Cerita Hantu di Ruang Sekretariat4 min read

“Cilok setan?” Genta mengerutkan kening.

“Iya, masa kalian nggak pernah dengar?” Jati menatap Genta dan Ori, keduanya balas menatap.

“Gue nggak pernah denger, ngarang kali lo?” ujar Ori.

“Ah, nggak gaul. Anak-anak kampus yang lain juga pada tau,” Jati membela diri.

“Ya udah, coba lo ceritain kaya gimana ceritanya?” ucap Ori.

Cerita mereka pun dimulai lagi. Sebenarnya semua itu terjadi tanpa direncanakan. Malam itu Genta mengajak Jati dan Ori untuk berkumpul di ruang sekretariat himpunan mahasiswa, demi mengerjakan proposal kegiatan yang harus selesai besok. Untunglah, pekerjaan mereka sudah tinggal sedikit, sehingga mereka bisa menyelesaikannya sebelum tengah malam. Sambil beristirahat sejenak, mereka pun menyeduh kopi dan mulai mengobrol tentang banyak hal, sampai akhirnya gosip-gosip hantu pun meluncur begitu saja dari mulut mereka. Ori yang pertama kali memulai cerita, ia berkisah mengenai kuntilanak yang konon menunggui pohon beringin di belakang kantin. Sayangnya, gosip itu sudah terlalu pasaran, sehingga tak ada lagi yang merasa terkejut. Hingga sekarang tibalah giliran Jati.

“Gue denger kisah ini dari si Andre, angkatan dua ribu empat,” ucap Jati sambil menyeruput kopi rasa moka di cangkirnya.

“Andre yang rambut gondrong itu?” tanya Ori.

“Iya, kalian tau kan, dia teh dulu sering nginep di kampus, sebelum dia lulus,” lanjut Jati.

Genta mengangguk.

Jati menundukkan kepalanya, lalu menatap kedua temannya itu satu persatu, “Dulu, pas habis acara LPJ pengurus himpunan, dia sempat di kampus sampe tengah malam. Nah, karena ada satu urusan, dia pun inget kalau dia harus pulang ke tempat kosnya. Pulanglah dia, sekitar jam satu malam. Di tengah jalan, dia ngerasa lapar. Soalnya memang dia belum sempat makan malam karena sibuk sama acara itu.”

“Terus dia ketemu tukang cilok?” tanya Ori.

“Diam dulu, jangan motong cerita,” protes Jati, “Nah di pertigaan yang deket halte itu, kan jalanan udah sepi. Dia lagi mau nyeberang, soalnya tempat kosnya ada di gang yang deket rumah sakit. Belum sempat nyeberang, dia ngelihat ada tukang cilok, pas di samping halte.”

“Terus?” tanya Genta.

“Berhubung lapar, dia datangin tuh tukang cilok. Dia sebenernya heran juga sih, kenapa ada tukang cilok mangkal tengah malam begitu, tapi namanya juga orang lagi lapar, dia nggak mikir terlalu jauh. Tukang ciloknya pakai topi, kebetulan lagi nunduk, jadi dia nggak lihat wajahnya. Mang, beli ciloknya, kata Andre. Terus si tukang cilok nanya: Mau beli berapa? Dua ribu aja Mang, kata Andre. Langsung tah sama si tukang cilok diambilin beberapa tusuk cilok dan dimasukin ke dalam plastik kecil, terus dikasih saos. Andre bayar uangnya ke tukang cilok. Habis bayar, dia cuma balik badan sedikit, trus langsung aja dia makan satu tusuk cilok. Nah pas itulah dia ngerasa aneh. Kok ciloknya rasanya agak-agak asin dan asem gimana gitu. Dia pikir jangan-jangan itu makanan udah basi. Karena kesel, langsung aja dia balik badan dan pengen meriksa isi gerobak si tukang cilok. Dan taunya….”

“Taunya?” Genta penasaran.

“Ternyata yang ada di dalem gerobaknya bukan cilok.”

“Apaan?” Ori memburu.

“Bola mata. Bola mata manusia. Jelas aja Si Andre kaget setengah mati dan jadi mual-mual. Langsung dia keluarin lagi cilok yang ada di mulutnya, dan ternyata itu juga bola mata, saosnya itu darah. Pas dia coba natap wajah si tukang cilok, ternyata… matanya bolong…,” Jati mengakhiri ceritanya sambil menelan ludah, seolah ingin memberikan ekspresi takut.

Selama beberapa detik mereka terdiam.

“Terus Si Andre gimana? Nggak mati dia?” tanya Ori.

“Ya nggak atuh! Dia langsung lari nyebrang jalan dan pulang ke tempat kosnya. Nggak bisa tidur dia semalaman,” ucap Jati.

“Parah banget tuh Andre, bisa begitu,” ucap Genta.

“Iya, itu sih dianya aja goblok! Udah tau tengah malam, malah beli cilok. Lagian, kaya anak SD aja sih, jajanannya cilok,” ucap Ori sambil berusaha tertawa.

Jati menghela nafas dan menghabiskan kopinya. Ia dan Ori sama-sama melirik ke arah Genta, lalu mengangkat alis. Genta mengangkat kedua bahunya, seolah tidak paham apa-apa.

“Apa?” tanya Genta.

“Gantian,” ucap Jati.

“Waduh, gue nggak punya cerita kaya begitu. Beneran deh,” Genta mengelak.

“Ah nggak asik lo. Kan tadi gue udah cerita, Jati juga,” ucap Ori.

“Habis gimana dong? Emang bener nggak tau apa-apa.”

“Terus? Pulang aja nih kita?” tanya Jati.

“Nanti dulu, kopi gue masih banyak, sayang-sayang,” kemudian Ori menyalakan sebatang rokok, “Lagian gue ada satu cerita.”

“Cerita horor?” tanya Genta.

“Bukan, cerita bokep!”

Ori dan Jati tertawa, tapi kemudian Jati menghentikan tawanya dan menatap Ori, “Seriusan?”

“Haha. Mupeng banget lo! Tapi ya agak-agak sih, sedikit,” Ori menghembuskan asap rokok dari mulutnya, “Kalian tau Talita kan? Anak Teknik Kimia.”

Genta mengangguk, ekspresinya datar. Entah dia benar-benar paham atau tidak.

“Talita yang bohay tea? Yang sering lewat depan fakultas kita?” tanya Jati dengan antusias.

“Yep, yang mana lagi? Dia itu kan pacaran sama yang namanya Deri, gue nggak tau dia angkatan berapa, tapi yang jelas mereka pacaran lumayan lama,” Ori terdiam sejenak, “Pada suatu malam… mereka lagi mojok di kampus.”

“Sebentar! Mereka suka mojok di kampus?” tanya Jati.

….

Cerita ini terdapat dalam buku Setelah Gelap Datang.
Cerita ini terdapat dalam buku Setelah Gelap Datang.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).