Burn Out dan Anxiety sebagai Alarm Kesadaran

Menurut artikel di situs WHO, lebih dari 1 miliar manusia di bumi hidup dengan gangguan kesehatan jiwa, sebagian besarnya adalah gangguan depresi dan anxiety (kecemasan). Bayangkan, satu miliar manusia. Itu jumlah yang masif. Sebagai gambaran, jumlah penduduk Indonesia adalah sekitar 285 juta jiwa. Dengan kata lain, jika semua orang dengan masalah kejiwaan itu dikumpulkan, mereka bisa membentuk 3,5 negara sebesar Indonesia yang penduduknya cemas dan depresi semua.

Membayangkan jumlah itu, tidak heran jika setiap harinya kita selalu berinteraksi dengan orang-orang cemas dan depresi. Di jalan, di tempat kerja, di dunia maya. Mungkin saya adalah salah satunya, mungkin kamu juga, mungkin kita semua. Kita semua lelah dan cemas.

Lalu, apa artinya satu miliar orang itu? Bagi banyak lembaga di dunia, ini adalah permasalahan ekonomi. Bukan, bukan sebagai penyebab, tapi sebagai dampak. Dalam artikel yang sama, WHO (lembaga yang mengurusi kesehatan dunia itu) mengatakan bahwa:

Dampak ekonomi dari gangguan kesehatan mental sangat mencengangkan. Meskipun biaya perawatan kesehatan sangat besar, biaya tidak langsung – khususnya dalam hal hilangnya produktivitas – jauh lebih besar. Depresi dan kecemasan saja diperkirakan merugikan ekonomi global sebesar US$ 1 triliun setiap tahunnya.

Ya, ya, ya. Kita depresi, cemas, dan sebagian di antara kita mungkin berpikiran untuk mengakhiri diri. Namun kamu tahu apa yang mencengangkan? Bahwa kita juga merugikan ekonomi dunia sebesar 1 triliun dolar setiap tahunnya! Apakah ini semacam gaslighting?

Namun, saya paham. Artikel itu mungkin mencoba membujuk lembaga-lembaga keuangan dan pemerintah-pemerintah negara di dunia untuk lebih banyak menganggarkan dana bagi penanganan kesehatan jiwa. Bagi para politisi dan kapitalis Machiavellian di atas sana, satu-satunya bahasa yang mereka pahami adalah uang dan kekuasaan. Ibaratnya, kita berbicara kepada mereka: “Hei! Hewan-hewan ternakmu ini banyak yang sakit. Mereka saling menggigit dan menyeruduk satu sama lain. Bermurah-hatilah dan luangkan dana untuk kesehatan mereka. Ini untuk kepentinganmu juga, lho! Sebab kalau dibiarkan, mereka tak akan bisa bertelur dan daging mereka jadi beracun. Peternakanmu bisa rugi satu triliun dolar setiap tahun!”.

Mendengar ancaman kerugian materi itu, kita harapkan Paman Gober sekalipun akan berpikir logis dan menyisihkan sebagian kekayaannya. Alternatifnya, Paman Gober mungkin malah akan menemukan ide jenius: Ia akan membuat pabrik obat untuk mengobati ternak yang sakit—dan semua orang harus membeli darinya.

Sayangnya, kita bukanlah WHO, IMF, Presiden, atau Paman Gober. Kamu mungkin hanyalah satu dari satu miliar orang dengan gangguan jiwa depresi atau kecemasan kronis. Sekarang lihat dirimu, dan ingatlah bahwa kesehatan jiwamu itu penting. Dirimu adalah manusia, bukan sekadar angka dalam spreadsheet. Persetan dengan kerugian ekonomi global.

Luka batin, sama seperti luka fisik, tidak muncul serta-merta tanpa sebab. Bayangkan jika kamu harus berkendara melintasi sebuah jalan yang berlubang, lalu kamu terjungkal, dan kakimu patah. Itu adalah luka fisik. Hal paling urgent yang harus kamu lakukan adalah menemui dokter. Dokter akan mendiagnosa seberapa parah kondisi kakimu dan memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan atau setidaknya meredakan rasa sakit itu. Namun, bukanlah wewenang dokter untuk memperbaiki jalan berlubang yang membuatmu celaka, dan bukan kepentingannya pula untuk menuntut pemerintah setempat segera memperbaiki jalanan tersebut.

Begitu pula dengan kesehatan jiwa dan gangguan mental. Faktor bawaan lahir memang bisa ikut berperan, tapi itu pembahasan tersendiri yang tak akan saya masuki di sini. Untuk sebagian besar dari kita, anxiety dan depresi tidak muncul tanpa sebab. Ada lubang di jalan yang memaksa kita menjadi seperti itu. Luka adalah akibatnya. Rasa sakit adalah reaksinya. Namun, ketika kita terlanjur mengalaminya, hal yang paling logis dan urgent untuk dilakukan adalah meminta bantuan profesional. Mereka akan membantu sesuai batas kewenangan mereka. Seorang dokter hanya bertugas mengobati luka di kakimu, bukan menambal lubang yang membuatmu celaka. Seorang psikolog/psikiater/terapis hanya bertugas menangani kondisi kejiwaanmu, mereka tidak mungkin menyelesaikan masalah pekerjaan/keluarga/keuanganmu yang membuatmu cemas. Selanjutnya, itu adalah tugasmu. Tugas kita.

Gangguan kesehatan mental seperti kecemasan adalah alarm. Namun bukan sekadar alarm untuk mengobati diri. Ini adalah alarm untuk bangun dari mimpi buruk yang terlalu lama dialami. Ada lubang di jalan, dan mengobati kaki kita saja tidak lantas berarti menambal jalan tersebut dan mencegah orang-orang berikutnya untuk terjatuh di lubang yang sama. Gangguan tersebut adalah alarm kesadaran bahwa ada yang salah, dan sebagai reaksi dari alarm tersebut, kita perlu melakukan setidaknya tiga hal: mengobati diri sendiri, menganalisis penyebab hingga ke akar-akarnya, serta melakukan apa pun dalam batas kemampuan kita untuk memperbaiki atau menghentikan penyebab tersebut.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, mengobati diri dilakukan dengan menghubungi tenaga profesional, menjalani terapi atau apa pun yang dianggap perlu. Tahap kedua, menganalisis akar penyebab, harus dilakukan dengan rasa ingin tahu yang tulus dan penuh gairah, bahkan nyaris ilmiah. Saya rasa, bentuk balas dendam dan pemberontakan paling manis terhadap hal-hal yang membuat kita sakit adalah dengan menganalisis, membedah, dan menelanjanginya satu demi satu. Kita mulai dengan mengapa, lalu bagaimana. Dalam tahap ini, kita harus bisa membedakan mana hal-hal yang bisa diubah segera dengan tindakan nyata; mana yang hanya bisa diubah dengan proses jangka panjang, kolektif, dan terstruktur; mana yang hanya bisa dipandang sebagai visi atau cita-cita; dan mana yang memang sama sekali tak bisa diubah karena merupakan bagian dari alam atau kenyataan. Kalau setelah ditelusuri ternyata sebagian penyebabnya tak bisa diubah, atau bahkan tak bisa ditemukan dengan pasti, itu juga merupakan hasil yang valid.

Tahap ketiga, yaitu tindakan nyata, harus dilakukan dengan hati-hati dan mawas diri. Ini adalah tahap yang sangat sensitif dan hanya dapat dilakukan setelah menjalankan tahap satu dan tahap dua. Kita tidak bisa menambal jalan berlubang kalau kaki kita masih patah dan tidak tahu di mana lubang itu berada. Berdasarkan analisis yang dilakukan di tahap dua, kita harus memilah mana faktor yang bisa kita perbaiki, mana yang belum, dan mana yang tidak bisa sama sekali. Mencoba memperbaiki hal-hal yang tidak bisa diubah hanya akan menimbulkan beban mental dan rasa bersalah yang justru memperburuk keadaan. Begitu pula sebaliknya, mengabaikan hal-hal yang bisa diperbaiki juga cepat atau lambat akan membuat kita kembali terpuruk di kondisi yang sama—seperti orang yang terbangun karena alarm kebakaran dan tidak mencoba memadamkan apinya.

Jika kamu atau orang yang kamu kenal sedang berada dalam tekanan psikologis berat atau punya pikiran untuk menyakiti diri, kamu bisa hubungi layanan Healing119.id/SEJIWA dari Kementerian Kesehatan lewat telepon 119 ekstensi 8, gratis dan siaga 24 jam, atau mengaksesnya via healing119.id. Untuk situasi yang mengancam nyawa, segera hubungi 119 atau datangi IGD/Puskesmas terdekat.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).