Diam Berarti Membeli3 min read

P_20150616_180439_1

Bayangkan ske­na­rio ber­i­kut.

Kamu ada­lah seo­rang gadis muda yang can­tik jeli­ta. Suatu hari, ada seo­rang laki-laki yang mene­le­po­nmu dan meng­ung­kapk­an per­a­sa­an­nya dengan begi­tu ber­se­ma­ngat.

Sudah lama aku suka sama kamu. Kalau kamu jadi pacar­ku, aku pas­ti akan men­cin­ta­i­mu dengan sepe­nuh hati. Aku akan mem­be­ri kamu kado, bunga, surat cin­ta, pui­si. Aku juga akan meng­an­tar jem­put kamu seti­ap hari dan meng­a­jak­mu kenc­an ke res­tor­an, bios­kop, atau kara­o­ke semi­ngu seka­li. Asik, kan? Oh, ya, rumah kamu yang di Jalan Mawar Nomor 5, kan?”

Iya,” jawa­bmu.

Setelah itu tele­pon pun ditu­tup. Kamu tidak tahu apa yang sebe­nar­nya ter­ja­di. Pikiranmu masih ber­u­sa­ha men­cer­na apa mak­sud lela­ki itu. Mungkin dia memang seka­dar meng­ung­kapk­an per­a­sa­an­nya saja?

Namun, malam ming­gu ber­i­kut­nya, tiba-tiba saja ia datang ke rumah­mu di Jalan Mawar Nomor 5. Ia mem­ba­wak­an bunga, hadi­ah, dan meng­a­jak­mu per­gi kenc­an ber­du­a­an. Saat ora­ngtu­a­mu mena­nyak­an sia­pa diri­nya, ia mem­per­ke­nalk­an diri seba­gai pacar­mu.

Saya pacar anak Om. Kami jadi­an seming­gu yang lalu,” jawab­nya dengan per­ca­ya diri.

Bagaimana per­a­sa­a­nmu? Kamu tidak per­nah bilang bah­wa kamu ber­se­dia men­ja­di pacar­nya, lalu kena­pa dia meng­a­ku-nga­ku? Saat kamu pro­tes kepa­da­nya, ia cuma akan bilang: “Lho, kamu, kan, nggak nolak aku wak­tu itu?”

Ijab Kabul

Beberapa hari yang lalu, saya dua kali dite­le­pon oleh tele­mar­ke­ter yang ber­be­da. Satu dari bank, satu dari per­u­sa­ha­an asu­ran­si. Keduanya memi­li­ki cara men­ju­al yang ham­pir sama. Pertama-tama, mere­ka akan men­je­lask­an pro­duk mere­ka, men­ce­ri­tak­an apa saja yang akan saya dapatk­an dan apa saja kele­bi­han­nya diban­dingk­an pro­duk lain. Bicara mere­ka cepat seper­ti rap­per. Mereka tidak mena­nyak­an apa-apa, kecu­a­li: “Sampai di sini, paham, ya, Pak?”. Saya pun hanya men­ja­wab “iya”. Setelah serang­ka­i­an kata-kata yang pan­jang seper­ti kere­ta api, mere­ka lang­sung ber­ta­nya apa­kah ala­mat saya masih sama dengan ala­mat yang ter­te­ra di data­ba­se mere­ka.

Masih sama,” jawab saya.

Kalau begi­tu buk­ti berlangganan/pembeliannya akan saya kirim ke ala­mat ter­se­but, ya, Pak.”

Tunggu dulu. Ada yang aneh. Saya tidak per­nah bilang bah­wa saya setu­ju untuk meng­gu­nak­an produk/jasa yang ia tawark­an. Dari mana ia menyim­pulk­an bah­wa saya ber­se­dia? Hanya kare­na saya diam, buk­an ber­ar­ti saya setu­ju.

Ada banyak vari­a­si gaya bica­ra lain yang per­nah saya temui dari para tele­mar­ke­ter. Intinya, banyak dari mere­ka yang men­co­ba meng­a­burk­an per­ta­nya­an kon­fir­ma­si, baik meng­gan­ti­nya dengan per­ta­nya­an lain yang kurang jelas atau tidak mena­nya­kan­nya sama seka­li. Padahal, ijab kabul ada­lah bagi­an yang amat pen­ting dalam sebu­ah pro­ses jual-beli, bahk­an paling pen­ting. Ijab kabul menan­dak­an keje­las­an bah­wa si pem­be­li memang ber­ni­at mem­be­li produk/jasa yang dita­wark­an tan­pa ada pak­sa­an ser­ta paham dengan hak dan tang­gung jawab­nya. Ijab kabul harus dila­kuk­an dengan seje­las mung­kin. Bahkan, kalau bisa, dinya­tak­an seca­ra lis­an (“saya menya­tak­an mem­be­li barang/jasa X dengan har­ga X dengan keten­tu­an X”). Gaya baha­sa mar­ke­ting yang ber­u­sa­ha meng­a­burk­an pro­ses ijab kabul, menu­rut saya, bisa dise­ta­rak­an dengan per­co­ba­an peni­pu­an.

Memang, kita sudah ter­bi­a­sa untuk meng­ang­gap remeh hal-hal sema­cam itu. Ketika meng­in­stal sof­twa­re, bera­pa banyak dari kita yang mem­ba­ca Terms and Conditions sebe­lum menek­an I agree? Saya akui, saya pun masih sering meng­gu­nak­an rumus “Next-Next-Next-I agree”. Membaca tulis­an rumit dan pan­jang itu ter­la­lu memu­singk­an, apa­la­gi kalau sof­twa­re yang kita insta­ll ada­lah sof­twa­re gra­tis­an (apa­la­gi bajak­an, yang arti­nya sejak awal kita sudah melang­gar ter­ms and con­di­tions). Namun, di situ­lah celah kita untuk bisa ter­ti­pu. Kebiasaan buruk itu sua­tu saat bisa ber­a­ki­bat fatal. Misalnya, bila sua­tu hari nan­ti kita men­ja­di pre­si­den, kita mung­kin akan asal menan­da­ta­nga­ni surat tan­pa mem­ba­ca­nya dulu.

Jadi, apa yang akan kamu lakuk­an ter­ha­dap lela­ki breng­sek yang meng­a­ku-nga­ku seba­gai pacar­mu itu?

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).