Ayam Saja Bisa Hidup

Pak Ade bingung. Pengeluaran keu­a­ngan­nya ter­a­sa tidak ter­ken­da­li. Baru saja satu ming­gu pasca-gaji­an, tapi saldo di reke­ning­nya ting­gal seu­jung kuku. Ia tidak tahu ke mana saja uang­nya ia belan­jak­an. Sebagian untuk jaj­an, seba­gi­an untuk hura-hura, seba­gi­an lagi untuk menun­jang gaya hidup, tapi tak ada alo­ka­si untuk tabung­an, apa­la­gi inves­ta­si.

Ia pun duduk di dep­an rumah­nya, mema­kai sarung dan kaos oblong, sam­bil meng­o­brol dengan anak dan istri­nya. Istrinya ber­ke­luh kesah men­de­ngar kon­di­si keu­ang­an kelu­ar­ga. Ia menya­lahk­an Pak Ade yang bela­kang­an hobi meng­o­lek­si batu akik, bahk­an mem­be­li bebe­ra­pa batu dengan har­ga fan­tas­tis hanya kare­na dibu­juk tem­an-teman­nya. Sementara itu, Pak Ade dengan san­tai menya­lahk­an istri­nya yang sering kalap belan­ja onli­ne, mem­be­li baju dan sepa­tu yang cuma sese­ka­li dipa­kai saat per­gi ke undang­an. Anak mere­ka yang masih TK tidak meng­er­ti apa-apa, tidak paham kalau sebe­nar­nya ia juga ikut disa­lahk­an kare­na sering mere­ngek min­ta dibe­lik­an main­an BoBoiBoy dan Avengers. Continue rea­ding Ayam Saja Bisa Hidup