Pertanyaan Paling Aneh13 min read

Ada sebuah pertanyaan paling aneh yang pernah diucapkan Sri kepada suaminya. Saat itu ia baru pulang kerja, berjalan kaki selama lima belas menit dari bus karyawan, dan tiba di sebuah rumah kontrakan sederhana. Sebenarnya ia sudah lama ingin pindah dari rumah itu. Dapurnya sempit dan air PAM-nya kurang bersih. Sayangnya, kondisi keuangan mereka masih jauh dari cukup untuk mencari kontrakan yang lebih baik, apalagi membeli rumah sendiri. Sudah dua bulan sejak Aji, suaminya, di-PHK dari pabrik tempat ia bekerja. Satu-satunya sumber penghasilan mereka sekarang, termasuk untuk membayar kontrakan, adalah gaji Sri sebagai buruh yang tidak seberapa.

Sebelum masuk ke dalam, Sri menghela napas dalam, kemudian mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Mungkin Aji sudah tidur, pikirnya. Sejak menjadi pengangguran, suaminya memang sangat pemalas. Ia tak mau lagi bergaul dengan tetangga. Setiap hari ia hanya berdiam diri di rumah. Tidur, makan, dan minta dilayani seperti seorang raja.

Sri membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu, lalu meletakkan sepatunya ke dalam rak kecil di belakang pintu. Tiba-tiba telinga Sri menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ia mendengar suara musik, pelan dan sayup-sayup. Tidak ada yang pernah menyalakan musik di dalam rumahnya. Aji adalah lelaki yang kaku dan membosankan, ia tidak suka mendengarkan musik atau radio sambil beraktivitas. Satu-satunya orang yang suka menyalakan musik adalah tetangganya, si maniak dangdut. Namun ia yakin musik itu berasal dari dalam rumah, dan musik yang ia dengar bukanlah musik dangdut. Itu musik jazz, atau blues, atau apalah namanya, ia tidak kenal aliran musik semacam itu. Ia hanya ingat pernah mendengar musik seperti itu di film-film.

Tanpa sempat membuka seragam kerjanya, Sri berjalan pelan ke arah sumber suara musik itu. Lantunan nada itu menggiringnya ke arah dapur. Ini mungkin cuma soal sepele, tapi sebagai orang yang mengetahui seluk beluk rumah, ia merasakan keganjilan. Ada “orang lain” di rumah ini, pikirnya. Sri memperlambat langkahnya, matanya awas, dan ia mulai mengendap-endap. Apakah sebaiknya ia segera keluar rumah dan mencari pertolongan? Pikiran itu datang dan pergi dalam benak Sri, tapi ia selalu membatalkannya. Ini cuma suara musik. Mana mungkin ada maling yang melakukan aksinya sambil menyalakan musik?

Dari balik dinding, ia mengintip ke arah dapur. Hidungnya mencium bau harum daging yang sedang dimasak. Ia merasa seperti sedang berada di dapur sebuah restoran, hanya saja dapur di hadapannya penuh dengan kardus-kardus bekas dan perabotan yang jarang dipakai. Di salah satu sisi dapur, di depan kompor, ia dapat melihat sesosok lelaki bertubuh tinggi–setinggi Aji, tapi cara berdirinya agak lebih tegap–berdiri membelakanginya. Ia dapat melihat tali celemek di belakang leher lelaki itu. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu.

“Udah pulang, Sayang? Nggak kena macet, kan?” ucap lelaki itu tiba-tiba tanpa menoleh. Suara itu terdengar merdu, manis, dan sangat lancar meluncur dari mulutnya. Tidak seperti Aji yang ucapannya selalu datar dan pantang berbasa-basi. Sri tidak menjawab pertanyaan itu, kepalanya terasa hampa dan ringan.

Ketika lelaki itu membalikkan badan dan memperlihatkan senyum paling manis yang pernah ia lihat, Sri pun mengucapkan pertanyaan itu–pertanyaan paling aneh yang pernah ia ucapkan kepada suaminya.

“Kamu siapa?”


Aji tidak pernah makan menggunakan garpu, apalagi pisau. Apa pun jenis makanan yang ia santap, ia hanya akan menggunakan sendok dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk memegang piring atau dibiarkan bebas. Terkadang, bila makanannya terlalu berada di pinggir piring dan hampir jatuh, ia akan menggunakan jari-jari tangan kirinya itu sebagai pengganti garpu.

Sri sudah hapal betul dengan gaya makan suaminya itu, tetapi kali ini, Aji yang ada di hadapannya tampak lihai menggunakan pisau dan garpu.

“Bagaimana? Enak nggak?” tanya Aji di sela-sela suapannya, kemudian ia mengambil tisu dan mengelap bekas saus di sudut bibir Sri.

Sri ragu untuk menjawab, dipandanginya lelaki itu. Jelas bukan Aji yang ia kenal. Meski begitu, ia tidak punya bukti apa-apa selain kelakuan Aji yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Pertanyaan yang ia ucapkan beberapa saat lalu pun hanya dibalas dengan senyuman dan tawa ringan, seolah ia menganggapnya sebagai candaan.

“Enak,” jawab Sri pelan.

“Pisaunya di sebelah kanan, Sayang, garpunya di kiri. Kalau nggak, nanti kamu susah potongnya,” ucap Aji, lalu mencontohkannya dengan perlahan.

Bagi Sri, menyantap daging lebih mudah bila langsung menggunakan tangan. Sekarang pun, ia bisa saja melempar jauh-jauh garpu dan pisau aneh itu, lalu mengambil daging di atas piring dengan tangannya, bahkan mungkin sambil menaikkan satu kaki ke atas kursi seperti yang biasa ia lakukan. Namun intuisinya melarang dengan sangat keras. Ia merasa bahwa bila ia merusak permainan apa pun yang sedang dilakoni Aji saat itu, sesuatu yang buruk akan terjadi. Mungkin Aji sedang berakting, mungkin ia sedang kerasukan sesuatu, tapi bila perasaannya tersinggung, entah apa yang akan ia lakukan. Akhirnya, Sri tetap menggunakan garpu dan pisau itu, meski ia memegangnya secara terbalik. Dipotong-potongnya daging itu hingga menjadi bagian-bagian kecil terlebih dahulu, baru kemudian ia makan menggunakan garpu.

Selama menyantap makanan, pikiran Sri tidak bisa diajak berdamai. Ratusan pertanyaan timbul tenggelam dalam benaknya. Sejak kapan Aji bisa–dan mau–memasak? Apalagi makanan gedongan seperti ini? Ia adalah laki-laki kolot dan kaku yang selalu ingin dilayani, dan itu sudah menjadi tradisi dalam keluarganya secara turun temurun. Meski Aji berada di rumah, tapi ia tetap menyuruh Sri untuk melakukan semua pekerjaan rumah tangga, mulai dari memasak hingga mencuci pakaian, menyapu hingga menyiram tanaman. Ia tidak peduli meski Sri baru pulang bekerja dan masih kelelahan, karena baginya, seorang lelaki yang melakukan pekerjaan perempuan berarti sedang merendahkan harga dirinya sendiri. Lagipula, ia tidak pernah menyuruh Sri untuk bekerja di luar. Bila Sri menolak atau terlihat enggan, ia akan menceramahinya dengan dingin, bahwa seorang istri wajib taat kepada suami, bila tidak maka ia akan berdosa dan masuk neraka.

Sekarang, ia tak melihat sifat itu dalam diri Aji. Aji yang ada di hadapannya pandai memasak, suka mendengarkan musik, berbicara dengan kata-kata yang halus, sering tersenyum, lembut, dan–meski tak ada yang berubah dengan wajahnya–entah kenapa Sri merasa bahwa Aji menjadi lebih tampan. Lalu, lihatlah di mana mereka berada sekarang. Di halaman belakang rumah. Baju-baju dan tiang jemuran yang biasanya memenuhi tempat itu sudah dipindahkan, mungkin Aji sudah mengangkatnya dan melipatnya rapi. Benda yang ada di antara mereka sekarang adalah meja makan yang sudah ditata dengan taplak yang bersih tanpa noda. Di atasnya ada dua buah lilin yang menyala terang (yang juga berfungsi untuk mengusir lalat), dua porsi makan malam mewah, kentang, dan apel sebagai pencuci mulutnya. Ini adalah candle light dinner pertama yang dialami Sri seumur hidupnya.

Tiba-tiba Aji meletakkan pisau dan garpunya, lalu matanya melirik ke atas, seperti menyadari sesuatu. Ia menggeser kursi, lalu bangkit berdiri sambil memberi kode dengan telunjuknya agar Sri tak ikut bangkit. Dengan senyum tipis yang masih terkembang, ia pergi ke arah dapur dan meninggalkan Sri sendirian.

Sri terus mengunyah potongan daging di mulutnya meski makanan yang awalnya lezat itu semakin lama terasa semakin hambar. Suara langkah kaki Aji yang menjauh dan bayangan tubuhnya yang bergerak karena goyangan cahaya lilin membuatnya merinding. Ia yakin itu bukan Aji. Mungkinkah Aji punya saudara kembar?

Sesaat kemudian, Aji kembali ke meja makan. Ia membawa sebuah nampan berisi botol panjang berwarna hitam yang tampak berat. Ada warna emas pada bagian tutup dan label botol itu, dan juga tulisan berbahasa asing yang tak bisa ia baca. Ia yakin itu bukan bahasa Inggris. Di sebelah botol itu, ada dua buah gelas beling bertangkai yang bersih mengilap. Ia tahu gelas itu. Kedua gelas itu adalah kado pernikahan mereka dari seorang teman lama. Gelas-gelas itu beserta satu set alat makan lainnya biasanya hanya dipakai untuk menjamu tamu saat lebaran. Sehari-hari, Aji lebih suka menggunakan gelas kaleng besar seperti yang dipakai abah-abah, sementara Sri lebih suka memakai mug warna-warni kesayangannya.

Bagaikan seorang pelayan restoran, Aji meletakkan dua gelas itu, satu di dekat Sri dan satu di dekat tempat duduknya. Ia menuangkan isi botol itu ke dalam gelas Sri terlebih dahulu. Terdengar suara tuangan air yang merdu selama beberapa detik, kemudian cairan merah gelap sudah mengisi sebagian gelas itu. Awalnya, Sri mengira bahwa cairan itu adalah sirup sisa lebaran tahun kemarin, tapi lama-kelamaan ia sadar bahwa dugaannya salah. Ia tahu minuman itu minuman apa, setidaknya ia pernah melihatnya di film-film.

“Ini barang langka lho, susah aku dapatnya,” ujar Aji sambil menuangkan minuman itu di gelasnya sendiri, “spesial untuk malam ini.”

Sri hanya tersenyum, lebih tepatnya berusaha tersenyum. Tak pernah terpikir dalam benaknya untuk meminum minuman beralkohol. Ia pernah melihat tetangga-tetangganya mabuk meminum bir oplosan sambil bermain gapleh, atau anak-anak remaja tanggung di dekat rumahnya membeli bir kaleng dari minimarket, tapi ini suasana yang sungguh berbeda. Romantis, mungkin itu satu-satunya istilah yang muncul dalam benaknya. Istilah yang ia tinggalkan sejak ia lulus sekolah dan mengetahui kerasnya dunia itu ternyata muncul kembali dalam kepalanya.

Aji mengambil gelasnya, lalu mengangkatnya sedikit. “Untuk kebahagiaan kita, untuk malam yang spesial ini.”

Selama beberapa detik, Sri terdiam, membiarkan tangan lelaki itu menggantung gelasnya. Ia seperti hilang kesadaran, tak tahu apa yang harus dilakukan. Hingga kemudian Aji menyebut namanya, Sri baru tersadar.

“Kenapa?”

“Aku ….” Sri menghentikan ucapannya. Ia tak berani menolak Aji. Ada raut yang ganjil di wajah Aji, dan meski itu hanya sekilas, itu lebih menakutkan dari semua ekspresi Aji yang pernah ia lihat.

Dengan tangan gemetar, Sri mengambil gelas itu. Lebih baik mengikuti permainan ini daripada mengambil risiko yang tak ia ketahui. Toh, apa ruginya, bukankah ia diperlakukan dengan lembut dan bahkan romantis? Namun dalam hati, Sri bertanya-tanya, apakah yang sesungguhnya ia takutkan: kemarahan aji, atau kehilangan momen romantis ini?

Suara dentingan terdengar merdu saat gelas mereka beradu. Aji meneguk minumannya terlebih dahulu, lalu kembali memandangi Sri. Tatapan matanya berbicara banyak, ada rayuan sekaligus perintah. Tak lama kemudian, cairan itu akhirnya masuk juga ke mulut Sri, sedikit demi sedikit membasahi bibir, lidah, dan tenggorokannya. Ia mengernyitkan dahi, ingin sekali diludahi lagi minuman itu, tapi tak dilakukannya. Kemudian ia berusaha tersenyum.

“Satu lagi,” ucap Aji lagi, tiba-tiba, “tolong pejamkan mata kamu.”

Sri terkejut dengan permintaan itu. Apakah sekarang Aji berniat untuk mengakhiri permainan ini? Ia membayangkan, jika ia menutup mata, mungkin akan ada orang-orang yang masuk ke rumah ini sambil membawa kamera dan mikrofon, lalu saat ia membuka mata mereka akan mengucapkan selamat kepadanya karena telah masuk acara reality show Suami Baru, atau Make Over Suami, atau Suami Kesurupan. Ataukah justru, bila ia menutup mata, permainan yang sesungguhnya baru akan dimulai? Permainan apa lagi?

Aji menatap datar, menunggu jawaban perempuan itu. Ia menoleh ke bawah, mungkin ke arah garpu di piringnya, dan itu membuat Sri membayangkan bahwa Aji akan menusuk matanya dengan garpu bila ia tak juga memejamkan mata. Akhirnya, Sri pun menuruti perintah suaminya.

Dalam kegelapan, ia bisa mendengar suara kursi digeser, lalu suara langkah kaki Aji yang bergerak ke sebelah kirinya. Semakin dekat suara itu, semakin kencang debar jantung Sri. Napasnya terasa tertahan ketika tiba-tiba saja ia merasakan sepasang tangan dingin menyentuh lehernya.

Ia ingin berontak. Kalau benar orang ini bukanlah Aji yang sesungguhnya, inilah saat paling masuk akal untuk untuk melawan dan melarikan diri. Napasnya sesak, adrenalinnya memuncak, mendesaknya untuk segera meledakkan ketakutannya. Namun saat ia membuka mata sambil menahan kedua pergelangan tangan dingin itu, ia menyadari kenyataan yang sungguh berbeda. Tangan itu tidak sedang mencekiknya, tetapi memasangkan sebuah kalung di lehernya.

“Belum disuruh buka mata, udah buka mata,” ucap Aji protes, tapi tak ada kemarahan dalam nada suaranya.

Sri menunduk, mulutnya masih terkunci. Ia perhatikan kalung yang melingkar di lehernya itu. Kalung itu tampaknya terbuat dari emas, dengan rantai-rantai kecil yang disusun rapi berkilauan diterpa cahaya lilin. Ada sebuah liontin mungil berwarna putih di bagian bawah kalung itu. Ia tidak tahu jenis batu itu, tapi sekilas warna putih itu berganti-ganti dengan warna keemasan serupa dengan rantai kalungnya.

Sebuah kecupan mendarat di kening Asri. Bibir itu terasa hangat dan lembut. Kemudian, tia-tiba saja ia terisak. Air mata menetes dari kedua matanya dan membasahi pipinya, lalu jatuh ke salah satu bagian kalung itu. Ia ingat kalung emas itu, itu adalah kalungnya sendiri yang pernah ia jual. Saat itu, beberapa minggu setelah pernikahan mereka, Aji sakit parah. Badannya demam tinggi, bicaranya ngawur, dan kemudian ia kehilangan kesadaran hingga harus dibawa ke rumah sakit. Ia tidak punya pekerjaan tetap atau asuransi dan tabungannya sangat sedikit. Sri terpaksa menjual kalung pemberian ibunya itu untuk biaya pengobatan suaminya. Namun ia tak pernah memberitahukan hal itu kepada Aji, dan ia pun yakin Aji yang cuek itu tak menyadarinya. Bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan kalung itu lagi?

“Mas, dapat dari mana ….” Belum sempat pertanyaan itu terucap, Aji sudah memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar Asri tak meneruskan ucapannya.

“Aku mau bilang terima kasih untuk semua yang pernah kamu kasih untuk aku. Malam ini adalah ulang tahun pernikahan kita, kamu lupa?” ucap Aji sambil membelai kepala istrinya.

Sri terkejut. Ia menghitung-hitung tanggal dan segera sadar bahwa yang diucapkan Aji memang benar. Mereka tak pernah merayakan ulang tahun pernikahan, sama sekali, sebab tanggal yang diingat Sri hanyalah tanggal gajian dan tanggal tagihan bulanan.

Malam itu, perubahan besar telah terjadi. Meski sampai detik-detik terakhir Sri masih tidak mengenali Aji yang ada di hadapannya, tapi tak ada lagi rasa takut atau penyesalan. Aji yang lembut dan romantis itu adalah lelaki idamannya, ia adalah lelaki yang sesungguhnya ingin ia nikahi sejak dulu. Saat Aji menggendongnya ke dalam kamar, ia memutuskan untuk pasrah. Baginya, malam itu adalah ganjaran atas semua kesabaran dan kesetiaan yang telah ia berikan sepanjang pernikahannya.


Sayangnya, malam yang spesial itu memang hanya terjadi satu kali. Ketika esok paginya ia bangun, ia tak menemukan pria idaman itu di sisinya. Ia sempat membayangkan bahwa Aji akan datang dari balik pintu sambil membawa sarapan dan mengucapkan selamat pagi. Namun setelah sepuluh menit menunggu, ia sadar bahwa khayalannya terlalu mengada-ada.

Sri keluar kamar dan buru-buru memeriksa halaman belakang. Semuanya sudah kembali seperti semula. Tidak ada sisa-sisa candle light dinner atau panggangan steak di dapur. Kemudian ia pergi ke teras. Di sana ia menemukan Aji sedang berdiri memunggunginya, memberi makan burung jalak peliharaannya sambil bergumam sesuatu. Ia mencoba menyapa suaminya, memeluknya dari belakang dengan semanis mungkin. Namun balasan yang ia dapatkan hanyalah gumaman datar dan perintah untuk segera membuatkan kopi.

Sri bertanya-tanya, apakah laki-laki itu sudah kembali seperti semula, ataukah kejadian semalam memang hanya mimpi? Diliputi rasa ketidakrelaan, ia kembali ke kamar dan membuka laci di samping kasurnya. Di dalam laci itu, sebuah kalung emas tergeletak, persis sama sebagaimana ia meletakannya sebelum bercinta tadi malam. Ia tersenyum lega.

Ingatan tentang kejadian tadi malam terus diputar ulang dalam kepalanya saat ia menyiapkan sarapan, mandi pagi, dan mengenakan seragam kerjanya. Saat ia melintas di ruang tengah untuk mengambil sepatu, televisi sedang menayangkan seorang reporter muda yang melaporkan berita kriminal.

Seorang perempuan berusia empat puluh tahun ditemukan tewas dengan leher terkoyak di dalam mobilnya. Polisi menduga bahwa pembunuhan sadis itu bermotif perampokan. Barang yang diduga hilang adalah uang tunai dan perhiasan berupa kalung. Seorang pengamat kriminalitas tampil di televisi dengan wajah yang serius. Analisisnya, kesenjangan sosial yang tinggi dan kepadatan penduduk menjadi pemicu utama terjadinya tindak kriminal.

“Daerah ini memang terkenal rawan terhadap tindak kriminalitas. Bahkan kita ingat dua puluh tahun yang lalu pernah ada seorang perampok yang terkenal karena kesadisannya ….” ucap sang pengamat.

“Dan ketampanannya,” potong pembawa berita sambil tersenyum.

Sang pengamat tertawa. “Ya, media memang senang dengan detil-detil semacam itu. Tapi setelah dia tewas ditembak polisi ….”

“Aksi perampokan dan pembunuhan di tempat yang sama masih tetap tinggi?”

“Betul, betul.”

Sri merasakan getaran-getaran halus muncul di kedua betisnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia dapat mendengar suara jalak menyalak dari teras, tapi ia tak mempedulikannya. Ia kembali ke dalam kamar, mengambil kalung emasnya dan membawanya ke dapur. Disembunyikannya kalung itu di sebuah celah rahasia di lemari dapur, tempat ia biasa menaruh uang simpanannya agar tak diminta Aji.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).