Kantong Plastik 2002 min read

Sore tadi, saya ber­be­lan­ja bebe­ra­pa makan­an ringan di Indomaret. Saat tiba di kasir, saya meli­hat pap­an-pap­an ber­i­si per­i­ngat­an ten­tang baha­ya lim­bah plas­tik, dukung­an ter­ha­dap pro­gram peme­rin­tah, dan pem­be­ri­ta­hu­an bah­wa saat ini kan­tong plas­tik diju­al sehar­ga Rp200. Namun kasir tidak men­je­lask­an atau mena­nyak­an apa-apa kepa­da saya. Ia hanya mema­sukk­an barang-barang belan­ja­an ke dalam kan­tong plas­tik ber­u­kur­an sedang, kemu­di­an meng­hi­tung total har­ga­nya. Saat saya meme­rik­sa struk belan­ja­an, ter­nya­ta saya telah mem­be­li kan­tong plas­tik ter­se­but sehar­ga Rp200.

Sebuah tran­sak­si yang aneh. Ternyata benar, diam ber­ar­ti mem­be­li.

Tentu saya tidak hen­dak menu­duh Indomaret telah mela­kuk­an “peni­pu­an”, sebab saya belum ber­be­lan­ja di toko Indomaret lain­nya. Mungkin hal ini hanya­lah kesa­lah­an oknum kasir yang tidak meng­i­ku­ti SOP (seper­ti apa SOP-nya?) atau kesa­lah­an saya yang senga­ja tidak meng­i­ngat­kan­nya. Di luar itu, saya juga sem­pat ber­be­lan­ja di Alfamart dan 7-Eleven, dan kedu­a­nya meng­on­fir­ma­si dahu­lu apa­kah saya ingin mem­be­li kan­tong plas­tik mere­ka atau tidak.

Meski begi­tu, rasa­nya wajar bila saya memi­li­ki kecu­ri­ga­an ter­sen­di­ri ter­ha­dap supermarket/minimarket. Ketika sang kasir mema­sukk­an barang belan­ja­an saya ke dalam plas­tik tan­pa ber­ta­nya, saya ter­i­ngat pada kasus “kem­ba­li­an per­men” yang dulu sem­pat menim­bulk­an pro­tes sehing­ga akhir­nya dila­rang. Apakah pro­gram plas­tik ber­ba­yar ini akan diman­fa­atk­an mini­mar­ket untuk mera­ih keun­tung­an eks­tra seca­ra ter­se­lu­bung? Memang, uang yang dida­patk­an dari pen­ju­al­an kan­tong plas­tik kata­nya akan digu­nak­an seba­gai dana CSR. Namun bukan­kah CSR memang sudah men­ja­di kewa­jib­an perusahaan–dengan atau tan­pa men­ju­al kan­tong plas­tik ber­ba­yar?

Tindakan kon­su­men yang paling masuk akal untuk men­du­kung pro­gram ini ten­tu buka­nlah mem­be­li kan­tong plas­tik sehar­ga Rp200 sam­bil mem­ba­yark­an kewa­jib­an CSR mini­mar­ket, teta­pi dengan sebi­sa mung­kin tidak mem­be­li kan­tong plas­tik di mini­mar­ket. Salah satu solu­si yang banyak disa­rank­an ada­lah dengan mem­ba­wa tas atau kan­tong belan­ja­an sen­di­ri seti­ap kali ber­be­lan­ja.

Sementara itu, bila mini­mar­ket memang seri­us men­du­kung diet plas­tik, mere­ka harus lebih eks­pli­sit dalam menen­tang peng­gu­na­an (dan pembelian)-nya. Status kan­tong plas­tik saat ini ada­lah sama dengan barang dagang­an mini­mar­ket lain­nya, sehing­ga tidak per­lu dita­wark­an seca­ra khu­sus kepa­da kon­su­men bila kon­su­men tidak memintanya–kecuali, ten­tu­nya, bila kasir mini­mar­ket juga merang­kap seba­gai SPG kan­tong plas­tik.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).