Raja2 min read

Foto: CNN Indonesia

Kami ter­di­am di tengah kema­cet­an lalu lin­tas. Ia di kur­si kemu­di, men­co­ba ber­sa­bar mema­ink­an kopling dan rem, semen­ta­ra aku mem­ba­ca lini­ma­sa Facebook yang sedang diri­u­hi pos­ting­an ten­tang keda­tang­an Raja Arab Saudi.

Di tengah ketim­pang­an eko­no­mi ini, ter­nya­ta banyak juga ya, rakyat Indonesia yang bang­ga meli­hat keka­ya­an dan keme­wah­an Raja Saudi,” gumam­ku sam­bil mere­bahk­an pung­gung dan mem­be­tulk­an posi­si sabuk pengam­an.

Memangnya kena­pa?” tanya­nya, masih sun­tuk meman­da­ngi kema­cet­an tan­pa ujung.

Aku kira orang-orang akan cem­bu­ru meli­hat kelu­ar­ga kera­ja­an super­ka­ya itu, apa­la­gi diban­dingk­an dengan kon­di­si kehi­dup­an mere­ka yang mela­rat,” jawab­ku.

Jangan naif. Tidak semua orang mis­kin cem­bu­ru kepa­da orang kaya. Ada juga yang sudah ikh­las mene­ri­ma kas­ta sosi­al­nya. Melihat orang kaya, mere­ka akan mera­sa kagum. Apalagi kalau orang kaya itu seo­rang raja.”

Lho, memang­nya kena­pa kalau raja? Raja orang lain, buk­an raja mere­ka,” tanya­ku, men­co­ba men­de­bat­nya.

Memang buk­an, tapi mere­ka rin­du memi­li­ki seo­rang raja,” ujar­nya, mobil mela­ju bebe­ra­pa meter, “dan menu­rut­ku, orang Indonesia memang lebih cocok hidup dalam sis­tem kera­ja­an.”

Kenapa?”

Itu karak­ter orang Indonesia pri­bu­mi sela­ma ber­a­bad-abad. Demokrasi a la Barat ada­lah sis­tem asing yang baru masuk kema­rin sore, kurang cocok dengan kul­tur kita. Lagipula, sis­tem kera­ja­an itu lebih efi­si­en dan efek­tif. Semua orang fokus dengan bidang­nya masing-masing. Tidak seper­ti seka­rang, semua orang dipak­sa mem­bu­at pilih­an di luar kapa­si­tas­nya. Hasilnya? Geser terus lini­ma­sa Facebook-mu, dan kamu akan lihat beta­pa bodoh pilih­an yang mere­ka buat.”

Aku agak kesal men­de­ngar pen­je­la­san­nya itu. Aku tidak suka mem­ba­yangk­an hidup dalam sis­tem yang meng­i­zink­an sege­lin­tir orang men­da­patk­an sta­tus sosi­al eks­klu­sif hanya kare­na hubung­an darah, see­fek­tif dan see­fi­si­en apa pun peme­rin­ta­han­nya. Namun aku dapat mema­ha­mi­nya. Ia sudah mera­sa putus asa dengan kon­di­si nega­ra ini. Ia tam­pak lelah. Aku pun memu­tusk­an untuk meng­gan­ti topik pem­bi­ca­ra­an.

Saat sedang asyik mem­ba­has meme Polwan can­tik, tiba-tiba sua­ra siri­ne ter­de­ngar nya­ring di bela­kang kami. Mobil-mobil ber­u­sa­ha ber­ge­rak ke ping­gir, tapi kon­di­si jal­an ter­la­lu padat untuk ber­ge­rak. Sirine di bela­kang sema­kin nya­ring, mera­ung-raung. Ia memu­tar setir­nya dengan gusar.

Pejabat kamp­ret! Sok pen­ting!” maki­nya saat meli­hat sed­an hitam mela­ju di sebe­lah kami, dii­ri­ngi bebe­ra­pa penga­wal.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).