Basa-Basi Tentang Cuaca3 min read

Sudah cukup lama saya tidak menu­lis di blog ini. Saya ingin ber­a­las­an bah­wa saya sedang ter­ke­na writer’s block, tapi itu pas­ti akan ter­de­ngar lucu, sebab sela­ma ini saya memang buk­an orang yang pro­duk­tif menu­lis. Meski banyak tem­an-tem­an yang ber­pes­an agar saya lebih rajin menu­lis, kenya­ta­an­nya, moti­va­si menu­lis saya malah sema­kin menu­run bela­kang­an ini.

Banyak hal yang ber­u­bah dalam hidup saya, mulai dari peker­ja­an baru, tem­pat ting­gal baru, ritme hidup baru, dan sta­tus baru seba­gai calon ayah. Dengan banyak­nya “pem­ba­ru­an-pem­ba­ru­an” itu, bukan­kah seha­rus­nya ada banyak ide untuk mem­bu­at tulis­an? Kenyataannya jus­tru tidak. Hal-hal baru itu menun­tut saya untuk ber­a­dap­ta­si sece­pat mung­kin, dan saya buka­nlah orang yang pan­dai ber­a­dap­ta­si. Konsentrasi dan pikir­an saya ter­pak­sa harus dia­lo­ka­sik­an lebih besar untuk hal-hal baru itu sehing­ga akhir­nya, keti­ka meng­ha­da­pi layar lap­top, kepa­la saya sela­lu men­ja­di kosong. Saya tidak tahu apa yang harus saya ceri­tak­an. Sebagian penga­lam­an-penga­lam­an saya ter­la­lu pri­ba­di, seba­gi­an ter­la­lu mem­bo­sank­an, dan seba­gi­an lagi masih sete­ngah matang. Meski begi­tu, saya tetap harus menu­lis sesu­a­tu di sini.

Tapi ten­tang apa?

Jawabannya, ten­tang cua­ca.

Cuaca ada­lah topik pusa­ka penye­la­mat momen-momen cang­gung dan pem­bu­ka obrol­an paling stan­dar. Ketika kita ingin memu­lai per­ca­kap­an dengan tem­an, kera­bat, atau bahk­an orang asing, cua­ca ada­lah tema yang paling mudah.

Aduh, panas banget hari ini.”

Iya, gerah banget nih. Kapan huj­an, ya?”

Parah banget, bad­an gue leng­ket semua.”

Aku udah man­di empat kali hari ini.”

Dan sete­rus­nya, dan sete­rus­nya. Kadang, kita bisa meng­u­lang infor­ma­si yang sama (bah­wa cua­ca hari ini panas banget) sam­pai sepu­luh kali dalam seha­ri. Dilihat dari segi efi­si­en­si, ini ada­lah komu­ni­ka­si yang sangat boros, redun­dant. Informasi meng­e­nai kea­da­an cua­ca hanya per­lu diu­capk­an seka­li saja bila memang tidak ada per­u­bah­an, tidak per­lu diu­la­ngi seti­ap lima belas menit seka­li. Namun, seper­ti yang kita keta­hui ber­sa­ma, manu­sia ada­lah makh­luk yang penuh dengan basa-basi. Manusia sering kali meng­a­tak­an hal-hal yang tidak ber­mak­na demi meme­nu­hi kebu­tu­han­nya akan inte­rak­si sosi­al. Kadang, kita juga ber­ba­sa-basi kare­na ter­pak­sa, sebab nilai-nilai dalam masya­ra­kat meng­ang­gap ber­di­am-diam­an dengan orang di hadap­an kita seba­gai per­bu­at­an buruk dan anti-sosi­al. Kita harus mema­klu­mi itu.

Lalu, kena­pa harus cua­ca? Mungkin kare­na cua­ca ada­lah topik yang paling netral dan paling mudah. Siapa pun bisa meng­o­men­ta­ri cua­ca tan­pa harus men­ja­di ahli mete­o­ro­lo­gi dan geo­fi­si­ka. Selain itu, cua­ca ada­lah topik yang paling mudah untuk kita setu­jui ber­sa­ma. Kita jarang seka­li meli­hat orang ber­de­bat, ter­sing­gung, apa­la­gi ber­ke­la­hi kare­na mem­bi­ca­rak­an cua­ca.

Bayangkan kalau orang-orang meng­gu­nak­an topik ten­tang poli­tik, aga­ma, atau mora­li­tas saat mem­bu­ka obrol­an dengan orang yang baru dike­nal­nya. Mungkin obral­an yang tim­bul akan jauh lebih seru, inte­lek­tu­al, dan vari­a­tif, tapi tidak semua orang ingin ber­de­bat dan meme­ras otak seti­ap saat, kan?

Basa-basi ten­tang cua­ca juga kadang ter­a­sa iro­nis. Kita mem­bi­ca­rak­an cua­ca seo­lah ini ada­lah masa­lah sepe­le yang tidak mem­bu­tuhk­an pemi­kir­an seri­us, tapi di sisi lain kita juga tahu bah­wa masa­lah cua­ca dan kon­di­si alam seca­ra umum  menyang­kut kelang­sung­an hidup kita semua. Cuaca yang kering dan panas telah menim­bulk­an keba­kar­an di mana-mana, ter­ma­suk keba­kar­an hut­an (atau pem­ba­kar­an hut­an?) yang asap­nya sulit diken­da­lik­an. Kekeringan melan­da, orang-orang sam­pai harus mela­kuk­an sho­lat isti­sqo dan mem­bu­at huj­an buat­an. Pemanasan glo­bal, gun­dul­nya hut­an, kepu­nah­an hew­an; banyak yang per­ca­ya bah­wa kehan­cur­an bumi ting­gal menung­gu wak­tu saja.

Mungkinkah lain kali kita harus lebih seri­us keti­ka mem­bi­ca­rak­an ten­tang cua­ca dan kon­di­si alam? Mungkinkah seha­rus­nya kita ber­wa­jah pucat dan ber­te­ri­ak his­te­ris keti­ka meng­a­bark­an kon­di­si alam yang buruk? Entahlah. Saya tidak tahu apa­kah kecen­de­rung­an kita untuk men­ja­dik­an topik cua­ca seba­gai basa-basi ber­hu­bung­an dengan cara pan­dang kita ter­ha­dap keles­ta­ri­an alam.

Di luar jen­de­la kamar saya saat ini, ada awan men­dung yang ter­ba­wa angin. Gerimis sem­pat turun sela­ma bebe­ra­pa menit, tapi huj­an deras seper­ti­nya akan ter­ja­di di tem­pat lain. Mungkin tak lama lagi musim peng­huj­an akan tiba, dan kita bisa meng­gan­ti basa-basi cua­ca kita, dari “hari ini panas banget” men­ja­di “hujan­nya deras banget”, atau “ban­jir­nya dalem banget”. Mudah-mudah­an tulis­an basa-basi sing­kat ini bisa men­ja­di pem­bu­ka untuk mem­per­lan­car tulis­an-tulis­an ber­i­kut­nya.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).

  • Fariz Rusli

    Permisi Pak Rivai, saya hanya­lah seo­rang tamu di blog anda. Menurut saya, sung­guh disa­yangk­an kalau tulis­an anda ber­hen­ti begi­tu saja, kare­na saya juga punya blog kepe­nu­lis­an yang mirip-mirip pula dengan blog anda dan saya juga menik­ma­ti cer­pen anda. Saya akan setia menung­gu cer­pen anda yang ber­i­kut­nya.

    Salam

    • some­o­ne­fro­mthes­ky

      Terima kasih. Saya masih tetap menu­lis di sini, cuma memang belum sse­se­ring dulu 🙂