Pohon Titit2 min read

1

Satu malam sete­lah dikhit­an, aku duduk ter­me­nung di kamar sam­bil menah­an rasa per­ih dan meman­da­ngi titit­ku yang masih dibung­kus per­b­an. Ayah datang sam­bil mem­ba­wa tum­puk­an amplop. Ia meng­a­jak­ku ber­hi­tung. Kalau uang­ku cukup, kata­nya, aku boleh mem­be­li sepa­tu roda. 

Aku tidak begi­tu mem­per­ha­tik­an keti­ka ia meng­e­lu­ark­an lem­bar­an uang dari seti­ap amplop dan men­ca­tat jum­lah­nya. Saat itu, ada per­ta­nya­an lain yang mem­bu­at kepa­la­ku gatal. Pertanyaan ini bagi orang lain mung­kin ter­a­sa remeh, tapi kelak akan meng­han­tu­i­ku seu­mur hidup. 

Aku ber­ta­nya, ada di mana potong­an kulit titit­ku yang disu­nat itu? 

Ayah ter­ta­wa men­de­ngar­nya. Ia bilang, aku tidak per­lu kha­wa­tir. Potongan kulit titit­ku itu diam­bil dr. Yatno, diku­bur di halam­an bela­kang kli­nik­nya di anta­ra pohon petai dan pot ang­grek. 

Dokter Yatno ada­lah orang yang meng­khi­tan­ku. Ia tam­pak ter­la­lu sangar untuk ukur­an dok­ter yang menyu­nat anak kecil. Wajahnya lebar, hidung­nya besar, dan ia memi­li­ki bre­wok tebal yang mem­bu­at­ku takut. Bahkan seba­gai anak kelas 5 SD saat itu, aku mera­sa penam­pil­an dr. Yatno tidak men­cer­mink­an seo­rang dok­ter yang ber­sih dan higi­e­nis. 

Lantas, untuk apa ia mena­nam potong­an kulit titit­ku? Ayah kem­ba­li ter­ta­wa. Katanya, dari potong­an titit yang dita­nam itu, nan­ti­nya akan tum­buh pohon titit. Pohon itu sema­kin lama akan sema­kin besar, daun­nya lebat dan ran­ting­nya pan­jang-pan­jang. Bila musim­nya tiba, di seti­ap ran­ting pohon itu akan tum­buh men­jun­tai titit-titit kecil yang sama per­sis dengan titit­ku. 

Aku mem­ba­yangk­an bah­wa dr. Yatno akan meme­tik titit-titit kecil itu saat ia tidak sem­pat mem­be­li makan­an. Ia akan mema­sak­nya dengan kecap asam manis, lalu mela­hap­nya. 

Ayah ter­ke­jut. Imajinasiku ter­la­lu meng­e­rik­an, kata­nya. Dokter Yatno buka­nlah seo­rang kani­bal. Titit-titit kecil itu kelak akan ber­gu­na untuk­ku seba­gai titit cadang­an. Aku ter­i­ngat bah­wa bebe­ra­pa wak­tu sebe­lum­nya titit­ku memang per­nah ter­je­pit rits­le­ting cela­na dan itu mem­bu­at­ku mena­ngis kare­na takut titit­ku akan putus. Aku tidak per­lu kha­wa­tir lagi seka­rang. Itulah alas­an sebe­nar­nya meng­a­pa laki-laki harus dikhit­an. 

Penasaran, aku ber­ta­nya apa­kah ayah juga mena­nam pohon titit saat ia dikhit­an dulu. Ayah meng­ang­guk, kemu­di­an sam­bil menye­le­sa­ik­an hitu­ngan­nya, ia ber­ka­ta bah­wa semen­jak meni­kah dengan Ibu, ia sudah tiga kali ber­gan­ti titit cadang­an. 

Aku tidak sem­pat ber­ta­nya lebih lan­jut, sebab saat itu aku baru sadar bah­wa ber­da­sark­an catat­an yang Ayah tulis, uang­ku sudah lebih dari cukup untuk mem­be­li sepa­sang sepa­tu roda. 

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).