Suara Mesin, Suara Rakyat1 min read

Setelah ber­a­bad-abad, akhir­nya kita menya­da­ri bah­wa manu­sia tidak mam­pu mewa­ki­li aspi­ra­si manu­sia lain. Power ten­ds to cor­rupt. Oleh sebab itu, untuk mewu­judk­an sua­tu demok­ra­si lang­sung yang adil, ber­sih, dan efi­si­en, kita mem­bu­tuhk­an sua­tu alat yang mam­pu meng­e­lo­la, meng­al­ku­la­si, dan meng­ek­se­ku­si aspi­ra­si tiap-tiap war­ga nega­ra dengan rasio­nal, cerdas, tegas, ring­kas, tan­pa bias, dan tan­pa fak­tor-fak­tor emo­sio­nal yang mem­ba­ta­si seo­rang manu­sia.”

Aku sedang mem­ba­ca para­graf itu keti­ka kude­ngar nama­ku dipang­gil lewat penge­ras sua­ra. Kutitipkan buku ber­ju­dul Demokrasi Mesin: Sebuah Pengantar di atas pang­ku­an Aini yang sedang asyik ber­ma­in game pon­sel, kemu­di­an sege­ra melang­kah menu­ju bilik sua­ra. Kotak besi seting­gi tiga meter itu ber­pen­dar kehi­ja­u­an, dan keti­ka aku mem­bu­ka pin­tu­nya, aku dapat meli­hat sebu­ah kur­si dan helm kaca yang ter­gan­tung di atas­nya. Ternyata benar, inte­ri­or bilik sua­ra sudah lebih nyam­an diban­dingk­an Pemilu sebe­lum­nya. Kursinya tam­pak lebih empuk dan pen­ca­ha­ya­an­nya lebih mema­dai.

Seketika, aku ter­i­ngat pada buku yang kuba­ca tadi. Menurut buku itu, dahu­lu kala bilik sua­ra Pemilu hanya ber­i­si selem­bar ker­tas dan paku.


Cerita ini meme­nangk­an Sayembara Fiksi Ilmiah Vol. 2 di Serana 42. Baca seleng­kap­nya.

 

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).