Mereka Bilang Saya Zombi16 min read

Kevin dan Arya buru-buru masuk ke dalam rumah, mereka segera mengunci pintu dan menghalanginya dengan kursi dan meja. Untuk ukuran orang yang habis dikejar zombi, mereka sama sekali tidak terlihat ngos-ngosan, namun tetap saja jantung mereka berdebar kencang.

“Gue bilang juga apa, Ar, teori paradoks zombi gue bener kan?” ucap Kevin sambil tersenyum bangga.

“Iya deh, gue akui kalau lo emang temen gue yang paling cerdas, bahkan di saat kota ini lagi diserbu pasukan zombi, pemerintahan kolaps, militer chaos, dan temen-temen kita jadi makhluk dekil pemangsa otak,” ujar Arya.

Teori paradoks zombi yang dicetuskan oleh Kevin berkat hobinya menonton film horor sebenarnya terdiri dari beberapa poin, namun hanya salah satu dari poin-poin tersebut yang telah menyelamatkan mereka hari ini. Kevin menegaskan bahwa meski zombi-zombi bergerak dengan sangat lambat, namun apabila kita berusaha berlari dengan sekencang-kencangnya, kita justru akan tertangkap oleh mereka. Itu terdengar sangat paradoks. Bagaimana mungkin zombi yang gerakannya lebih lambat bisa menangkap manusia yang gerakannya lebih cepat? Mudah saja, menurut Kevin, ketika manusia berlari dengan percepatan yang tinggi, energinya akan cepat terkuras, dan ketika energinya mendekati nol, maka manusia itu akan kelelahan dan kecepatan larinya berkurang drastis. Di sisi lain, para zombi, meskipun gerakannya sangat lambat, tapi mereka bergerak dengan kecepatan yang konstan, sehingga energi mereka tidak cepat terkuras. Dengan perhitungan sederhana dapat dibuktikan bahwa pada akhirnya manusia yang berlari paling cepat akan ditangkap oleh zombi yang berjalan paling lambat.

Kevin dan Arya dapat selamat dari kejaran zombi di luar sana karena mereka berlari kecil seperti jogging di depan para zombi yang merangkak pelan. Mungkin agak sulit mempercayai keabsahan teori ini, tapi Arya tak mau tahu, yang penting ia bisa pulang ke rumahnya dengan selamat.

“Kenapa ya, orang-orang bisa berubah jadi zombi?” tanya Arya sambil duduk di sofa ruang tamunya sambil berusaha menenangkan diri.

“Hmm…, kalau berdasarkan pengalaman gue sih….”

“Pengalaman? Lo udah pernah diserang zombi sebelumnya?” potong Arya.

“Ya, sering. Resident Evil satu sampai lima gue udah tamat. Left 4 Dead, House of The Dead, trus juga….”

“Maksud gue, di dunia nyata.”

“Oh.”

“Aaaaaa…!”

Tiba-tiba suara jeritan perempuan memotong ucapan Kevin. Suara jeritan yang melengking tinggi itu berasal dari lantai dua. Mereka terdiam, lalu saling pandang satu sama lain. Ada yang tidak beres dengan suara jeritan itu, ada sesuatu yang memilukan dan membuat mereka merinding.

“Siapa Ar?” tanya Kevin pelan.

“Nggak tau. Setahu gue di sini nggak ada orang lain selain kita,” jawab Arya.

“Aaaaaa…!”

Suara jeritan itu terdengar lagi, kali ini terdengar lebih dekat, lebih nyaring. Lalu suara langkah kaki yang tak beraturan terdengar dari arah tangga di seberang ruang tamu. Arya dan Kevin mundur selangkah, lalu mencari-cari sesuatu yang dapat digunakan sebagai senjata. Gagang sapu dan asbak, cuma itu yang bisa mereka temukan. Suara langkah itu semakin dekat, menuruni tangga dengan perlahan. Kevin melangkah maju dengan hati-hati ke dekat dinding di sebelah tangga, sambil mengangkat gagang sapu dan bersiap mengayunkannya. Kalau itu zombi, maka ia harus memukul kepalanya, atau setidaknya mencolok matanya.

Kevin melihat bayangan sosok itu lewat di dekatnya, namun sebelum ia sempat mengayunkan sapu yang ada di tangannya, Arya berteriak mencegah.

“Itu bini gue!” teriak Arya.

Kevin melangkah ke samping dan mandapati seorang wanita berdaster jingga berdiri dengan tatapan lesu. Melinda, nama wanita itu, seorang wanita yang sebenarnya sudah dikenal oleh Kevin sejak lama. Kevin ingin bernafas lega, namun ia kembali menahan nafas ketika menyadari keadaan Melinda. Rambut panjang perempuan itu tampak berantakan, sebagian rambutnya bahkan terlihat rontok di wajahnya. Ada rona hitam di bawah matanya, seperti orang yang kekurangan tidur. Namun terlebih lagi, sebuah garis merah panjang terlihat melintang di lengannya, seperti bekas luka cakaran yang baru saja dibersihkan. Kevin menelan ludah, ia punya firasat buruk tentang Melinda.

“Ar, lo bilang nggak ada siapa-siapa di sini?” ujar Kevin.

Melinda menoleh ke arah Arya dengan gerakan yang pelan, “Sayang, kok kamu bisa-bisanya ngelupain aku?”

“Bukan gitu, Sayang. Aku pikir kamu lagi arisan di rumah Bu RT,” Arya resah, langsung mendekati istrinya.

“Kan aku udah pulang dari tadi, Sayang,” ucap Melinda dengan suara yang lesu dan tatapan kosong.

“Ya, tapi kamu ngomongnya nggak usah kaya di film Suzanna gitu dong. Kamu kenapa sih?” tanya Arya.

“Nggak apa-apa kok, aku cuma kangen sama kamu,” ujar Melinda, lalu jatuh ke pelukan suaminya.

“Udah deh, udah. Mentang-mentang kalian pengantin baru bukan berarti kalian mesti mesra-mesraan di saat kaya gini kan?” keluh Kevin sambil melempar sapunya.

Suara raungan zombi di kejauhan terdengar samar, sementara ketiga manusia itu berusaha menggenggam kenyataan bahwa kehidupan mereka telah berubah drastis. Keadaan di luar rumah sudah seperti neraka, para tetangga menyebalkan yang biasanya suka menggerutu tak jelas, kini semakin menyebalkan karena tetap suka menggerutu, namun sambil berjalan sempoyongan dan memangsa manusia. Belum lagi dengan isu yang mengabarkan bahwa pihak militer yang tersisa akan membumihanguskan kota Jakarta karena tingkat pandemi yang tak bisa ditolerir lagi.

“Eh lo mau minum apa, Vin?” tanya Arya.

“Kopi deh,” jawab Kevin sambil menyalakan televisi.

“Yang, bikinin kopi dong, dua cangkir ya,” ucap Arya pada Melinda.

Melinda hanya mengangguk pelan, lalu langsung berjalan sempoyongan ke arah dapur. Sementara itu penyiar berita di televisi tampak serius membacakan berita berjudul Pidato Presiden Mengenai Wabah Virus Zombi. Kedua pria itu saling berpandangan, kemudian perhatian mereka segera tertuju pada layar kaca. Satu-satunya harapan mereka adalah pertolongan dari pihak pemerintah, dan pidato presiden ini tentu akan sangat menentukan tingkat keselamatan mereka yang tidak terangkut pesawat evakuasi.

Layar televisi memperlihatkan Presiden RI yang sedang berdiri dengan khidmat di podium, mengenakan batik berwarna merah darah dan kantung mata yang hitam, sebagian kelompok oposisi mungkin mulai mempertanyakan apakah ia sudah terinfeksi atau belum. Namun sikapnya yang tenang dan berwibawa meyakinkan Arya dan Kevin bahwa Bapak Presiden masih belum menjadi zombi.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera bagi kita semua. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya cintai dan saya banggakan. Seperti yang kita ketahui bersama melalui media, bahwa wabah virus zombi telah menyebar di Pulau Jawa, terutama di Jakarta. Sehubungan dengan itu, pusat pemerintahan telah dipindahkan sementara ke Palangkaraya, dan sebagian besar masyarakat yang dinyatakan steril juga telah dievakuasi ke tempat yang aman di luar pulau. Meski demikian, saya juga menyadari bahwa ada sebagian rakyat yang tertinggal di Jakarta dan saat ini sedang menjadi incaran para zombi. Oleh karena itu, saya selaku Presiden Republik Indonesia, menyatakan rasa prihatin yang sangat mendalam. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa membimbing bangsa kita keluar dari krisis ini. Wassalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh.”

Keringat dingin mengucur dari tubuh Arya dan Kevin, harapan mereka tiba-tiba saja pupus. Tampaknya tidak ada yang akan menolong mereka keluar dari kota neraka ini. Lebih buruk lagi, mereka tak punya senjata yang dapat digunakan untuk melindungi diri. Dan tepat ketika perasaan mereka menjadi semakin tegang, terdengar suara pintu rumah digedor-gedor dari luar. Tidak, lebih tepatnya dipukul-pukul. Suara pukulan itu bertubi-tubi, dan kedengarannya dilakukan oleh banyak orang. Kevin yang merasa penasaran kemudian berjalan mengendap-endap ke arah jendela di dekat pintu. Ia menyibak sedikit gorden di jendela itu, lalu mengintip. Jantungnya hampir copot, sesosok wajah penuh darah membalas intipannya dari balik jendela. Wajah itu tampak busuk, belatung berkeliaran di sela-sela mata dan hidungnya, sementara urat-uratnya tampak membengkak dan terlihat jelas. Namun wajah itu hanya bergeming, tidak menunjukkan ekspresi apapun. Saat itulah ia sadar bahwa zombi di balik jendela itu tidak bisa melihatnya, tapi mungkin bisa mencium bau tubuhnya. Ia segera mundur dan terjerembab ke lantai.

“Gawat!” bisik Kevin.

“Kita harus pindah ke lantai atas,” balas Arya.

Dengan langkah kaki yang amat perlahan–agar tak menimbulkan suara yang memancing zombi–mereka menaiki anak tangga. Sesekali mereka menoleh ke arah pintu, untuk memastikan bahwa para zombi belum berhasil mendobraknya. Secara naluriah, Kevin menahan nafasnya, seolah hal itu bisa membuatnya menghilang, dan saat itulah ia menabrak sesosok tubuh yang sejak tadi berdiri di puncak tangga.

“Aaaaah!” Kevin teriak, cairan panas hitam menyiram wajahnya.

“Aduh… Ssst! Jangan berisik!” Arya panik.

“Panas tau! Ini gimana sih bini lo, masa gue disiram kopi?” Kevin menatap sosok Melinda yang baru saja ia tabrak.

Arya heran melihat istrinya yang tiba-tiba ada di puncak tangga, “Kamu kok bikin kopinya di atas sih?”

“Soalnya…. kompor di bawah rusak… jadi aku pakai air panas yang di atas…,” jawab Melinda dengan suara yang datar.

Brak! Brak! Suara gebrakan yang sangat kuat memecah percakapan mereka. Kevin dan Arya segera mengintip ke arah pintu utama, dan ternyata benar saja, pintu itu sudah didobrak. Tiga zombi mulai merayap masuk ke dalam ruang tamu. Tubuh mereka penuh darah dan lumpur, sementara wajah mereka luar biasa hancur. Tapi Arya masih ingat siapa mereka. Ada Pak Simon, rentenir kejam yang suka memeras dan punya banyak bodyguard. Arya masih berhutang padanya sepuluh juta rupiah, dan berkat wabah zombi ini sekarang ia tak perlu melunasinya lagi. Syukurlah. Selain itu ada Bu Gifar dan anakperempuannya, Rani. Rani yang diam-diam sering dijadikan objek cuci mata oleh Arya, kini sama sekali tak bisa mencuci mata siapa-siapa, karena matanya sendiri sangat kotor dan dipenuhi belatung. Gadis dua puluh tahun yang semok itu kini seperti daging busuk berjalan.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, mereka bertiga segera naik ke lantai atas, tepatnya ke kamar Arya dan Melinda. Pintu kamar ditutup dan dikunci, lalu lemari pakaian dihimpitkan ke depan pintu. Tempat tidur juga mereka dorong hingga menghalangi lemari pakaian. Setelah itu mereka pun menjauh dari pintu dan mencoba mencari senjata. Kevin mengambil tongkat baseball yang ada di sudut ruangan, sementara Arya mengambil senapan di dalam lemari.

“Senapan?” Kevin heran.

“Iya, kenapa?”

“Kenapa nggak bilang dari tadi lo punya senapan?”

“Gue juga baru inget, dulu pernah ikut berburu sama temennya bokap.”

Kevin menghela nafas kesal, namun kembali memasang tampang serius sambil memperhatikan pintu kamar. Sampai saat ini belum ada suara zombi yang mendekat, tapi kalau sampai zombi-zombi itu berhasil masuk, maka mereka harus mempertahankan diri bagaimanapun caranya. Sementara itu, Melinda tidak menemukan senjata apa-apa. Ia tiba-tiba saja jatuh terduduk di atas lantai, tatapan matanya sayu, dan tubuhnya menggigil. Melihat kondisi istrinya seperti itu, Arya merasa khawatir, ia meletakkan senapannya dan segera membopong Melinda ke atas kasur.

“Woy, kenapa malah deket-deket pintu?” ujar Kevin gusar.

“Bini gue sakit nih kayanya, kasihan kalau tidur di lantai!”

Kevin segera mendekat dan memeriksa keadaan Melinda. Gigi-gigi perempuan itu membuat suara gemeretak yang nyaring, sementara kulitnya semakin pucat dan dingin. Ketika sekali lagi melihat luka bekas cakaran di tangan Melinda, Kevin merasa bahwa ketakutannya mungkin akan menjadi kenyataan. Ia menepuk bahu Arya dan memberinya isyarat untuk berbicara empat mata. Mereka pun membalikkan badan dan pergi ke pojok kamar.

“Kenapa?” tanya Arya.

“Lo nggak kepikiran, hah? Ciri-ciri kaya gitu, menurut gue… bisa aja… bini lo tuh sebentar lagi–“

“Nggak mungkin!”

“Kenapa nggak? Lo liat kan bekas cakaran di tangannya?”

Arya mengangguk. Ia tentu melihat bekas luka itu, namun ia belum sempat menanyakannya. Sekarang ia harus menanyakan Melinda darimana bekas luka itu berasal. Arya membalikkan badan. Namun ia terkejut, tempat tidur itu kosong. Dan sebelum ia sempat memalingkan wajahnya ke tempat lain, ia baru sadar kalau sejak tadi Melinda jongkok di belakangnya.

“Kalian… ngomongin apa… kok mojok… kalian homo ya…?” ucap Melinda sambil menggigil dan seperti akan mati sebentar lagi.

“Sayang, tolong kamu jujur sama aku. Dari mana luka di tangan kamu itu?” Arya membantu istrinya berdiri, lalu merangkulnya ke pinggiran tempat tidur.

“Tadi… waktu aku lagi arisan di rumah Bu RT…. ada ibu-ibu yang nawarin… nawarin MLM… terus mereka berubah jadi zombi. Aku dicakar, tapi aku berhasil kabur dan pulang ke sini…,” ucap Melinda dengan nafas yang lemah.

Jantung Arya serasa berhenti mendengar penjelasan tersebut. Mengapa Melinda baru menceritakan itu sekarang? Ini benar-benar berbahaya. Bukan berbahaya untuknya, ia tak peduli pada keselamatan dirinya sendiri. Bukan pula berbahaya untuk Kevin, apalagi, ia lebih tidak peduli. Ia hanya mengkhawatirkan keselamatan Melinda, istrinya yang baru ia nikahi beberapa bulan yang lalu, dan belum berhasil memberinya keturunan.

“Vin…, gimana ini?” Arya menoleh pada Kevin, wajahnya ikut pucat.

“Sial! Sial, sial! Udah gue duga… semua orang yang berhubungan sama sales MLM pasti berubah jadi zombi!” Kevin semakin panik dan mengacak-acak rambutnya.

“Terus gue mesti gimana?”

Kevin tidak menjawab. Ia mengambil senapan yang tergeletak di lantai, lalu meletakkannya di genggaman tangan Arya. Mata mereka saling beradu. Kevin mengangguk, seolah ia yakin bahwa Arya tahu apa maksudnya, namun Arya menggeleng.

“Jangan gitu, Arya….”

“Gue nggak bisa Vin, dia istri gue sendiri….”

“Gue tahu. Tapi yang penting sekarang adalah keselamatan bersama. Kalau istri lo udah berubah jadi zombi, kita berdua bakal mati.”

Arya menatap wajah istrinya yang sedang menggigil di atas kasur. Wajah itu, wajah perempuan yang selama ini ia cintai, haruskah sekarang ia mencabut nyawa perempuan itu dengan tangannya sendiri? Itu adalah tindakan paling egois yang bisa ia bayangkan. Teringat kisah percintaan mereka semasa kuliah dulu. Makan siang bersama di kantin, nonton hemat saat sedang bokek, atau duduk-duduk di taman sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Ia juga ingat bagaimana ia melamar Melinda. Ia menyusun lampu-lampu natal pada sebuah papan besar di tengah hutan, lampu kelap-kelip itu membentuk tulisan “Would you marry me?”. Waktu itu Melinda langsung menjawab ya tanpa berpikir ulang, lalu memeluknya dengan mesra. Saat itu tak pernah terbayangkan bahwa salah satu dari mereka akan berubah menjadi zombi. Lalu acara pernkahan pun digelar, dan resmilah mereka menjadi suami istri. Ia masih ingat bagaimana janji mereka bahwa mereka akan selalu saling setia, selamanya, hingga maut memisahkan.

Ya, hingga maut memisahkan. Maut yang memisahkan. Bukan virus zombi sialan, juga bukan saran Kevin tolol yang ingin selamat sendirian.

Dan tentu, ia masih ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ayah. Orangtua dan mertuanya pernah berkata bahwa mereka ingin punya cucu pada tahun depan. Dan walaupun orang-orang tua itu sekarang sudah menjadi bangkai hidup busuk, tapi janji itu tetap hidup di dalam sanubari Arya. Ia ingin melihat anak yang lucu dan menggemaskan yang berasal dari buah cintanya dan Melinda. Usai membayangkan semua itu, ia menarik nafas dalam, lalu membulatkan tekad.

“Pertama, gue nggak bisa ngelakuin ini karena Melinda istri gue, dan gue cinta sama dia. Kedua, gue belum punya anak, dan gue masih ingin ngerasain jadi seorang ayah,” ucap Arya pada Kevin.

“Ya tapi kan….”

Arya menggengam kedua pundak Kevin dengan tangannya, lalu menatap mata temannya itu dalam-dalam, “Jadi gini. Gue punya ide bagus.”

“Ide bagus apa? Selama berkawan sama lo, gue nggak inget pernah denger ide bagus dari lo,” ucap Kevin.

Arya berdeham pelan. “Mumpung bini gue belum berubah jadi zombi…, sekarang gue bakal… menghamili dia. Cuma ini satu-satunya kesempatan gue untuk bisa jadi seorang ayah.”

Kevin melotot, ia tidak percaya dengan ucapan Arya barusan. Dari semua permainan survival horror yang pernah ia mainkan, tak pernah ada penyelesaian masalah yang seperti ini. Seharusnya ini masalah membunuh atau dibunuh, itu saja, bukan menghamili atau dihamili. Ini gila, ini tidak seharusnya terjadi di dalam cerita zombi.

“Lo gila Ar! Meskipun lo sekarang bisa ngehamilin istri lo, lo pikir berapa lama dia bakal hamil? Sembilan bulan, Ar! Sembilan bulan! Dan sebelum anak lo lahir, bini lo bakal udah berubah jadi zombi. Apa lo mau anak lo lahir dari rahim seorang zombi? Lagian ya, apa lo pikir ada janin yang bisa hidup di dalam rahim zombi? Yang namanya zombi itu kan organ tubuhnya hancur, mana mungkin bisa mengandung bayi? Pikir dong, Ar!” ucap Kevin menahan emosi.

“Gue nggak tahu Vin, dan nggak ada yang tahu. Tapi gue harus nyoba ini. Ini kesempatan terakhir gue. Dan lagipula, kalaupun emang gue harus berpisah dengan perempuan yang gue cintai ini, gue pengen bercinta dengan dia untuk yang terakhir kalinya. Untuk terakhir kalinya, Vin,” ucap Arya sambil berlinang air mata. Tanpa disadari, Kevin mulai terenyuh. Ia paling tidak tahan kalau ada laki-laki yang menangis.

“Shit!” Kevin mengacak-acak rambutnya lagi, lalu pura-pura membentur-benturkan kepalanya ke dinding, “Oke… lo emang sinting. Terserah lo. Tapi tanggung sendiri kalo nanti pas lo lagi begituan, terus bini lo berubah jadi zombi… terus…,” Kevin merasa mual, dan hampir saja muntah.

“Gue paham. Tenang aja, nggak usah khawatir.”

“Terus, gue harus gimana?”

“Balik badan, tutup mata, tutup kuping. Jangan ngintip.”

Kevin segera membalikkan badan dan menutup kedua telinganya. Ia juga meletakkan senapan di sebelahnya, untuk berjaga-jaga bila seandainya terjadi hal yang tak diinginkan. Samar-samar ia mendengar suara langkah kaki Arya menjauh, lalu naik ke atas tempat tidur, dan mulai membicarakan sesuatu dengan Melinda. Beberapa menit terasa hening, lalu terdengar suara restleting dibuka. Sial, ternyata ia kurang rapat menutup telinganya. Ia tidak boleh sampai mendengar proses pembuahan paling menjijikan yang pernah ia bayangkan. Lalu suara ranjang berderit, ranjang bergoyang. Lalu suara Melinda mendesah…, atau menggigil, atau menggeram, atau meraung, ia sudah tidak peduli lagi. Harusnya sekarang ia mengambil senapan itu dan menembak kedua orang gila di atas ranjang itu. Sialnya, ia tidak bisa. Ia tidak tahu cara menggunakan senjata api selain pistol yang ada di TimeZone.

Lima belas menit berlalu, suara-suara itu akhirnya berhenti. Kevin bernafas lega, lalu sesosok tangan menepuk pundaknya.

“Udah, gue berhasil,” ucap Arya yang masih bertelanjang dada.

“Cepet amat. Lo nggak apa-apa?” tanya Kevin.

“Gue nggak apa-apa, tapi bini gue…, kayanya mulai berubah,” Arya menunjuk ke arah belakang.

Benar saja, di atas ranjang, Melinda sedang menggeliat-geliat, menggelinjang tanpa henti. Matanya melotot dan seperti akan loncat keluar dari rongganya. Tubuhnya yang setengah telanjang telah menghitam, urat-urat tampak menonjol dan menimbulkan pola-pola mengerikan seperti akar pohon. Mulutnya menganga, dan dari mulutnya itu keluar busa serta darah yang menetes-netes. Ia menggeram, meraung seperti monster, seperti zombi pada umumnya.

Kevin segera mengambil senapan dan menyerahkannya pada Arya, “Sekarang nggak ada alasan lagi! Cepetan!”

Arya menggeleng, matanya tampak serius, “Nggak Vin. Gue belum tahu apa hasilnya positif atau nggak. Gue nggak bisa ngebunuh calon bayi gue sendiri.”

Kevin histeris. Sekarang ia bisa sama gilanya dengan Melinda meskipun ia tak terinfeksi. Tanpa peduli apa-apa lagi, ia segera menekan pelatuk senapan itu, dan sebuah peluru melesat kencang ke arah dinding. Kevin dibuat kaget dengan tembakannya sendiri. Melinda yang sudah berubah menjadi zombi juga ikut terkejut, lalu matanya menatap Kevin dengan sangar, sementara darah masih menetes dari hidung dan mulutnya. Ia pun memekik, lalu segera loncat menerjang ke arah Kevin, untungnya Kevin masih sempat melakukan roll samping ke pojok kamar. Kevin dan Arya terbelalak, lalu saling pandang.

“Gila! Ini mustahil, dia bisa loncat! Zombi-zombi di luar sana setahu gue tipe zombi lambat, bukan zombi cepat!” Kevin terengah-engah.

“Siapa dulu suaminya…,” gumam Arya.

Melinda menggeram pelan, kemudian mengambil ancang-ancang seperti dalam lomba lari jarak pendek, sepertinya dia akan menerkam lagi. Kevin membidikkan senapan lagi, kali ini ia tak mau meleset. Arya mencoba menghentikan Kevin dengan merebut senapan, tapi Kevin sudah membulatkan tekad, ia menyikut Arya dan menjauh beberapa langkah.

Dor! Dor! Dor! Tiga kali tembakan keluar dari senapan. Semuanya meleset. Suasana semakin tegang, namun tampaknya tembakan bertubi-tubi itu berhasil membuat Melinda gentar. Ia mundur beberapa langkah, lalu merapat ke dinding di dekat jendela. Kevin menembakkan senapannya sekali lagi, namun hanya mengenai dinding. Melinda semakin gentar, ia langsung loncat menabrak kaca jendela hingga pecah. Di balik jendela itu adalah ruangan kosong yang langsung terhubung ke lantai bawah. Melinda terjun bebas dari jendela itu dan hebatnya bisa mendarat dengan mulus di lantai bawah, gerakannya seperti kera. Arya mengejar Melinda hingga ke jendela, lalu ia melongok ke bawah, berusaha melihat Melinda untuk terakhir kalinya. Melinda berdiri bungkuk di antara ketiga zombi tetangga yang sedang berjalan sempoyongan tak tentu arah. Ia mendongak, menatap sang suami dengan matanya yang hampir copot, lalu ia meraung keras dan berlari keluar dari rumah.

“Sembilan bulan lagi,” ucap Arya sambil terisak, “sembilan bulan lagi gue harus nyari dia. Harus.”

—————–

Ini adalah bagian pertama dari “cerita estafet” tentang zombi di Kemudian.com. Selengkapnya.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).