Muhamad Rivai

Fiksi dan catatan lainnya

Month: November 2013

Carrie dan Bullying

Carrie

Beberapa minggu lalu saya baru saja selesai membaca novel Carrie. Saya tahu, saya benar-benar telat. Sebenarnya sudah sangat lama saya ingin membaca novel “klasik” karya pertama Stephen King ini, tapi baru teringat lagi ketika film remake-nya ditayangkan di bioskop. Novel yang singkat ini membuat saya mencari tahu mengenai kasus bullying remaja (saya tidak tahu padanan bahasa Indonesia-nya yang tepat), sekaligus mengingat-ingat apa yang saya maupun teman-teman saya pernah alami.

Entah mengapa, kebanyakan orang yang saya kenal memang mengaku pernah menjadi korban bullying di masa kecilnya, mulai dari yang sekadar dijauhi, diejek-ejek, dipalak uang jajannya, sampai yang disakiti secara fisik atau dipermalukan di depan umum. Saya sendiri pun pernah berada dalam posisi itu ketika kecil. Memang, kebanyakan orang menceritakan pengalaman pahit itu dengan santai, seolah menganggapnya sebagai hal yang lucu, tapi siapa yang tahu pengaruh apa yang dibawanya hingga dewasa? Bukankah pengalaman masa kecil adalah pembentuk jati diri kita?

Menurut stopbullying.gov, tindakan bullying setidaknya memengaruhi tiga pihak: korban, pelaku, dan penonton. Bagi korban, pengaruhnya antara

Read More

#5BukuDalamHidupku | Kerang Biru

Buku terakhir yang saya pilih untuk #5BukuDalamHidupku ini lagi-lagi adalah buku yang saya tulis sendiri. Bila buku ketiga yang saya pilih adalah sebuah novel, kali ini buku yang akan saya ceritakan adalah sebuah buku kumpulan puisi.

Read More

#5BukuDalamHidupku | Bag of Bones: Stephen King dan Tanda Kurung

Sebenarnya saya merasa sangat bimbang untuk menentukan buku keempat ini. Ada banyak kandidat, mulai dari Perang (novel Putu Wijaya yang pernah saya baca saat SMA), Kumpulan Budak Setan (buku horor lokal favorit saya), hingga Bumi Manusia (ini pasti pilihan yang sangat mainstream). Namun saya kembali teringat bahwa buku yang saya pilih haruslah buku yang paling berpengaruh, bukan yang paling bagus atau keren. Oleh karena itu pada akhirnya saya memilih Bag of Bones, novel Stephen King pertama yang saya baca. Dengan demikian, saya terpaksa melanggar perkataan saya kepada Irwan Bajang bahwa empat buku pilihan saya setelah Goosebumps bukanlah bergenre horor. Ups!

Read More

#5BukuDalamHidupku | Peri Sayap Kupu-Kupu, Novel Pertama

Alkisah di zaman dahulu kala sebelum manusia memiliki peradaban modern dan ketika dewa-dewi kahyangan masih bertahta, saya pernah menyelesaikan sebuah novel. Utuh. Sampai ending. Tanpa bantuan Nanowrimo atau himpitan deadline. Novel legendaris itu berjudul “Peri Sayap Kupu-Kupu”.

Read More

#5BukuDalamHidupku | Doraemon: Sains Populer dan Orgasme Kosmis

Siapa yang tidak kenal Doraemon? Komik buatan Fujio F. Fujio ini sudah menjelma menjadi ikon masa kanak-kanak bagi sebagian besar orang yang hidup saat ini. Lalu mengapa saya memasukkan Doraeomen dalam daftar ini? Bukan, bukan karena saya sudah kehabisan ide di postingan kedua ini dan terpaksa memasukan judul komik anak-anak yang sangat mainstream ini. Namun setelah melakukan perenungan yang cukup panjang, saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Doraemon memiliki peran penting dalam rasa keingintahuan saya seputar sains populer. Doraemon adalah guru pertama yang memperkenalkan saya dengan fisika populer dan pada akhirnya membuat saya menemukan ungkapan konyol semacam “orgasme kosmis”.

Read More

#5BukuDalamHidupku Goosebumps: Misteri Anjing Hantu

Saya perlu berpikir agak keras ketika memutuskan mengikuti acara #5BukuDalamHidupku dari situs irwanbajang.com. Selain karena saya bukan seorang pembaca yang rajin (butuh waktu lama untuk menghabiskan satu buku), deskripsi acara itu juga lumayan berat: “berisi 5 buku paling berpengaruh, 5 buku yang mengubah hidup Anda!”. Rasanya hidup saya yang biasa-biasa ini belum pernah berubah sampai lima kali, itu kalau perubahan yang dimaksud adalah sesuatu yang transformatif atau luar biasa. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil definisi yang pertama yaitu “5 buku paling berpengaruh”, atau dalam penafsiran saya, “5 buku yang paling berkesan dan paling mudah saya ingat saat ini”.

Tanpa lebih lanjut mengorupsi word count, saya akan memperkenalkan buku pertama saya untuk acara ini. Sudah bisa ditebak dari judul tulisan, buku itu adalah Goosebumps: Misteri Anjing Hantu.

ANJING-ANJING HANTU ITU SUDAH MENUNGGUNYA SELAMA BERABAD-ABAD!

Read More

Terbenam

Sebagian orang mengenakan bikini atau celana renang, sebagian lagi mengenakan kaos dan celana pendek khas pantai, tapi semuanya menghadap ke arah yang sama: ke barat. Langit sudah mulai bersemu jingga ketika kami tiba di tepi pantai yang ramai itu. Tanggal merah di hari Kamis ini telah menciptakan hari libur baru selama empat hari bagi kebanyakan orang. Ayahku menyewa sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari tepi pantai menggunakan uang tabungannya. Niatnya sudah bulat sejak sebulan yang lalu: bila uangnya sudah cukup, ia akan membawa kami melihat matahari terbenam di pantai.

Semua ini bermula dari kartu pos tua yang ia temukan saat sedang merenovasi kamar tidurnya. Kartu pos itu berisi lukisan matahari terbenam yang sepertinya dibuat menggunakan tangan. Itu adalah masa ketika semua orang belum memiliki kamera di saku mereka dan belum memiliki email untuk mengirimkan pesan bergambar. Di belakang kartu pos itu ada sebuah puisi yang Ayah tulis untuk Ibu, sebuah janji untuk melihat matahari terbenam bersama. Ia baru ingat bahwa janji itu tak pernah benar-benar terpenuhi, bahkan setelah mereka menikah dan memiliki aku dan adikku, bahkan setelah sebulan yang lalu Ibu meninggal dunia.

“Sebentar lagi mataharinya terbenam,” ucap Ayah sambil menggelar tikar dan mengajak kami duduk di sampingnya.

Adikku, Beni, sedang terpana melihat istana pasir yang dibuat seorang pengunjung. Kubujuk dia untuk merapat. “Membuat istana pasir bisa dilakukan esok hari, sekarang saatnya melihat matahari.” Beni menurut. Ia duduk di antara aku dan Ayah.

Langit semakin merah. Matahari berubah menjadi seperti telur, cahayanya tak lagi menusuk mata. Perlahan-lahan, bola jingga itu turun ke bawah, hampir menyentuh cakrawala. Ayah mungkin teringat pada kartu pos itu, tapi aku sudah pasti teringat pada desktop wallpaper yang sering aku lihat di layar komputer. Intinya tetap sama, manusia selalu ingin merekam hal-hal menakjubkan dari pengalaman mereka. Matahari terbenam adalah sebuah pengalaman menakjubkan. Sebagian orang menghubungkannya dengan kesedihan dan perpisahan karena menandakan berakhirnya hari. Bagiku, matahari terbenam adalah momen retrospeksi. Ketika melihat sebagian bola jingga itu tenggelam ke dalam lautan, kami membayangkan sebagian hidup kami yang juga sudah tenggelam bersama berlalunya waktu. Aku melihat kilau di mata Ayah. Suatu saat aku akan berada dalam posisinya, Beni juga.

Sebagian turis bertepuk tangan ketika akhirnya matahari tampak masuk seluruhnya ke dalam lautan. Beberapa pasangan berpelukan, bahkan samar-samar kulihat ada pula yang berciuman. Hari ini sudah usai, tapi semua orang percaya bahwa masih ada hari esok tempat kami akan melakukan hal-hal yang lebih baik. Bagi kami, berakhirnya hari tidak benar-benar ditandai oleh terbenamnya matahari. Ayah lebih akrab dengan suara bel pulang kantor, aku dan Beni lebih akrab dengan perubahan acara televisi menjadi azan Maghrib dan sinetron.

Suasana di sekitar kami perlahan menjadi gelap. Tak ada lagi cahaya alami dari langit, yang tersisa hanya lampu-lampu buatan manusia yang berasal dari restoran dan hotel di belakang sana. Perlahan-lahan para pengunjung bangun dari atas pasir, menepuk-nepuk pantat mereka, dan mungkin bersiap-siap untuk kembali ke hotel dan menyantap makan malam. Kami bertiga juga bangun. Ayah melipat kembali tikarnya.

“Besok jangan lupa bangun pagi,” katanya, “kita akan melihat matahari terbit.”

Matahari terbit, simbol harapan dan permulaan dari segala kegiatan, penawar dari rasa sendu pemandangan sore ini. Tikar sudah digulung, kami pun membalik badan untuk pulang. Beni masih menoleh ke belakang. Kupanggil namanya. Ia pasti masih penasaran dengan istana pasir tadi. Kupanggil lagi, ia tak juga menyahut. Akhirnya aku kembali berbalik dan berniat menarik tangannya. Kusadari, rupanya Beni tak lagi menatap istana pasir, ia menatap langit. Di atas sana, langit yang hitam perlahan tersibak. Mengintiplah dari balik kegelapan itu, sebuah bola berwarna kuning terang. Kegelapan itu sirna, cahaya menyebar ke segala penjuru. Ada matahari lagi.

Semua orang yang telah beranjak pergi kini membalikkan badan. Tatapan-tatapan mata membisu melihat bola cahaya di hadapan kami yang tak terjelaskan. Tak terjelaskan. Langit kembali menjadi siang. Semakin siang.

Catatan: Cerita singkat ini dibuat berdasarkan mimpi saya beberapa hari lalu. Saya yakin, banyak juga orang yang sering mengalami mimpi semacam ini.

Ilustrasi: http://www.scenicreflections.com/download/397170/Red_Sunset_Painting_Wallpaper/

First World Problem: Aplikasi Messenger

Di ponsel saya saat ini sudah bertumpuk banyak sekali aplikasi pengirim pesan: WhatsApp, Line, Facebook Messenger, Hangouts (sebelumnya Google Talk), dan yang terbaru BBM for Android. Semboyan negara kita memang Bhinneka Tunggal Ika dan setiap orang berhak membuat dan menggunakan alat komunikasi pilihannya sendiri. Namun dilihat dari sudut pandang pengguna, menurut saya “banjir” aplikasi pengirim pesan ini sangat tidak efisien terhadap sumber daya. Bayangkan, bila semua aplikasi tersebut aktif dalam satu waktu, berarti semakin banyak memori dan daya baterai yang dihabiskan. Belum lagi aplikasi social media lainnya seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Padahal fungsi dari seluruh aplikasi itu bisa dibilang sama, perbedaannya cuma pada gaya dan model bisnis.

Sayangnya, saya tidak bisa begitu saja memilih salah satu aplikasi dan membuang yang lainnya. Aplikasi pengirim pesan dan social media selalu terhubung dengan kepentingan orang lain. Bila salah satu kelompok teman memilih menggunakan WhatsApp, kelompok teman lainnya menggunakan Line, keluarga menggunakan BBM, teman-teman komunitas dunia maya menggunakan Facebook dan Hangouts, berarti untuk bisa  terhubung dengan mereka semua dengan mudah, saya harus memasang semua aplikasi tersebut. Untuk itu, saya pikir ada baiknya bila kita memiliki sebuah aplikasi chatting yang universal dan bisa digunakan semua orang. Pada masa-masa kejayaan YM dan AIM dulu, saya bisa menemukan aplikasi “penjembatan” yang bisa login ke semua penyedia layanan chatting itu. Namun untuk saat ini, saya belum menemukan satu aplikasi yang bisa login ke WhatsApp, Line, dan BBM secara sekaligus.

“Aplikasi chatting yang universal, kamu bilang?” ucap seorang pembaca, yang mungkin adalah Anda sendiri, “Bukannya kita punya teknologi canggih dan universal yang bernama … SMS? Satu aplikasi yang bisa digunakan di semua ponsel, baik yang pintar maupun yang dungu.”

Saya tahu. Dorongan untuk kembali ke dasar itu sangat brilian. Namun saya teringat, hal apa yang membuat orang-orang pada awalnya beralih dari SMS ke mobile messenger? Setahu saya, orang-orang berbondong-bondong pindah dari layanan SMS ke BBM (dan mulai saat itu menolak membalas SMS dari temannya yang tidak punya BlackBerry) karena masalah biaya. Biaya paket data untuk menggunakan aplikasi chatting, terutama paket yang unlimited dan gratis, dianggap lebih murah daripada tarif SMS dan MMS. Saya tidak hapal tarif SMS seluruh operator saat ini, tapi selama biaya SMS masih lebih mahal daripada biaya paket data, rasanya akan sulit untuk mengajak orang kembali menjunjung tinggi aplikasi persatuan, aplikasi SMS.

 

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén