Bolos Satu Minggu3 min read

 

Satu minggu bolos kerja tidak selalu berarti menyenangkan, terutama bila hal yang memicunya adalah demam tinggi dan sakit kepala yang tak tertahakan. Jumat siang itu saya terpaksa pulang lebih awal dari kantor. Saya membayangkan kepala saya berdenyut-denyut seperti Sun Go Kong yang sedang dibacakan mantera oleh gurunya. Suhu tubuh naik entah hingga berapa derajat, sayang sekali saya tidak memiliki termometer (terakhir kali saya memiliki termometer adalah ketika masih SD dan saya menjatuhkan benda itu hingga air raksa di dalamnya menggenangi lantai). Demam dan pusing semacam itu biasanya akan membaik dengan sendirinya setelah tidur selama beberapa jam, tapi siang itu agak berbeda. Demam tak juga turun meski saya sudah tidur dan bangun berkali-kali.

Esoknya, setelah menjalani tes darah dan rontgen, dokter mengatakan bahwa penyakit saya adalah pneumonia alias radang paru-paru. Lendir kental yang selama dua bulan terakhir ini bertengger di tenggorokan telah turun hingga ke dalam paru-paru. Rupanya keberadaan lendir tersebut yang disertai oleh infeksi viruslah yang membuat saya pusing dan batuk tanpa henti. Dokter menyarankan saya untuk beristirahat penuh di rumah selama satu minggu.

Ketika kecil, saya memang sering terkena serangan asma. Saya masih ingat dengan obat semprot berwarna biru muda yang dulu selalu saya bawa ke mana-mana. Berhubung saya tidak suka olahraga dan tidak bisa berenang, proses penyembuhan asma selalu berjalan dengan sangat lambat. Untunglah penyakit itu tak pernah kambuh lagi sejak tahun 2000-an, hingga seminggu yang lalu, rasa sesak itu muncul lagi.

Saya tidak pernah merokok dan tidak terlalu sering berkumpul dengan para perokok, jadi saya ingin mengambinghitamkan (selain makanan berminyak yang saya lahap selama bulan puasa) udara Jakarta yang penuh polusi. Awal kembali ke Jakarta dulu, saya memang sering mengeluh mengenai polusi udara. Sulit sekali untuk menghirup udara segar di kota ini, bahkan pada pagi hari sekali pun. Entah kenapa, lama kelamaan keluhan itu mulai hilang. Saya mulai terbiasa menghirup asap hitam dan lupa bahwa kota ini sedang membunuh saya pelan-pelan.

Saya masih ingat dengan sebuah poster yang diperlihatkan salah seorang guru saya ketika SD dulu. Dalam poster itu, terdapat pemandangan kota masa depan dengan gedung-gedung pencakar langit dan cerobong-cerobong asap. Di sekitarnya, penduduk kota tampak berlalu-lalang sambil menggunakan masker di wajah mereka.

“Bayangkan, anak-anak,” kata guru SD saya itu, “kalau kita tidak menjaga kebersihan udara, di masa depan nanti kita harus selalu mengenakan masker saat pergi ke luar rumah.”

Waktu itu saya membayangkan adegan dalam poster itu seperti sebuah adegan dalam dunia distopia yang begitu jauh, sama jauhnya dengan serangan makhluk luar angkasa atau pemberontakan kaum robot. Namun tanpa saya sadari, ketika saya pulang-pergi kantor sekarang ini, pemandangan itu sudah menjadi kenyataan. Saya sudah hidup di dalam distopia itu. Orang-orang berlalu lalang di atas jembatan besi dengan masker menutupi mulut, sementara asap hitam menyelimuti puncak menara kaca dengan wajah-wajah lelah terperangkap di dalamnya.

Seminggu setelah mengonsumsi obat dari dokter dan tidur siang-malam, kondisi saya mulai membaik. Saya tidak tahu apakah lendir itu masih ada di dalam sini (saya harus kembali melakukan rontgen untuk memeriksanya), tapi sepertinya saya sudah bisa beraktivitas seperti biasa, kembali menjadi salah satu manusia yang berlalu lalang menghirup asap hitam kota.

Setelah satu minggu [hampir] tidak melakukan kegiatan membaca dan menulis seperti biasa, otak saya terasa kaku. Bahkan timeline di Twitter pun tampak aneh, rasanya seperti melihat sekumpulan orang yang sangat ribut dan berlomba mengomentari apa saja. Naskah novela saya belum juga kembali dilanjutkan, memikirkannya saja sudah sesak. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menulis blog, sebagai semacam pemanasan. Sangat mubazir kalau blog berdomain pribadi ini tidak dimanfaatkan. Mulai sekarang, cerita-cerita keseharian dan keluh kesah akan saya muat di sini. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjadi alay.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).