Carrie dan Bullying5 min read

Carrie

Beberapa minggu lalu saya baru saja selesai membaca novel Carrie. Saya tahu, saya benar-benar telat. Sebenarnya sudah sangat lama saya ingin membaca novel “klasik” karya pertama Stephen King ini, tapi baru teringat lagi ketika film remake-nya ditayangkan di bioskop. Novel yang singkat ini membuat saya mencari tahu mengenai kasus bullying remaja (saya tidak tahu padanan bahasa Indonesia-nya yang tepat), sekaligus mengingat-ingat apa yang saya maupun teman-teman saya pernah alami.

Entah mengapa, kebanyakan orang yang saya kenal memang mengaku pernah menjadi korban bullying di masa kecilnya, mulai dari yang sekadar dijauhi, diejek-ejek, dipalak uang jajannya, sampai yang disakiti secara fisik atau dipermalukan di depan umum. Saya sendiri pun pernah berada dalam posisi itu ketika kecil. Memang, kebanyakan orang menceritakan pengalaman pahit itu dengan santai, seolah menganggapnya sebagai hal yang lucu, tapi siapa yang tahu pengaruh apa yang dibawanya hingga dewasa? Bukankah pengalaman masa kecil adalah pembentuk jati diri kita?

Menurut stopbullying.gov, tindakan bullying setidaknya memengaruhi tiga pihak: korban, pelaku, dan penonton. Bagi korban, pengaruhnya antara lain adalah depresi dan rasa kesepian (yang bisa terbawa hingga dewasa), gangguan kesehatan, dan masalah akademis. Korban bullying biasanya tidak ingin menunjukkan dirinya sebagai korban, mungkin karena perasaan malu atau takut dirinya akan semakin ditindas. Sewaktu kecil saya selalu membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa saya memberikan uang kepada pemalak hanya karena kasihan, bukan karena takut. Hal itu saya lakukan karena tidak ingin mengakui kelemahan diri sendiri. Saya juga pernah melihat korban bullying lain yang pura-pura tertawa ketika ia dipukuli atau dikerjai oleh temannya, untuk memperlihatkan kesan kepada orang lain bahwa ia hanya sedang bercanda, bukan sedang ditindas. Ada pula anak yang pulang ke rumah dengan tubuh luka-luka karena dipukuli, tapi mengaku jatuh dari sepeda ketika ditanya orangtuanya, karena tidak ingin menjadi “tukang ngadu”.

Karena korban sering menutup-nutupi dan melakukan penyanggahan, kasus bullying tidak selalu mudah diamati, bahkan terkadang dianggap wajar dalam pergaulan sehari-hari. Mungkin itulah mengapa Kapuskom Kemendikbud pernah mengatakan bahwa kasus bullying di Indonesia hanya dibesar-besarkan media, padahal sebuah polling yang dilakukan Ipsos/Reuters menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki tingkat cyberbullying yang sangat tinggi, bahkan sebuah artikel pernah menempatkan Indonesia di peringkat kedua tertinggi di dunia.

Korban bullying bisa melakukan bunuh diri bila putus asa. Menurut Christopher Burgess, terdapat 34 kasus bunuh diri karena bullying pada tahun 2010. Meski begitu, tidak semua korban bullying memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri. Sebagian korban malah rentan melakukan tindak kekerasan ekstrem. Menurut stopbullying.gov, 12 dari 15 pelaku penembakan senjata api di sekolah adalah anak yang pernah menjadi korban bullying. Tidak heran dalam novel Carrie diceritakan bahwa Carrie sebagai korban bullying pada akhirnya melakukan tindakan pembalasan ekstrem–bukan dengan senjata api, tapi dengan kekuatan telekinesis yang mengerikan.

Peristiwa bullying juga berpengaruh pada pelaku. Kita mungkin hanya melihat pelaku bullying sebagai pihak yang bersalah, tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya juga menjadi korban atas tindakan mereka sendiri. Pelaku bullying memiliki kecenderungan untuk menjadi pecandu alkohol, pelaku kriminal, kekerasan terhadap pasangan, dan seks usia dini. Banyak faktor yang membuat mereka mem-bully orang lain, misalnya karena rasa cemburu (terhadap anak yang lebih pintar, lebih kaya, atau lebih cantik), keinginan untuk mendapat perhatian dari orang lain, kekurangan percaya diri, atau justru kepercayaan diri yang berlebihan.

Selain itu, bullying juga bisa dilakukan sebagai aksi pelampiasan karena pelaku pernah atau masih di-bully oleh pihak lain. Saya ingat bahwa anak yang sering mem-bully dan memalak saya ketika SD juga sering di-bully oleh anak lain. Mungkin korban bullying yang merasa dirinya inferior mem-bully orang lain yang lebih lemah demi mengembalikan perasaan superiornya. Contoh yang paling mudah adalah Ospek atau perpeloncoan lain yang terjadi setiap tahun di sekolah dan kampus, yang sebenarnya adalah kasus bullying massal yang terorganisasi. Pelaku bully tidak hanya teman seumuran atau kakak kelas, tapi dapat juga dilakukan oleh orang tua, misalnya guru. Dalam novel Carrie, pelaku bully digambarkan oleh tokoh Chris dan Billy Nolan–terutama Billy, yang memang sering melakukan kekerasan seksual terhadap Chris dan melakukan tindak kriminal bersama teman-temannya.

Unsur ketiga dalam peristiwa bullying adalah penonton (bystanders). Mungkin kebanyakan dari kita pernah masuk dalam golongan ini. Kita melihat seorang teman ditindas dan dipermainkan, tapi memilih diam karena takut ikut menjadi korban atau karena menganggap peristiwa itu wajar dan merupakan bagian dari tradisi. Guru atau dosen yang melihat tindakan bullying di sekolah/kampusnya dan memilih tidak ikut campur berarti termasuk dalam golongan penonton ini dan secara tidak langsung juga berkontribusi terhadap masalah.

Faktor lain yang membuat penonton tidak mau menghentikan tindakan bullying yang disaksikannya adalah karena bystander effect. Bystander effect adalah fenomena yang terjadi ketika seseorang merasa tidak perlu menolong korban karena merasa akan ada orang lain yang menolongnya. Semakin banyak penonton, semakin kuat bystander effect yang ditimbulkan, karena mereka akan saling mengandalkan satu sama lain. Penonton bisa berubah menjadi pendukung aktif bila mereka tidak sekadar mengabaikan, tetapi juga ikut menertawai atau mengolok-olok.

Dalam novel Carrie, Sue pada awalnya hanya seorang penonton. Ia mengetahui Carrie sering di-bully, tapi ia tidak berbuat apa-apa. Hingga pada suatu ketika ia kaget dan merasa bersalah karena menyadari dirinya ikut menertawai Carrie. Untunglah kemudian Sue berubah dari penonton menjadi penolong–meski pada akhirnya tidak berjalan lancar. Keberanian untuk menjadi penolong itulah yang harus dimiliki oleh para penonton agar dirinya tidak terperosok menjadi pendukung atau bahkan pelaku bullying itu sendiri.

Bullying pada dasarnya adalah penindasan, yaitu ketika pihak yang kuat menindas pihak yang lemah. Oleh karena itu, bila perilaku bullying dibiarkan dan dianggap sebagai tradisi, sangat mungkin perilaku tercela itu berkembang dalam skala yang lebih besar. Anak-anak pelaku bullying itu mungkin akan menjadi pemimpin-pemimpin otoriter bertangan besi yang tak punya rasa kemanusiaan, anak-anak korban bullying mungkin akan tumbuh menjadi teroris pendendam yang gelap mata (atau menjadi seperti Carrie bila mereka punya kekuatan gaib), sementara kita hanya menjadi penonton-penonton yang terlena oleh ilusi bystander effect.

——

Referensi:

http://en.wikipedia.org/wiki/Bystander_effect
http://en.wikipedia.org/wiki/Bullying
http://news.detik.com/read/2013/12/05/085646/2432987/10/marak-kasus-bullying-kok-bisa-siswa-indonesia-paling-bahagia-di-dunia
http://stopbullying.gov
http://www.burgessct.com/2011/02/bullying-rip/
http://www.latitudenews.com/story/what-country-has-the-most-bullies-2/
http://www.thejakartaglobe.com/archive/indonesian-children-among-most-cyberbullied-in-world-poll-indicates/490739/

Foto:

http://3.bp.blogspot.com/-uRIKyX0gO7o/UmIoSijmPvI/AAAAAAAAEPY/BnsNm5AQpbg/s400/carrie+cover.PNG
www.geoffreview.com

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).