Calo: Parasit yang Hidup di Celah Sistem

Orang-orang percaya bahwa celah atau lubang kosong yang sunyi dan lembab merupakan tempat tinggal bangsa jin. Namun, tampaknya bukan hanya bangsa jin yang gemar hidup di dalam celah. Celah dan lubang memang tempat yang nyaman bagi entitas-entitas misterius untuk hidup dan berkembang biak, termasuk celah di dalam sistem. Bedanya, entitas yang hidup di dalam celah sistem bukanlah bangsa jin, melainkan bangsa gaib lain yang kita kenal dengan nama “calo”.

Calo adalah orang-orang yang menyadari keberadaan celah di dalam sistem, kemudian mereka menyusup dan mengambil keuntungan dari celah itu. Mereka tidak memproduksi nilai baru, tetapi hanya mengeksploitasi nilai yang sudah ada di dalam sistem untuk dapat bertahan hidup. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan celah di dalam sistem, antara lain:

  1. Desain sistem yang memang sudah cacat sejak awal, baik secara disengaja (untuk tujuan eksploitatif) atau tidak disengaja (kesalahan dalam perancangan);
  2. Pelaksana/operator yang gagal menjalankan sistem sebagaimana mestinya;
  3. Pengguna yang tidak memiliki akses, pengetahuan, atau keahlian yang dipersyaratkan (hal ini bermuara kembali kepada faktor nomor 1 mengenai masalah desain sistem).

Oleh karena itu, keberadaan calo bisa dibilang merupakan simtom atau gejala atas sistem yang cacat. Mereka mengisi celah-celah kosong yang muncul karena salah satu atau ketiga faktor tadi. Keberadaannya adalah gejala alamiah, sebagaimana parasit atau benalu yang hidup di alam dan mengambil saripati kehidupan organisme lain untuk mempertahankan kehidupannya sendiri.

Dalam sebuah sistem pelayanan publik, calo dianggap sebagai pihak yang merugikan, tapi di sisi lain juga mendorong sistem yang cacat untuk dapat terus berjalan. Misalnya, sebuah instansi pemerintah membangun sistem untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mereka membangun serangkaian aturan dan prosedur (SOP) untuk mengumpulkan data, memverifikasi, dan mencatat pelayanan tersebut. Mereka juga mempekerjakan para pegawai sebagai operator untuk menjalankan sistem sesuai aturan. Di ujungnya, terdapat pihak yang menjadi pengguna dari sistem, yaitu masyarakat yang berhak mendapatkan pelayanan.

Namun sistem tersebut memiliki beberapa celah. Misalnya, terdapat aturan bahwa agar dapat menerima pelayanan, masyarakat harus memiliki Surat A, B, dan C, menghubungi Pihak A,B, dan C, serta memahami informasi A, B, dan C. Pada awalnya, semua persyaratan itu dibuat untuk memastikan sistem berjalan dengan adil dan akuntabel. Masalahnya, sebagian masyarakat tidak memiliki waktu, akses, atau kemampuan untuk memenuhi semua syarat tersebut. Di sinilah timbul celah yang dapat diisi oleh calo.

Para calo ini memiliki sumber daya tingkat menengah yang dapat diputar atau direproduksi di dalam celah tadi. Sumber daya mereka tidak cukup besar untuk membuat sistem baru, tapi masih lebih memadai daripada yang dimiliki masyarakat pengguna. Sumber daya ini bisa berupa uang, peralatan, waktu luang, pengetahuan, kemampuan, atau akses jejaring. Misalnya, calo punya waktu luang untuk membantu masyarakat mengurus surat A, B, dan C. Mereka mungkin juga memiliki pengetahuan untuk memahami peraturan A, B, dan C, atau memiliki kenalan di lembaga A, B, dan C.

Tentu saja, jasa “tambal celah” atau jasa perantara yang mereka lakukan tidaklah gratis. Mereka akan mengambil keuntungan dari sistem tersebut sebagai upah atas jasa mereka. Hal ini membuat keberadaan mereka, meski membantu menjalankan sistem, juga dianggap merugikan karena menggerogoti distribusi nilai di dalamnya. Misalnya, masyarakat yang seharusnya mendapatkan pelayanan secara gratis, karena menggunakan jasa calo, jadi harus mengeluarkan uang. Terlebih lagi, uang yang dikeluarkan tadi tidak masuk ke kantong operator atau pembuat sistem, tetapi masuk ke pihak luar (calo)—penyusup yang sejak awal tak direncanakan berada dalam sistem. Jika hal ini dibiarkan berlangsung terus menerus, lambat laun para calo akan mampu mengakumulasi modal secara masif, lalu menggunakannya untuk membuat subsistem mereka sendiri, dan pada satu titik akan bermutasi menjadi entitas yang lebih kuat, misalnya mafia. Pada tahap ini, sistem utama dapat diambil alih sepenuhnya.

Oleh karena itu, ketika keberadaan calo dianggap sebagai ancaman, pengelola sistem akan berusaha memberantas mereka. Namun, sebagaimana sebuah organisme parasit yang memiliki insting bertahan hidup, para calo akan melakukan pertahanan diri. Ketika sistem berusaha menutup satu atau dua celah yang berhasil diidentifikasi, para calo akan berusaha mempertahankan agar celah tersebut tetap terbuka, baik secara nyata maupun dengan cara mempengaruhi persepsi para inangnya.

Dalam upaya memberantas calo, pengelola sistem akan melakukan berbagai cara, tapi sering kali, upaya-upaya tersebut mengalami kegagalan atau justru menimbulkan paradoks.

Mencabut Paksa

Cara paling sederhana memberantas calo adalah lewat metode represif seperti ancaman atau hukuman sehingga memaksa para calo berhenti beroperasi. Namun ketika hal ini dilakukan tanpa memperbaiki celah yang ada, akibat yang ditimbulkan justru menjadi lebih fatal. Sistem yang sejak awal cacat akan berhenti total dan menghancurkan semua kepentingan di dalamnya. Dalam contoh pelayanan publik, masyarakat menjadi tidak mendapatkan hak mereka, dan pemerintah gagal menjalankan tugasnya—yang dapat berakhir dengan hilangnya legitimasi kekuasaan negara. Lagipula, selama celah tersebut tetap dibiarkan ada, cepat atau lambat calo-calo lain akan datang dan mengisinya kembali.

Jika dilihat dari sudut pandang ini, maka analogi sebelumnya bahwa calo merupakan parasit sebenarnya kurang tepat. Jika pengelola sistem mau mengakuinya, simbiosis yang terjadi bukanlah parasitisme, tapi lebih cenderung menjadi mutualisme.

Meningkatkan Kompleksitas

Cara lain adalah tindakan yang bersifat preventif. Anggaplah pengelola sistem telah berhasil memberantas calo secara represif—meski temporer. Untuk mencegah para calo lain menyusup lagi, sistem pun dibuat menjadi lebih ketat, lebih rumit, lebih sulit ditembus. Misalnya, dalam contoh pelayanan publik, petugas akan memberlakukan pemeriksaan yang lebih ketat untuk memastikan bahwa masyarakat yang menerima pelayanan bukanlah calo. Namun bagaimana caranya? Masyarakat tersebut harus mengisi Formulir A, B, dan C; mendaftarkan diri di website A, aplikasi B, dan platform C; serta, tentu saja, menandatangani Surat Pernyataan Bukan Calo di atas materai yang tidak gratis. Cara-cara ini dapat dipahami sebagai upaya untuk mengambil alih kendali sistem ke tangan operator. Konsekuensinya, operator harus bekerja ekstra. Mereka tidak hanya mendata dan mencatat pengguna, tetapi juga memastikan bahwa para pengguna tersebut bukanlah calo/parasit yang berusaha menyusup.

Dalam pergulatan yang berkelanjutan ini, sistem akan terus diperbarui dan dibuat semakin rumit, semakin besar, semakin berjenjang. Mau tak mau, operator pun harus memiliki sumber daya yang semakin besar pula untuk dapat mengimbangi dan mengendalikannya. Jika tidak, maka akan terjadi overload. Operator mengalami burn-out dan teralienasi. Tugas-tugas mereka menjadi semakin spesifik dan terfragmentasi. Akibatnya, tidak ada yang merasa bertanggung jawab karena setiap operator hanyalah kepingan kecil yang terlalu kecil untuk melihat keseluruhan sistem. Sistem yang semakin rumit pun membuat informasi menjadi semakin asimetris. Hanya segelintir operator yang telah mengalami pelatihan khusus bertahun-tahun, komitmen luar biasa, serta memiliki sertifikat A, B, dan C yang dianggap mampu memahami sistem besar ini.

Kompleksitas ini melahirkan paradoks. Semakin besar dan rumit sebuah sistem, semakin banyak pula celahnya. Celah-celah ini akan mengundang lebih banyak calo dari yang pernah ada sebelumnya, baik di sisi pengguna maupun di antara operator.

Merangkul dan Melegalkan

Pengelola sistem yang menyadari kemungkinan tadi, mungkin akan mencoba mencari jalur alternatif yang cukup radikal. Alih-alih memberantas calo dan mencegahnya tumbuh, ia dapat melakukan hal yang bertolak belakang: mengakui dan meresmikan keberadaan mereka.

Jika selama ini calolah yang membuat sistem cacat tetap berjalan, mungkin keberadaan mereka memang dibutuhkan sebagai bagian dari sistem. Para calo dapat diberikan penghasilan yang tetap. Dengan begitu, nilai yang mereka serap dari sistem dapat lebih terkendali dan diprediksi. Mereka pun dapat diikat oleh serangkaian aturan, atau dengan kata lain, menjadi bagian dari sistem. Namun, calo bukanlah satu atau beberapa individu tertentu. Mereka adalah fenomena. Jika sekelompok calo dirangkul dan diintegrasikan ke dalam sistem, mereka bukan lagi calo. Sistem mengubah calo menjadi operator, mengubah ekstraksi ilegal menjadi struktural. Masalah pada poin sebelumnya pun masih dapat terjadi. Apalagi, mengintegrasikan calo ke dalam sistem bukanlah hal yang mudah. Sistem akan melakukan seleksi, persaingan, dan penyesuaian untuk memaksa mereka menjadi tunduk dan akuntabel. Bukan tidak mungkin, proses ini justru akan melahirkan calonya para calo.

Sisyphus Bermain Whack-a-Mole

Pada akhirnya, apa yang dapat dilakukan pengelola sistem hanyalah berusaha sebaik mungkin menutup celah-celah yang telah teridentifikasi sembari mencegah agar sistem tidak berkembang menjadi terlalu rumit dan besar. Setiap satu celah ditutup, celah lain akan terbuka. Calo mungkin tidak dapat hilang sepenuhnya. Sebagian perlu dipukul, sebagian lagi perlu dirangkul, tetapi yang terpenting adalah memastikan keberadaan mereka tetap dalam batas yang bisa ditoleransi. Ini adalah pekerjaan yang melelahkan dan tak ada habisnya, bahkan terasa absurd, seperti Sisyphus yang bermain whack-a-mole.

Bagian dari Sistem yang Lebih Besar?

Coba kita bayangkan seorang petani yang memiliki sebidang kebun. Bagi petani, kebun itu adalah sebuah sistem tersendiri. Ketika terdapat parasit atau benalu di kebunnya, petani akan berusaha membasminya. Keberadaan benalu dapat mengganggu sistem yang ia ciptakan dan merusak hasil panen yang ia inginkan, sehingga ia menganggapnya sebagai hal buruk. Namun jika kita zoom out satu atau dua kali dari kebun petani, kita akan mendapati bahwa keberadaan benalu itu adalah hal yang alamiah. Benalu itu adalah bagian dari ekosistem alam, sebagaimana petani dan seluruh tanaman yang ada di dalam kebunnya. Ia pun memiliki perannya sendiri dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem. Apa yang membuatnya menjadi buruk adalah karena petani menciptakan sistem artifisial (kebun) untuk memenuhi kepentingannya (menghasilkan panen yang baik, laku dijual, dsb) sendiri.

Sistem pelayanan publik tadi dapat kita bayangkan sebagai sebuah sistem yang juga menjadi bagian dari sistem yang lebih tinggi, misalnya birokrasi, pemerintahan, negara, politik, dan ekonomi. Keberadaan calo bisa jadi adalah mekanisme sistem yang lebih tinggi untuk memastikan kepentingannya tetap berjalan. Kalau demikian, calo mungkin bukan sekedar penyusup di dalam sistem, tetapi juga agen rahasia dari sistem yang lebih tinggi yang sedang menjalankan peran alamiahnya.


Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).