Memberi Tanpa Imbalan3 min read

Setiap pagi, ada seo­rang penge­mis tua yang men­da­ta­ngi rumah Bu Darma. Saat Bu Darma mem­be­ri sede­kah kepa­da si penge­mis tua, penge­mis itu meng­u­capk­an teri­ma kasih ber­ka­li-kali, menam­pakk­an wajah baha­gia sam­bil ber­cu­cur­an air mata, ser­ta men­do­ak­an Bu Darma agar sehat dan banyak reze­ki. Bu Darma ikut baha­gia meli­hat eksp­re­si penge­mis tua itu dan meng­a­mi­ni doa-doa­nya. Sejak saat itu, si penge­mis sela­lu datang seti­ap hari, dan Bu Darma sela­lu mem­be­ri­nya sede­kah. Namun, lama-kela­ma­an, Bu Darma menya­da­ri ada sesu­a­tu yang ber­u­bah dari penge­mis itu. Lama-lama, senyum syu­kur di wajah si penge­mis itu sema­kin pudar, doa-doa­nya sema­kin pen­dek, dan bahk­an pada sua­tu keti­ka, si penge­mis ber­hen­ti meng­u­capk­an teri­ma kasih kepa­da Bu Darma.

Bu Darma pun kesal. Ia mera­sa penge­mis itu sudah lan­cang seka­rang, seo­lah-olah sede­kah Bu Darma diang­gap seba­gai kewa­jar­an dan buk­an sua­tu anu­ge­rah lagi. Ia pun memu­tusk­an untuk ber­hen­ti mem­be­ri sede­kah kepa­da si penge­mis tua itu dan men­ca­ri penge­mis lain yang [menu­rut­nya] lebih meng­har­gai sede­kah­nya.

Pertanyaannya, apa­kah sejak awal, Bu Darma memang benar-benar ikh­las mem­be­ri sede­kah?

Terkadang, kegi­at­an mem­be­ri yang dikla­im ikh­las atau tan­pa pam­rih bisa jadi memi­li­ki motif yang tak disa­da­ri. Mungkin, seca­ra seder­ha­na, kita bisa meng­a­tak­an Bu Darma “kurang” ikh­las kare­na ia masih meng­ha­rapk­an imbal­an dari si penge­mis, yai­tu ber­u­pa senyum syu­kur dan doa-doa. Kegiatan mem­be­ri sede­kah pun pada akhir­nya ber­u­bah men­ja­di kegi­at­an tran­sak­si bela­ka, yai­tu tran­sak­si menu­kark­an sejum­lah uang dengan ucap­an teri­ma kasih dan doa-doa. Ketika Bu Darma tidak men­da­patk­an imbal­an yang ia harapk­an, tran­sak­si pun ia hen­tik­an. Jual-beli diba­talk­an.

Lebih dari itu, mung­kin juga ada sema­cam “pene­gas­an keku­a­sa­an” yang tim­bul dari kegi­at­an mem­be­ri. Bukan hal yang sulit dipa­ha­mi, bah­wa orang yang mem­be­ri bia­sa­nya memi­li­ki “kele­bih­an” diban­ding orang yang dibe­ri.

Ibaratnya begi­ni: Saya mem­be­ri kamu uang, ber­ar­ti saya lebih ting­gi dari kamu, oleh kare­na itu kamu harus menun­jukk­an sikap seba­gai orang yang lebih ren­dah di hadap­an saya: menun­duk-nun­duk, ber­li­nang air mata, bahk­an menyem­bah-nyem­bah. Bila kamu tidak menun­jukk­an sikap itu (atau malah menun­jukk­an sikap ber­la­wan­an), ber­ar­ti kamu lan­cang, tidak tahu diri. Saya akan meng­hu­kum kamu dengan ber­hen­ti mem­be­ri kamu uang. Inilah “pene­gas­an keku­a­sa­an” yang saya mak­sud bisa ter­ja­di dalam kegi­at­an mem­be­ri.

Tentu saya tidak sedang ber­u­sa­ha meng­e­cilk­an man­fa­at prak­tis dari kegi­at­an ber­se­de­kah. Dalam jang­ka pen­dek, sede­kah yang kurang ikh­las seka­li pun masih lebih ber­man­fa­at bagi orang lain dari­pa­da tidak sama seka­li. Misalnya, bagi orang yang sedang kela­par­an, nasi bung­kus yang dibe­rik­an oleh poli­ti­si pen­ji­lat diang­gap lebih pen­ting dari­pa­da bea­sis­wa kuli­ah atau modal usa­ha.

Saya jadi ter­i­ngat pada kata-kata anak jalan­an di bus kota, bah­wa “mem­be­ri uang seri­bu-dua ribu tidak akan mem­bu­at Anda jatuh mis­kin dan tidak akan mem­bu­at kami kaya raya”. Kalimat itu ada benar­nya. Biasanya, orang mem­be­ri sede­kah memang buk­an untuk mele­nyapk­an jurang anta­ra si kaya dan si mis­kin, mela­ink­an untuk meng­a­ta­si masa­lah jang­ka pen­dek. Bahkan, ada juga orang yang ber­se­de­kah sam­bil tetap ingin mem­per­ta­hank­an jurang kaya-mis­kin dengan alas­an “kalau semua orang jadi kaya, nan­ti sia­pa yang mau mene­ri­ma sede­kah saya?”.

Dalam kehi­dup­an nya­ta, tidak banyak kegi­at­an mem­be­ri yang bisa dika­tak­an mur­ni tan­pa pam­rih. Program CSR per­u­sa­ha­an-per­u­sa­ha­an ber­tu­ju­an untuk mem­per­ba­i­ki citra di mata masya­ra­kat dan mening­katk­an pen­ju­al­an, ban­tu­an dari lem­ba­ga-lem­ba­ga inter­na­sio­nal hanya dibe­rik­an dengan sya­rat-sya­rat ter­ten­tu yang meng­un­tungk­an pen­do­nor, dona­tur-dona­tur LSM memi­li­ki agen­da poli­tik­nya sen­di­ri, peng­hu­ni rumah mem­be­rik­an hadi­ah kepa­da tetang­ga­nya demi mera­wat hubung­an sosi­al yang saling meng­un­tungk­an, pelangg­an rumah mak­an mem­be­ri uang kepa­da penge­mis supa­ya penge­mis cepat per­gi, orang yang mem­be­ri sede­kah hanya untuk menim­bulk­an per­a­sa­an nyam­an dan ten­te­ram dalam diri­nya sen­di­ri, dan lain seba­gai­nya.

Lantas, apa­kah manu­sia memang makh­luk yang sela­lu pam­rih? Mustahilkah bagi seo­rang manu­sia untuk mem­be­ri kepa­da manu­sia lain atas dasar kepe­du­li­an yang tulus, tan­pa meng­ha­rapk­an imbal­an apa pun–bahkan seka­dar doa, ucap­an teri­ma kasih, atau per­a­sa­an lega? Entahlah. Biasanya, kita meng­hin­da­ri per­a­sa­an “riya’” dengan men­ce­gah orang lain menyak­sik­an keba­ik­an kita. Padahal, pihak yang paling sering menyak­sik­an keba­ik­an kita jus­tru ada­lah orang yang mene­ri­ma keba­ik­an kita itu sen­di­ri.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).