#5BukuDalamHidupku | Doraemon: Sains Populer dan Orgasme Kosmis4 min read

Siapa yang tidak kenal Doraemon? Komik buatan Fujio F. Fujio ini sudah menjelma menjadi ikon masa kanak-kanak bagi sebagian besar orang yang hidup saat ini. Lalu mengapa saya memasukkan Doraeomen dalam daftar ini? Bukan, bukan karena saya sudah kehabisan ide di postingan kedua ini dan terpaksa memasukan judul komik anak-anak yang sangat mainstream ini. Namun setelah melakukan perenungan yang cukup panjang, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Doraemon memiliki peran penting dalam rasa keingintahuan saya seputar sains populer. Doraemon adalah guru pertama yang memperkenalkan saya dengan fisika populer dan pada akhirnya membuat saya menemukan ungkapan konyol semacam “orgasme kosmis”.

Komik Doraemon memang hampir selalu membahas tentang sains. Bisa dibilang ini adalah komik sains-fiksi paling populer untuk anak-anak. Bahkan pernah juga beredar satu buku yang khusus menjelaskan “sains” di balik alat-alat ajaib Doraemon. Saat saya masih kelas 3 SD, Doraemon sudah memperkenalkan saya dengan filsafat waktu, teori relativitas, konsep dunia paralel, dan teori evolusi.

Adegan Nobita dan Doraemon yang berpetualang ke masa lalu atau masa depan hampir selalu menampilkan persoalan paradoks waktu. Mesin waktu berbentuk laci meja itu sangat absurd, belum lagi gambar-gambar jam yang muncul saat Nobita menggunakan mesin waktu yang sepertinya diambil dari lukisan Dali. Untuk ukuran komik anak-anak, cerita semacam ini cukup menantang.

Suatu ketika Nobita pergi ke masa lalu dan melakukan sesuatu untuk mengubah masa depannya, tapi saat ia kembali, ternyata masa depannya tidak berubah. Doraemon lalu menjelaskan teori dunia paralel mengenai adanya kemungkinan dunia alternatif yang terbentuk akibat pilihan manusia. Ia membuat analogi menggunakan kamar-kamar di dalam rumah. Saat itu saya tidak benar-benar mengerti apa yang ia maksud, tapi hal-hal itu terus tertanam di kepala saya. Saya juga masih ingat, salah satu edisi komik Doraemon diawali dengan cerita tentang asal muasal kehidupan berdasarkan teori evolusi, tentang bagaimana jerapah bisa berleher panjang, juga bahwa makhluk hidup di bumi awalnya merupakan makhluk bersel satu yang berevolusi menjadi binatang air, lalu naik ke darat, dan seterusnya. Bertahun-tahun kemudian, teori evolusi ini baru saya temui lagi pada pelajaran biologi di sekolah menengah (dan ditutup dengan bonus video Harun Yahya).

Doraemon memang tidak membuat nilai IPA saya menjadi bagus (meski ada juga komik Doraemon edisi khusus tentang pelajaran sekolah), tapi komik itu menumbuhkan benih rasa ingin tahu saya terhadap hal-hal besar yang tidak terjangkau oleh pengalaman sehari-hari. Mungkin gara-gara itu juga saat SMA saya memilih IPA daripada IPS, dan sedikit dikecewakan karena ternyata pelajaran di kelas IPA tidak seseru yang saya bayangkan. Saya sering membolos pelajaran dan sembunyi di perpustakaan sekolah untuk membaca buku ensiklopedia. Beberapa ensiklopedia tentang ruang-waktu dan ruang angkasa sampai harus saya fotokopi (karena tidak boleh dipinjam) agar bisa saya nikmati di rumah. Memikirkan tentang paradoks zeno, perjalanan antarwaktu, dan kucing Schrodinger terasa sangat menyenangkan saat itu. Ketika membayangkan tentang luasnya planet-planet, galaksi, supergalaksi, lubang hitam, dan dunia-dunia paralel membuat imajinasi saya meledak hingga ke luar batas. Inilah “orgasme kosmis”.

Boleh tertawa. Istilah itu memang konyol. Tidak, hal yang saya maksud tidak ada hubungannya dengan ritual seks kuno di India atau semacamnya. Itu cuma istilah iseng untuk memplesetkan “horor kosmis” (cosmic horror). “Horor kosmis” adalah ketakutan dan rasa pesimis yang dialami ketika menyadari bahwa manusia begitu kecil dan tidak signifikan dibandingkan luasnya alam semesta, sementara “orgasme kosmis” adalah kebalikannya, yaitu sensasi ekstase kegembiraan dan kepuasan luar biasa ketika menyadari bahwa manusia (atau diri sendiri) begitu kecil dan tidak signifikan dibandingkan luasnya alam semesta.

Oke, kembali ke Doraemon. 

Mengapa saya memilih komik Doraemon, bukannya buku-buku ensiklopedia yang saya baca di perpustakaan sekolah? Jawaban yang sederhana adalah karena saya tidak ingat judul dan nama penulis ensiklopedia itu, sementara fotokopiannya ada di tumpukan buku di luar kota. Lagipula, bila saya tidak membaca Doraemon saat SD, mungkin ketertarikan terhadap hal-hal aneh itu tidak tumbuh subur saat remaja. Saya memang tidak membeli semua jilid komik Doraemon. Kebetulan seorang sepupu ada yang hobi mengoleksi komik (dan lebih dimanjakan oleh orang tuanya dalam hal itu), jadi saya selalu membaca komik Doraemon ketika datang ke rumahnya. 

Kesan-kesan saya tentang Doraemon ini memang spesifik untuk versi komiknya. Meski film kartunnya memiliki lagu tema dan suara yang khas, tapi rasanya tidak memberikan pengetahuan seperti versi komik. Ada yang kurang dalam versi film, sebab di film Doraemon setiap Minggu pagi itu, saya tidak menemukan penjelasan sains yang panjang lebar … juga adegan Nobita mengintip Shizuka yang sedang mandi sambil nyaris telanjang.

—–

Ilustrasi diambil dari: jom-baca-buku.blogspot.com

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).