Cerita Horor Kota2 min read

CHK

Beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti sebuah lomba menulis cerpen horor yang diselenggarakan oleh penerbit PlotPoint. Lomba ini sebenarnya adalah bagian dari rangkaian lomba cerpen lain yang bertema kota. Saya sangat tertarik dengan lomba ini karena lomba cerpen yang “khusus” mengangkat genre horor bisa dibilang sangat jarang.

Cerpen yang saya kirimkan mengambil latar di kota Karawang, kota tempat saya (setidaknya secara resmi, di KTP) tinggal. Seperti yang dipikirkan kebanyakan orang, awalnya saya mencoba mencari urband legend atau kisah mistis yang khas dari kota tersebut. Saya menanyakan hal ini pada seseorang yang sejak kecil tinggal di Karawang, tetapi di luar dugaan ia menyarankan saya untuk tidak mengambil tema tersebut, alasannya karena takut menyinggung pihak-pihak tertentu. Saya agak khawatir juga mendengarnya. Bukan karena takut disantet atau semacamnya, tapi karena merasa alasan saya menulis cerita horor bukan untuk melakukan “demonisasi” terhadap orang-orang yang melakukan praktik tradisi atau kepercayaan kuno. Selama ini ada kecenderungan dalam cerita horor untuk memosisikan budaya tradisional dan kuno sebagai sesuatu yang menyeramkan bagi orang-orang modern. Akhirnya saya memutuskan untuk membalik kebiasaan tersebut, yaitu dengan mengambil sudut pandang orang pribumi yang merasa terancam dengan kedatangan hal-hal asing. Saya kira sudut pandang ini cocok dengan keadaan Karawang yang telah berubah dari lumbung padi menjadi kota industri dengan segala permasalahan sosialnya. Sangat pretensius, ya?

Saya sangat beruntung karena ternyata cerpen saya terpilih menjadi salah satu cerpen yang dibukukan. Buku berjudul “Cerita Horor Kota” itu sudah terbit sekitar seminggu yang lalu dengan cover yang [bagi saya] sangat menarik, begitu pula dengan ilustrasi cat air di dalamnya. Satu-satunya kekurangan dari segi sampul adalah tangan monster yang “keluar” dari belakang buku, itu agak mengganggu (walaupun terlihat keren saat buku masih dibungkus plastik). Kualitas kertas dan cetakannya juga bagus, layak dikoleksi.

Saya tidak akan membahas buku ini, karena saya pikir hal itu bukan bagian saya. Yang jelas, saya merasa agak geli ketika membandingkan cerpen yang saya buat dengan cerpen pemenang lain, sepertinya cerpen saya yang paling tidak nyambung dengan konsep buku ini. Entahlah, biar pembaca yang menilai.

Buku ini bisa didapatkan di toko-toko buku pada umumnya.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).