Diam Berarti Membeli

P_20150616_180439_1

Bayangkan ske­na­rio ber­i­kut.

Kamu ada­lah seo­rang gadis muda yang can­tik jeli­ta. Suatu hari, ada seo­rang laki-laki yang mene­le­po­nmu dan meng­ung­kapk­an per­a­sa­an­nya dengan begi­tu ber­se­ma­ngat.

Sudah lama aku suka sama kamu. Kalau kamu jadi pacar­ku, aku pas­ti akan men­cin­ta­i­mu dengan sepe­nuh hati. Aku akan mem­be­ri kamu kado, bunga, surat cin­ta, pui­si. Aku juga akan meng­an­tar jem­put kamu seti­ap hari dan meng­a­jak­mu kenc­an ke res­tor­an, bios­kop, atau kara­o­ke semi­ngu seka­li. Asik, kan? Oh, ya, rumah kamu yang di Jalan Mawar Nomor 5, kan?”

Iya,” jawa­bmu.

Setelah itu tele­pon pun ditu­tup. Kamu tidak tahu apa yang sebe­nar­nya ter­ja­di. Pikiranmu masih ber­u­sa­ha men­cer­na apa mak­sud lela­ki itu. Mungkin dia memang seka­dar meng­ung­kapk­an per­a­sa­an­nya saja? Continue rea­ding Diam Berarti Membeli

Obrolan Rasis di Kereta

Guy-hitler

Bulan Mei baru saja ber­la­lu. Setidaknya ada dua hal yang sela­lu saya ingat meng­e­nai bul­an Mei. Pertama, ada­lah hari ulang tahun adik saya dan istri saya. Kedua, ada­lah keru­suh­an Mei 98 yang ber­u­jung pada peleng­ser­an Soeharto.

Saya buk­an maha­sis­wa yang ikut ber­de­mon­stra­si, buk­an pula korb­an keru­suh­an ter­se­but. Saat itu, saya masih sangat kecil, tidak suka menon­ton beri­ta, apa­la­gi beri­ta poli­tik. Saya cuma ingat bah­wa pada sua­tu siang, orang tua saya buru-buru meng­um­pulk­an doku­men-doku­men pen­ting, menyi­apk­an kun­ci, dan ber­ja­ga-jaga di dep­an rumah, seo­lah akan ter­ja­di keba­kar­an atau ben­ca­na alam. Tetangga kom­pleks ber­ke­ru­mun di luar rumah dengan wajah kha­wa­tir, kata mere­ka “keru­su­han­nya sudah dekat, sudah sam­pai pasar”.

Namun, hari itu tidak ter­ja­di apa-apa. Di tele­vi­si, saya meli­hat orang-orang sedang men­ja­rah barang elek­tro­nik dari sebu­ah pusat per­be­lan­ja­an. Saat masuk seko­lah, seo­rang tem­an ber­ce­ri­ta dengan bang­ga bah­wa sau­da­ra­nya yang ting­gal di Jakarta ber­ha­sil “men­da­patk­an” tele­vi­si dan VCD pla­yer dalam keru­suh­an ter­se­but. Benar-benar mem­bi­ngungk­an, bukan­kah mere­ka pen­cu­ri?

Continue rea­ding Obrolan Rasis di Kereta

Extreme Commuting

Sudah seki­tar dua ming­gu ini saya men­ja­la­ni sebu­ah ruti­ni­tas baru: pulang-per­gi Karawang-Jakarta seti­ap hari. Awalnya,  saya mela­kuk­an ini seba­gai solu­si masa­lah finan­si­al dan rumah tang­ga. Biaya kos di Jakarta ter­la­lu mahal untuk seka­dar dipa­kai tidur dan saya ingin bisa ber­te­mu istri seti­ap hari. Selain itu, ada pula alas­an lain: saya ingin men­ca­ri sua­sa­na baru … dan saya suka naik kere­ta.

Awalnya saya sela­lu meng­gu­nak­an WB Travel untuk pulang ke Karawang seming­gu seka­li. Namun, sejak saya meng­e­ta­hui bah­wa kere­ta eko­no­mi lokal tuju­an Jakarta — Cikampek/Purwakarta sudah luma­y­an nyam­an dan rela­tif kosong pada malam hari, saya pun ter­go­da.

Kenyataannya tidak sein­dah yang saya bayangk­an. Saya ter­je­ru­mus dalam lem­bah gelap ber­na­ma extre­me com­mu­ting,

Continue rea­ding Extreme Commuting

Iklan Audio: Ujian Kewarasan di Halte Busway

6186786217_f136fd53c4_zSore itu, sudah ham­pir satu jam saya ber­a­da di ruang­an yang panas, ber­de­sak­an dengan puluh­an orang yang bau keri­ngat, dan men­de­ngark­an sua­ra per­em­pu­an ber­na­da men­jeng­kelk­an yang dipu­tar seca­ra loo­ping dari penge­ras sua­ra. Napas mulai sesak, tubuh ter­a­sa lelah, dan cela­ka­nya, saya lupa mem­ba­wa ear­pho­ne. Tidak per­nah sebe­lum­nya saya mera­sa begi­tu menye­sal telah lupa mem­ba­wa ear­pho­ne, kecu­a­li pada saat itu, saat saya harus menung­gu bus di hal­te bus­way sam­bil men­de­ngark­an ikl­an kar­tu kre­dit Standard Chartered Bank seca­ra non-stop.  Continue rea­ding Iklan Audio: Ujian Kewarasan di Halte Busway

Township dan Indahnya Bertani di Layar Sentuh

township intro

Beberapa bul­an bela­kang­an ini, saya sering ber­ma­in game Township di pon­sel Android. Game ini memang buk­an game baru, tapi kebe­tul­an has­rat ber­ma­in game mana­je­men saya bang­kit kem­ba­li sete­lah sadar bah­wa saya tidak ber­ba­kat ber­ma­in Candy Crush. Awalnya, saya sem­pat men­co­ba Clash of Clans, kare­na konon game “tawur­an” ini lebih manly dari­pa­da game ber­co­cok tanam. Namun, ber­hu­bung saya malas ber­ga­bung dengan clan dan menye­su­a­ik­an wak­tu main saya dengan pema­in-pema­in lain yang ter­di­ri dari ABG hing­ga om-om kan­tor­an, saya pun men­co­ba game per­ta­ni­an. Continue rea­ding Township dan Indahnya Bertani di Layar Sentuh

Tamu Terakhir

18+

Organ tung­gal sudah tak ter­de­ngar sejak satu jam yang lalu dan tamu-tamu mulai surut. Ningrum menah­an diri untuk tak meng­go­sok mata­nya yang ter­a­sa per­ih, lalu meli­rik ke arah Dimas, sua­mi­nya, yang juga tam­pak tak kalah lelah. Di halam­an rumah­nya, orang-orang sudah mulai mem­be­resk­an kur­si, semen­ta­ra hidang­an rese­psi sudah ham­pir habis. Tak ada lagi yang datang dari arah ger­bang kecu­a­li angin dingin dan nya­muk-nya­muk.

Nggak akan ada tamu lagi, kan?” geru­tu Dimas.

Mungkin masih,” ucap Ningrum pel­an, seper­ti sedang ber­bi­ca­ra dengan diri­nya sen­di­ri.

Ah, kalau pun ada, paling juga besok. Sekarang kaya­nya kita bisa isti­ra­hat.”

Sepasang sua­mi istri yang baru sele­sai mak­an tam­pak lang­sung ber­pa­mit­an keti­ka menya­da­ri bah­wa kur­si-kur­si mulai diang­kat. Merekalah tamu ter­a­khir di aca­ra per­ni­kah­an itu. Ningrum meng­he­la napas sam­bil Continue rea­ding Tamu Terakhir

Jam Tua yang Menolak Waktu

Orang bilang, jam yang rusak akan tetap menun­jukk­an kebe­nar­an, mini­mal dua kali dalam seha­ri. Namun hal itu tidak ber­la­ku pada jam tua di rumah­ku. Kedua jarum­nya ber­hen­ti di ang­ka dua belas. Anehnya, seti­ap kali pukul dua belas tiba, jarum pan­jang jam itu akan mun­dur satu menit, lalu kem­ba­li lagi ke tem­pat semu­la satu menit kemu­di­an. Seolah-olah jam itu sela­lu meno­lak untuk men­ja­di benar.

Sejak diwa­risk­an oleh almar­hum kakek­ku dua tahun yang lalu, jam itu men­ja­di bang­kai yang ber­di­ri men­ju­lang di pojok kamar, meng­a­wa­si keti­ka kami tidur sam­bil mem­bu­at sem­pit ruang­an dengan badan­nya yang besar dan hitam. Istriku sering kali ter­ba­ngun pada tengah malam kare­na mera­sa akan ditim­pa oleh ben­da itu, kemu­di­an penya­kit asma­nya akan kam­buh dan aku harus meng­am­bilk­an inha­ler dari dalam laci.

Sudah lama aku ingin men­ju­al jam itu, tapi tak ada yang meng­ang­gap ben­da itu cukup ber­har­ga untuk ditu­kar dengan uang. Suatu hari, aku men­co­ba meng­u­tak-atik­nya sen­di­ri. Aku buk­an ahli repa­ra­si jam antik, tapi ber­da­sark­an infor­ma­si yang kuda­patk­an dari inter­net, aku tahu bah­wa jam itu seha­rus­nya tak bisa ber­ge­rak lagi kare­na ran­tai pem­be­rat di dalam­nya sudah tak per­nah dita­rik. Entah keku­at­an apa yang mem­bu­at­nya sela­lu ber­ge­rak seti­ap pukul dua belas. Merasa geram, kupa­ku jarum pan­jang jam itu di ang­ka dua belas, memak­sa­nya untuk men­ja­di benar.

Malamnya, keti­ka ham­pir pukul 12 tepat, kuli­hat jarum pan­jang jam itu men­co­ba mem­be­ron­tak. Ia ber­u­sa­ha mun­dur dan maju satu menit, tapi ter­tah­an oleh paku yang kupa­sang. Aku ter­ta­wa meli­hat­nya, seka­rang ia tak bisa lari lagi dari kebe­nar­an. Setelah puas “mem­ba­las den­dam” pada jam tua itu, aku pun naik ke tem­pat tidur sam­bil ber­en­ca­na mem­bu­ang ben­da rong­sok­an itu besok pagi.

Rasanya aku sudah tidur lama seka­li, tapi keti­ka ter­ba­ngun, kamar masih gelap. Istriku masih tidur dan tidak ada sinar mata­ha­ri yang mene­ro­bos tirai jen­de­la. Kuperiksa jam di pon­sel, dan beta­pa ter­ke­jut­nya aku kare­na ang­ka digi­tal itu masih menun­jukk­an pukul 00.00. Aku menung­gu dalam wak­tu yang kupi­kir sudah ham­pir lima menit, tapi jam di pon­sel tetap sama, tetap pukul nol-nol-nol-nol.

Aku ber­ge­ming di atas tem­pat tidur­ku dalam wak­tu yang sangat lama, yang tak ingin kuhi­tung sama seka­li. Istriku tak per­nah bangun; mata­ha­ri tak per­nah ter­bit. Bahkan tan­pa per­lu meme­rik­sa­nya ter­le­bih dahu­lu, aku tahu bah­wa jam tangan­ku, jam din­ding di ruang tamu, jam besar di alun-alun kota, dan semua jam di dunia ini telah ber­hen­ti ber­pu­tar. Jam tua itu tak per­nah tun­duk men­ja­di pengi­kut, ia memi­li­ki wak­tu­nya sen­di­ri.

Sakit

Ada per­a­sa­an lega yang mun­cul saat aku melang­kahk­an kaki ke kamar kos. Irama lagu itu, yang seha­ri­an tadi non­stop dipu­tar di kan­tor, akhir­nya bisa pudar juga dari memo­ri otak­ku. Lagu itu benar-benar menim­bulk­an tra­u­ma. Aku bisa mem­ba­yangk­an, sean­da­i­nya tahun dep­an per­ang dunia keti­ga mele­tus, lagu itu pas­ti akan men­ja­di alat inte­ro­ga­si yang cukup ampuh.

Kututup pin­tu kamar erat-erat, lalu kule­takk­an sebung­kus empek-empek yang kube­li di per­em­pat­an jal­an. Malam ini aku ber­en­ca­na untuk mak­an malam sam­bil men­de­ngark­an bebe­ra­pa musik dari lap­top. Musik apa saja, yang pen­ting bisa mene­tra­li­sir sisa-sisa ira­ma lagu itu dari kepa­la hing­ga benar-benar ber­sih sera­tus per­sen. Kunyalakan lap­top, lalu kubu­ka pro­gram pemu­tar musik. Kukira aku sudah aman, kupi­kir semu­a­nya akan ber­jal­an mulus, tapi aku benar-benar salah. Belum sem­pat aku menek­an tom­bol “play”, sebu­ah sua­ra ter­de­ngar dari luar kamar.

Itu ada­lah sua­ra anak tetang­ga. Merasa pena­sar­an, aku men­de­kat dan men­de­ngark­an sua­ra itu baik-baik. Namun aku sege­ra menye­sal keti­ka menya­da­ri apa yang sedang anak itu lakuk­an. Napasku sesak seke­ti­ka dan tangan­ku geme­tar.

Anak kecil usia TK itu sedang ber­nya­nyi, menya­nyik­an lagu yang belum bisa ia paha­mi dengan otak polos­nya, mene­bark­an ter­or dan kenge­ri­an ke dalam teli­nga­ku. Andai saja ia paham bah­wa lagu itu dicip­tak­an buk­an untuk teli­nga manu­sia fana. Nada itu, nada dari kerak nera­ka yang mele­tup-letup. Irama itu, ira­ma dari den­tum­an kehan­cur­an di sua­tu sudut di jagat raya. Dan lirik itu, lirik dur­ja­na yang sang­gup mem­ba­ngunk­an mere­ka yang telah mati hanya untuk mem­bu­nuh­nya kem­ba­li.

Sakitnya tuh di sini, di dalam hati­ku. Sakitnya tuh di sini, meli­hat kau­se­ling­kuh,” den­dang anak kecil itu tan­pa menya­da­ri keru­sak­an apa yang ia tengah ia per­bu­at di muka bumi.

Aku ber­u­sa­ha men­je­rit, tapi yang kelu­ar dari teng­go­ro­kan­ku hanya­lah desis­an halus. Dapat kura­sak­an otak­ku mele­leh men­ja­di bubur putih yang kelu­ar dari lubang teli­nga; hangat, basah, dan ken­tal. Lalu tan­pa bisa kuken­da­lik­an, tubuh­ku ter­pe­lin­tir, wajah­ku mung­kin sudah ber­u­bah seper­ti lukis­an The Scream, dan entah apa yang ter­ja­di selan­jut­nya.

Aku rasa, aku ter­je­rem­bab ke dalam dimen­si lain, sebu­ah dimen­si yang meng­e­rik­an. Dalam dimen­si itu, lagu tadi ter­de­ngar ber­u­lang-ulang, loo­ping tan­pa akhir, sela­ma-lama­nya, sela­ma kea­ba­di­an itu sen­di­ri.

Sakit … sakit … sakit­nya tuh di sini. Sakit … sakit … sakit­nya tuh di sini. Sakit … sakit … sakit­nya tuh di sini. Sakit … sakit … sakit­nya tuh di sini. Sakit … sakit … sakit­nya tuh di sini. Sakit … sakit … sakit­nya tuh di sini. Sakit … sakit … sakit­nya tuh di sini.”

Buku Mealova, Gratis!

Alkisah, pada sua­tu hari saya dia­jak oleh Tante Catz Link Tristan untuk ber­par­ti­si­pa­si di pro­yek kum­pul­an cer­pen­nya. Kali ini pro­yek­nya memi­li­ki tema yang unik, yai­tu masak­an dan cin­ta. Oleh kare­na itu­lah kum­pul­an cer­pen ter­se­but dibe­ri judul “Mealova” yang meru­pak­an ben­tuk peng­ga­bung­an dari kedua tema ter­se­but (tidak ada hubu­ngan­nya dengan novel/film ber­ju­dul mirip yang dulu per­nah popu­ler).

Awalnya saya agak ragu dengan tawar­an ter­se­but. Sebab, meli­hat kom­po­si­si penu­lis-penu­lis lain yang tam­pak­nya kom­pe­ten menu­lis cer­pen roman­tis, saya mung­kin akan kesu­lit­an meng­im­ba­ngi. Insting roman­sa saya mung­kin sudah ter­lan­jur dike­ruk habis sema­sa rema­ja. Namun saya pikir, bukan­kah ini tan­tang­an yang bagus? Sepertinya saya memang butuh vari­a­si dalam menu­lis.

Ketika menye­tu­jui tawar­an ini, Tante Catz memin­ta agar saya juga mema­sukk­an ciri khas tulis­an sen­di­ri ke dalam pro­yek ini, lalu mema­du­kan­nya dengan tema yang diten­tuk­an. Sebuah ide pun mun­cul dengan sangat cepat dan–mungkin–sudah bisa dite­bak. Mencoba mema­duk­an tema masak­an + per­cin­ta­an + sup­ra­na­tu­ral, saya akhir­nya mem­bu­at cer­pen ber­ju­dul … Nasi Kuning Sesaji.

Cerita ini memang masih ber­hu­bung­an dengan hal-hal mis­tis yang “kehan­tu-han­tu­an”, teta­pi ini buk­an ceri­ta ber­ge­nre horor. Meski pada akhir­nya tetap men­da­pat kri­tik bah­wa tema per­cin­ta­an­nya kurang menon­jol, tapi saya mera­sa senang menu­lis ceri­ta ini, apa­la­gi men­da­pat kesem­pat­an satu buku dengan tem­an-tem­an penu­lis yang sangat antu­si­as meng­er­jak­an pro­yek ini (Catz Link Tristan, Glenn Alexei, Eva Sri Rahayu, Lily Zhang, Liz Lavender, Try Novianti, Alfian N. Budiarto, Renee Keefe, Raziel Raddian).

Buku kum­pul­an cer­pen ini sudah diter­bitk­an oleh Grasindo pada tang­gal 10 November lalu dan bisa dite­muk­an di toko-toko buku.

Nah, pada kesem­pat­an ini saya ingin mem­ba­gik­an 2 buah buku Mealova gra­tis kepa­da kaw­an-kaw­an yang ber­un­tung.


Caranya:
1. Kamu harus punya akun Twitter
2. Tulislah twit sing­kat yang men­ce­ri­tak­an penga­lam­an paling manis/romantis kamu yang ber­hu­bung­an dengan masak­an. Saya yakin kamu lebih mam­pu diban­dingk­an saya.
3. Mention twit­ter saya @rivaimuhamad dan ser­tak­an hashtag #mea­lo­va­gra­tis
4. Waktunya ada­lah sejak pengu­mum­an ini dibu­at hing­ga tang­gal 23 November pukul 12.00 siang.
5. Dua orang yang ber­un­tung dengan twit paling mena­rik akan men­da­patk­an buku Mealova gra­tis! Pemenang diu­mumk­an pada tang­gal 24 November
6. Keputusan juri tidak dapat digang­gu-gugat.

New High Score!

Sejak kube­lik­an X-Box dan Kinect seba­gai kado ulang tahun­nya, adik­ku sema­kin hobi ber­ma­in video game. Ia melom­pat-lom­pat dan mena­ri-nari di dep­an tele­vi­si seti­ap pulang seko­lah. Kupikir ini ada­lah ide bagus. Selama ini ia sela­lu ber­ma­in game dengan duduk di dep­an kom­pu­ter atau tidur­an di atas kasur sam­bil meme­gang pon­sel. Ia jadi jarang ber­ge­rak, semen­ta­ra aku kha­wa­tir ber­at badan­nya yang sema­kin ber­tam­bah akan mem­bu­at tubuh­nya tak sehat. Dengan game jenis baru ini, seti­dak­nya per­e­dar­an darah­nya men­ja­di lebih lan­car, ia juga jadi tam­pak lebih ber­se­ma­ngat.

Kadang-kadang, aku ber­ma­in dengan­nya pada hari libur atau keti­ka aku pulang ker­ja lebih awal. Permainan yang sedang ia gan­dru­ngi ada­lah sebu­ah pla­tform game yang meng­ha­rusk­an pema­in melom­pat-lom­pat agar tokoh dalam game tidak jatuh ke dalam jurang. Permainan itu sangat adik­tif. Musiknya menye­nangk­an, sis­tem skor yang digu­nak­an juga mem­bu­at kami ber­lom­ba-lom­ba untuk meng­ung­gu­li satu sama lain. Aku pun menyu­ka­i­nya dan nya­ris keta­gih­an. Namun lama kela­ma­an aku sadar, adik­ku sudah mulai kelu­ar batas. Kadang ia ber­ma­in hing­ga larut malam, bahk­an pada pagi hari ia menyem­patk­an diri untuk ber­ma­in sebe­lum sarap­an. Aku tak bisa mem­bi­ar­kan­nya mela­kuk­an akti­vi­tas fisik yang ber­le­bih­an, sebab sejak kecil ia memi­li­ki kon­di­si jan­tung yang agak lemah.

Akhirnya, dengan ber­at hati, aku mem­bu­at per­a­tur­an. Ia hanya boleh ber­ma­in pada hari Sabtu dan Minggu, sele­bih­nya ia harus bela­jar atau mela­kuk­an akti­vi­tas lain yang tidak ter­la­lu mele­lahk­an. Aku ber­u­sa­ha tegas. Sejak orang tua kami mening­gal, aku­lah yang ber­tang­gung jawab untuk men­ja­ga­nya.

Kukira ia benar-benar menu­rut. Sejak kubu­at per­a­tur­an itu, aku memang tak per­nah lagi meli­hat ia melom­pat-lom­pat di dep­an tele­vi­si sete­lah pulang seko­lah. Namun adik­ku itu tak hanya lemah seca­ra fisik, ia juga bebal dan keka­nak-kanak­an, bahk­an kura­sa ia agak ter­be­la­kang seca­ra men­tal.

Suatu malam, aku ter­ba­ngun dari tidur­ku kare­na harus buang air kecil. Ketika hen­dak kem­ba­li ke dalam kamar, aku menya­da­ri ada caha­ya-caha­ya yang tidak bia­sa dari ruang tengah. Aku meme­rik­sa ruang­an itu dan men­da­pa­ti adik­ku sedang ber­ma­in video game diam-diam dengan lam­pu ruang­an yang dima­tik­an dan sua­ra yang dike­cilk­an. Aku mema­ra­hi­nya habis-habis­an. Kupaksa ia mema­tik­an tele­vi­si dan masuk ke dalam kamar­nya. Ia memin­ta maaf dan ber­jan­ji bah­wa ia tidak akan meng­u­la­ngi­nya lagi. Rupanya ia sangat pena­sar­an ingin meme­cahk­an high sco­re yang kuce­tak ming­gu lalu. Alasan yang keka­nak-kanak­an seka­li.

Sayangnya, sete­lah keja­di­an itu, aku masih saja tak bisa tegas. Seharusnya aku menyem­bu­nyik­an X-Box itu dan meng­un­ci­nya di dalam lema­ri. Namun aku malah mem­bi­ar­kan­nya di tem­pat semu­la, entah kare­na malas atau ter­la­lu per­ca­ya pada jan­ji adik­ku. Hingga pada sua­tu malam, aku menye­sa­li kela­la­i­an­ku itu.

Saat itu aku harus ker­ja lem­bur hing­ga pukul sebe­las malam. Aku sudah meme­sank­an makan­an untuk adik­ku lewat deli­very servi­ce dan ber­pes­an agar ia sege­ra tidur sete­lah meng­er­jak­an PR. Namun saat aku pulang tengah malam itu, aku menya­da­ri bah­wa tele­vi­si dan X-box sedang menya­la di ruang tengah. Ia meng­u­la­ngi­nya lagi. Namun kali ini adik­ku tidak sedang melom­pat-lom­pat, ia sudah ter­ka­par di atas lan­tai, tak ber­ge­rak sedi­kit pun. Jantungnya sudah tidak ber­de­tak. Aku ter­lam­bat.

Aku dirun­dung kese­dih­an sejak keja­di­an itu. Aku mera­sa gagal meng­emb­an ama­nat kedua ora­ngtu­a­ku. Selama ham­pir dua ming­gu lama­nya, aku tak bisa menon­ton tele­vi­si di ruang tengah kare­na hal itu hanya akan mem­bu­at­ku dep­re­si. Hingga pada sua­tu sore di akhir pek­an, aku memu­tusk­an untuk bang­kit dan meng­ha­da­pi kese­di­han­ku sen­di­ri. Aku tak boleh ber­la­rut-larut. Kunyalakan X-Box dan tele­vi­si, lalu kuco­ba mema­ink­an game yang dulu dima­ink­an adik­ku. Hanya dengan begi­tu­lah aku bisa pulih dan meng­i­kh­lask­an keper­gi­an­nya.

Setelah bebe­ra­pa kali ber­ma­in, aku menya­da­ri bah­wa high-sco­re yang kuce­tak seti­ap sore sela­lu saja dipe­cahk­an. Bukan oleh­ku, tapi oleh pema­in lain. Mungkinkah aku per­nah salah mema­sukk­an nama dan–karena ter­la­lu sedihnya–malah mema­sukk­an nama almar­hum adik­ku sen­di­ri?

Kemarin malam, aku ter­ba­ngun dari tidur kare­na uda­ra ter­a­sa panas dan aku mera­sa haus. Waktu itu kira-kira pukul sete­ngah satu dini hari. Aku meng­am­bil minum di dapur dan ber­ni­at untuk kem­ba­li ke kamar. Namun saat melin­ta­si ruang tengah, aku meli­hat caha­ya-caha­ya ber­ki­lat­an samar. Kulangkahkan kaki­ku ke arah ruang­an itu. Pikirku, mung­kin sebe­lum tidur aku lupa mema­tik­an tele­vi­si, Namun keti­ka lang­kah­ku sema­kin dekat, aku bisa men­de­ngar sua­ra musik yang sangat fami­li­ar di teli­nga­ku.

Aku meng­in­tip dari balik din­ding. Lututku lemas, seku­jur tubuh­ku merin­ding. Di sana, di dep­an tele­vi­si dan X-Box, aku dapat meli­hat sia­pa yang sela­ma ini sela­lu meme­cahk­an skor­ku. Adikku sen­di­ri. Adikku yang sudah mening­gal melom­pat-lom­pat di tengah ruang­an yang gelap. Cahaya war­na-war­ni dari layar tele­vi­si menyi­na­ri wajah­nya yang pucat, mata­nya yang putih men­de­lik, dan bibir­nya yang hitam tan­pa eksp­re­si. Setiap kali ia men­da­rat, lalu melom­pat lagi, aku dapat men­de­ngar sua­ra gesek­an samar dari kain kaf­an yang masih mem­bung­kus tubuh­nya. Entah bera­pa kali ia melom­pat, aku tak meng­hi­tung­nya, sebab aku jatuh pings­an keti­ka sua­ra dari game ber­te­ri­ak nya­ring, “New high sco­re!”

 


Foto oleh: Morgan
Lisensi: Attribution 2.0 Generic

Sungguh, Tidak Ada Paksaan dalam Horor

Berhubung istri sedang tidak ingin dia­jak non­ton film horor, akhir­nya hari Minggu lalu saya iseng menon­ton film Annabelle sen­di­ri­an di salah satu bios­kop XXI. Memang, bebe­ra­pa tem­an telah mewan­ti-wan­ti bah­wa film ini meng­e­ce­wak­an, tapi saya masih mera­sa pena­sar­an.

Ada tiga orang yang duduk di sebe­lah saya, dua orang tam­pak seper­ti sepa­sang keka­sih, dan satu orang lagi tam­pak seper­ti tem­an dari pasang­an ini. Orang ter­a­khir ini per­lu dika­si­ha­ni. Tidak hanya dia men­ja­di kam­bing congek yang harus mene­ma­ni teman­nya pacar­an, ia juga—di luar kehendaknya—harus menon­ton film horor. Ia sela­lu menun­duk, menya­lak­an pon­sel sepan­jang film (ter­u­ta­ma saat adeg­an seram), dan mung­kin di dalam hati­nya meng­u­tu­ki per­te­man­an abu­si­ve yang ia jala­ni. Ia ten­tu buka­nlah satu-satu­nya orang yang meng­a­la­mi pen­de­ri­ta­an seper­ti itu. Setiap kali menon­ton film horor di bios­kop, saya ham­pir sela­lu mene­muk­an orang seper­ti dia.

Oleh kare­na itu, saya ingin menye­ruk­an kepa­da semua orang yang mem­ba­ca bog ini agar jangan per­nah memak­sa tema­nmu menon­ton film horor kalau memang ia tidak meng­i­ngin­kan­nya. Kamu—yang mera­sa diri pemberani—mungkin bisa ter­ta­wa meli­hat tema­nmu yang pena­kut itu men­je­rit-jerit atau ber­ke­ri­ngat dingin, tapi tan­pa sadar kamu telah menza­li­mi banyak orang. Pertama, kamu menza­li­mi tema­nmu sen­di­ri. Kamu telah mereng­gut keme­rde­ka­an­nya seba­gai manu­sia yang bebas menen­tuk­an ton­to­nan­nya sen­di­ri. Kedua, kamu menza­li­mi penon­ton lain yang ingin menon­ton film horor dengan nyam­an. Akibat tema­nmu yang masuk bios­kop dengan pak­sa itu, kami jadi ter­gang­gu dengan caha­ya layar pon­sel yang ia nya­lak­an sepan­jang film.

Begitu pula seba­lik­nya, bila kamu ada­lah orang yang per­nah men­ja­di korb­an para peng­ge­mar film horor ini, kamu harus bera­ni mela­w­an dengan tegas. Katakan dengan bera­ni bah­wa kamu takut. Terdengar seper­ti para­doks, teta­pi itu benar, kadang kita butuh kebe­ra­ni­an untuk menya­tak­an rasa takut.

Lalu bagi para peng­ge­mar film horor, keta­hu­i­lah bah­wa­sa­nya kamu seka­li-seka­li tidak lebih pem­be­ra­ni atau lebih hebat diban­dingk­an peng­ge­mar film lain. Horor seba­gai ben­tuk hibur­an hanya dibe­rik­an kepa­da mere­ka yang dengan suka rela ingin mene­ri­ma­nya. Di luar itu, horor ada­lah penin­das­an. Sungguh, tidak ada pak­sa­an dalam menik­ma­ti genre horor.

Maaf kalau tulis­an ini ter­kes­an ran­dom. Intinya, saya cuma ingin bilang bah­wa film Annabelle memi­li­ki ceri­ta yang mem­bo­sank­an dan meng­e­ce­wak­an, sam­pai-sam­pai sepan­jang film saya malah memi­kirk­an hal ini.

Perjumpaan di Tepi Sungai

Salah satu hasil ber­ma­in FL yang meng­en­dap di hard-disk dan baru sem­pat di-uplo­ad. Sebenarnya ingin men­co­ba mem­bu­at mood yang tenang dan roman­tis. Judul “Perjumpaan di Tepi Sungai” baru dibu­at bela­kang­an, kare­na saat men­de­ngar­kan­nya lagi saya ter­ba­yang per­jum­pa­an sepa­sang keka­sih yang saling merin­du. Kenapa di tepi sungai? Biar adem aja.

Gambar: mindaugasr.deviantart.com