Refleksi1 min read

Kutatap wajah mungil­nya, saat ia ter­se­nyum, saat ia mena­ngis. Betapa aku men­cin­ta­i­nya atas caha­ya harap­an yang ia pan­cark­an. Mungkin dulu aku juga seper­ti diri­nya. Mungkin dulu aku juga men­jan­jik­an harapan-harapan–yang hing­ga kini tak benar-benar aku penu­hi.
 
Pantaskah bila aku ber­ha­rap ia akan men­cin­ta­i­ku juga? Tidak. Mungkin kelak ia akan melu­pa­kan­ku. Mungkin kelak ia akan meng­a­ba­i­kan­ku. Seperti aku melu­pak­an masa kecil­ku, yang per­lah­an-lah­an teng­ge­lam dalam laut­an wak­tu.
 
Hanya ada keping­an ingat­an yang kini meng­am­bang di atas per­mu­ka­an, yai­tu saat aku ber­ba­ris di dep­an pin­tu masuk seko­lah, ber­sa­ma-sama mera­pal doa yang mak­na­nya tak kupa­ha­mi hing­ga dua puluh tahun kemu­di­an: Tuhanku, saya­ngi­lah kedua orang tua­ku, seba­gai­ma­na mere­ka menya­ya­ngi aku keti­ka aku masih kecil.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).