Muhamad Rivai

Fiksi dan catatan lainnya

Month: April 2009

Satu: Dari Dalam Semangkuk Bubur

 

Cerita ini adalah bagian dari seri Wa Merah

Suara seorang perempuan berteriak-teriak dari ponselku, suaranya sangat berisik bagaikan sederet petasan yang meledak di malam lebaran, atau seperti kaleng rombeng yang dipukuli dengan gagang kayu; tak ada bedanya, malah mungkin lebih buruk lagi.

“…kamu tuh lama banget! Seenaknya aja kamu ninggalin Mama ngurusin adik kamu sendirian di sini? Mana adik kamu tuh rewelnya minta ampun! Kamu sengaja ya, kabur dari tanggung jawab?” suara itu

Read More

Dua: Dari Dalam Rekaman Itu

 

Cerita ini adalah bagian dari seri Wa Merah

Hari ini sebuah kartu memori berisi sekumpulan rekaman suara sampai di tanganku. Rekaman dalam bentuk memory card ini adalah benda penyingkap kebenaran yang ditemukan oleh anak buahku yang bertugas di lapangan, ditemukan di dalam sebuah puing-puing rumah setelah kejadian misterius yang menyebabkan satu desa terbakar habis tanpa sisa. Mereka bisa bilang ini adalah kegagalan kepolisian, atau kegagalanku karena akulah yang bertugas dalam kasus Desa Sirna Maya ini. Tapi aku tak peduli, asalkan aku bisa mengetahui kebenarannya, itu sudah cukup, bahkan seandainya karirku terancam karena telah ceroboh membiarkan satu desa terbakar dan membunuh sebagian besar warganya. Ini kasus langka, bahkan untuk ukuran internasional, ini tetap kasus langka yang

Read More

Tiga: Dari Atas Kursi Merah

 

Cerita ini adalah bagian dari seri Wa Merah

Dulu, sewaktu aku masih berumur lima tahun, aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Aku adalah anak tunggal, jadi tak ada yang menghalangi kasih sayang orang tuaku kepadaku. Kami bertiga hidup dalam kebersamaan yang erat. Kami makan bersama tiga kali sehari, sebab bagi kami makan bersama di meja makan adalah suatu keharusan. Ibu memasak di rumah, Bapak selalu menyempatkan pulang dari tempat kerjanya setiap jam dua belas siang, aku juga selalu ada di rumah, karena aku tidak sekolah. Pekerjaanku di rumah hanya sekedar bermain puzzle dan melihat buku cerita bergambar, sebab aku tak punya teman selain ibuku yang suka membacakan dongeng.

Pagi itu adalah hari minggu yang cerah, cahaya

Read More

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén