masih bisa ter­ta­wa, hing­ga pada sua­tu hari Pak Ade memu­tusk­an untuk menyem­be­lih­nya.

Alhamdulillah, ter­nya­ta kita masih bisa mak­an enak di tang­gal tua begi­ni,” kata Pak Ade di dep­an meja mak­an. Aroma ayam bakar ter­ci­um harum, meng­gu­gah sele­ra mere­ka seke­lu­ar­ga. “Benar, kan, kata Bapak? Tidak usah kha­wa­tir. Ayam saja bisa hidup, apa­la­gi kita.”

Tapi kan, ayam­nya sudah mati, Pak?” cele­tuk anak­nya.

Pak Ade dan istri­nya ter­ta­wa-tawa.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).