Suspense dan Bom di Bawah Meja3 min read

“Anggaplah ada sebuah bom di kolong meja di hadapan kita. Tak ada yang terjadi, lalu tiba-tiba bum! Muncul ledakan. Penonton terkejut, tapi sebelum kejutan itu, yang terlihat hanya adegan biasa-biasa saja. Sekarang coba bandingkan dengan situasi suspense. Bomnya ada di bawah meja, tapi penonton mengetahui itu, mungkin karena mereka melihat sang pelaku meletakkannya di sana. Penonton tahu bahwa bom itu akan meledak pada pukul satu. Terdapat sebuah jam di dalam ruangan. Penonton melihat bahwa jam itu menunjukkan pukul satu kurang lima belas menit. Dalam kondisi tersebut, penonton ikut berpartisipasi dalam adegan yang dilihatnya. Mereka tergoda untuk memberi peringatan pada tokoh-tokoh di layar, ‘Jangan mengobrol terus. Ada bom di bawah meja dan bom itu akan segera meledak!’. Pada kasus pertama, kita membuat penonton merasakan kejutan selama lima belas detik, sementara pada kasus kedua kita membuat mereka merasakan ketegangan selama lima belas menit.”

Paragraf di atas adalah terjemahan bebas dari penjelasan Alfred Hitchcock ketika diwawancarai oleh Francois Truffaut mengenai perbedaan antara suspense (tegangan) dan surprise (kejutan). Analogi bom ini sangat terkenal (mungkin sampai terkesan klise) sehingga sering dijadkan acuan untuk membuat adegan suspense dalam cerita.

Dalam bahasa Indonesia, suspense diterjemahkan menjadi “tegangan”. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan tegangan sebagai istilah sastra yang berarti “ketidakpastian yang berkelanjutan atau suasana yang makin mendebarkan yang diakibatkan oleh jalinan alur dalam cerita rekaan atau lakon” dan juga istilah psikologi yang berarti “keadaan mencekam sebagai akibat perasaan khawatir, terhambat, frustrasi, atau terlalu bergelora”. Namun dalam tulisan ini saya tetap akan menggunakan istilah suspense agar tidak membingungkan.

Kalau melihat contoh “bom di kolong meja tersebut”, mungkin bisa dimaklumi bahwa suspense sering kali disandingkan dengan genre thriller (selain itu juga horor dan misteri), sebab genre ini memang yang paling sering menggunakan suspense secara maksimal. Oleh karena itu, kita sering mendengar istilah suspense thriller. Meski begitu, suspense pada dasarnya bukanlah sebuah genre, melainkan teknik bercerita yang dapat digunakan dalam berbagai media, baik sastra, film, atau pertunjukan, dan dapat digunakan dalam genre apa pun, mulai dari komedi hingga percintaan dengan kadar yang bervariasi.

Tegangan dalam cerita percintaan misalnya adegan seorang pemuda yang berselingkuh dan hampir berpapasan dengan pacarnya di tengah jalan, atau sebuah lamaran pernikahan yang nyaris ditolak. Dalam cerita komedi, suspense bisa berupa adegan tokoh yang melakukan hal bodoh yang tanpa disadari akan mempermalukan dirinya sendiri. Dalam cerita horor dan thriller, contoh suspense sudah sangat banyak dan sepertinya tak perlu disebutkan lagi.

Ada sangat banyak tips membuat adegan suspense yang bisa kita temukan di internet. Namun hanya dengan penjelasan Hitchcock di awal tulisan, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa ciri penting dari suspense adalah adanya ketidakpastian. Ketidakpastian ini harus didahului dengan memberi tahu pembaca tentang sesuatu yang “mungkin” akan terjadi. Dalam contoh tersebut, ketidakpastiannya adalah berupa bom yang mungkin akan meledak (dan mungkin juga tidak). Ketidakpastian itulah yang membuat pembaca merasakan suspense.

Hal lain yang sangat berpengaruh dalam suspense adalah besarnya taruhan. Semakin besar taruhannya, berarti semakin besar juga suspense yang ditimbulkan. Taruhan yang dimaksud di sini adalah suatu peristiwa yang bisa menimpa tokoh atau memengaruhi jalannya cerita. Bayangkan bila bom dalam contoh tersebut diganti dengan beberapa batang petasan korek, tentu pembaca/penonton akan merasakan intensitas suspense yang berbeda, sebab hal yang dipertaruhkan relatif lebih kecil (hanya luka-luka).

Suspense juga bisa dibedakan dari kejutan dan misteri. Perbedaan antara suspense dan kejutan sudah dijelaskan lewat analogi bom di atas, yaitu ada-tidaknya ketidakpastian yang diantisipasi oleh penonton/pembaca. Hitchcock juga membedakan antara suspense dan misteri. Menurutnya, ketika kita menebak-nebak pelaku kejahatan dalam cerita misteri, yang menonjol adalah teka-teki intelektual yang tidak emosional, padahal emosi adalah hal penting dalam suspense. Meski demikian, tentu saja cerita misteri atau detektif juga bisa memasukkan suspense dalam plotnya sehingga teka-teki intelektual itu ikut terasa menegangkan secara emosional.

Penggunaan suspense dalam sebuah cerita adalah hal yang penting, sebab bisa mencegah cerita menjadi terlalu datar dan membosankan. Bisa dibilang, ini adalah teknik paling mujarab untuk “mengunci” perhatian pembaca/penonton agar tidak berpaling hingga cerita selesai. Namun menerapkan suspense bukanlah hal yang mudah, sebab seperti teknik bercerita lainnya, kreativitas dan latihan lebih dibutuhkan daripada sekadar pengetahuan teori.

Referensi:
http://olympia.osd.wednet.edu/media/olympia/activities/drama_club/hitchcockinterview.pdf
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php
http://www.doctorsyntax.net/2010/09/alfred-hitchcocks-bomb-suspense.html

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).