Pengakuan di Atas Seragam14 min read

Cerita ini dibuat untuk event LMCR Rohto 2009, dan menjadi salah satu cerpen favorit.

Akhirnya hari ini aku lulus SMA. Semua murid kelas tiga di sekolahku berpesta-pora, karena tingkat kelulusan di sekolah kami adalah seratus persen. Tentunya ini adalah hal yang cukup istimewa mengingat beberapa tahun terakhir ini ujian nasional selalu menjadi momok yang menakutkan bagi setiap siswa kelas tiga di Indonesia. Sekolahku memang termasuk sekolah unggulan, tapi tetap saja ini adalah sesuatu yang luar biasa bagi kami.

Kami merayakan keberhasilan ini dengan tradisi yang sangat kuno, dan kebetulan sekolahku termasuk yang cukup liberal untuk membiarkan murid-muridnya melakukan tradisi tersebut. Tradisi yang aku maksud adalah mencorat-coret kemeja seragam dengan tanda tangan dan berbagai macam tulisan, seperti kesan-pesan atau sekedar testimonial. Aku sudah tak ingat, berapa banyak orang yang telah menulis dengan spidol di seragamku, bagian punggung dan bagian depan bajuku sudah penuh dengan coretan-coretan spidol. Satu hal yang istiewa, aku bahkan sempat meminta Laras—siswi yang aku sukai secara diam-diam—untuk ikut menulis di punggungku. Katanya ia menyumbang tanda tangannya sebagai jimat. Pasti akan selalu kusimpan. Tidak hanya teman-teman sekelas saja yang hari ini “menjamah” diriku, aku sampai berpawai keliling sekolah demi memenuhi ruang kosong di baju seragam, bahkan beberapa anak kelas satu dan kelas dua juga tidak ketinggalan memberikan salam perpisahan.

Dengan perasaan bahagia, aku pulang ke rumah, lalu segera melepas baju seragam putihku dan berniat menggantungnya di dinding kamar. Ini adalah bukti sejarah, artefak, benda yang harus dimuseumkan. Aku mengamati tulisan-tulisan dan tanda tangan pada bagian belakang baju seragam itu. Ada tulisannya Si Ridho yang berbunyi: selama dua taun kita sekelas, lo temen sebangku paling gokil! Haha. Good luck Bro! Lalu ada juga tulisannya Ambar, sang bendahara kelas yang terkenal teliti dan pelit: Damar! Lo nggak bayar uang kas dua bulan! Kalau kita reuni, gue tagih! Hehe. Aku tertawa membaca tulisan itu. Kami memang agak berlebihan, padahal toh besok-besok juga kami masih bisa bertemu lagi. Di luar tulisan-tulisan bernada lelucon, terdapat banyak sekali tanda tangan yang dibuat menggunakan spidol warna-warni, aku bahkan sudah tak bisa mengenali lagi tanda tangan siapa saja itu semua.

Ketika aku menggantungkan kemeja itu pada gantungan baju di dinding, aku menemukan sebuah tulisan yang tidak kusadari keberadaannya tadi. Tulisan itu dibuat dengan spidol pink yang tipis, terletak di sudut kanan bawah hem kemeja, nyaris tertumpuk dengan tanda tangan di atasnya yang berwarna hitam. Aku tercengang. Siapa gerangan yang menulis ini? Apakah ini lelucon atau serius?

Mar…, dari kelas 1 aku udah suka sama kamu, tapi aku ga berani nyatain… aku akan nunggu kamu, sampai kamu tau.

Aku mengamati tulisan itu dan mencari-cari apakah ada nama penulisnya, tapi sia-sia. Mungkin bagi beberapa orang, hal ini adalah hal yang biasa saja. Misalnya untuk seorang bintang basket sekolah, atau seorang murid jenius; orang-orang semacam itu pasti sudah biasa mendapatkan pengakuan cinta dari secret admirer mereka yang jumlahnya bukan sekedar satu atau dua orang. Namun aku bukan orang seperti itu, aku tidak punya pengagum rahasia, setidaknya itulah dugaanku selama ini. Di sekolah, aku memang anak yang cukup populer, aku bergaul dengan siapa saja dan senang berkumpul dengan teman-teman. Tapi aku tidak tampan, tidak pintar, dan yang paling gawat adalah aku termasuk orang yang pemalu terhadap wanita. Itulah alasannya selama tiga tahun di SMA, tak pernah sekalipun aku punya pacar. Imej-ku di kalangan teman-teman adalah sebagai seorang sahabat yang menyenangkan, tapi tak pernah lebih dari itu. Bahkan terhadap Laras yang aku sukai sejak lama, aku tak pernah berani mengungkapkan apa-apa, sampai saat ini aku menyimpannya dalam hati. Apa mungkin orang ini salah tulis?

Dengan rasa penasaran yang meningkat, aku memperhatikan tulisan itu lekat-lekat. Dari lekuk tulisannya yang feminin dan pemilihan warna spidolnya, sudah jelas ini tulisan perempuan—tentu saja aku amat bersyukur dengan hal itu, tak bisa dibayangkan kalau seandainya yang menulis ini adalah Si Ridho atau Bambang. Aku mengingat-ingat lagi, siapa saja murid perempuan yang tadi siang ikut menulis di punggungku? Sepertinya hampir semua teman-teman wanita di kelasku, lalu dari kelas lain, dan juga beberapa adik kelas… ah percuma! Aku tak bisa mengingatnya! Dengan percaya diri, aku sok menganalisis gaya tulisan itu, tapi itu juga tak ada artinya. Apa aku harus mengabaikannya saja? Tapi ternyata rasa penasaran di dalam diriku tak bisa dibohongi. Ada perasaan senang di dalam hatiku, semacam, “Gila, ternyata ada cewek yang naksir gue diem-diem! Rupanya gue nggak jelek-jelek amat!”

Entah karena suatu pengharapan yang tidak tahu diri atau karena firasat, terbersit dalam kepalaku, mungkin saja yang menulis pengakuan ini adalah Laras. Aku ingat, dia tadi menulis di bagian punggungku dengan posisi yang agak ke bawah. Dia bilang dia memberikan tanda tangannya, tapi aku tak berhasil menemukan satu pun tanda tangan yang bertuliskan nama Laras. Walaupun tentunya ada beberapa tanda tangan ultra-abstrak yang tidak memiliki keterangan, namun aku tidak dapat memastikannya, karena pada dasarnya aku memang tidak tahu tanda tangan Laras seperti apa. Semoga saja memang Laras yang menulis kalimat ini, jantungku berdebar kencang membayangkannya. Kalau benar demikian, berarti selama ini kami konyol sekali. Ternyata kami berdua saling menyukai, tapi tak berani mengungkapkan satu sama lain. Ah, tubuhku jadi gemetar karena ilusi yang kubuat sendiri.

Sore berganti malam, dan malam berganti tengah malam, aku jadi tidak bisa tidur karena teringat terus pada kalimat pengakuan itu. Akhirnya untuk membuat perasaanku tenang, aku memutuskan bahwa besok pagi aku harus mengunjungi orang-orang yang kucurigai sebagai pembuat tulisan itu dan meminta mereka menunjukkan contoh tulisan mereka, lalu aku akan mencocokkannya. Ibaratnya, aku jadi seperti pangeran yang sedang mencari Cinderella. Bedanya kalau Cinderella meninggalkan sebuah sepatu kaca, maka pengagum rahasiaku ini meninggalkan sebuah kalimat yang misterius.

Esoknya pukul sembilan pagi, rumah pertama yang aku datangi adalah rumah Ambarwati, bendahara kelasku. Aku memang cukup dekat dengannya di kelas, bahkan sempat tersebar gosip kalau kami saling menyukai, walaupun aku tahu gosip itu cuma sekadar lelucon. Oleh karena itu mungkin saja kan kalau yang menulis pesan misterius di baju seragamku itu adalah Ambar? Memang sih, Ambar adalah wanita yang cantik dan menarik, wajahnya imut dan senyumnya manis, otaknya juga cerdas. Sayangnya, ia adalah perempuan yang sangat cerewet dan gaya bicaranya kadang-kadang terlalu macho, sehingga di dalam hati aku tak benar-benar berharap kalau ialah penggemar rahasiaku.

Tok tok tok! Aku mengetuk pintu rumah Ambar.

Hanya beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka, kemudian aku dapat melihat Ambar berdiri di hadapanku dengan tatapan heran. Rambutnya dikucir dua, wajahnya bersih tanpa riasan, dan alisnya tertekuk dengan ekspresi yang aneh. Ia memandangiku dari bawah ke atas, kemudian menghela nafas.

“Damar? Ngapain lo kesini pagi-pagi?” tanyanya berlagak cuek.

“Ah galak banget sih, emangnya nggak boleh mampir?” aku berusaha mengucapkan basa-basi agar kedatanganku tak terlihat aneh.

“Tumben lo. Biasanya elo yang kabur melulu dari gue. Mau bayar utang uang kas ya?”

“Eh, iya,” jawabku spontan, “ya gue ngerasa bersalah aja, gue kasihan lo udah banyak nombokin uang kas, kan bahaya kalau sampai hutang dibawa mati.”

“Baguslah kalau udah insyaf. Duduk gih, gue ambil catatannya dulu ya,” Ambar kembali masuk ke dalam rumahnya dan membiarkan aku menunggu di teras.

Tidak lama aku duduk di atas kursi bambu itu, Ambar muncul kembali dan melemparkan sebuah buku kas ke atas meja. Aku sudah terbiasa dengan sifatnya yang seperti itu, makanya aku sudah tidak merasa heran atau tersinggung lagi.

“Utang lo dua puluh lima ribu. Banyak kan? Kalo nggak percaya baca aja di buku itu, lengkap tuh,” ucapnya sambil duduk di hadapanku, kakinya dinaikkan ke atas kursi.

Perlahan-lahan aku membuka buku tebal itu. Jantungku berdebar-debar, nafasku tertahan di tenggorokan. Bagaimana kalau Ambar adalah orangnya? Apa yang akan aku lakukan? Apakah aku akan pura-pura tidak tahu saja? Dengan rasa penasaran yang semakin memuncak, aku membuka secara acak halaman buku itu, sebab aku tahu hampir semua isi buku tersebut merupakan tulisan tangan Ambar.

Aku menghela nafas. Ketika aku melihat tulisan tangan Ambar yang terwujud dalam angka-angka nominal dan daftar nama-nama murid yang menunggak pembayaran, aku yakin bahwa ternyata memang bukan Ambar orang yang menulis pengakuan cinta di baju seragamku. Tulisan Ambar sangat rapi dan bentuk huruf yang ia gunakan juga sangat berbeda dengan gaya tulisan di baju seragamku. Aku merasa lega sekaligus kecewa. Lega karena masih ada kemungkinan bahwa penggemar rahasiaku adalah Laras, dan kecewa karena aku masih harus mencari dan membuktikan lagi.

“Mana uangnya? Uang pas ya,” ucap Ambar sambil menadahkan tangan.

“Duh, Bar. Sori banget, dompet gue ketinggalan, gue baru nyadar nih!” ucapku sambil merogoh-rogoh saku celana, berakting seperti orang yang kebingungan.

“Hah? Parah lo!”

“Maaf ya, gue nanti ke sini lagi deh,” ucapku sambil bangkit berdiri dan beranjak pergi, “Daah Ambar!”

Aku dapat mendengar suara Ambar yang berteriak-teriak protes, tapi aku akan mengurusinya belakangan. Masih banyak teman-teman perempuanku yang lain yang harus aku periksa tulisan tangannya, dan sepertinya aku akan menempatkan Laras sebagai tujuan terakhirku—entah karena aku menikmati proses ini atau karena aku takut dengan kemungkinan terburuk mengenai Laras.

Rumah kedua yang aku datangi adalah rumah Firda. Firda adalah penghuni kelas sebelah yang cukup akrab denganku karena kami sama-sama aktif di ekstrakulikuler seni musik. Ia adalah siswi yang penyendiri dan agak misterius, bahkan sering dianggap sebagai orang aneh oleh siswa-siswi lainnya. Kurasa mungkin saja bila selama ini ia memendam perasaannya terhadapku dan malu untuk mengungkapkan. Ketika aku tiba di rumahnya, ia sedang menyiram tanaman di halaman. Ia tersenyum lemah padaku, lalu segera menyuruhku masuk dan duduk di teras. Tak lama kemudian, ia menghampiriku sambil mengelap tangannya yang sedikit basah, menatapku heran tanpa berkata apa-apa.

“Lagi sibuk ya Fir?” tanyaku, basa-basi.

“Nggak kok. Aku lagi nyiram tanaman,” jawabnya pelan.

“Oh…, hmmm…, begini Fir,” aku bingung harus berkata apa, alasan apa yang harus aku buat untuk bisa melihat tulisan tangannya?

“Ada apa ya?” tanyanya sambil memalingkan wajah. Ia seperti tersipu malu, jangan-jangan dialah orangnya? Ataukah aku cuma sedang mengalami ilusi?

“Aku… aku mau minta tulisin lirik lagu… hmmm… Indonesia Pusaka,” ujarku mengutarakan alasan yang terdengar sangat ganjil.

“Hah? Buat apa?” tanyanya.

“Ya… ya buat diresapi aja. Aku kebetulan lupa sama lirik lagunya, kan malu aja sebagai pemuda Indonesia kalau nggak hapal lagu-lagu nasional,” jawabku sekenanya. Sejujurnya aku ingin muntah mendengar perkataanku sendiri.

Firda kembali menatapku, kali ini lebih dalam, lebih heran, bahkan tanpa sadar mulutnya sampai menganga mendengar perkataanku tadi. Kemudian ia memincingkan matanya dan meletakkan dua jari di dagu. Apa dia curiga ya?

“Jangan-jangan….,” ia menarik nafas, “jangan-jangan kamu jauh-jauh ke sini cuma untuk itu?”

“I… iya.”

“Hmmm…. Kalau begitu aku pinjemin deh bukunya.”

“Jangan Fir, jangan! Kamu tulis tangan aja, soalnya aku males fotokopi dan takut hilang kalau minjam buku kamu.”

Ia menatapku dengan wajah yang semakin aneh, satu alisnya terangkat ke atas, mirip pegulat The Rock yang sering kutonton waktu SMP dulu. Setelah beberapa detik, akhirnya ia masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil kertas dan pulpen.

“Nih, udah aku tulis, pakai tangan,” ia memberikan aku selembar kertas berisi lirik lagu Indonesia Pusaka dengan wajah yang datar.

Aku segera memperhatikan huruf demi huruf yang ada di atas kertas itu dan membandingkannya dengan tulisan yang ada di baju seragamku. Ternyata sama sekali tidak mirip, tulisan Firda lebih rapat-rapat dan miring ke kanan. Untunglah, ternyata Firda bukan penggemar rahasiaku. Tidak salah lagi, pasti Laras, pasti Laras.

“Makasih ya Fir, aku benar-benar lega sekarang,” ucapku sambil menghela nafas, “kalau gitu aku pulang dulu.”

Aku segera beranjak pergi dari teras rumah Firda dan memikirkan ke rumah siapa tujuanku selanjutnya. Ketika aku melewati pintu pagar rumahnya, Firda tiba-tiba saja memanggilku dengan setengah berteriak. Ada apa ya? Jantungku berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

“Damar…,”

“Ada apa Fir?”

“Kamu sadar nggak sih?”

“Sadar apa? Maksud kamu?”

Jantungku berdetak semakin cepat. Firda menundukkan pandangannya.

“Kamu tuh… sebenernya….”

“Apa?”

“…agak-agak aneh.”

Merasa tersinggung karena disebut aneh oleh orang aneh, aku segera meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi. Aku tidak mau buang-buang waktu, aku masih harus mengunjungi banyak teman perempuan hari ini. Dengan berbagai alasan konyol dan (memang) aneh, aku berhasil mendatangi rumah Rianda, Surtina, Eka, Azizah, Vita, dan Kenni, dan juga berhasil melihat tulisan tangan mereka. Namun tak ada satupun tulisan tangan mereka yang benar-benar mirip dengan tulisan pengakuan yang ada di baju seragamku. Alih-alih kecewa, aku justru semakin senang dan optimis. Pengagum rahasiaku adalah Laras, tidak salah lagi. Kalau memang iya, apa yang akan aku lakukan ya? Ah, sepertinya gampang, tinggal mengatakan I love you too.

Sekarang aku sudah berada di depan rumah Laras, jantungku berdegup cepat dan kakiku terasa lemas. Aku mulai dengan menekan bel, menghela nafas dalam, lalu menekan bel lagi. Sekitar dua menit kemudian, pintu itu terbuka perlahan-lahan, dan seorang laki-laki berkumis muncul dari baliknya.

“Cari siapa ya?” tanya laki-laki itu. Sepertinya ayahnya Laras.

“Laras-nya ada, Pak?” tanyaku.

“Oh ada, tunggu sebentar ya. Silakan duduk dulu.”

Sambil menunggu Laras, aku duduk di sebuah sofa empuk di ruang tamu. Nafasku mulai terasa tak beraturan, aku benar-benar gugup, gugup karena sedang mempersiapkan kemungkinan terbaik dan juga kemungkinan terburuk. Kalau seandainya bukan Laras, aku tak tahu harus bagaimana, mungkin aku tidak akan meneruskan pencarian ini. Tapi aku harus berpikir positif, jadi aku tak henti-hentinya berdoa.

“Hey, tumben ke sini. Ada apa nih?” suara merdu seorang perempuan tiba-tiba terdengar, menggelitik telingaku.

Aku memperhatikan wajahnya, perempuan yang selama ini sering kubawa ke dalam mimpi kini sedang berjalan menghampiriku. Tak pernah kusangka aku akan punya keberanian untuk datang seorang diri ke rumahnya, biasanya di sekolah pun aku masih sering gugup kalau mengobrol dengannya. Pikiran-pikiran di kepalaku seperti berhamburan dengan kacau ketika Laras duduk di hadapanku sambil meletakkan dua cangkir teh hangat.

“Iya, aku… cuma mampir aja kok. Kebetulan lewat sini tadi,” ucapku.

“Oh ya? Wah, kok kamu tau rumahku?” tanyanya.

Aku tidak tahu alasan apa yang harus aku pakai kali ini. Kreativitas—atau lebih tepatnya kekonyolanku—tiba-tiba saja tidak berfungsi. Apa yang harus aku katakan agar aku dapat melihat tulisan tangan Laras? Pinjam buku? Minta tanda tangan? Bagaimana aku dapat memastikannya? Mungkin aku memang kehabisan ide, mungkin juga aku sedang ketakutan, yang manapun di antara keduanya, yang jelas sekarang aku tak sanggup berkata apa-apa.

“Mar? Damar? Kok diem?” tanya Laras sambil memandangi wajahku.

Sedikit terkejut karena suaranya memecah lamunanku, aku secara spontan menatap wajahnya dan mulai tersenyum. Senyum yang aneh dan bodoh. Setelah itu aku menunduk lagi, aku sedang mencari alasan, alasan untuk membuktikan bahwa dialah orang yang mengagumiku secara diam-diam, bukan orang lain.

“Kamu kenapa?” tanyanya lagi.

Aku hanya diam, lalu tersenyum.

“Kok aneh gitu sih?” ia memandangiku dengan heran.

Aku menyerah. Hari ini sudah dua orang yang mengatakan bahwa aku aneh, mungkin memang benar kalau aku ini aneh, aku bahkan tak menyadari apa alasanku melakukan semua ini. Mungkin sejak awal yang kuinginkan memang hanya Laras, tidak ada hubungannya dengan siapa yang menulis pengakuan cinta di baju seragamku itu. Pencarian dan penyelidikan ini, sepertinya hanyalah omong kosong, hanyalah kamuflase yang kuciptakan agar aku bisa sampai di sini, di ruang tamu rumah perempuan yang aku sukai dan berbicara jujur kepadanya, dari hati ke hati. Kalau memang begitu, maka semua ini tak boleh menjadi sia-sia, misi ini harus aku selesaikan sekarang juga, tak peduli seaneh apapun itu.

Kata demi kata meluncur dari mulutku, mengungkapkan hal-hal yang tadinya terlalu konyol untuk aku akui. Dimulai sejak pertama kali aku mengenalnya, lalu ketika aku berusaha keras mencari tahu tentang dia, percakapan-percakapan yang tanpa sepengetahuannya kumulai dengan susah payah, semua itu aku ceritakan layaknya seorang pendongeng. Semakin banyak kata-kata yang keluar, semakin lega rasanya, semakin ringan. Aku juga tak pernah lepas memperhatikan ekspresi Laras, wajahnya yang kaget mendengar pengakuanku, lalu ketika ia malu-malu menundukkan wajah, kemudian ketika ia tersenyum. Pada akhirnya aku juga tersenyum sambil menahan diri untuk tidak melonjak-lonjak kegirangan, semua ini terasa seperti mimpi. Ternyata selama ini ia juga menyukaiku.

“Oh iya, aku baru inget, kemarin aku nggak jadi tanda tangan di baju seragam kamu, soalnya waktu itu spidolnya habis. Gimana kalau tanda tanganku nyusul aja?” ucapnya ketika aku sedang pamit untuk pulang.

“Nggak apa-apa kok, nanti kamu boleh tanda tangan sepuasnya,” jawabku sambil tersenyum. Aku sudah tak peduli lagi dengan tulisan misterius itu sekarang, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan.

Selama beberapa waktu kemudian, hubunganku dengan Laras berjalan dengan baik. Kami semakin dekat dan saling mengenal lebih jauh dari sebelumnya. Tentu saja aku sangat bersyukur dengan semua ini dan tidak pernah melupakan peristiwa penyelidikan tulisan misterius itu. Aku memang tidak menemukan siapa orang yang menulis pengakuan tersebut, namun bagiku sudah cukup karena aku sudah menemukan Laras. Setidaknya begitulah yang aku pikirkan, hingga hari pertama aku masuk kuliah.

Hari itu adalah masa orientasi, aku seperti halnya mahasiswa-mahasiswa baru lainnya diperintahkan untuk memakai pakaian yang aneh dan konyol oleh para senior. Setelah itu kami dikumpulkan berkelompok-kelompok di sebuah ruangan besar berdasarkan jurusan kami—Laras tidak bersamaku, ia bahkan masuk ke universitas yang berbeda di luar kota. Saat itu, seorang senior meminta kami untuk menuliskan nama dan sekolah asal kami di selembar kertas yang diestafetkan. Ketika kertas itu sampai di tanganku, aku membaca tulisan-tulisan sebelumnya, dan ternyata aku menemukan satu orang yang berasal dari sekolah yang sama denganku. Aku baca namanya, aku perhatikan tulisannya, dan saat itu juga aku teringat. Tulisan ini benar-benar mirip dengan tulisan misterius yang ada di seragam SMA-ku. Aku segera bangkit berdiri dan menoleh ke belakang, mencari-cari orang yang menulis tulisan ini. Jantungku berdebar kencang, rasa penasaran yang telah lama hilang kini menjalar kembali ke seluruh tubuh.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).