Kuliner Liar Januar

Bagi sebagian orang, merah berarti gairah, amarah, tanda berhenti, atau revolusi. Bagi sebagian lainnya, merah berarti darah. Seperti kutipan yang terkenal dari film PKI buatan Orde Baru dulu: Darah itu merah, Jenderal! Namun bagi bisikan-bisikan dalam kepala Januar, kutipan itu sedikit berbeda: Merah itu darah, Januar! Dan bukan hanya sekadar darah, tapi darah yang lebih spesifik, darah yang tidak bisa ia dapatkan dari ikan, ayam, atau hewan-hewan lain yang pernah ia makan hidup-hidup dalam acara reality show-nya: Kuliner Liar Januar.

Baca selengkapnya

Selamat Tahun Baru, Hantu-Hantu yang Selalu Menunggu

Sudah hampir sebulan pesan itu masuk ke inbox Facebook-ku, tapi aku tidak pernah menyadarinya. Mungkin karena pengirimnya tidak termasuk dalam friendlist, mungkin juga karena kotak masukku sudah penuh dengan berbagai spam. Namun, pada malam tahun baru itu aku tergoda untuk membukanya lewat ponsel.  

Isi pesan itu singkat: Kamu penulis Kara Reshita ya?  

Continue reading Selamat Tahun Baru, Hantu-Hantu yang Selalu Menunggu

Pertanyaan Paling Aneh

Ada sebuah pertanyaan paling aneh yang pernah diucapkan Sri kepada suaminya. Saat itu ia baru pulang kerja, berjalan kaki selama lima belas menit dari bus karyawan, dan tiba di sebuah rumah kontrakan sederhana. Sebenarnya ia sudah lama ingin pindah dari rumah itu. Dapurnya sempit dan air PAM-nya kurang bersih. Sayangnya, kondisi keuangan mereka masih jauh dari cukup untuk mencari kontrakan yang lebih baik, apalagi membeli rumah sendiri. Sudah dua bulan sejak Aji, suaminya, di-PHK dari pabrik tempat ia bekerja. Satu-satunya sumber penghasilan mereka sekarang, termasuk untuk membayar kontrakan, adalah gaji Sri sebagai buruh yang tidak seberapa.

Sebelum masuk ke dalam, Sri menghela napas dalam, kemudian mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Mungkin Aji sudah tidur, pikirnya. Sejak menjadi pengangguran, suaminya memang sangat pemalas. Ia tak mau lagi bergaul dengan tetangga. Setiap hari ia hanya berdiam diri di rumah. Tidur, makan, dan minta dilayani seperti seorang raja.

Sri membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu, lalu meletakkan sepatunya ke dalam rak kecil di belakang pintu. Tiba-tiba telinga Sri menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ia mendengar suara musik, pelan dan sayup-sayup. Tidak ada yang pernah menyalakan musik di dalam rumahnya. Aji adalah lelaki yang kaku dan membosankan, ia tidak suka mendengarkan musik atau radio sambil beraktivitas. Satu-satunya orang yang suka menyalakan musik adalah tetangganya, si maniak dangdut. Namun ia yakin musik itu berasal dari dalam rumah, dan musik yang ia dengar bukanlah musik dangdut. Itu musik jazz, atau blues, atau apalah namanya, ia tidak kenal aliran musik semacam itu. Ia hanya ingat pernah mendengar musik seperti itu di film-film.

Tanpa sempat membuka seragam kerjanya, Sri berjalan pelan ke arah sumber suara musik itu. Lantunan nada itu menggiringnya ke arah dapur. Ini mungkin cuma soal sepele, tapi sebagai orang yang mengetahui seluk beluk rumah, ia merasakan keganjilan. Ada “orang lain” di rumah ini, pikirnya. Sri memperlambat langkahnya, matanya awas, dan ia mulai mengendap-endap. Apakah sebaiknya ia segera keluar rumah dan mencari pertolongan? Pikiran itu datang dan pergi dalam benak Sri, tapi ia selalu membatalkannya. Ini cuma suara musik. Mana mungkin ada maling yang melakukan aksinya sambil menyalakan musik?

Dari balik dinding, ia mengintip ke arah dapur. Hidungnya mencium bau harum daging yang sedang dimasak. Ia merasa seperti sedang berada di dapur sebuah restoran, hanya saja dapur di hadapannya penuh dengan kardus-kardus bekas dan perabotan yang jarang dipakai. Di salah satu sisi dapur, di depan kompor, ia dapat melihat sesosok lelaki bertubuh tinggi–setinggi Aji, tapi cara berdirinya agak lebih tegap–berdiri membelakanginya. Ia dapat melihat tali celemek di belakang leher lelaki itu. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu.

“Udah pulang, Sayang? Nggak kena macet, kan?” ucap lelaki itu tiba-tiba tanpa menoleh. Suara itu terdengar merdu, manis, dan sangat lancar meluncur dari mulutnya. Tidak seperti Aji yang ucapannya selalu datar dan pantang berbasa-basi. Sri tidak menjawab pertanyaan itu, kepalanya terasa hampa dan ringan.

Ketika lelaki itu membalikkan badan dan memperlihatkan senyum paling manis yang pernah ia lihat, Sri pun mengucapkan pertanyaan itu–pertanyaan paling aneh yang pernah ia ucapkan kepada suaminya.

“Kamu siapa?”


Kisah ini sekarang telah dicetak menjadi sebuah novel yang lengkap. Untuk mendapatkan novel ini silakan klik di sini.

Patuh

“Tidak seperti dia, saya patuhi perintah tanpa emosi. Kalau Bos bilang siapkan tali, saya akan siapkan tali dan biarkan Bos gantung diri,” ujarnya.

“Kalau dia?”

“Dia pasti menolak,” jawabnya.

“Dia akan siapkan pistol. Karena menurutnya bunuh diri dengan pistol lebih keren.”

Mata

siapa yang mengajarimu
caranya menyembunyikan sendu?

kamu berdiri di situ
mengalihkan matamu dari mataku

seolah tahu
sepasang kaki yang tak berpisah
tak bisa melangkah maju

Baju Pink Nala

Mungkin Nala seperti bunga. Ia memakai baju pink pada pesta itu untuk menarik perhatian serangga dan burung yang dapat membantunya melakukan penyerbukan. Namun mungkin Nala tidak tahu, bahwa warna pink pada bunga juga berfungsi untuk menjauhkan predator, dan aku merasa diriku lebih mirip sesosok predator daripada burung penyerbuk. Itulah kenapa aku sama sekali tak membalas sinyal-sinyal yang ia berikan selama pesta, baik senyuman, kerlingan mata, atau bahasa tubuh lainnya. Bahkan ketika ia lewat di depanku dan mencoba menyapa, secara halus aku menghindarinya.
Continue reading Baju Pink Nala

Suara Mesin, Suara Rakyat

Setelah berabad-abad, akhirnya kita menyadari bahwa manusia tidak mampu mewakili aspirasi manusia lain. Power tends to corrupt. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan suatu demokrasi langsung yang adil, bersih, dan efisien, kita membutuhkan suatu alat yang mampu mengelola, mengalkulasi, dan mengeksekusi aspirasi tiap-tiap warga negara dengan rasional, cerdas, tegas, ringkas, tanpa bias, dan tanpa faktor-faktor emosional yang membatasi seorang manusia.

Aku sedang membaca paragraf itu ketika kudengar namaku dipanggil lewat pengeras suara. Kutitipkan buku berjudul Demokrasi Mesin: Sebuah Pengantar di atas pangkuan Aini yang sedang asyik bermain game ponsel, kemudian segera melangkah menuju bilik suara. Kotak besi setinggi tiga meter itu berpendar kehijauan, dan ketika aku membuka pintunya, aku dapat melihat sebuah kursi dan helm kaca yang tergantung di atasnya. Ternyata benar, interior bilik suara sudah lebih nyaman dibandingkan Pemilu sebelumnya. Kursinya tampak lebih empuk dan pencahayaannya lebih memadai.

Seketika, aku teringat pada buku yang kubaca tadi. Menurut buku itu, dahulu kala bilik suara Pemilu hanya berisi selembar kertas dan paku. Orang-orang akan meggunakan paku untuk mencoblos foto calon wakil rakyat, calon presiden, calon kepala daerah, atau lambang partai pilihan mereka. Pihak dengan suara terbanyak akan diberi wewenang untuk mewakili suara rakyat. Aku tidak bisa membayangkan betapa cacatnya sistem itu. Tidak heran, sang penulis berulang kali menekankan bahwa pada zaman itu, “korupsi” (satu istilah yang sekarang hampir punah) merajalela di seluruh lapisan masyarakat.

Setelah menarik napas dalam, aku duduk dan mengambil helm kaca itu. Helm itu tersambung dengan beberapa buah kabel yang muncul dari atap bilik. Aku tidak begitu paham apa fungsinya, tapi aku dapat menebak bahwa kabel-kabel itu menghantarkan isi pikiranku kepada Mesin lewat suatu mekanisme. Kupasang helm itu. Bagian dalamnya terasa agak dingin, tapi beranjak hangat ketika dinding bilik kembali berpendar hijau. Inilah saatnya aku mengunggah semua aspirasiku kepada Mesin Demokrasi.

Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang aku inginkan untuk lima tahun ke depan. Aku tidak punya kepentingan politik. Aku hanya ingin Aini menerima cintaku. Entah apakah aspirasi semacam ini bisa diterima. Mereka selalu bilang bahwa momentum di dalam kotak suara harus digunakan sebaik-baiknya. Hindari memenuhi “suara rakyat” dengan hal-hal trivial seperti masalah pribadi yang bisa diselesaikan tanpa campur tangan Mesin. Meski begitu, aku percaya bahwa kepak sayap kupu-kupu di satu tempat dapat menimbulkan badai di tempat lain.

-—

“Udah? Kamu minta apa tadi?” tanya Aini sambil mengembalikan bukuku saat aku kembali ke kursi tunggu.

“Minta?” jawabku sambil mengernyitkan dahi. “Emangnya di dalam sana aku habis ketemu Om Jin?”

Aini tertawa. Sejujurnya aku tidak suka dengan istilah semacam itu. Belakangan ini mulai ada orang-orang yang skeptis terhadap Demokrasi Mesin. Mereka dengan sinisnya menyamakan proses pemungutan suara dengan ritual keagamaan. Seolah saat memasuki bilik suara itu, kami berdoa kepada “Tuhan”. Bagi mereka, Mesin tak ubahnya “Tuhan” yang diciptakan manusia untuk diimani secara buta.

Aku kasihan pada mereka. Andai saja mereka lebih banyak membaca literatur dan sejarah, kesalahpahaman semacam itu pasti tidak akan terjadi. Mereka seharusnya paham, bahwa meskipun Mesin memiliki kecerdasan super yang melebihi manusia dalam hal pengambilan keputusan, Mesin tetaplah sebuah alat. Ia seperti sebuah kalkulator canggih untuk menghitung aspirasi rakyat. Dengan menghapus lembaga perwakilan, peradilan, dan presiden kemudian menggantikannya dengan Mesin, kekuasaan kini benar-benar berada di tangan rakyat. Hanya orang gila yang menganggap Mesin sebagai raja, penguasa, apalagi Tuhan.

“Aspirasiku sederhana. Cuma pingin cepat dapat jodoh,” candaku, tapi sebenarnya setengah serius.

“Emangnya boleh masukin aspirasi kayak gitu? Itu kan nggak ada hubungannya dengan kepentingan publik.”

“Aku kan nggak mentah-mentah bilang begitu. Maksudnya, aku menuntut hal-hal yang secara nggak langsung mempermudah aku untuk dapat jodoh.”

“Misalnya?”

“Misalnya, turunkan harga tiket bioskop atau kurangi jam kerja supaya aku bisa gampang mendekati perempuan yang aku sukai.”

Aini mengangguk-angguk sambil bergumam bahwa itu adalah ide yang bagus, tapi kemudian mengelus-elus dagunya sendiri seolah ia punya jenggot.

“Tapi bagaimana kalau banyak orang yang aspirasinya bertolak belakang? Misalnya orang-orang justru pingin menambah jam kerja atau menaikkan harga tiket bioskop. Bisa-bisa kamu jadi jomblo seumur hidup, dong?” tanya Aini sambil melirikku.

“Ah, Mesin pasti punya jalan keluarnya,” jawabku.

Aku yakin Aini sudah tahu jawabannya, tapi ia sengaja berakting naif hanya untuk memancing perdebatan. Mungkin itu cara dia untuk mencari perhatianku.

“Misalnya?”

Aku menarik napas dalam.

“Aini, adil itu nggak berarti mengabulkan keinginan semua orang. Aku kasih contoh sederhana. Misalnya, keinginanku diberi simbol tujuh, sementara keinginanmu tiga. Keinginan kita jelas beda, tapi Mesin bisa memutuskan kebijakan paling adil bagi kita, misalnya tujuh ditambah tiga dibagi dua, hasilnya lima. Itu contoh paling bodohnya. Dalam kehidupan berdemokrasi, keinginan manusia itu rumit. Inilah yang nggak bisa dilakukan oleh pemerintahan di zaman dahulu. Kebijakan mereka nggak adil dan nggak efektif bukan cuma karena mereka korup, tapi juga karena mereka nggak punya kemampuan membuat perhitungan yang rasional dan akurat.”

Aini terdiam mendengar penjelasanku, tapi kemudian ia segera tersenyum dan bertepuk tangan. Orang-orang di sekitar kami ikut menoleh.

“Luar biasa! Nggak salah kamu dipilih jadi Duta Demokrasi tingkat kecamatan!”

Aku pura-pura memalingkan wajah, tidak yakin apakah ia benar-benar memujiku atau sedang menyindir. Namun sebelum aku sempat membalasnya, nama Aini sudah dipanggil. Ia segera bangkit dan menitipkan tas serta ponselnya di pangkuanku. Kumasukkan ponsel itu ke dalam tas yang ternyata hanya berisi powerbank dan lipstik. Perempuan memang tak pernah lepas dari kosmetik.

“Ai!” panggilku ketika ia mulai melangkah pergi.

“Ya?” ia menoleh.

“Bocoran, dong. Kamu mau ‘minta’ apa?” tanyaku, secara ironis menggunakan istilah yang kubenci.

Aini terdiam sejenak, kemudian tersenyum dan bibir merahnya membuatku meleleh.

“Sama kayak kamu. Aku juga pingin cepat dapat jodoh!”

-—

Bila pemenuhan aspirasi rakyat diibaratkan sebagai tempat tujuan, KKD atau Kitab Kebijakan Demokrasi adalah petunjuk jalannya. KKD dicetak oleh Mesin dalam bentuk buku, disebarkan secara digital, dan dimuat di semua surat kabar. Karena isinya sangat tebal, kebanyakan orang tidak benar-benar membacanya secara utuh. Mereka hanya mengambil bab atau pasal yang berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Aku adalah kebanyakan orang. Aku duduk di kafe sambil menonton berita pagi. Pembawa acara mulai membacakan beberapa isi KKD yang dianggap berhubungan dengan mayoritas pemirsanya.

“Pasal 17 menyatakan bahwa rasio otomatisasi birokrasi akan ditingkatkan menjadi 90%. Artinya, akan semakin banyak pegawai negeri yang dirumahkan dan digantikan dengan mesin. Apakah ini akan menimbulkan kekecewaan masyarakat?” tanya wanita pembawa acara kepada narasumbernya, seorang pakar hukum dan pengamat kebijakan Mesin.

“Saya rasa tidak. Masyarakat sudah paham bahwa yang paling cocok untuk menjalankan birokrasi adalah mesin, termasuk dalam bidang pelayanan. Di zaman modern ini, kita lebih membutuhkan kecepatan dan ketepatan dari apa pun juga,” jawab sang pakar.

“Baik. Selain masalah otomatisasi, ada perubahan lain yang cukup signifikan dalam KKD terbaru ini. Pasal 50 dalam bab mengenai keamanan, disebutkan bahwa ‘pelaku terorisme dan makar akan dihukum dengan hukuman mati’. Apakah ini bertentangan dengan bab mengenai HAM?”

Sang pakar menyeruput kopinya. “Saya kira, kita harus melihatnya dalam sudut pandang yang lebih luas. Bab tentang HAM tidak mencakup perlindungan terhadap pihak-pihak yang anti-demokrasi — dalam hal ini tentunya Demokrasi Mesin. Jangan lupa, bab tentang keamanan adalah prasyarat untuk menjalankan bab tentang HAM.”

Aku tidak memperhatikan seluruh isi pembicaraan mereka, tapi ada dua kebijakan yang membuatku cukup gembira. Pertama adalah peningkatan otomatisasi birokrasi. Dengan dihapusnya seluruh pegawai pencatatan sipil dan diganti dengan mesin-mesin pelayanan, mengurus administrasi pernikahan akan jauh lebih mudah. Kedua, Mesin juga meningkatkan kuota pernikahan untuk lima tahun ke depan. Tampaknya, jumlah populasi dinilai sudah mulai seimbang sehingga program Keluarga Terencana dapat sedikit dilonggarkan. Kalau aku beruntung, mungkin saja dalam lima tahun ini aku bisa melamar Aini.

Sambil mendengarkan siaran televisi itu, aku membuka-buka buku yang kupegang sejak tadi. Demokrasi Mesin: Sebuah Pengantar. Aku memang belum sempat membacanya lagi sejak Pemilu. Namun saat membuka salah satu halamannya, jantungku tertahan sesaat.

Ada yang mencoret-coret halaman ini. Halaman-halaman selanjutnya pun penuh dengan tulisan yang tampaknya dibuat menggunakan lipstik merah.

SINAPSIS DAN SIRKUIT LISTRIK

APA BEDANYA?

MESIN ADALAH DIKTATOR YANG SEMPURNA

ABSOLUTE POWER

CORRUPTS ABSOLUTELY

Buru-buru kututup buku itu. Sudut mataku melirik orang-orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri. Jarak mereka terlalu jauh, mereka tidak mungkin membaca tulisan tadi. Segera kumasukkan buku itu ke dalam tas dan kuambil ponselku. Suara nada tunggu terdengar berkali-kali. Aini tidak mengangkat teleponku. Perasaanku semakin gelisah. Ke mana dia?

“Pemirsa, kami mendapat berita terbaru mengenai penangkapan kelompok teroris dan pelaku makar. Menurut pihak kepolisian, nama-nama teroris sudah diterbitkan oleh Mesin sesaat setelah KKD disahkan. Berikut adalah nama dan foto para pelaku yang sedang dalam proses pengejaran,” ucap pembawa berita sambil menampilkan begitu banyak foto dan nama di layar secara bergantian.

Sekejap di sudut kiri bawah layar aku melihat foto Aini. Itu adalah pas foto yang selalu ia gunakan. Kumatikan ponselku dan berusaha bersikap sewajar mungkin, meski sebenarnya tubuhku terasa lemas. Pembawa berita kembali membacakan pasal mengenai hukuman mati. Penerapannya kepada para teroris dinilai berguna dalam mengendalikan jumlah populasi. Ini adalah hasil kalkulasi Mesin yang paling akurat atas aspirasi seluruh rakyat.

Sambil meredam emosi yang hampir meledak, aku bergegas keluar dari kafe dan mendengar kata-kataku sendiri: Adil itu tidak berarti mengabulkan keinginan semua orang.


Cerita ini memenangkan Sayembara Fiksi Ilmiah Vol. 2 di Serana 42. Baca selengkapnya.

Raja

Kami terdiam di tengah kemacetan lalu lintas. Ia di kursi kemudi, mencoba bersabar memainkan kopling dan rem, sementara aku membaca linimasa Facebook yang sedang diriuhi postingan tentang kedatangan Raja Arab Saudi.

“Di tengah ketimpangan ekonomi ini, ternyata banyak juga ya, rakyat Indonesia yang bangga melihat kekayaan dan kemewahan Raja Saudi,” gumamku sambil merebahkan punggung dan membetulkan posisi sabuk pengaman.

“Memangnya kenapa?” tanyanya, masih suntuk memandangi kemacetan tanpa ujung.

“Aku kira orang-orang akan cemburu melihat keluarga kerajaan superkaya itu, apalagi dibandingkan dengan kondisi kehidupan mereka yang melarat,” jawabku.

“Jangan naif. Tidak semua orang miskin cemburu kepada orang kaya. Ada juga yang sudah ikhlas menerima kasta sosialnya. Melihat orang kaya, mereka akan merasa kagum. Apalagi kalau orang kaya itu seorang raja.”

“Lho, memangnya kenapa kalau raja? Raja orang lain, bukan raja mereka,” tanyaku, mencoba mendebatnya.

“Memang bukan, tapi mereka rindu memiliki seorang raja,” ujarnya, mobil melaju beberapa meter, “dan menurutku, orang Indonesia memang lebih cocok hidup dalam sistem kerajaan.”

“Kenapa?”

“Itu karakter orang Indonesia pribumi selama berabad-abad. Demokrasi a la Barat adalah sistem asing yang baru masuk kemarin sore, kurang cocok dengan kultur kita. Lagipula, sistem kerajaan itu lebih efisien dan efektif. Semua orang fokus dengan bidangnya masing-masing. Tidak seperti sekarang, semua orang dipaksa membuat pilihan di luar kapasitasnya. Hasilnya? Geser terus linimasa Facebook-mu, dan kamu akan lihat betapa bodoh pilihan yang mereka buat.”

Aku agak kesal mendengar penjelasannya itu. Aku tidak suka membayangkan hidup dalam sistem yang mengizinkan segelintir orang mendapatkan status sosial eksklusif hanya karena hubungan darah, seefektif dan seefisien apa pun pemerintahannya. Namun aku dapat memahaminya. Ia sudah merasa putus asa dengan kondisi negara ini. Ia tampak lelah. Aku pun memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.

Saat sedang asyik membahas meme Polwan cantik, tiba-tiba suara sirine terdengar nyaring di belakang kami. Mobil-mobil berusaha bergerak ke pinggir, tapi kondisi jalan terlalu padat untuk bergerak. Sirine di belakang semakin nyaring, meraung-raung. Ia memutar setirnya dengan gusar.

“Pejabat kampret! Sok penting!” makinya saat melihat sedan hitam melaju di sebelah kami, diiringi beberapa pengawal.

Pohon Titit

1

Satu malam setelah dikhitan, aku duduk termenung di kamar sambil menahan rasa perih dan memandangi tititku yang masih dibungkus perban. Ayah datang sambil membawa tumpukan amplop. Ia mengajakku berhitung. Kalau uangku cukup, katanya, aku boleh membeli sepatu roda. 

Aku tidak begitu memperhatikan ketika ia mengeluarkan lembaran uang dari setiap amplop dan mencatat jumlahnya. Saat itu, ada pertanyaan lain yang membuat kepalaku gatal. Pertanyaan ini bagi orang lain mungkin terasa remeh, tapi kelak akan menghantuiku seumur hidup. 

Aku bertanya, ada di mana potongan kulit tititku yang disunat itu? 

Ayah tertawa mendengarnya. Ia bilang, aku tidak perlu khawatir. Potongan kulit tititku itu diambil dr. Yatno, dikubur di halaman belakang kliniknya di antara pohon petai dan pot anggrek. 

Dokter Yatno adalah orang yang mengkhitanku. Ia tampak terlalu sangar untuk ukuran dokter yang menyunat anak kecil. Wajahnya lebar, hidungnya besar, dan ia memiliki brewok tebal yang membuatku takut. Bahkan sebagai anak kelas 5 SD saat itu, aku merasa penampilan dr. Yatno tidak mencerminkan seorang dokter yang bersih dan higienis. 

Lantas, untuk apa ia menanam potongan kulit tititku? Ayah kembali tertawa. Katanya, dari potongan titit yang ditanam itu, nantinya akan tumbuh pohon titit. Pohon itu semakin lama akan semakin besar, daunnya lebat dan rantingnya panjang-panjang. Bila musimnya tiba, di setiap ranting pohon itu akan tumbuh menjuntai titit-titit kecil yang sama persis dengan tititku. 

Aku membayangkan bahwa dr. Yatno akan memetik titit-titit kecil itu saat ia tidak sempat membeli makanan. Ia akan memasaknya dengan kecap asam manis, lalu melahapnya. 

Ayah terkejut. Imajinasiku terlalu mengerikan, katanya. Dokter Yatno bukanlah seorang kanibal. Titit-titit kecil itu kelak akan berguna untukku sebagai titit cadangan. Aku teringat bahwa beberapa waktu sebelumnya tititku memang pernah terjepit ritsleting celana dan itu membuatku menangis karena takut tititku akan putus. Aku tidak perlu khawatir lagi sekarang. Itulah alasan sebenarnya mengapa laki-laki harus dikhitan. 

Penasaran, aku bertanya apakah ayah juga menanam pohon titit saat ia dikhitan dulu. Ayah mengangguk, kemudian sambil menyelesaikan hitungannya, ia berkata bahwa semenjak menikah dengan Ibu, ia sudah tiga kali berganti titit cadangan. 

Aku tidak sempat bertanya lebih lanjut, sebab saat itu aku baru sadar bahwa berdasarkan catatan yang Ayah tulis, uangku sudah lebih dari cukup untuk membeli sepasang sepatu roda. 

Perbankan Gaib

“Sampean tidak percaya saya bisa menggandakan uang?” tanya Eyang Sanca, alisnya mengerut dan posisi duduknya maju ke arahku.

“Nggak percaya. Mana mungkin uang bisa digandakan? Apa Eyang pikir saya ini orang kampung yang bisa dibodohi? Saya ini orang kota, berpendidikan!” jawabku sambil menahan tawa.

Eyang Sanca menarik napas dalam, lalu mengurut-urut jenggotnya. “Pernah ke bank, kan?”

“Pernah dong!” jawabku.

“Sampean jangan kaget kalau saya bilang, bank itu sama seperti saya, sama-sama dukun pengganda uang!”

Aku berdeham, sepertinya aku mulai paham jalan pikirannya, tapi aku ingin mengujinya sedikit. “Maksud Eyang?”

“Kalau sampean pergi ke bank, masukin uang di tabungan, deposito, atau investasi lainnya, uang sampean bertambah banyak, kan?” ujarnya sambil melipat tangan di depan dada.

“Iya, saya tau itu.”

“Nah, apa bedanya? Uang sampean sama-sama jadi berlipat ganda tanpa sampean harus kerja dan cuma tidur-tiduran di rumah. Berarti, konsep menggandakan uang itu bukan sesuatu yang ndak masuk akal. Iya toh?”

Kutatap raut mukanya. Aku tak bisa meremehkan dukun ini, ternyata ia pintar berkelit juga.

“Kalau Eyang sama saja dengan bank, lalu buat apa saya pergi ke Eyang? Lebih enak ke bank, biaya administrasinya lebih rendah; kantornya sejuk pakai AC, nggak bau kemenyan seperti ini; petugasnya juga perempuan cantik, bukan kakek-kakek peyot begini,” ucapku pelan.

“Jangan kurang ajar, ya!” suaranya meninggi. “Biar saya kasih tau kenapa saya lebih hebat, bunga yang saya tawarkan itu lima ratus persen! Lebih tinggi dari bank mana pun!”

Tawaku hampir meledak mendengar penjelasannya. Jelas-jelas dia ingin menipuku. “Omong kosong! Mana bisa bunga sebesar itu? Diinvestasikan untuk bisnis apa uang saya? Saham apa?”

“Investasi gaib!”

“Apaan gaib?”

“Ini perbankan gaib! Jelas beda dengan perbankan konvensional!”

Ia mengeluarkan sebuah buku dari kantong kemeja batiknya. Sebuah buku tabungan berwarna hitam dengan tulisan putih “Bank Gaib, Sanca Bank”.

Ia menjelaskan, “Sampean tau, kan, kalau nilai mata uang itu beda-beda? Nilai dolar Amerika lebih besar dari nilai rupiah, misalnya. Sekarang biar saya kasih tau, nilai mata uang di dunia gaib itu nilainya beratus-ratus kali lipat dari nilai rupiah!”

“Mata uang gaib? Apa lagi itu?”

“Sampean belum pernah ke alam jin, kan? Pantas ndak tau. Saya bisa kasih bunga sampai lima ratus persen karena saya ini menjalankan usaha perbankan dan perekonomian antardimensi, tepatnya alam manusia dengan alam jin,” jelasnya. “Ndak semua orang bisa, cuma dukun yang punya kekuatan saja yang bisa”

Aku menghela napas. Menarik juga dukun ini.

Sejak Kita Menghujat Para Koruptor

sejak kita menghujat para koruptor tanpa nama
korupsi menjadi basa-basi saja
menjadi bahan obrolan kita di warung kopi
sepulang kerja selepas senja

mengumpat telah membuat kita akrab
cangkir demi cangkir kita lahap
hingga dada kita berdebar-debar
oh!
itu pasti rasa keadilan
yang datang berkobar-kobar

tenanglah kawan
mari kita hapalkan
empat puluh lima butir Pancasila
beserta maknanya
dan kita pun menjadi anti korupsi

anti korupsi
anta korupsi
antum korupsi
ana korupsi

lama-lama kita
sama gombalnya dengan cinta


konon orang korupsi karena
cinta dunia
miskin iman di dalam dada

konon orang korupsi karena
bapak ibunya
lupa berdoa sebelum senggama

mungkin orang korupsi semata
demi menjadi
bahan obrolan kita di warung kopi
sepulang kerja selepas senja

Refleksi

Kutatap wajah mungilnya, saat ia tersenyum, saat ia menangis. Betapa aku mencintainya atas cahaya harapan yang ia pancarkan. Mungkin dulu aku juga seperti dirinya. Mungkin dulu aku juga menjanjikan harapan-harapan–yang hingga kini tak benar-benar aku penuhi.
 
Pantaskah bila aku berharap ia akan mencintaiku juga? Tidak. Mungkin kelak ia akan melupakanku. Mungkin kelak ia akan mengabaikanku. Seperti aku melupakan masa kecilku, yang perlahan-lahan tenggelam dalam lautan waktu.
 
Hanya ada kepingan ingatan yang kini mengambang di atas permukaan, yaitu saat aku berbaris di depan pintu masuk sekolah, bersama-sama merapal doa yang maknanya tak kupahami hingga dua puluh tahun kemudian: Tuhanku, sayangilah kedua orang tuaku, sebagaimana mereka menyayangi aku ketika aku masih kecil.