Kefanaan dan Ketakutan akan Kehampaan Makna

Kita semua tahu bahwa kita akan mati. Entah sejak kapan. Mungkin pada suatu titik di masa kanak-kanak, kita menyadari bahwa semua realitas yang kita jalani itu suatu saat akan runtuh dan lenyap. Mungkin kita mengetahuinya lewat cerita dan dongeng. Mungkin juga kita menyadarinya dari fenomena yang kita saksikan sendiri: meninggalnya anggota keluarga, matinya hewan peliharaan, atau menyadari potongan ayam goreng yang kita makan ternyata berasal dari makhluk hidup yang sudah mati.

Sepertinya tidak seorang pun, seberapa pun bebal atau bodohnya, menganggap bahwa dirinya akan abadi. Pengetahuan akan kefanaan hidup adalah sesuatu yang dimiliki setiap manusia, tapi tak selalu ingin kita sadari. Kesadaran itu selalu kita tunda, kita simpan sebagai sebuah keniscayaan yang tak bisa diapa-apakan lagi. Mungkin, pengabaian ini dalam batas tertentu memang dibutuhkan agar kita dapat menjalani kehidupan dan menjadi bagian dari peradaban. Orang yang selalu dihantui kesadaran akan kematian mungkin tak bisa membuat rencana dan tak bisa menikmati aktivitasnya. Kesadaran itu akan sesekali bangkit dalam momentum tertentu, misalnya ketika keselamatan terancam (sakit parah, turbulensi pesawat, peristiwa kriminal, dsb.) atau menyaksikan orang-orang terdekat meninggal dunia. Berbagai tradisi spiritual mendorong manusia untuk mengingat kefanaannya dari waktu ke waktu melalui upacara pemakaman, ziarah kubur, dan berbagai ritual lainnya. Memento mori. Kesadaran akan kematian dianggap baik, karena kesadaran ini dianggap dapat membuat manusia memikirkan makna kehidupan dan kemudian meningkatkan spiritualitasnya.

Di samping hal-hal tersebut, kesadaran akan kematian juga meningkat karena faktor usia. Tentu saja, kematian tidak selalu terjadi pada orang yang lebih tua terlebih dulu. Orang-orang berusia muda, bahkan bayi dan anak-anak, sering kali meninggal karena berbagai faktor. Namun, dalam benak kita, kondisi dasar dari kematian alamiah (natural death) selalu berbanding lurus dengan waktu. Ini semacam naluri kita terhadap entropi. Kita tahu bahwa segala hal di dunia ini senantiasa bergerak secara alami menuju ketidakteraturan, atau dengan kata lain, kehancuran. Kita tidak tahu kapan, tapi kita tahu bahwa semakin lama waktu bergulir, ia akan semakin dekat.

Ketika kita masih muda, kita meletakkan kesadaran itu di ujung cakrawala pikiran kita. Kita tahu bahwa kita bisa mati kapan saja karena sebab-sebab tak terduga, tapi normalnya (atau setidaknya harapan kita), kita baru akan mati ketika usia kita sudah tua, dan itu adalah waktu yang masih sangat lama. Mungkin di usia 70, 80, atau 100? Kecemasan itu bisa ditunda. Banyak hal lain yang lebih mendesak dan memiliki probabilitas lebih tinggi. Diam-diam, benak kita melakukan kalkulasi itu. Dunia ini terasa seperti bentangan luas tanpa batas yang siap untuk dijelajahi, meski kadang gelap dan menakutkan, tapi juga sering kali penuh gairah.

Seorang anak yang bangun tidur di pagi hari mungkin akan memikirkan tugas-tugas sekolahnya, apa yang ingin ia lakukan sepulang sekolah nanti, mainan apa yang ingin ia beli dengan uang tabungannya, dan di saat-saat melamun, akan memikirkan seperti apa kehidupannya setelah dewasa nanti. Mungkin ia sudah punya cita-cita yang ia inginkan. Mungkin ia membayangkan akan bekerja, memiliki penghasilan sendiri dan menikmati berbagai kebebasan yang hanya dimiliki orang dewasa: bisa tidur hingga larut malam, nonton film kapan saja dia mau, dan membeli mainan apa pun yang ia inginkan. Mungkin ia juga membayangkan bahwa nanti ia akan menikah lalu memiliki keluarganya sendiri. Hal itu akan membuatnya sedikit cemas tapi juga merona malu. Ia juga akan sekilas membayangkan, bahwa pada saat itu, kedua orang tuanya yang sudah tua mungkin akan meninggal terlebih dulu. Seperti itulah roda kehidupan yang ia pahami. Kesadaran itu membuat ia sedikit sedih dan cemas. Namun ia segera mengusir pikiran itu, menyimpannya rapat-rapat dalam peti bertuliskan “untuk dipikirkan lain kali”. Dalam benaknya, kemungkinan itu masih jauh lebih kecil daripada kemungkinan ia dimarahi ibunya karena tidak menghabiskan bekal makan.

Ketika ia menginjak usia dewasa, banyak hal yang berubah. Waktu tiba-tiba saja terasa begitu sempit dan cepat. Apa yang ia bayangkan ketika kecil, mungkin sebagiannya sudah mencapai kesimpulan. Mungkin ia menjalani hidup seperti yang ia cita-citakan dulu, mungkin juga tidak. Bila tidak, ia harus menerima kenyataan bahwa ia tak bisa kembali ke masa lalu dan ia sudah tak punya waktu untuk mengubah kehidupannya. Orang tuanya mungkin masih hidup, tapi mungkin juga sudah meninggal. Beberapa teman-temannya, saudara, sanak keluarga juga mungkin sudah meninggal. Semakin lama, ia akan semakin sering menghadiri pemakaman dan mendengar ucapan bela sungkawa. Anehnya, bagi organisme yang berhasil selamat melewati seleksi alam seperti dirinya, ini bukanlah hal yang menyenangkan atau melegakan. Setiap kali menyaksikan peristiwa-peristiwa itu, kecemasan yang sewaktu kecil ia simpan dalam peti tadi perlahan mulai menjelma menjadi sesosok hantu. Hantu itu akan mengetuk-ngetuk dari dalam, mengintip, dan bahkan menjerit lirih.

Namun, hidup harus tetap berjalan, dan ia berjalan dengan sangat cepat. Ia mungkin hanya bolos setengah hari dari tempat kerjanya untuk menghadiri pemakaman. Setelah jenazah dikuburkan, ia harus kembali menjalani peran sebagai manusia hidup yang fungsional. Masa depan yang dulu terasa luas membentang kini lebih mirip seperti labirin tanpa ujung. Kecil dan sempit, tapi harus dijalani. Hantu kecemasan kematian yang sempat mengganggunya tadi harus ia kalahkan. Sebagai orang dewasa, ia akan menjalani berbagai terapi pengusiran arwah, exorcism, untuk mengusir hantu itu dan mengurungnya lagi di dalam peti rapat-rapat. Dalam benaknya saat itu, lebih mungkin merasa cemas karena tenggat pekerjaan yang mendesak atau tagihan bulanan yang belum dibayar daripada memikirkan kefanaan hidupnya.

Namun, semakin hari, hantu kecemasan itu akan semakin tumbuh besar, berakumulasi dalam diam pada malam-malamnya yang terasa semakin singkat. Pada satu titik, sosok hantu itu akan memberontak keluar dari peti dan menerkamnya. Mungkin, saat itu ia memang sudah tua renta. Mungkin juga, saat itu ia masih muda, tetapi tengah mengalami peristiwa yang membuatnya terpuruk. Namun yang jelas, saat itu ia sudah tak mampu lagi mengalihkan perhatiannya. Ia terlalu lemah untuk menutup peti itu lagi.

Awalnya, ia tak mengenali sosok itu. Sudah terlalu lama ia menyimpannya di dalam peti di ujung kesadarannya, sehingga ketika akhirnya sosok itu menampakkan diri, ia akan tampak begitu asing. Sosok yang ganjil, aneh, uncanny, tapi juga terasa seperti nostalgia. Ia sudah mengenalnya sejak masa kanak-kanak dulu, saat kesadarannya sebagai makhluk berakal baru mulai terbentuk. Dulu, sosok itu tampak begitu mungil dan mudah disisihkan. Sekarang, ia sudah besar dan mendominasi.

Ini adalah konsekuensinya sebagai makhluk berakal. Andai saja ia hanya seonggok batu atau tumbuh-tumbuhan, mungkin kecemasan akan kefanaan tidak akan pernah melintas dalam benaknya—dan ia tak akan dihantui sosok itu. Ia hanya akan menjadi force of nature. Benda mati yang sekadar mengikuti hukum alam. Jatuh karena gravitasi, hancur karena tekanan, tumbuh karena nutrisi. Ada, tapi tak pernah menyadari keberadaannya. Sayangnya, ia sudah terlahir seperti ini. Ia tak pernah memilih untuk terlahir sebagai makhluk berkesadaran, dan sebenarnya ia tak mungkin memilihnya. Untuk bisa memilih, ia harus lebih dulu memiliki kesadaran sebelum ia lahir. Dan kesadaran itu pun harus dipilih, yang mensyaratkan kesadaran sebelumnya lagi, dan seterusnya tanpa ujung. Syarat agar ia bisa memilih untuk menjadi sadar adalah kesadaran yang abadi—justru hal yang paling tak bisa ia bayangkan sekarang.

Akibat yang dirasakan dari kehadiran sosok hantu itu bukanlah rasa takut akan kesakitan fisik. Ya, kematian mungkin terasa menyakitkan bagi banyak orang. Mereka yang meninggal karena penyakit, kecelakaan, dibunuh, atau bunuh diri tentu mengalami sakit. Namun bukan kemungkinan rasa sakit itu sendiri yang selalu menghantuinya. Bahkan ketika ia membayangkan bahwa ia akan meninggal dengan damai di atas kasur yang empuk sambil ditemani orang-orang yang ia cintai, perasaan itu tak kalah menyiksanya.

Akibat paling menakutkan yang ia rasakan adalah kesadaran bahwa kini ia sudah tak punya masa depan. Masa depan itu, yang dulu terasa luas membentang dan penuh petualangan, kini terasa seperti tembok tinggi di ujung jalan buntu. Sosok itu mengejarnya, memojokkannya hingga ke hadapan tembok itu. Sekarang, menatap ke depan terasa menyesakkan. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menoleh ke belakang. Ketika ia menoleh ke belakang, ia melihat semua hal dengan penglihatan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Kesadaran bahwa ia sudah tak memiliki masa depan untuk dibayangkan, membuat ia mencari makna dari masa lalu. Jika ia pada akhirnya hanya berhenti di jalan buntu, lalu untuk apa ia melalui semua itu? Apa artinya semua rasa sakit, kebahagiaan, jerih payah, rasa cinta, persahabatan, dan kesuksesan yang sudah ia alami?

Sejenak ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa makna kehidupan ada pada prosesnya, bukan pada hasil akhirnya. Bahwa semua yang sudah ia jalani memiliki makna pada dirinya sendiri saat itu terjadi. The journey is the destination. Tidak masalah jika ia berakhir di tembok buntu. Ia telah menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya selama ini.

Andai saja ia benar-benar berpikir demikian. Andai saja semua itu benar. Namun di depan tembok tinggi dan hantu yang tak sabaran itu, “telah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya” terdengar seperti sebuah justifikasi yang harus dinilai secara skeptis. Dari mana ia tahu bahwa ia telah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya? Apa itu hidup yang baik? Apa pembandingnya, sementara ia hanya pernah menjalani hidup ini satu kali? Bagaimana jika semua pilihan hidupnya selama ini bukanlah pilihan terbaik yang bisa ia buat? Bagaimana jika ia telah menyia-nyiakan waktu hidupnya untuk hal-hal yang tidak benar-benar berharga? Mengapa ia baru menyadari betapa jauh jarak yang sudah ia tempuh, ketika ia sudah berada di ujung kebuntuan?

Sayangnya, ia sudah terlambat. Andai ia memiliki kesadaran itu ketika jalannya masih panjang, ia pasti akan melangkah dengan sebaik-baiknya, berusaha hidup dengan sehidup-hidupnya. Sekarang, kesadaran itu sudah tak ada artinya, sebab yang ada hanya kecemasan.

Ia juga membayangkan, bahwa mungkin saja tembok itu bukanlah akhir. Mungkin ada dunia lain di belakang tembok. Andai saja ia memiliki keyakinan itu, ia dapat membatalkan semua kecemasan yang seharusnya ia alami. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang beriman. Mereka tidak membayangkan sebuah akhir, tetapi sebuah fase. Mereka tidak bersiap untuk menghadapi sebuah tembok tinggi, tetapi untuk melintasi sebuah gerbang. Cerdiknya lagi, dunia yang mereka yakini berada di balik dinding itu adalah konsep dunia yang tak terbatas, abadi, tanpa ujung. Mereka tidak mengalami kecemasan seperti yang dialami dirinya, sebab mereka tidak pernah “merasa kehabisan masa depan”. Sosok hantu yang semula menjadi hantu kecemasan, bagi orang-orang yang beriman itu hanyalah sosok yang akan membukakan gerbang dan mempersilakan mereka melintas jika waktunya telah tiba.

Namun, ia tidak bisa tiba-tiba memiliki keyakinan itu. Berpura-pura beriman adalah konyol, seperti Pascal’s Wager, oportunisme metafisik yang sia-sia. Keyakinan sejati mengharuskan penganutnya untuk menjalani hidup sesuai prinsip-prinsip yang ia yakini, dan di depan matanya sekarang, sudah tak ada hidup untuk dijalani.

Sejak saat itu, waktu tak lagi terasa sebagaimana mestinya. Ia seperti berada dalam cakrawala peristiwa. Waktu berjalan sangat lambat, bahkan nyaris abadi. Ia sudah tak bisa kembali, tapi tak juga lekas mencapai kematiannya. Di belakangnya, sosok hantu melangkah pelan ke arahnya. Di hadapannya, tembok tinggi menatapnya tanpa ekspresi. Semua berjalan dengan sangat lambat, hingga sesekali ia berpikir bahwa tembok itu mungkin memang tercipta bukan untuk dilewati—bahwa bagi orang yang tak pernah menghidupi hidupnya, tak akan pernah ada akhir. Tak ada kemusnahan, tapi juga tak ada pembebasan. Keabadian kesadaran yang dulu tak sanggup ia bayangkan sebelum kelahirannya, kini justru ia jalani di ujung hidupnya.

Di dalam gerak lambat tanpa akhir itu, ia punya seluruh waktu untuk membayangkan. Andai saja ia bisa kembali ke masa lalu, ia akan lebih sering mengunjungi peti itu. Bukan untuk membukanya dan membuat sosok itu berkeliaran menebar teror, tapi untuk mengintipnya, menyapanya sesekali, mengajaknya berbincang dan berdiskusi sebagai sosok sahabat. Ia mungkin tak akan pernah tahu apakah ia dapat menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya. Namun, dari hasil diskusi itu, setidaknya ia tahu bahwa ia akan hidup dengan sehidup-hidupnya.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).