Kupi dan Lomba Lari6 min read

Kupi adalah seekor anak kura-kura yang pintar dan selalu bersemangat. Anehnya, sore ini ia tiba-tiba saja menjadi begitu murung. Sejak pagi ia terus mengurung diri di dalam tempurung dan tak pernah satu kali pun keluar. Teman-temannya merasa heran dengan perilaku Kupi hari ini, mereka datang dan mengetuk-ngetuk tempurung Kupi serta memanggil namanya. Mendengar kedatangan teman-temannya, Kupi tetap saja tidak mau keluar dari dalam tempurung, ia malah berteriak dari dalam.

“Aku sedang sibuk! Jangan ganggu aku!” teriak Kupi dengan lantang.

Teman-teman Kupi berpikir bahwa Kupi hanya berbohong, sebab kesibukan macam apa yang bisa dilakukan kura-kura di dalam tempurungnya? Semakin sore, semakin banyak teman Kupi yang datang mengajaknya bermain, namun Kupi malah menjadi semakin kesal. Ia pun mengambil kertas dan membuat tulisan menggunakan spidol.

SEDANG SIBUK! JANGAN DIGANGGU!

Begitulah isi tulisan pada kertas itu, Kupi kemudian menempelkan kertas tersebut pada permukaan tempurungnya. Walaupun telah membaca tulisan tersebut, namun teman-teman Kupi tetap tidak percaya. Mereka mengetuk-ngetuk tempurung Kupi, bahkan menggelindingkannya seperti roda hingga Kupi pusing. Kali ini Kupi berusaha untuk tidak acuh dan tetap tidak mau keluar.

Merasa tidak dipedulikan, teman-teman Kupi pun mengadu pada ayahnya Kupi yang bernama Pak Kuku. Mereka menceritakan bahwa Kupi tiba-tiba saja mengurung diri dan tidak mau lagi bermain bersama mereka. Pak Kuku adalah seekor kura-kura tua yang bijaksana, ia selalu dihormati oleh warga desa. Ia mendengarkan penjelasan teman-teman Kupi dengan penuh perhatian. Setelah selesai, ia pun menghampiri tempurung Kupi yang berada di bawah pohon rindang.

Tok! Tok! Tok! Pak Kuku mengetuk tempurung Kupi.

“Bisa baca tulisan tidak?” ucap Kupi dengan suara yang kesal.

“Ini Ayah, Pi.”

Mendengar suara ayahnya, Kupi akhirnya mau keluar juga. Perlahan-lahan kepalanya yang mungil muncul keluar dari lubang di tempurungnya, diikuti dengan keempat kakinya. Kupi terlihat begitu murung, wajahnya pucat dan air mata mengalir di pipinya. Ia hanya menunduk lesu dan tidak mau menatap wajah ayahnya. Apakah Kupi benar-benar sedang sibuk? Atau sedang dirundung masalah?

“Kamu kenapa, Nak? Kalau ada masalah, ceritakan pada Ayah,” ucap Pak Kuku dengan tenang.

“Aku sedih, Ayah. Aku selalu diejek oleh Didi Si Kancil,” jawab Kupi pelan.

“Diejek? Diejek kenapa?” tanya Pak Kuku. Dalam hatinya ia sudah tahu bahwa kancil memang hewan yang suka menipu dan mempermainkan hewan lain.

“Aku selalu kalah dalam lomba lari. Padahal aku sudah berlatih dengan keras setiap hari. Setiap pagi aku berlari mengelilingi hutan sepuluh kali, tapi aku tetap saja kalah dari Didi, padahal dia itu pemalas dan tidak pernah berlatih,” jawab Kupi.

Pak Kuku menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa prihatin dengan masalah yang dialami anaknya, “Jadi kamu merasa sedih karena tidak mampu mengalahkan Didi dalam lomba lari?”

“Iya, Ayah. Ini tidak adil, padahal aku sudah berlatih dengan keras,” ujar Kupi lesu.

Pak Kuku menghela nafas dan duduk di dekat Kupi, ia yakin bahwa Kupi sedang merasa kurang percaya diri pada saat ini, “Anakku, kita kura-kura memang hewan yang gerakannya lamban, karena kita selalu membawa tempurung yang beratnya tak pernah dirasakan oleh hewan lain. Karena itu, kamu tak akan bisa berlari lebih cepat dari seekor kancil.”

“Seandainya aku tidak punya tempurung ini…,” gumam Kupi.

“Kalau kamu tidak punya tempurung, maka kamu bukan kura-kura. Apa kamu tidak bahagia menjadi kura-kura?” tanya Pak Kuku.

“Sepertinya lebih enak menjadi seekor kancil!” jawab Kupi.

Mendengar jawaban anaknya itu, Pak Kuku hanya tersenyum. Ia menoleh sebentar ke arah langit, kemudian kembali menatap wajah Kupi.

“Apakah kamu tahu, bahwa Didi Si Kancil hampir setiap hari dikejar-kejari oleh petani? Bahkan katanya ia sampai dikurung dan dipukuli,” ujar Pak Kuku.

Kupi mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat, “Kalau tidak salah ia pernah bilang begitu.”

“Didi Si Kancil tidak punya tempurung seperti kita. Ia tidak bisa berlindung di dalam sini,” Pak Kuku mengetuk-ngetuk tempurung Kupi, “kalau dikejar petani atau harimau, dia harus berlari, makanya dia harus punya kaki yang panjang dan kuat agar ia bisa selamat.”

Kupi menarik nafas, lalu menghembuskannya, “Ternyata susah juga ya menjadi kancil.”

“Lalu?”

“Tapi aku tidak rela diejek oleh Didi! Aku harus mengalahkan dia dalam lomba lari!” ucap Kupi bersemangat.

“Bagaimana caranya? Bukankah kamu sudah tahu bahwa kancil punya kaki yang kuat dan kamu punya tempurung yang berat?” tanya Pak Kuku menguji.

“Aku punya sebuah ide!” ujar Kupi.

“Coba ceritakan.”

“Aku akan mencari kura-kura lain yang wajahnya mirip denganku, Didi pasti tidak bisa membedakan. Lalu aku akan menyuruh kura-kura itu berjaga di dekat garis finish. Saat Didi sudah hampir sampai, maka kura-kura itu akan berjalan mendahuluinya. Didi pasti akan mengira bahwa akulah yang telah mengalahkannya, padahal aku jauh tertinggal di belakang!” Kupi bercerita dengan penuh semangat.

Mendengar rencana Kupi, Pak Kuku lagi-lagi hanya tersenyum, kemudian ia mengelus-elus kepala anaknya itu sambil merangkulnya.

“Kamu memang kura-kura yang pintar, tidak diragukan lagi. Kamu bahkan lebih cerdik daripada seekor kancil. Tapi apakah menang lomba dengan cara curang seperti itu akan membuat kamu bangga?” tanya Pak Kuku.

Kupi berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya, “Aku pasti akan merasa malu kalau sampai ketahuan. Kalaupun tidak ketahuan, aku tetap merasa malu pada diriku sendiri.”

“Itulah jawaban yang Ayah inginkan. Itu tandanya kamu kura-kura yang cerdas dan jujur. Sekarang apa yang akan kamu lakukan?” tanya Pak Kuku lagi.

“Aku harus mengakui bahwa Didi Si Kancil memang bisa berlari lebih cepat dariku. Tapi ayah, aku tidak ingin diejek terus oleh Didi,” ujar Kupi.

“Anakku, kamu tetap bisa menang dari Didi,” ujar Pak Kuku.

“Bagaimana caranya?” Kupi penasaran.

“Minggu depan akan diadakan lomba menulis puisi di balai desa. Aku dengar Didi akan ikut serta dalam lomba itu. Tapi Ayah tahu, kamu jauh lebih hebat dari Didi dalam membuat puisi, kamu adalah penulis puisi terhebat di desa ini. Ikutilah lomba itu, dan kalahkan Didi, buktikan bahwa kamu lebih hebat!” jawab Pak Kuku dengan penuh semangat.

Mendengar saran dari ayahnya itu, Kupi langsung mengangguk. Sekarang ia mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia bisa menjadi lebih hebat dari Didi tanpa harus berbuat curang dan tetap menjadi dirinya sendiri. Ia pun masuk lagi ke dalam tempurungnya, namun bukan untuk menangis, melainkan untuk mencari ide membuat puisi.

Seminggu kemudian, Didi dan Kupi hadir dalam acara pengumuman pemenang lomba puisi. Juri lomba akhirnya mengumumkan bahwa Kupi adalah juara pertama dalam lomba puisi itu, sementara Didi tidak mendapatkan juara sama sekali. Satu-persatu para penghuni desa mengucapkan selamat kepada Kupi, mereka mengakui kehebatan Kupi dalam membuat puisi. Kupi pun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada ayahnya yang telah memberikan ia dukungan. Meskipun Kupi telah membuktikan dirinya lebih hebat daripada Didi dalam lomba itu, namun ia tidak mengejek Didi, ia malah menyalami Didi dan memberikan semangat. Didi merasa tersanjung dengan perlakuan Kupi itu, sehingga ia merasa bersalah karena selama ini telah mengejek Kupi. Didi berjanji tidak akan mengejek Kupi lagi, ia sadar bahwa setiap hewan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semenjak saat itu, Didi dan Kupi menjadi teman akrab yang saling menghargai.

——————

Cerpen ini diikutsertakan dan menjadi pemenang di lomba cerpen anak September Cerita di Kemudian.com

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).