Meditasi Dadan9 min read

Kemampuan Dadan untuk berhubungan dengan dunia spiritual dimulai dari hal yang sama sekali tak terduga. Tidak seperti kebanyakan orang yang umumnya belajar dari seorang guru, bertapa di puncak gunung atau di dekat kuburan, Dadan menemukan spiritualitasnya justru di dalam ruangan kantor. Tidak ada yang menyangka, seorang lelaki kurus berambut lurus yang setahun lalu mendaftar di PT. Citra Usaha, sebuah perusahaan cetak digital, ternyata akan menjadi seorang petapa dengan kesaktian supra-mandraguna.

“Kewajiban kamu adalah mengerjakan orderan pelanggan, kamu harus menunggu di depan meja, dan layani setiap permintaan dengan sebaik-baiknya,” begitulah kata-kata atasan Dadan saat pertama kali ia diterima bekerja sebagai seorang penyunting foto di perusahaan tersebut.

Awalnya Dadan sangat bersemangat. Ia datang pagi-pagi sekali ke kantor, tidak sabar untuk menggunakan keahlian manipulasi foto yang telah ia kuasai semenjak lulus kuliah. Tidak lupa ia  berdandan rapi, dengan harapan para pelanggan akan merasa nyaman berdekatan dengannya. Lalu ia duduk di kursi yang telah disediakan, menyalakan komputer, dan meraih mouse. Ia sudah siap jiwa dan raga, sudah siap untuk membuat foto yang suram jadi indah, merubah desain yang berantakan menjadi teratur. Ia menarik nafasnya, mengumpulkan semua konsentrasi. Namun di saat nafas itu hendak ia hembuskan, ia tersadar bahwa ia masih belum mendapat pekerjaan apa-apa. Tak ada pelanggan pagi ini, tak ada siapa-siapa. Tak ada perintah apa-apa dari atasannya, selain satu kata: tunggu.

Dadan menggerak-gerakkan mouse-nya, membuka berbagai jendela aplikasi, lalu menutupnya kembali. Ia menyandarkan badannya pada kursi, lalu meregangkan badannya sedikit. Dalam hati ia kecewa, mengapa semangatnya untuk bekerja malah dininabobokan dengan keadaan ini. Satu jam, dua jam, ia menunggu tanpa melakukan apa-apa. Ingin pergi dari depan meja, namun ia takut dimarahi atasannya, apalagi ia tahu di belakang meja kerjanya terdapat sebuah kamera pengawas. Untunglah setelah tiga setengah jam menunggu tanpa kepastian, seorang pelanggan datang dan memberikannya pekerjaan. Bagai seekor banteng yang lepas dari kandang, bagai orang yang mendengar beduk Maghrib ketika berpuasa, Dadan segera mengerjakan permintaan itu dengan penuh semangat. Sekedar memperbaiki warna gambar dan mengutak-atik gelap terangnya, sungguh pekerjaan yang amat mudah bagi dirinya. Tak sampai satu jam, pekerjaan pertamanya pun ia selesaikan dengan sempurna. Pelanggan pun tampak puas dengan hasilnya.

Semenit semenjak pelanggan pertamanya meninggalkan ruangan, Dadan kembali diliputi dengan kesepian. Suara detak jarum jam dinding di ruangan itu terasa amat nyaring bagi dirinya. Satu jam, dua jam, ia kembali merasa bosan. Komputer yang ada di hadapannya sudah ditelanjangi dari aplikasi-aplikasi yang tak berhubungan dengan pekerjaan. Jangankan internet, musik pun tak ada. Lama-kelamaan ia pun mulai mengantuk, bahkan sampai setengah tidur. Namun ia sadar kembali ketika jam makan siang tiba.

Orang lain mungkin akan bahagia ketika mendapatkan pekerjaan yang longgar dengan gaji yang cukup besar. Namun tidak bagi Dadan. Ia terbiasa bergerak, memburu waktu, diburu waktu, atau saling buru-memburu. Semua itu akibat pekerjaannya yang lalu. Ia pernah bekerja di sebuah perusahaan studio foto dengan bos yang amat menuntut, pekerjaan yang setumpuk, dan waktu yang sangat sempit. Di kantornya yang lama, bernafas saja ia sulit. Tak jarang ia sampai harus lembur tanpa dibayar demi menyelesaikan pekerjaan yang tak bisa ia selesaikan tepat waktu. Namun lama kelamaan ia terbiasa dengan kerja yang serba cepat dan tangan yang selalu bergerak. Mungkin karena itulah di kantornya yang baru sekarang, ia mengalami shock.

“Wah gila, enak banget kerjaan kau! Gaji banyak, kerjaan sedikit!” ucap seorang temannya ketika mereka bertemu di akhir pekan.

“Tapi gue bosen. Bayangin, hampir seharian kerjaan gue cuma melamun! Nggak ada game, nggak ada musik, nggak ada majalah!” keluh Dadan.

“Ya kalo gitu kau bawalah em-pe tiga player sendiri dari rumah!”

Mendengar saran dari temannya, Dadan mengangguk setuju. Esok harinya, ia menyiapkan sebuah mp3 player lengkap dengan earphone stereo yang ia beli dari uang tabungannya. Alat penyetel musik itu pun tak lupa ia isi dengan berbagai lagu dangdut yang berirama riang, pasti akan cukup ampuh mengusir kebosanannya. Dan ketika sampai di kantor, ia tahu bahwa semuanya tetap sama seperti biasa. Tak ada pelanggan, tak ada pekerjaan, semuanya sunyi dan sepi. Ia sumpal kedua telinganya dengan earphone, lalu ia nyalakan musik dangdutnya. Untuk beberapa jam kemudian, Dadan merasa sangat terhibur, bahkan tak jarang tangannya menari-nari mengikuti irama musik. Sekarang ia tak perlu takut mati kebosanan lagi.

Namun keasikannya tersebut dipecahkan oleh kedatangan bosnya. Bosnya berdiri di hadapannya dan memberi isyarat agar ia melepas penyumpal kupingnya itu.

“Sekarang ikut saya ke ruangan,” ucap bosnya dengan tatapan yang tajam.

Dadan bergidik. Ia tahu ia akan dimarahi, malah mungkin akan dipotong gaji. Ia segera melepas dan mematikan mp3 player-nya, lalu menyimpannya di dalam laci meja. Dengan lutut yang lemas, ia masuk ke ruangan bosnya.

“Kenapa kamu pakai earphone?” tanya bosnya sambil menunjuk muka Dadan.

“Maaf Pak, habisnya saya ngantuk,” jawab Dadan sambil menunduk.

“Ngantuk? Hah, kamu mau kerja, tidur, atau dangdutan?”

“Lho, kok Bapak tahu saya dengerin lagu dangdut?”

“Karena lewat kamera CCTV, saya lihat gerakan tangan kamu, itu irama musik dangdut!”

“Ma… maaf Pak.”

“Sekarang coba kamu pikir, kalau seandainya kamu sumpal kuping kamu begitu, lalu ada pelanggan datang, bagaimana akibatnya? Citra perusahaan kita di mata pelanggan akan jadi jelek! Padahal jelas-jelas nama perusahaan ini Citra Usaha, akan jadi apa kalau citranya jelek?” ujar bos Dadan sambil menggerak-gerakkan tangannya, seperti orang berorasi.

“Tapi Pak…, kalau seandainya ada pelanggan datang pasti saya matiin kok musiknya. Selama ini kan jarang ada pelanggan,” ucap Dadan memberi alasan.

“Halah, alasan kamu! Tadi aja, kalau nggak saya beri isyarat, kamu juga nggak akan dengar suara langkah kaki saya di samping kamu. Dengar ya, Dan. Saya tahu pekerjaan kamu membosankan. Tapi kamu dibayar besar untuk pekerjaan itu. Anggap saja kamu dibayar untuk duduk manis, diam, dan tunggu pelanggan. Kurang enak apa?”

“Iya Pak, maaf. Saya janji nggak akan mengulangi lagi.”

Dimarahi bosnya, Dadan pun menjadi ciut. Ia memang pria yang agak sensitif, perasaannya mudah terpengaruhi oleh omongan orang lain. Semenjak saat itu ia pun merasa bersalah, ia merasa tidak bersyukur karena telah mendapatkan pekerjaan yang enak, dan malah mengecewakan bosnya sendiri. Oleh karena itu, ia pun tak pernah lagi membawa mp3 player ke kantor. Ia mulai mencoba untuk menerapkan apa yang diperintahkan bosnya: duduk manis, diam, tunggu pelanggan. Untuk inilah ia sesungguhnya dibayar, begitu pikirnya.

Awalnya ia hanya melamun selama hampir seharian. Ia berkhayal, membayangkan banyak hal yang sebenarnya bisa dijual sebagai ide novel atau film. Hanya dengan mendengarkan suara detak jarum jam dan dengungan suara mesin komputernya secara terus-menerus, ia berhasil berlayar menuju dunia fantasi yang jauh. Dari jam tujuh sampai jam sembilan, ia berkhayal masalah cinta. Dari jam sembilan sampai jam dua belas, ia memikirkan masalah manusia. Lalu dari jam dua belas sampai jam empat sore, ia berkhayal masalah agama. Semua itu ia lakukan setiap hari sesuai jadwal, kecuali kalau ada pelanggan yang datang—dan itu pun sangat jarang.

Namun setelah dua bulan kemudian, semua khayalan Dadan sudah habis. Ia tak menyangka bahwa pikirannya memiliki kekuatan imajinasi begitu kuat, mungkin karena selama ini ia jarang melamun. Semua imajinasi dan fantasi yang mungkin ada di muka bumi ini sudah habis dikhayalkan Dadan selama dua bulan melamun di ruangan kantor. Sehingga pada bulan ketiga, ia pun tak memiliki bahan lamunan lagi. Akhirnya ia hanya bisa melamun dengan pikiran yang kosong, tidak memikirkan apa-apa. Semakin lama dirinya semakin hampa, kepalanya terasa semakin ringan. Perlahan-lahan ia semakin bisa menanggalkan permasalahan-permasalahan duniawi dalam benaknya, dan entah mengapa ia merasa nyaman. Ia menjadi seperti orang yang bermeditasi. Ia bisa merasakan hembusan angin dari AC di sudut ruangan, aliran listrik di dalam komputernya, bahkan tatapan mata bosnya yang terus mengawasi lewat kamera CCTV. Ia menjadi satu dengan ruangan kantor. Bahkan seringkali jiwanya juga keluar dari dalam tubuh, lalu ia menyaksikan kebenaran yang tak pernah disaksikan oleh orang lain. Semuanya terjadi secara terus-menerus, hingga enam bulan kemudian, sebuah peristiwa aneh benar-benar memutuskan Dadan dari hasrat duniawi.

“Dan, udah waktu pulang, jangan melamun aja,” ucap seorang pegawai yang tengah bersiap pulang.

Dadan bergeming, pegawai itu pun heran. Ia mencoba memanggil Dadan dengan suara yang lebih nyaring, namun Dadan tak juga tersadar dari lamunannya yang kosong itu. Merasa khawatir, pegawai tersebut pun mendekati tempat duduk Dadan dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Namun pada saat itu ia merasakan suatu keanehan. Rasanya tubuh Dadan lebih tinggi dari biasanya, pikir pegawai itu. Saat ia melihat ke arah kursi, ia baru menyadari bahwa tubuh Dadan sejak tadi melayang. Bokongnya tak lagi menempel pada jok kursi, dan kakinya tak lagi menapak pada lantai. Dadan melayang dalam posisi duduk!

Sang pegawai itu kaget bukan main. Ia segera lari terbirit-birit dan menyangka kalau yang baru saja dilihatnya bukanlah Dadan, melainkan sesosok makhluk halus. Semenjak kejadian itulah, nama Dadan mulai terkenal sebagai seorang petapa di kalangan pegawai-pegawai kantoran. Tidak hanya dapat melayang saat bermeditasi, Dadan pun mulai sanggup membaca pikiran orang yang dihadapinya. Ia dapat mendengar suara-suara kekaguman, ketakutan, dan keheranan dari orang-orang yang ia temui. Berkat kemampuan itu, bosnya berencana untuk menaikkan jabatan Dadan menjadi manajer. Ia yakin bahwa Dadan bisa mengatur banyak hal dengan kekuatan supranatural dan kebijakannya itu. Namun anehnya, Dadan menolak. Ia malah mengundurkan diri dari perusahaan.

“Pak, terima kasih banyak. Selama hampir setahun saya bekerja di perusahaan ini, saya mendapat pelajaran yang sangat berarti. Saya mendapat pencerahan. Saya dapat melihat segalanya sekarang, kebenaran yang tersembunyi di balik tirai ragawi ini. Sekarang saya tahu bahwa semua ini tidak ada artinya. Semua pekerjaan ini, semua materi ini, semuanya adalah hampa. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan mempertahankan kebenaran di dalam diri saya,” ucap Dadan dengan aura yang kian bersinar.

Mendengar hal tersebut, tentu saja bosnya kaget. Ia berusaha untuk menahan kepergian Dadan, namun semua itu tak ada gunanya. Tiap kali ia mencoba mencari alasan, Dadan sudah bisa membaca pikirannya. Ia benar-benar tak berdaya di hadapan Dadan yang telah mendapat pencerahan ini. Justru pada akhirnya, ia sendiri malah terpengaruh dengan aura Dadan. Ia menangis sejadi-jadinya, menyadari betapa nihilnya nilai materi yang selama ini selalu ia kejar. Ia menyadari betapa kecil dirinya sebagai manusia, dibandingkan dengan kemegahan semesta. Lalu, ia pun mendapat pencerahan. Ialah murid pertama Dadan.

Merasa berhasil melepaskan diri dari hasrat-hasrat duniawi, bos Dadan pun memutuskan untuk berhenti bekerja juga. Ia mengikuti Dadan kemanapun ia pergi, menjadi pengawal dan murid setia dari tokoh spiritual nomor satu di Indonesia itu. Sebagian pegawai-pegawai Citra Usaha juga ada yang menjadi pengikut Dadan. Mereka seringkali terlihat bermeditasi di pusat kota, di kursi taman, atau di tempat parkir yang dipilih secara acak. Nama Dadan sering muncul dan menjadi perbincangan di majalah Mistisme dan Supranatural. Sekali waktu Dadan juga pernah  muncul di tivi dengan nama panggung Mbah Sakti dan berbicara dengan suara penuh kharisma, “Ingin mendapat pencerahan batin? Ingin lepas dari jeratan hasrat duniawai? Ketik REG SAKTI, lalu kirim ke 9979. Saya akan memberikan Anda pencerahan langsung dari kontak batin saya.”

Di sisi lain, para pegawai yang tidak berani mengikuti jejak Dadan pun masih terus mengenang sosok Dadan hingga bertahun-tahun lamanya. Bagi mereka, Dadan adalah seorang petapa yang mendapatkan pencerahan di ruang kantor, seorang guru spiritual di antara para pegawai. Bekas ruangan kerja Dadan mereka jadikan tempat keramat, diberi pembatas dan hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk. Hingga pada suatu ketika terdengar desas-desus bahwa barangsiapa yang bertapa di ruang kantor tersebut, maka akan mendapatkan kekuatan supranatural juga seperti yang dimiliki Dadan. Pada titik itulah orang-orang mulai berhenti mengagumi Dadan dan mulai memuja ruang kantornya.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).