Virzin 2: Bukan Film Porno, Sih….9 min read

Cerita ini adalah parodi dari film Virgin 2

1

Seorang petugas kebersihan yang sedang melaksanakan tugasnya pagi itu dibuat terkejut dengan kehadiran seorang perempuan muda yang tengah tertidur di atas kursi di depan Circle-K Dago Plaza. Ia mengamati gadis itu. Gadis muda yang usianya masih SMA itu memakai topi kupluk warna hijau army, jaket abu-abu, kaos ketat hijau cerah yang memperlihatkan belahan dada, serta celana jeans pendek. Si petugas kebersihan tidak terlalu heran dengan cara berpakaian seperti itu, sebab anak-anak gaul kota Bandung yang sering hang out di tempat ini memang seringkali mengenakan pakaian yang mengundang hasrat laki-laki, bahkan banyak yang lebih vulgar lagi.

“Mbak… Mbak…,” ucapnya berusaha membangunkan.

Si gadis muda yang sebenarnya bernama Tina itu kemudian menggeliat bangun dan meregangkan tangannya. Sinar matahari pagi yang begitu cerah memaksa matanya untuk terbuka lebih lebar, meskipun masih lengket karena belekan. Ia ingat, semalam ia telah diusir dari rumah oleh ibunya sendiri karena suatu kesalahpahaman yang amat fatal. Sebenarnya ia telah berusaha menelepon teman-temannya, namun tak satupun yang bisa memberikan tempat menginap dalam kondisi mendadak seperti itu. Setelah semalaman berkeliling Kota Bandung dengan pakaian mini—yang entah kenapa ia tidak merasa kedinginan—ia akhirnya tertidur di depan minimarket ini.

Merasa perutnya keroncongan karena belum sarapan, ia pun masuk ke dalam minimarket Circle-K di hadapannya, sebuah minimarket dua puluh empat jam yang oleh anak-anak gaul tunawisma Kota Bandung sering dijadikan ikon pergaulan mereka. Ia mengambil beberapa minuman ringan dan beberapa makanan ringan seharga lima puluh ribu rupiah, lalu membayarnya di kasir. Memang, lima puluh ribu rupiah adalah nominal yang sangat luar biasa bagi harga sarapan seorang gadis muda yang baru saja diusir dari rumah, tapi siapa yang peduli, mungkin Tina memang seorang gadis muda yang kaya raya.

Tina menyantap sarapannya itu sambil duduk di anak tangga Dago Plaza, meskipun di dekatnya ada tempat duduk, tapi ia merasa lebih nyaman duduk di atas anak tangga. Ketika sedang asyik menikmati sarapan, ia secara tidak sengaja melihat seorang om-om di dalam sebuah mobil yang tengah diparkir, yang sedang memandanginya dengan tatapan yang aneh. Tina merasa penasaran dengan ekspresi om-om itu, maka ia pun berjalan mendekat secara perlahan-lahan. Mata om-om itu memandangi tubuh Tina dengan lekat, tak sedetikpun pandangannya lepas, sementara nafasnya tampak terengah-engah dan ada raut birahi pada wajahnya. Tina tiba-tiba saja merasa jijik (dan sedikit ge-er) membayangkan apa yang sedang dilakukan om-om itu di dalam mobil: jangan-jangan om-om itu sedang menjadikan dirinya sebagai objek pelampiasan nafsu syahwat. Ketika Tina berada tepat di depan jendela mobil, tiba-tiba saja om-om itu menyodorkannya selembar uang lima puluh ribu rupiah lewat sela-sela kaca mobil yang terbuka. Tina merasa heran, mengapa ia diberi uang? Jangan-jangan dugaannya tadi benar?

“Ada kembaliannya nggak?” tanya om-om itu.

“Hah? Kembalian?” Tina semakin bingung.

“Lho? Kamu bukannya tukang parkir?” ucap om-om itu sambil menyemprotkan obat asma ke dalam mulutnya sendiri.

***

2

Kenny, 16 tahun
Broken Home
Coba bunuh diri
menjadi vokalis black metal
Pita suara rusak

Tina mendekati Kenny yang sedang duduk di anak tangga Dago Plaza sambil mendengarkan lagu melalui headphone kesayangannya. Kenny adalah teman sebayanya yang cukup akrab dan sering mengajaknya pergi menjauh dari kebisingan gaya hidup metropolitan dengan cara hang out di kuburan.

“Kenny!” panggil Tina sambil duduk di sampingnya.

Kenny yang baru saja menyadari keberadaan Tina langsung melepaskan headphone-nya agar dapat mendengar saura Tina dengan lebih baik.

“Gue lagi bete nih,” gumam Tina sambil membuka tutup botol air minumnya.

Kenny yang merupakan seorang tunawicara, langsung mengambil selembar kertas kecil dan sebuah pulpen dari dalam tasnya. Untuk bisa berkomunikasi dengan Tina, ia memang harus menggunakan bahasa tulisan, tapi untungnya Tina selalu memahami keterbatasan sahabatnya itu sehingga ia mau menunggu cukup lama saat Kenny menuliskan perkataannya. Setelah selesai menulis, ia pun memperlihatkan kertas itu pada Tina.

KENAPA?

Begitulah isi tulisan pada kertas. Tina membacanya dan kemudian menjawab pertanyaan itu.

“Nyokap ngusir gue dari rumah.”

Dengan ekspresi heran dan penasaran, Kenny merasa ingin tahu masalah yang menyebabkan Tina diusir dari rumahnya, dan ia merasa perlu bertanya lagi. Namun ia bukannya menulis tulisan baru di kertas itu, ia malah menyodorkan kertas yang sama lagi.

KENAPA?

Tina membaca tulisan itu lagi, lalu mengerutkan keningnya.

“Dia nggak percaya sama gue,” jawab Tina.

Merasa jawaban Tina belum memuaskan rasa ingin tahunya, ia pun kembali ingin bertanya. Bagaimanapun, Tina adalah sahabatnya, dan ia ingin meringankan beban masalah apapun yang dimiliki Tina. Maka Kenny menyodorkan kertas yang sama lagi, tanpa menambahkan tulisan apa-apa.

KENAPA?

“Karena gue hampir diperkosa, sama pacarnya nyokap gue,” ujar Tina sambil menghela nafas.

Kenny menyodorkan kertas itu lagi.

KENAPA?

Tina menatap wajah Kenny dalam-dalam.

“Lo lagi ngirit pulpen ya, Ken?” tanya Tina.

Kenny mengangguk.

***

3

“Kita mau ngapain lagi sih?” tanya Tina pada Stefi yang mengajaknya pergi ke Dago Plaza malam itu (entah mengapa seolah-olah di Bandung tidak ada tempat nongkrong yang lain).

“Kerja,” jawab Stefi singkat.

Tina memang sudah dua malam ini menginap di rumah Stefi semenjak diusir oleh ibunya sendiri. Pada malam pertama menginap di rumah Stefi, ia sempat menyaksikan Stefi bercinta dengan seorang om-om yang tidak dikenal, dan kalau mengingat kejadian itu ia pun paham bahwa “kerja” yang dimaksud Stefi tentunya adalah dalam pengertian yang negatif. Tina merinding memikirkan kemungkinan itu.

“Lo malem-malem gini pake celana pendek banget. Gue aja yang jablay celananya nggak sependek itu,” gumam Stefi. Tina tidak menanggapi perkataan Stefi dan tetap memasang wajah inosens.

“Eh, tuh!” ujar Stefi sambil menunjuk ke arah seorang lelaki yang sedang menghisap shisha.

Hanya dalam beberapa menit kemudian, mereka pun sudah dalam perjalan ke tempat parkir bersama laki-laki itu. Stefi menyuruh Tina untuk menunggu di balik dinding sementara ia kemudian masuk ke dalam sebuah mobil sedan bersama laki-laki tadi. Setelah menunggu beberapa menit, Tina diam-diam mengintip ke arah mobil tempat Stefi berada. Samar-samar ia dapat melihat wajah dan tangan Stefi yang menempel pada kaca mobil, wajah Stefi tampak terengah-engah dan suara desahan dapat terdengar pelan, hal itu mengingatkan dia pada film Titanic. Jantung Tina berdebar-debar, ternyata benar dugaannya selama ini bahwa Stefi adalah seorang pelacur.

Sesaat setelah Stefi kembali menghampirinya, Tina bertanya dengan perasaan enggan.

“Tadi di dalam mobil ngapain?”

“Oh, tadi? Itu, kerokan,” jawab Stefi singkat.

“Kerokan?”

“Iya, tadi kan gue minta dikerokin sama om-om itu, soalnya semenjak lo nginep di rumah gue, gue tidur di luar terus, jadinya masuk angin,” jawab Stefi sambil memberikan uang lima puluh ribu rupiah dan segera mengajaknya pergi dari tempat itu.

“Gue lagi dibegoin, atau emang pikiran gue yang ngeres ya?” gumam Tina dalam hatinya.

***

4

“Ngapain lo di sini? Jual diri?” tanya Nadya pada Tina ketika tanpa sengaja mereka bertemu di pinggir rel kereta api.

“Nggak,” jawab Tania dengan suara yang gemetar.

“Kalau mau jual diri bukan di sini tempatnya. Sana, di Saritem aja,” ucap Nadya ketus.

“Gue nggak jual diri.”

“Ngapain kalo gitu?”

“Ceritanya panjang….”

“Gue punya banyak waktu.”

Sesaat mereka terdiam, namun beberapa detik kemudian Tina mulai membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Nadya.

“Gue diusir dari rumah. Gue diperkosa temennya temen gue, trus gue dijual,” air matanya mulai menggenang, “ Sekarang gue nggak tau mesti pulang kemana.”

“Katanya ceritanya panjang?” ujar Nadya.

“Ya, ya ga panjang-panjang amat juga sih….”

“Ancur dong hidup lo?”

“Emang….”

“Emang dasar ya dunia kita ini udah faktap,” ujar Nadya sambil pandangannya menerawang ke arah kegelapan malam.

“Faktap?” tanya Tina heran.

“Iya, faktap.”

“Hmmm…. Faktap?”

“Fucked up,” eja Nadya.

“Ooo… kirain apa.”

Nadya terdiam, kemudian mereka berdua menghela nafas lelah. Lelah karena cobaan kehidupan yang terus melanda mereka.

“Tadi kenapa? Kok muntahnya banyak banget? Sakit perut ya?”

“Wo.. wo… wo…, santai….” Ucap Nadya memotong deretan pertanyaan Tina.

“Santai?”

“Iya, santai,” kemudian Nadya meniru suara Rhoma Irama, “Shantai….”

“Sori…,” gumam Tina pelan, merasa bersalah karena telah memberondong orang yang baru dikenalnya itu dengan sederetan pertanyaan pribadi.

“Panjang ceritanya…,” ujar Nadya.

“Gue punya banyak waktu,” ucap Tina dengan wajah polosnya.

“Gue bunting!” jawab Nadya ketus.

“Katanya ceritanya panjang?”

“Nggak panjang-panjang amat juga sih….”

“Ancur dong hidup lo?”

Mereka terdiam sesaat.

“Anjrit! Lo nggak kreatip banget sih! Ngulang-ngulang dialog segala, enek tau dengernya!” teriak Nadya sambil mendorong Tina dan menamparnya bolak-balik.

***

5

Baru saja Nadya dan Tina menjual diri mereka pada om-om demi mendapatkan uang untuk menebus biaya pengobatan teman mereka. Meskipun di antara mereka sudah tidak ada yang masih virgin (dan secara aneh film tentang mereka diberi judul Virgin 2), namun perasaan tertekan dan tenodai terus menghinggapi pikiran mereka, sehingga akhirnya mereka pun mandi bersama. Dalam satu bak yang sama mereka berendam, diselimuti busa-busa sabun yang menghalangi tubuh mulus mereka dari sorotan kamera.

“Habis ini… kita ke Jakarta,” gumam Nadya pelan.

“Bukannya kita sekarang lagi di Jakarta?” tanya Tina polos.

“Di Bandung, Bego. Lo nggak nyadar dari kemarin nongkrong di Dago Plaza?”

“Tapi kok, kalau emang kita di Bandung, nggak ada satu pun tokoh yang berlogat Sunda, semuanya berlogat Betawi.”

“Mana gue tau, bukan gue pembuat skenarionya.”

“Trus, kenapa harus ke Jakarta?” tanya Tina lagi.

“…langit di Jakarta lebih biru,” jawab Nadya sambil menunduk.

“Puitis banget….,” jawab Tina tanpa ekspresi, “tapi nggak logis banget. Di Jakarta kan banyak polusi, nggak mungkin langitnya lebih biru.”

“Sadefakap….”

“Di Jakarta kita ngapain?”

“Melacur lagi lah…. Kabarnya bayarannya lebih mahal,” jawab Nadya lesu.

“Baidewey, kaki lo ngapain sih? Kok ngelus-ngelus punya gue melulu? Jangan macem-macem ah!” ujar Tina sambil melihat ke arah kaki Nadya yang tertutup busa sabun.

“Enak aja! Lo kira gue lesbi?”

“Bukannya lo emang lesbi?”

“Gue punya cowok! Dan gue hamil! Masa lo lupa?”

“Tapi… lo kan waktu itu ciuman ama temen lo yang cewek.”

“I… itu kan…, ciuman persahabatan….”

***

6

Kira-kira seminggu setelah adegan terakhir di ending film Virgin 2, alkisah Tina kembali mejalani hidup yang normal dan berbaikan dengan ibunya. Pada suatu pagi ia datang ke Circle K untuk sarapan seharga lima puluh ribu seperti biasanya. Ketika Tina bermaksud membayar belanjaannya ke kasir, tiba-tiba saja sebuah musik bernada ceria terdengar dari speaker, lalu si penjaga kasir menembakkan sebuah confetti ke arah Tina.

“Selamaaaaat! Anda adalah Customer of The Year kami! Terima kasih telah menjadi pelanggan setia CK dalam setiap detik kehidupan Anda…. Saat Anda sedang senang, Anda belanja di sini, saat Anda sedang kesusahan karena habis diperkosa dua orang cowok hidung belang berturut-turut Anda tetap belanja di sini, bahkan ketika Anda bersedih karena harus menjual diri untuk membayar hutang teman Anda, Anda masih saja belanja di sini. Sebagai bentuk penghargaan kami terhadap kesetiaan Anda pada CK, kami akan memberikan voucher belanja seharga lima juta rupiah untuk berbelanja di semua CK di Bandung selama satu tahun ke depan!”

Tina dengan wajah polosnya perlahan-lahan memperlihatkan senyum yang merekah, senyum tulus kegembiraan yang baru pertama kali ia tunjukkan kembali semenjak keperawanannya direnggut Yama.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).