Kado, Panik13 min read

Klik! Barisan judul-judul email terpampang di layar komputer. Aku memperhatikannya satu persatu, ada kesamaan dari enam buah email yang dikirim tadi malam: semuanya memiliki subjek Happy Birthday atau Selamat Ulang Tahun. Seharusnya aku senang ketika membaca subjek email-email tersebut, tapi aku jadi agak lesu ketika membaca alamat pengirimnya. Forum, komunitas, jejaring sosial; semua email itu dikirim secara otomatis oleh makhluk yang tidak nyata. Ya, ada namaku di situ meskipun dalam nama samaran (Hai Grao_21, Komunitas Resensi Film mengucapkan selamat ulang tahun. Wish you all the best!), tapi layanan pengirim email otomatis itu hanya menjalankan tugasnya sesuai program, mereka tidak punya perasaan apa-apa saat mengirimkan ucapan itu.

Tak ada email dari orangtuaku. Tak ada SMS, apalagi telepon. Aku heran apakah mereka benar-benar melupakan hari ulang tahunku. Menjengkelkan. Bahkan teman-temanku tampaknya tak ada yang ingat. Memang ada beberapa orang yang menuliskan ucapan selamat di Facebook, tapi aku tak benar-benar mengenal mereka. Sepertinya mereka cuma sekadar melakukan hal rutin yang selalu mereka lakukan saat kurang kerjaan.

Tapi bila sekarang aku pergi ke kampus, mungkin beberapa teman kuliahku akan ada yang ingat. Atau lebih dari itu, mungkin ada kejutan.

Aku langsung mengambil jaket dan mengenakan sepatu, setidaknya aku tak mau mati bosan di kontrakan yang suram ini. Saat aku membuka pintu, ada sebuah benda yang tergeletak di halaman depan. Keningku mengkerut. Sebuah kotak? Bukan kotak biasa, tapi kotak yang dibungkus menggunakan kertas kado berwarna jingga. Aku agak terkejut, tapi aku tersenyum gembira. Aku tak menyangka akan ada yang mengirimiku kado ulang tahun dengan cara seperti ini.

Perlahan-lahan kuangkat kotak itu. Lumayan berat, ini pasti bukan kado sembarangan. Kuperiksa keenam sisi kotak itu, berharap menemukan nama pengirimnya, tapi tak kutemukan apapun. Aneh. Siapa yang mengirimkan kotak ini? Rasanya tak mungkin benda ini dikirimkan lewat pos atau paket kilat, mungkin seseorang meletakkannya diam-diam tadi pagi. Mungkin pengirimnya adalah orang yang kukenal, dan bisa saja ada kertas ucapan di dalam kotak ini.

Dengan antusias, aku mencoba menyobek sampul kado yang membungkus kotak tersebut. Orang yang membungkusnya pasti orang yang sangat rapi dan teliti, aku bisa memastikan itu. Keningku kembali berkerut, ternyata benda seukuran kotak sepatu ini terbuat dari kayu tripleks. Pada bagian atasnya terdapat sebuah pintu yang bisa ditarik ke samping untuk membukanya. Seumur hidup, baru kali ini aku mendapat kado yang dibungkus dengan seserius ini. Isinya pasti adalah benda yang sangat berharga. Ada perasaan ragu untuk membukanya, karena aku ingin mempertahankan saat-saat yang mendebarkan ini. Perlahan kudekatkan kotak itu ke telingaku, ingin kugoyang sedikit.

Tapi tanganku seperti membeku. Ada suara yang aneh dari dalam kotak. Tik! Tik! Tik!

Suara jam? Ada yang menghadiahi aku jam analog dalam kotak kayu yang dibungkus rapi? Romantis sekali. Mungkin ini adalah jam mewah yang harganya mahal. Tapi ada kemungkinan lain, kemungkinan buruk yang membuatku menahan nafas sesaat. Aku meletakkan kotak itu kembali di atas lantai, lalu mundur selangkah. Mungkinkah isinya bom waktu? Seperti di film-film yang sering kutonton? Mustahil, itu terlalu mengada-ada. Lagipula siapa yang ingin membunuhku? Aku kan cuma orang biasa, bukan politisi, bukan orang penting untuk dijadikan target teroris. Aku terdiam sejenak. Ya, orangtuaku memang pengusaha yang cukup terkenal, ayahku punya hubungan erat dengan pendirian beberapa tempat hiburan, tapi setahuku usaha yang dijalaninya masih terbilang wajar.

Ini pasti lelucon. Seseorang ingin bercanda dan membuatku ketakutan, mungkin semacam lelucon gila di hari ulang tahun. Aku tersenyum demi menenangkan diri, lalu pelan-pelan kembali mengambil kotak itu. Kudengarkan lagi suara itu: tik! tik! tik! Dinding kotak kayu sepintas membuat suaranya terdengar seperti tok! tok! tok!

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kalau tidak salah, tetanggaku yang tinggal tepat di sebelah rumah ini masih memiliki hubungan keluarga dengan duta besar Amerika Serikat. Seandainya aku seorang teroris dan tidak sanggup meledakkan gedung kedutaan, mungkin aku akan menebar teror dengan membunuh keluarga si duta besar terlebih dahulu. Itu cukup masuk akal, sebab kalau ada bom dengan daya ledak besar meledak di sini, rumah sebelah pasti akan ikut hancur lebur.

Tidak hanya itu, masih ada kemungkinan lain. Aku ingat, tepat di belakang rumahku ada sebuah gereja yang lumayan besar. Sebentar lagi perayaan natal, bukan tidak mungkin ada kelompok provokator yang ingin merusak kerukunan antar umat beragama dan berencana meledakkan gereja itu. Kalau sebuah bom berdaya ledak tinggi meledak di sini, gereja itu pasti akan kena imbasnya.

Aku menelan ludah. Untuk memastikan apakah isi kotak ini merupakan sebuah bom atau sebuah jam eksklusif, aku harus membukanya terlebih dulu. Tapi kalau aku membuka kotak ini, mungkin saja tindakanku justru menghidupkan sebuah pemicu yang akan membuat bomnya langsung meledak, seperti di film-film. Itulah kenapa benda ini diletakkan di dalam kotak kayu yang cuma bisa dibuka lewat satu sisi. Aku bisa membayangkannya, berbagai jenis kabel dan alat penghitung waktu yang terhubung dengan pintu kayu itu, mungkin sudah dipersiapkan dengan rapi dan jeli oleh sang teroris.

Konyolnya, kalau memang di dalam kotak ini ada sebuah bom waktu, aku sudah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir! Mungkin ada, mungkin tidak, tapi aku tidak mau mempertaruhkan nyawaku. Hal paling logis yang harus kulakukan sekarang adalah menelepon polisi. Ya, mungkin mereka akan memanggil Tim Gegana atau semacamnya. Kalau memang ada bom di dalam sana, maka ada kemungkinan aku selamat, mungkin malah masuk koran. Dan kalau seandainya isinya hanya jam dinding, paling buruk aku hanya mendapat malu, tidak akan hancur berkeping-keping.

Tanpa membuang-buang waktu, aku segera meraih saku celanaku untuk mengambil ponsel. Sial, tidak ada di sini. Ada di mana ponselku? Kuraih tas ranselku, lalu kuraba bagian dalam tas itu, siapa tahu tadi aku meletakkannya di sini. Tidak ada juga. Aku membalikkan tas dan menumpahkan semua isinya. Buku dan kertas berjatuhan, begitu juga dengan dua buah pulpen, tapi aku tak juga menemukan ponselku. Apa tadi aku meninggalkannya di kamar?

Tik! Tik! Tik! Sementara pikiranku dilanda kepanikan, suara jarum jam di dalam kotak itu terus berdetak.

Aku berlari sekuat tenaga menuju kamarku yang letaknya cuma beberapa meter dari halaman depan. Kunci kamar ada di saku celana sebelah kiri, aku berusaha menariknya keluar, tapi benda logam itu terjatuh dari tanganku. Baru kusadari bahwa tanganku gemetar, selain itu keringat yang keluar dari telapak tangan juga membuat genggamanku licin. Kuambil kunci itu dari atas lantai, lalu kumasukkan ke dalam lubang kunci. Ya Tuhan, dalam keadaan seperti ini memasukkan kunci ke dalam lubang kunci saja rasanya seperti memasukkan benang ke dalam lubang jarum.

Dengan perpaduan antara ketakutan dan kekesalan, akhirnya aku berhasil membuka pintu kamar. Dalam sekejap keadaan isi kamarku yang sangat berantakan terpampang jelas. Buku-buku dan koran kadaluarsa berserakan di lantai. Kepingan-kepingan CD dan majalah tergeletak kacau di depan komputer. Belum lagi bungkus makanan, botol minuman yang kosong, serta beberapa puntung rokok yang menambah rumit suasana. Gila, padahal bomnya masih belum meledak, tapi kamarku sudah tampak seperti reruntuhan bekas ledakan bom. Aku mengatupkan gigi-gigiku, sementara kedua lututku terasa lemas. Untuk mencari benda kecil di dalam kamar biasanya aku membutuhkan waktu sekitar setengah jam, aku tak bisa menghabiskan waktu selama itu sekarang.

Merasa waktuku semakin sedikit, aku segera melupakan ide untuk menelepon polisi. Aku berlari ke halaman rumah dan mengambil kotak kayu itu, lalu melesat sekuat tenaga melewati pintu pagar. Aku tak boleh membiarkan bom ini meledak di sini, banyak yang akan jadi korban, termasuk diriku sendiri.

“Mas Gun, selamat ulang tahun!” sebuah suara meneriaki aku di saat aku sedang berlari kencang. Aku menoleh dan menemukan Mbak Laura, tetanggaku, yang sedang menyiram tanaman di pekarangan rumahnya. Aku agak kaget karena dia mengetahui hari ulang tahunku. Dalam keadaan normal seharusnya aku merasa senang, tapi tidak dalam keadaan seperti ini.

“Mbak Laura! Bahaya Mbak! Bahaya!” ucapku gagap.

“Bahaya? Bahaya apa?” tanya Mbak Laura heran.

Aku memperlihatkan kotak kayu yang kubawa, “Ada bom, Mbak Laura! Saya pinjam telepon!”

Bukannya meminjamkan aku telepon, Mbak Laura malah menjatuhkan selang airnya dan menjerit histeris. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadaku, ia langsung lari menjauhi rumahnya, atau lebih tepatnya, menjauhi aku. Samar-samar aku dapat mendengar teriakan Mbak Laura di kejauhan. Gawat, kalau begini bagaimana caranya aku bisa menghubungi polisi? Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Kalau aku bisa membuat semua orang di lokasi ini menjauh dari kotak ini, dengan kata lain mengevakuasi mereka, maka aku dapat menghindari jatuhnya korban jiwa akibat ledakan bom. Aku bahkan tak perlu menjinakkan bomnya. Kenapa aku baru menyadari itu sekarang?

Dengan membawa ide itu (dan kotak kayu ini), aku berlari ke tempat di mana penghuni komplek biasa berkumpul, yaitu di lapangan voli. Lapangan voli di RT kami memang biasa dijadikan tempat berkumpulnya ibu-ibu untuk bergosip, selain para bapak-bapak yang ingin berolahraga. Karena ini masih siang hari dan bukan hari libur, kemungkinan akan ada lebih banyak ibu-ibu daripada bapak-bapak. Itu bagus, karena teriakan ibu-ibu biasanya lebih nyaring sehingga bisa memperingatkan warga yang lain.

Dengan nafas yang terengah-engah dan keringat yang mengucur deras, aku tiba di depan lapangan itu. Tampak lima orang ibu-ibu komplek sedang duduk di bawah pohon rindang yang agak jauh dari lapangan. Mereka sepertinya sedang asyik mengobrol sambil menyantap rujak. Aku harus memperingatkan mereka, mereka harus tahu bahwa nyawa mereka sedang dalam bahaya. Aku berjalan mendekati mereka, lalu mengangkat kotak kayu itu tinggi-tinggi.

“Ibu-ibu! Gawat!” teriakku, mereka semua menoleh, “Di dalam kotak ini ada bom!”

Mereka terdiam sejenak, salah seorang di antara mereka bahkan menjatuhkan jambu yang sedang dikunyah. Tak sampai dua detik, keheningan itu pecah. Kelima wanita itu menjerit histeris, lalu segera berlari sekuat tenaga menjauhi aku, salah seorang di antara mereka bahkan ada yang jatuh tersandung kaki sendiri, tapi segera bangkit kembali. Aku dapat mendengar teriakan mereka memudar seiring dengan semakin jauhnya mereka berlari. Aku menghela nafas. Baguslah, aku berhasil menyelamatkan mereka.

Aku terdiam. Aneh, kenapa aku membuat orang-orang lari menjauh sementara aku sendiri masih memegang kotak yang berisi bom ini? Gawat, kalau begini malah aku sendiri yang akan menjadi korban, padahal aku tidak siap untuk menjadi martir. Entah tinggal berapa lama waktu yang kumiliki, tapi bom di dalam kotak ini terus berdetak sejak tadi. Aku harus mengevakuasi diri selagi sempat. Perlahan aku meletakkan kotak itu di tengah lapangan voli yang kosong, lalu aku bersiap untuk lari sekuat tenaga.

Namun ketika aku membalikkan badan, tiba-tiba aku menyaksikan banyak mobil berwarna hitam yang berdatangan, kalau tidak salah ada empat mobil. Dalam gerakan yang amat cepat, sekelompok orang berpakaian militer warna hitam, mengenakan rompi anti peluru, helm, serta membawa senapan laras panjang keluar dari dalam mobil-mobil itu. Mereka segera berbaris, membentuk formasi yang mengelilingiku dari segala arah. Siapa orang-orang ini? Apa mereka polisi? Ketika aku melihat lambang burung hantu di mobil mereka, aku sadar bahwa pasukan yang berada di hadapanku ini adalah Densus 88, spesialis anti-teror yang terkenal itu. Dan ketika aku melihat ada beberapa orang berpakaian seperti astronot keluar dari salah satu mobil, aku sadar bahwa di antara mereka ada penjinak bom dari Gegana. Aku menghembuskan nafas lega, rasanya semua beban yang menyesakkan di dadaku mencair seketika. Meskipun aku belum sepenuhnya aman, tapi sepertinya aku terselamatkan, mereka pasti bisa menjinakkan bom ini.

“Jangan bergerak!” mereka menodongkan senapan ke arahku.

Tidak, ini salah paham! Matilah aku.

—————————————————–

Aku berada di ruangan interogasi. Hampir mirip seperti di film-film: sebuah ruangan, sebuah meja, dan dua buah kursi. Di depanku ada seorang polisi yang bertugas untuk menginterogasi aku, sementara di salah satu sisi ruangan terdapat kaca satu arah, aku yakin ada anggota kepolisian lain yang mengamati kami dari balik kaca itu. Bedanya dengan di film, benda yang berada di atas meja di hadapanku bukanlah segelas kopi hangat, tapi adalah sebuah kotak kayu. Ya, kotak kayu yang tadi kubawa berlari-lari keliling komplek.

Beberapa jam yang lalu petugas Gegana berpakaian lengkap dengan hati-hati mendekati kotak itu di tengah lapangan voli, sementara aku sudah diborgol dan dimasukkan ke dalam mobil yang ditempatkan di jarak aman. Layaknya penjinak bom di film Hurt Locker, mereka membuka kotak kayu itu, suasana saat itu sangat mendebarkan. Tapi ketika kotak itu terbuka lebar, reaksi mereka sungguh berbeda. Mereka menoleh ke arah pasukan yang lain sambil mengangkat sebuah jam dinding berbentuk Mickey Mouse, lalu mereka tertawa. Tapi aku tak diizinkan untuk ikut tertawa. Bagiku, tidak ditembak mati oleh Densus 88 saja sudah merupakan keberuntungan yang sangat besar.

“Kamu tahu, semua tindakan yang kamu lakukan waktu menemukan kotak mencurigakan tadi, nggak ada satu pun yang logis!” ucap polisi di hadapanku, matanya tajam menatapku dengan sorot mata orang yang kesal karena ketenangannya diganggu.

“Saya panik, Pak,” jawabku pelan.

“Kalau kamu ketemu bom, terus kamu panik, normalnya kamu lari! Bukannya membawa-bawa bom itu keliling komplek sambil mendatangi pusat keramaian! Kamu ingin membunuh ibu-ibu itu ya? Atau jangan-jangan kamu memang teroris yang ingin membuat ancaman palsu?” ucapnya lagi.

“Bukan Pak, sumpah Pak!”

“Lalu, kenapa kamu nggak menelepon polisi waktu kamu mencurigai ada bom di dalam kotak?”

“Soalnya, soalnya handphone saya hilang, Pak. Saya udah cari, tapi saya nggak tahu ada di mana.”

Tiba-tiba polisi itu mengulurkan tangannya yang kekar, lalu ia mencengkeram kerah bajuku. Gawat, aku akan disiksa, aku pasti akan disiksa.

“Hanpdhone kamu hilang? Terus, yang kamu kalungin di leher kamu ini apa?”

Aku menunduk, melihat ponsel kesayanganku bergelantungan di balik kerah bajuku, lalu aku menangis.

—————————————————

Aku dibebaskan dari kantor polisi setelah ditahan selama beberapa jam karena dicurigai sebagai kaki tangan teroris. Ketika aku pulang ke rumah kontrakan, malam sudah cukup larut, dan kurasa para tetangga memandangiku dengan wajah kesal dari balik jendela rumah mereka. Seumur hidup, aku akan dikenang karena kejadian tadi, sebagai orang yang berlari panik sambil membawa kotak berisi jam dinding Mickey Mouse. Mungkin akan lebih baik kalau aku segera pindah ke luar kota saja. Merasa sangat lelah, aku pun langsung tidur.

Pagi ini aku bangun dengan pikiran yang tidak karuan. Aku membuka internet dan menemukan berita tentang kejadian kemarin sudah muncul di situs Detik.com, dengan judul “Dikira Berisi Bom, Seorang Pemuda Panik Mendapatkan Kado Jam Dinding”, lengkap dengan komentar orang-orang iseng yang menertawai kebodohanku. Aku berani bertaruh, seandainya mereka berada dalam posisiku waktu itu, mereka juga pasti akan melakukan hal yang sama. Lagipula, siapa yang tidak panik kalau menerima kotak aneh yang berdetak seperti bom waktu? Bukankah wajar bila kita berbuat tidak rasional saat sedang panik?

Aku muak, aku tak ingin berada di sini. Dengan lesu aku mengambil jaket dan berniat keluar rumah, kemanapun, ke tempat yang jauh dimana tidak ada orang yang tahu mengenai kejadian kemarin. Namun seketika itu juga keningku mengkerut, aku melihat sebuah benda tergeletak di halaman depan. Sebuah kotak? Bukan kotak biasa, ini adalah kotak yang sama dengan kotak sialan kemarin. Aku mendesis kesal, tanganku mengepal. Siapa orang yang melakukan semua ini? Siapa orang yang dengan kejamnya mempermainkan aku? Tapi cuma orang bodoh yang akan terjatuh dalam lubang yang sama dua kali.

Dengan geram, aku segera mengambil kotak itu, lalu menyobek kertas pembungkusnya. Kupasang telingaku baik-baik. Ah, itu dia, aku dapat mendengar suaranya. Tik! Tik! Tik! Benar-benar suara yang merdu. Tanpa keraguan sedikitpun, aku membuka pintu di salah satu sisi kotak itu. Kemarin jam dinding Mickey Mouse, sekarang jam dinding macam apa? Nah, sekarang aku dapat melihatnya. Jamnya terlihat lebih kecil dari jam yang kemarin, bahkan mungkin bukan jam dinding. Angka-angka penunjuknya pun terlihat unik. Selain itu, di sekitar jam tersebut aku dapat melihat kotak-kotak kecil serta kabel-kabel yang sangat banyak.

Nafasku tertahan. Ini bukan jam. Ini bom sungguhan.

Jantungku berdetak cepat, jauh lebih cepat dari irama jarum jam kecil itu. Apa yang harus aku lakukan? Setelah kejadian memalukan kemarin, sekarang tidak akan ada lagi yang memepercayai ucapanku mengenai bom. Orang-orang hanya akan mengira aku sedang mengerjai mereka untuk yang kedua kalinya, bahkan polisi mungkin tidak akan menganggap serius pengaduanku. Ini benar-benar kacau, sepertinya aku memang telah dijebak, sudah skak mat.

Sementara hitung mundur terus berlangsung, aku menemukan secarik kertas di dalam kotak itu. Isinya adalah pesan dari sang teroris.

SELAMAT ULANG TAHUN. MAAF, KEMARIN SALAH KIRIM.

———————–

Cerita ini dibuat untuk menyambut ulang tahun Kemudian.com yang ke-4

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).