Menolak Togel (Totoro Gelap)

Hari ini saya menemani anak-anak menonton film animasi My Neighbor Totoro. Film klasik karya Studio Ghibli ini dibuat pada tahun 1988, jadi kira-kira ia memiliki umur yang sama dengan saya. Sebenarnya sudah beberapa hari ini kami membuat program menonton satu film pilihan per hari untuk anak-anak, sebagai konsekuensi telah melarang penggunaan smartphone karena mereka sudah kecanduan Wormzone dan Youtube Kids.

Setelah menonton Petualangan Sherina dan Garuda di Dadaku di Netflix, kami memilah-milah film apa lagi yang cocok untuk anak-anak tetapi tetap menarik bagi kami sebagai orang tua yang mendampinginya. Syaratnya, film tersebut harus berbahasa Indonesia (bagi saya anak usia 4 tahun belum waktunya belajar bahasa Inggris), dapat ditonton sekali duduk (bukan film seri), dan tentunya aman untuk anak-anak.

Film Disney tampaknya membosankan dan aplikasi Disney + Hotstar tidak bisa di-screencast ke TV menggunakan dongle KW buatan Cina (anehnya, Netflix bisa). Akhirnya saya kembali menjelajah Netflix dan menemukan film-film animasi karya Studio Ghibli yang sudah di-dubbing ke dalam bahasa Indonesia. Salah satunya, yang paling terkenal sepanjang masa, tentu saja adalah My Neighbor Totoro (となりのトトロ).

Mulai Menonton dengan Gelisah

Terus terang, saya belum pernah menonton film ini secara full. Padahal, bisa dibilang ini adalah tontonan wajib di kalangan anak-anak artsy karena gaya visualnya yang sangat indah. Namun, saya sering membaca “teori gelap” yang beredar di internet mengenai sosok Totoro, antara lain bahwa Totoro sebenarnya adalah sosok dewa kematian dan ada kisah tragis di balik film animasi ini. Teori ini saya sebut sebagai teori Togel (Totoro Gelap). Hal inilah yang membuat saya agak gelisah ketika mulai menontonnya bersama anak-anak.

My Neighbor Totoro berkisah tentang keluarga Kusakabe (Tatsuo Kusakabe bersama dua orang anaknya, Satsuki dan Mei) yang pindah ke sebuah rumah di pedesaan agar lebih dekat ke rumah sakit tempat sang ibu dirawat.

Di awal film, perasaan saya sudah mulai tidak enak. Rumah baru keluarga Kusakabe digambarkan sebagai rumah tua yang reot dan hampir rubuh. Saat proses pemindahan barang, Satsuki dan Mei menemukan sekumpulan makhluk-makhluk hitam kecil misterius yang bisa menghilang dan menembus tembok. Seorang nenek tua tetangga mereka berkata bahwa makhluk itu adalah susuwatari, sejenis roh halus yang penghuni rumah kosong dan hanya bisa dilihat oleh anak-anak.

The Kusakabe's House | My neighbor totoro, Totoro, Japanese animated movies

Tidak berhenti sampai di situ, satu per satu kejadian-kejadian aneh mulai menimpa keluarga itu. Sutu malam saat sedang mandi bersama, muncul angin kencang yang membuat rumah mereka nyaris rubuh. Esoknya, Mei menemukan biji-biji oak misterius yang memancingnya pergi sendirian ke dalam hutan, menyusuri lorong gelap, lalu masuk ke dalam lubang di pohon besar hingga membangunkan sesosok monster yang sedang tertidur di dalamnya.

Glek! Bukankah itu terdengar seperti sebuah film horor?

  • Keluarga kecil
  • Rumah tua di pedesaan
  • Pohon besar di hutan gelap dekat rumah
  • Ibu yang dirawat di rumah sakit
  • Makhluk-makhluk misterius di atap
  • Punya tetangga nenek-nenek tua

Saya bisa membayangkan jika film ini di-remake oleh Joko Anwar.

Anehnya, semua plot horor itu ditampilkan dengan ekspresi yang tenang, lucu, dan cenderung polos. Tak ada seorang pun dalam film ini yang menunjukkan rasa ngeri ketika disebut kata “hantu” atau “roh halus”. Padahal, apa bedanya bermain bersama Totoro dengan bermain bersama kuntilanak/kalong wewe? Bukankah ini sangat twisted? Kebetulan, belakangan ini saya juga sedang mendengarkan band Ghost, sebuah band rock dengan irama catchy nan gembira tetapi liriknya bercerita tentang pemujaan terhadap iblis.

Oh, kegelapan macam apakah yang disembunyikan di balik topeng Totoro yang lucu dan lugu ini? Pastilah seperti yang diceritakan dalam teori Togel. Seperti kata pepatah, semakin terang cahaya, semakin gelap bayangannya.

Catbus, Satsuki and Mei by AndyPritchard on DeviantArt

Sebuah Penolakan

Akibat teori Totoro Gelap ini, sepanjang film saya menjadi waswas dan gelisah. Namun pada penghujung film, saya mendapat pencerahan bahwa teori tersebut rupanya tidak masuk akal dan terlalu mengada-ada. Brengsek sekali, saya jadi tidak bisa menikmati film ini sebagaimana seharusnya.

Sebelumnya, mungkin Anda perlu membaca dulu argumentasi teori tersebut. Ada dua hal utama yang membuat saya menolak Togel (Totoro Gelap).

  1. Sandal yang ditemukan di kolam jelas berbeda dengan sandal yang digunakan Mei. Kenapa mirip? Ya, memang mirip. Kemiripan itu tampak disengaja demi membuat plotnya masuk akal. Kalau tidak mirip, penduduk desa dan Satsuki tidak akan khawatir dan tidak akan mampu membangun ketegangan dalam klimaks cerita itu.
  2. Di ending cerita, Satsuki dan Mei jelas-jelas masih hidup. Memang, mereka tidak menemui ibu mereka di rumah sakit dan hanya melihat dari atas pohon. Saya tidak tahu kenapa. Mungkin karena saat itu mereka sedang bersama si bus kucing aneh itu. Yang jelas, setelah itu diperlihatkan bahwa Satsuki dan Mei kembali ke desa dan disambut oleh Kanta dan neneknya. Jangan bilang kalau kedua orang itu juga sudah mati.
  3. Kanta memang tidak pernah bertemu atau melihat Totoro, tapi tidak ada alasan mengapa ia harus bertemu dengan Totoro. Makhluk itu adalah tukang tidur, dan dia tidur di sebuah tempat tersembunyi di tengah hutan. Tidak banyak anak-anak yang bisa menemukan tempat itu tanpa sengaja selain Mei.
reunion 2
Ending Totoro

Dalam cerita, disebutkan dengan jelas bahwa Totoro adalah roh hutan. Artinya, tak ada yang menyangkal bahwa ia adalah makhluk halus, jin, dedemit, hantu, atau sejenisnya. Bukan hal yang aneh bila seorang roh hutan bepergian untuk melakukan apa pun pekerjaannya menggunakan sebuah bus gaib yang memiliki ragam tujuan dunia gaib, salah satunya ke dunia orang mati. Namun tak berarti bahwa ia adalah seorang shinigami. Sama halnya tidak semua PNS adalah guru atau petugas kelurahan, ada juga yang dosen, pemadam kebakaran, peneliti, dll.

Animisme dan Keharmonisan Manusia dengan Alam

Pesan yang cukup menonjol dari film ini adalah tentang keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam. Alam, sebagaimana kepercayaan animisme, dilambangkan dalam sosok roh halus, dalam hal ini adalah Totoro. Di awal film, sang ayah pernah berkata bahwa dahulu kala manusia bisa hidup berdampingan dengan hutan, dan ia percaya bahwa hal itu masih dapat terjadi.

Children and Nature: My Neighbour Totoro | Ekostories

Keharmonisan hubungan antara manusia dan alam dilambangkan dengan persahabatan antara Totoro dan Satsuki/Mei. Totoro melambangkan ekosistem hutan sementara keluarga Kusakabe melambangkan manusia. Sejak awal pindah ke rumah baru pun, keluarga Kusakabe senantiasa menunjukkan rasa hormat mereka terhadap alam sekitar. Hal ini dibuktikan dengan para susuwatari yang dengan sukarela pindah dari rumah tua itu menuju hutan, kembali bersama Totoro.

Namun mengapa teori cocoklogi Totoro Gelap bisa muncul? Tampaknya, kitalah sebagai penonton dewasa yang merasa sulit menerima pesan tersebut. Pikiran kita sudah penuh prasangka karena terbiasa menyaksikan dunia yang penuh ketidakadilan, pertumpahan darah, pengerusakan alam, dan berbagai kenyataan gelap lainnya.

Bagaimana mungkin cerita ini “hanya” tentang persahabatan anak manusia dan roh penunggu hutan? Bagaimana mungkin semuanya berakhir bahagia? Mana mungkin tidak ada kisah tragis dan depresif yang melatarbelakanginya? Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak bisa menerima ini! Tidak realistis! Pasti ada kegelapan yang tersembunyi di balik ini semua …. Pasti ….

– Teori Totoro Gelap

Kesimpulan

Jangan salah paham, saya cukup menggemari cerita-cerita gelap dan tragis. Namun untuk teori ini, saya tidak bisa menerimanya karena terasa lemah dan dipaksakan. Entah kenapa masih ada yang mempercayainya. Bagi saya, kalau Anda ingin menonton anime klasik yang gelap dan depresif, lebih baik Anda berhenti menonton film Studio Ghibli dan kembali menonton Neon Genesis Evangelion.

Kuliner Liar Januar

Bagi sebagian orang, merah berarti gairah, amarah, tanda berhenti, atau revolusi. Bagi sebagian lainnya, merah berarti darah. Seperti kutipan yang terkenal dari film PKI buatan Orde Baru dulu: Darah itu merah, Jenderal! Namun bagi bisikan-bisikan dalam kepala Januar, kutipan itu sedikit berbeda: Merah itu darah, Januar! Dan bukan hanya sekadar darah, tapi darah yang lebih spesifik, darah yang tidak bisa ia dapatkan dari ikan, ayam, atau hewan-hewan lain yang pernah ia makan hidup-hidup dalam acara reality show-nya: Kuliner Liar Januar.

Baca selengkapnya

Mengusir Hantu Bernama Sayu (2)

Part 2: Urban Legend

Hujan tak kunjung reda. Para pegawai kantor bertahan di menara mereka, berteduh di antara jendela-jendela kaca dan tembok-tembok kaku. Sebagian yang cukup beruntung membawa mobil pribadi memutuskan untuk pulang sambil menerjang hujan, sementara yang lain berusaha untuk tetap sabar sambil bertanya-tanya apakah malam ini banjir akan kembali melanda ibukota. ​​

​​Meski tidak membawa kendaraan pribadi, Denny tidak bisa bertahan di kantor. Ia sudah cukup muak melihat meja kerjanya. Sudah seribu satu malam ia habiskan untuk lembur tetapi berkas pekerjaan masih saja menumpuk. Ia merasa dijajah.

Sambil keluar dari kubikel, ia memesan taksi online lewat ponselnya. Biasanya ia tidak akan memesan mobil bila bepergian seorang diri, tapi hujan deras ini tak memberinya pilihan. Apalagi ia teringat bahwa masih ada voucher diskon lima puluh persen yang sudah lama tak digunakan.

Sambil menunggu notifikasi di ponsel, ia turun menggunakan lift dari lantai enam, kemudian menyusuri lorong hingga ke lobi gedung tanpa bertegur sapa dengan siapa pun. Tak banyak yang mengenalnya di gedung ini. Ia baru dua bulan pindah dan sebagian besar waktunya ia habiskan di depan meja.

Selain satpam gedung yang sedang berjaga di samping pintu, hanya ada dua orang karyawan yang berdiri menunggu mobil di lobi. Musik lounge terdengar samar-samar dari pengeras suara. Melodinya bercampur dengan ritme suara hujan dari luar, menimbulkan ambience yang cocok untuk bermalas-malasan. Tiba-tiba, saku celana Denny terasa bergetar. Ia memeriksa ponselnya sekali lagi.

​​Kami menemukan pengemudi untuk Anda. Mohon memenunggu.

Continue reading Mengusir Hantu Bernama Sayu (2)

Mengusir Hantu Bernama Sayu (1)

Part 1: Atmosfero

Gantungan tasbih bergoyang-goyang ketika mobil yang Adam kemudikan mengerem mendadak. Malam itu, pukul dua puluh, cuaca lumayan cerah dan jalanan masih ramai dengan orang-orang yang pulang dari kantor menuju rumah masing-masing. Namun kali ini tujuan Adam bukanlah rumah, melainkan sebuah tempat yang baru pertama kali ia datangi.

“Di sini, Pak?” tanya Adam kepada Haris, manajernya yang sedang duduk di sampingnya sambil mengetik sesuatu di ponsel.

Haris menoleh.

“Oh iya, belok kiri ke sini. Masuk aja ke parkiran.”

Sejak siang tadi, Haris memang sudah meminta Adam untuk mengantarnya ke tempat ini. Alasannya, karena hari ini adalah tanggal ganjil dan mobil BMW yang ia miliki bernomor genap. Sementara itu, mobil Avanza Adam bernomor ganjil sehingga tidak akan terkena razia ganjil-genap. Meski Adam tentunya bukanlah supir pribadinya, tapi ia adalah stafnya yang paling akrab. Sudah dua tahun ini mereka bekerja bersama dan kedekatan Adam dengan bosnya seringkali membuat staf yang lain merasa iri.

Area parkir itu lumayan luas. Ada tiga buah mobil yang sudah diparkir di sana, semua terlihat lebih mewah dan bersih daripada mobilnya. Dalam hati, Adam menduga satu-satunya alasan Haris memintanya mengantar adalah untuk menutupi jejak agar tidak ada yang tahu (termasuk supir pribadinya) bahwa ia berkunjung ke tempat ini. Ia memarkikran mobilnya di sebelah Fortuner hitam dengan hati-hati. Tak jauh dari tempat parkir terdapat plang neon kecil bertuliskan “Atmosfero Relaxation” berwarna pink dan biru yang berkedip-kedip. Ia membayangkan, tempat ini mungkin semacam griya pijat, atau spa, atau apa pun yang berhubungan dengan suasana relaks.

Continue reading Mengusir Hantu Bernama Sayu (1)

Selamat Tahun Baru, Hantu-Hantu yang Selalu Menunggu

Sudah hampir sebulan pesan itu masuk ke inbox Facebook-ku, tapi aku tidak pernah menyadarinya. Mungkin karena pengirimnya tidak termasuk dalam friendlist, mungkin juga karena kotak masukku sudah penuh dengan berbagai spam. Namun, pada malam tahun baru itu aku tergoda untuk membukanya lewat ponsel.  

Isi pesan itu singkat: Kamu penulis Kara Reshita ya?  

Continue reading Selamat Tahun Baru, Hantu-Hantu yang Selalu Menunggu

Pertanyaan Paling Aneh

Ada sebuah pertanyaan paling aneh yang pernah diucapkan Sri kepada suaminya. Saat itu ia baru pulang kerja, berjalan kaki selama lima belas menit dari bus karyawan, dan tiba di sebuah rumah kontrakan sederhana. Sebenarnya ia sudah lama ingin pindah dari rumah itu. Dapurnya sempit dan air PAM-nya kurang bersih. Sayangnya, kondisi keuangan mereka masih jauh dari cukup untuk mencari kontrakan yang lebih baik, apalagi membeli rumah sendiri. Sudah dua bulan sejak Aji, suaminya, di-PHK dari pabrik tempat ia bekerja. Satu-satunya sumber penghasilan mereka sekarang, termasuk untuk membayar kontrakan, adalah gaji Sri sebagai buruh yang tidak seberapa.

Sebelum masuk ke dalam, Sri menghela napas dalam, kemudian mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Mungkin Aji sudah tidur, pikirnya. Sejak menjadi pengangguran, suaminya memang sangat pemalas. Ia tak mau lagi bergaul dengan tetangga. Setiap hari ia hanya berdiam diri di rumah. Tidur, makan, dan minta dilayani seperti seorang raja.

Sri membuka pintu yang ternyata tidak dikunci itu, lalu meletakkan sepatunya ke dalam rak kecil di belakang pintu. Tiba-tiba telinga Sri menangkap sesuatu yang tidak biasa. Ia mendengar suara musik, pelan dan sayup-sayup. Tidak ada yang pernah menyalakan musik di dalam rumahnya. Aji adalah lelaki yang kaku dan membosankan, ia tidak suka mendengarkan musik atau radio sambil beraktivitas. Satu-satunya orang yang suka menyalakan musik adalah tetangganya, si maniak dangdut. Namun ia yakin musik itu berasal dari dalam rumah, dan musik yang ia dengar bukanlah musik dangdut. Itu musik jazz, atau blues, atau apalah namanya, ia tidak kenal aliran musik semacam itu. Ia hanya ingat pernah mendengar musik seperti itu di film-film.

Tanpa sempat membuka seragam kerjanya, Sri berjalan pelan ke arah sumber suara musik itu. Lantunan nada itu menggiringnya ke arah dapur. Ini mungkin cuma soal sepele, tapi sebagai orang yang mengetahui seluk beluk rumah, ia merasakan keganjilan. Ada “orang lain” di rumah ini, pikirnya. Sri memperlambat langkahnya, matanya awas, dan ia mulai mengendap-endap. Apakah sebaiknya ia segera keluar rumah dan mencari pertolongan? Pikiran itu datang dan pergi dalam benak Sri, tapi ia selalu membatalkannya. Ini cuma suara musik. Mana mungkin ada maling yang melakukan aksinya sambil menyalakan musik?

Dari balik dinding, ia mengintip ke arah dapur. Hidungnya mencium bau harum daging yang sedang dimasak. Ia merasa seperti sedang berada di dapur sebuah restoran, hanya saja dapur di hadapannya penuh dengan kardus-kardus bekas dan perabotan yang jarang dipakai. Di salah satu sisi dapur, di depan kompor, ia dapat melihat sesosok lelaki bertubuh tinggi–setinggi Aji, tapi cara berdirinya agak lebih tegap–berdiri membelakanginya. Ia dapat melihat tali celemek di belakang leher lelaki itu. Tampaknya ia sedang memasak sesuatu.

“Udah pulang, Sayang? Nggak kena macet, kan?” ucap lelaki itu tiba-tiba tanpa menoleh. Suara itu terdengar merdu, manis, dan sangat lancar meluncur dari mulutnya. Tidak seperti Aji yang ucapannya selalu datar dan pantang berbasa-basi. Sri tidak menjawab pertanyaan itu, kepalanya terasa hampa dan ringan.

Ketika lelaki itu membalikkan badan dan memperlihatkan senyum paling manis yang pernah ia lihat, Sri pun mengucapkan pertanyaan itu–pertanyaan paling aneh yang pernah ia ucapkan kepada suaminya.

“Kamu siapa?” Continue reading Pertanyaan Paling Aneh

Patuh

“Tidak seperti dia, saya patuhi perintah tanpa emosi. Kalau Bos bilang siapkan tali, saya akan siapkan tali dan biarkan Bos gantung diri,” ujarnya.

“Kalau dia?”

“Dia pasti menolak,” jawabnya.

“Dia akan siapkan pistol. Karena menurutnya bunuh diri dengan pistol lebih keren.”

Mata

siapa yang mengajarimu
caranya menyembunyikan sendu?

kamu berdiri di situ
mengalihkan matamu dari mataku

seolah tahu
sepasang kaki yang tak berpisah
tak bisa melangkah maju

Baju Pink Nala

Mungkin Nala seperti bunga. Ia memakai baju pink pada pesta itu untuk menarik perhatian serangga dan burung yang dapat membantunya melakukan penyerbukan. Namun mungkin Nala tidak tahu, bahwa warna pink pada bunga juga berfungsi untuk menjauhkan predator, dan aku merasa diriku lebih mirip sesosok predator daripada burung penyerbuk. Itulah kenapa aku sama sekali tak membalas sinyal-sinyal yang ia berikan selama pesta, baik senyuman, kerlingan mata, atau bahasa tubuh lainnya. Bahkan ketika ia lewat di depanku dan mencoba menyapa, secara halus aku menghindarinya.
Continue reading Baju Pink Nala

Suara Mesin, Suara Rakyat

“Setelah berabad-abad, akhirnya kita menyadari bahwa manusia tidak mampu mewakili aspirasi manusia lain. Power tends to corrupt. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan suatu demokrasi langsung yang adil, bersih, dan efisien, kita membutuhkan suatu alat yang mampu mengelola, mengalkulasi, dan mengeksekusi aspirasi tiap-tiap warga negara dengan rasional, cerdas, tegas, ringkas, tanpa bias, dan tanpa faktor-faktor emosional yang membatasi seorang manusia.”

Aku sedang membaca paragraf itu ketika kudengar namaku dipanggil lewat pengeras suara. Kutitipkan buku berjudul Demokrasi Mesin: Sebuah Pengantar di atas pangkuan Aini yang sedang asyik bermain game ponsel, kemudian segera melangkah menuju bilik suara. Kotak besi setinggi tiga meter itu berpendar kehijauan, dan ketika aku membuka pintunya, aku dapat melihat sebuah kursi dan helm kaca yang tergantung di atasnya. Ternyata benar, interior bilik suara sudah lebih nyaman dibandingkan Pemilu sebelumnya. Kursinya tampak lebih empuk dan pencahayaannya lebih memadai.

Seketika, aku teringat pada buku yang kubaca tadi. Menurut buku itu, dahulu kala bilik suara Pemilu hanya berisi selembar kertas dan paku.


Cerita ini memenangkan Sayembara Fiksi Ilmiah Vol. 2 di Serana 42. Baca selengkapnya.

 

Raja

Kami terdiam di tengah kemacetan lalu lintas. Ia di kursi kemudi, mencoba bersabar memainkan kopling dan rem, sementara aku membaca linimasa Facebook yang sedang diriuhi postingan tentang kedatangan Raja Arab Saudi.

“Di tengah ketimpangan ekonomi ini, ternyata banyak juga ya, rakyat Indonesia yang bangga melihat kekayaan dan kemewahan Raja Saudi,” gumamku sambil merebahkan punggung dan membetulkan posisi sabuk pengaman.

“Memangnya kenapa?” tanyanya, masih suntuk memandangi kemacetan tanpa ujung.

“Aku kira orang-orang akan cemburu melihat keluarga kerajaan superkaya itu, apalagi dibandingkan dengan kondisi kehidupan mereka yang melarat,” jawabku.

“Jangan naif. Tidak semua orang miskin cemburu kepada orang kaya. Ada juga yang sudah ikhlas menerima kasta sosialnya. Melihat orang kaya, mereka akan merasa kagum. Apalagi kalau orang kaya itu seorang raja.”

“Lho, memangnya kenapa kalau raja? Raja orang lain, bukan raja mereka,” tanyaku, mencoba mendebatnya.

“Memang bukan, tapi mereka rindu memiliki seorang raja,” ujarnya, mobil melaju beberapa meter, “dan menurutku, orang Indonesia memang lebih cocok hidup dalam sistem kerajaan.”

“Kenapa?”

“Itu karakter orang Indonesia pribumi selama berabad-abad. Demokrasi a la Barat adalah sistem asing yang baru masuk kemarin sore, kurang cocok dengan kultur kita. Lagipula, sistem kerajaan itu lebih efisien dan efektif. Semua orang fokus dengan bidangnya masing-masing. Tidak seperti sekarang, semua orang dipaksa membuat pilihan di luar kapasitasnya. Hasilnya? Geser terus linimasa Facebook-mu, dan kamu akan lihat betapa bodoh pilihan yang mereka buat.”

Aku agak kesal mendengar penjelasannya itu. Aku tidak suka membayangkan hidup dalam sistem yang mengizinkan segelintir orang mendapatkan status sosial eksklusif hanya karena hubungan darah, seefektif dan seefisien apa pun pemerintahannya. Namun aku dapat memahaminya. Ia sudah merasa putus asa dengan kondisi negara ini. Ia tampak lelah. Aku pun memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.

Saat sedang asyik membahas meme Polwan cantik, tiba-tiba suara sirine terdengar nyaring di belakang kami. Mobil-mobil berusaha bergerak ke pinggir, tapi kondisi jalan terlalu padat untuk bergerak. Sirine di belakang semakin nyaring, meraung-raung. Ia memutar setirnya dengan gusar.

“Pejabat kampret! Sok penting!” makinya saat melihat sedan hitam melaju di sebelah kami, diiringi beberapa pengawal.

Pohon Titit

1

Satu malam setelah dikhitan, aku duduk termenung di kamar sambil menahan rasa perih dan memandangi tititku yang masih dibungkus perban. Ayah datang sambil membawa tumpukan amplop. Ia mengajakku berhitung. Kalau uangku cukup, katanya, aku boleh membeli sepatu roda. 

Aku tidak begitu memperhatikan ketika ia mengeluarkan lembaran uang dari setiap amplop dan mencatat jumlahnya. Saat itu, ada pertanyaan lain yang membuat kepalaku gatal. Pertanyaan ini bagi orang lain mungkin terasa remeh, tapi kelak akan menghantuiku seumur hidup. 

Aku bertanya, ada di mana potongan kulit tititku yang disunat itu? 

Ayah tertawa mendengarnya. Ia bilang, aku tidak perlu khawatir. Potongan kulit tititku itu diambil dr. Yatno, dikubur di halaman belakang kliniknya di antara pohon petai dan pot anggrek. 

Dokter Yatno adalah orang yang mengkhitanku. Ia tampak terlalu sangar untuk ukuran dokter yang menyunat anak kecil. Wajahnya lebar, hidungnya besar, dan ia memiliki brewok tebal yang membuatku takut. Bahkan sebagai anak kelas 5 SD saat itu, aku merasa penampilan dr. Yatno tidak mencerminkan seorang dokter yang bersih dan higienis. 

Lantas, untuk apa ia menanam potongan kulit tititku? Ayah kembali tertawa. Katanya, dari potongan titit yang ditanam itu, nantinya akan tumbuh pohon titit. Pohon itu semakin lama akan semakin besar, daunnya lebat dan rantingnya panjang-panjang. Bila musimnya tiba, di setiap ranting pohon itu akan tumbuh menjuntai titit-titit kecil yang sama persis dengan tititku. 

Aku membayangkan bahwa dr. Yatno akan memetik titit-titit kecil itu saat ia tidak sempat membeli makanan. Ia akan memasaknya dengan kecap asam manis, lalu melahapnya. 

Ayah terkejut. Imajinasiku terlalu mengerikan, katanya. Dokter Yatno bukanlah seorang kanibal. Titit-titit kecil itu kelak akan berguna untukku sebagai titit cadangan. Aku teringat bahwa beberapa waktu sebelumnya tititku memang pernah terjepit ritsleting celana dan itu membuatku menangis karena takut tititku akan putus. Aku tidak perlu khawatir lagi sekarang. Itulah alasan sebenarnya mengapa laki-laki harus dikhitan. 

Penasaran, aku bertanya apakah ayah juga menanam pohon titit saat ia dikhitan dulu. Ayah mengangguk, kemudian sambil menyelesaikan hitungannya, ia berkata bahwa semenjak menikah dengan Ibu, ia sudah tiga kali berganti titit cadangan. 

Aku tidak sempat bertanya lebih lanjut, sebab saat itu aku baru sadar bahwa berdasarkan catatan yang Ayah tulis, uangku sudah lebih dari cukup untuk membeli sepasang sepatu roda.