Momentum16 min read

Cerpen ini dibuat untuk event Tantangan di Kemudian, pada tahun 2008

Schnee

Salju itu hinggap di kelopak matanya. Basah. Andra berdiri di sampingku sambil memegang kameranya, sesekali membersihkan salju yang menempel pada benda kesayangannya itu. Hari ini ada banyak objek lagi yang ingin ia amati, tapi ia terlihat agak lelah siang ini. Kulit wajahnya mulai terlihat pucat seperti orang-orangan salju. Aku mengenggam tangannya dan mengajak ia berteduh di teras rumah kami yang mungil. Semburat senyum tenang merekah di bibirnya sambil berlari kecil mengikuti langkahku. Aku tertawa melihat ia yang terlihat bersemangat.

Musim dingin di Belanda bagiku terasa seperti surga. Meskipun di negeri ini salju hanya turun beberapa hari saja, tapi kadang waktu yang paling sebentar sekalipun bisa terasa lebih panjang daripada keabadian. Momentum, begitu katanya. Kini aku dan suamiku berdiri berangkulan di teras rumah sambil memandangi gumpalan-gumpalan putih yang mengarak turun dari langit, serta pohon-pohon berbaris yang seolah diselimuti gula. Tak ada siapapun selain kami berdua. Kusandarkan kepalaku di pundaknya, dapat kurasakan ia menoleh ke arahku. Tatapannya selalu lemah, tapi bola matanya penuh dengan semangat. Di lehernya terjalin selembar syal yang kurajut sendiri semusim yang lalu, kini tak akan pernah ia lepaskan. Selalu saja terlintas dalam benakku, seandainya seumur hidup akan jadi seperti ini. Seandainya seumur hidup salju akan terus turun di pekarangan rumah kami, dan tiupannya yang dingin akan selalu membuat tubuh kami tak pernah mau berpisah walau selangkahpun.

Beberapa menit kami diam tak bersuara, lalu Andra melepaskan sandaranku dari pundaknya. Ia menunjukkan kamera kesayangannya padaku sebagai sebuah isyarat, lalu tersenyum dan berlari ke pekarangan rumah kami. Aku tak bergeming di teras rumah, menatap ia yang menatapku di antara guguran salju. Ia mengangkat kameranya ke dekat wajah dan mulai membidikku. Beginilah dia kalau inspirasinya tiba-tiba saja muncul. Aku berusaha untuk tidak menunduk saat kameranya membidik wajahku. Walaupun sudah ratusan kali ia memotretku, tapi sampai sekarang aku masih saja tersipu malu. Mudah-mudahan saja wajahku tak memerah karenanya. Semerta-merta perasaan ini membawaku kembali ke musim yang lain di tempat yang lain, saat salju-salju itu belum turun dan membasahi kelopak matanya, kira-kira setahun yang lalu.

Sonnenuntergang

Gutten morgen!” ucapku sambil menepuk pundaknya dari belakang.

Ia yang sedang terlarut memperhatikan seisi ruang pamerannya spontan saja kaget dan menoleh padaku. Sekilas ia terlihat akan mengucapkan sesuatu, tapi dirapatkannya lagi bibirnya dan malah melepaskan sebuah senyuman lega. Aku membalas senyumannya.

Wie geht’s?” tanyaku setengah berbisik.
Gut,” jawabnya singkat.

Tapi kemudian dengan tiba-tiba ia membidikkan kamera yang sejak tadi sudah ada di tangannya. Cklik! Giliranku yang kaget, sementara ia senyam-senyum sendiri. Merasa dipermainkan, aku pukul bahunya dengan pelan. Ia malah tertawa.

Herr Andra, harus kubilang berapa kali, sebelum memotret orang harus minta izin dulu!”

“Maaf, Nona Eva. Untuk seorang fotografer, momentum adalah sebuah objek yang berharga untuk diabadikan, dan momentum tidak bisa direncanakan. Kamu kan juga fotografer, pasti tahu kan?” ucapnya sambil berlagak serius.

“Oke, aku tahu kamu sudah terkenal sekarang, tapi jangan sok serius begitu dong!” balasku sambil cemberut protes.

Ia tertawa sambil memperlihatkan barisan giginya yang putih. Seumur hidup tinggal di Jerman, aku tak kenal banyak orang Indonesia, tapi rasanya laki-laki ini adalah orang Indonesia paling tampan yang pernah kulihat. Entahlah, mungkin karena satu dari dua kenalanku yang lain adalah perempuan.

Aku mengenal Andra dari sebuah forum fotografi di internet. Sementara aku bekerja di agensi fotografi Ostkreuz, waktu itu ia sudah menjadi seniman terkenal di negaranya, dan bahkan di dunia internasional. Kira-kira hampir setahun kami berkenalan dan saling bertukar pikiran di dunia maya, akhirnya Andra berkesempatan untuk datang ke Jerman. Ia dan seorang temannya, Doni, mendapat beasiswa di Künstlerhäuser Stiftung Starke di Berlin dan tinggal di Jerman selama setahun. Tentu saja waktu itu aku gembira sekali, karena diam-diam aku sudah mengaguminya sejak pertama kali berkenalan. Semenjak saat itu kami pun semakin akrab, bahkan kami sudah seperti teman sejak kecil. Hari ini sudah genap setahun ia tinggal di Jerman.

“Setelah penutupan pameran ini aku berencana untuk kembali ke Indonesia,” ucapnya dengan nada resah.

“Iya, aku tahu. Kau pasti sudah rindu dengan keluargamu di sana?” tanyaku sambil menyimpan kegelisahan di dalam hati.

Ia mendesah pelan, “seperti yang kamu tahu, aku tidak punya banyak keluarga. Meski begitu, ada juga hal-hal yang harus kulakukan di kampung halamanku.”

“Oke, aku mengerti. Jangan lupa untuk menghubungiku dan kapan-kapan sempatkanlah untuk kembali ke sini ya?” pintaku meyakinkan.

Ia hanya tersenyum dan menunduk, seolah sedang berusaha mengendalikan sesuatu di dalam dirinya. Aku tak tahu hal macam apa yang ia pikirkan sekarang, ia tampak sangat gugup. Tiba-tiba saja ia menggenggam kedua tanganku.

Ich liebe dich…,” ucapnya pelan.

Ucapannya barusan terdengar seperti orang asing yang baru pertama kali belajar Bahasa Jerman dan coba-coba mengucapkan ‘I love you’ kepada pacarnya, ia amat gugup dan suaranya hampir tercekat di tenggorokan. Aku tergagap-gagap menanggapinya, tak tahu harus berkata apa.

Was meinst du…?” tanyaku.

“Eva…, menikahlah denganku,” ucapnya dengan lebih yakin dari sebelumnya

Aku hanya terdiam, bingung. Ingin aku katakan ‘ya’, tapi aku harus berpikir dulu, aku tak bisa membuat keputusan sepenting ini secara tiba-tiba. Ini bukan seperti ajakan kencan atau nonton karnaval, ini adalah masalah pernikahan.

“Aku mengerti. Besok aku akan pulang ke Indonesia, tapi sebulan kemudian aku akan kembali ke Jerman untuk mendengar jawabanmu. Kalau kau berkenan, aku juga akan membicarakannya dengan keluarga Fritz, orangtuamu,” ia mengehembuskan nafas lega sambil melepaskan genggaman tangannya.

Aku tersenyum padanya, seolah-olah ingin memberinya sebuah sandi, ‘kembalilah bulan depan, kau tidak akan kecewa’. Tapi tak perlu kuucapkan secara verbal, ia pasti akan menepati janjinya, aku yakin itu.

Mittag

Tepat seperi apa yang diucapkannya, sehari kemudian ia pulang ke Indonesia. Aku dan temanku yang juga orang Indonesia, Raras, mengantarnya sampai bandara. Sementara itu, teman Andra, Doni, tidak ikut pulang bersamanya. Itu artinya Andra pulang sendirian, aku berharap semoga ia selamat sampai di negaranya.

“Jadi betul kau akan menikah dengan Andra?” Tanya Raras penasaran saat kami duduk-duduk santai di teras rumahku.

“Aku belum bilang begitu padanya, tapi bulan depan ia akan ke sini, dan saat itu aku harus mengatakan jawabannya.”

“Dan jawabanmu?” tanyanya lagi sambil kemudian menyedot lemon tea.

Aku sengaja tak menjawab pertanyaannya, hanya memberi isyarat dengan menaikkan alis sambil tersenyum. Ia mengerti isyaratku dan hanya tertawa terkekeh menanggapinya. Temanku yang satu ini memang sudah lama kukenal dan paling memahami isi pikiranku. Ia adalah orang Indonesia yang pernah kuliah di Jerman, satu kampus denganku semasa kuliah.

“Tapi apa keluargamu tak apa-apa kalau kau menikah dengan orang Indonesia? Dengan orang asing?” tanyanya agak heran.

“Tak apa-apa. Walaupun keluarga besarku terkesan angkuh, tapi mereka tidak memandang orang dari negaranya. Buktinya, ada sepupuku yang menikah dengan orang Belanda dan sekarang tinggal di sana, bahkan kakak laki-lakiku menikah dengan wanita Jepang!” aku menjelaskan, Raras tersenyum gembira mendengarnya.

Hari-hari pun berlalu. Siang mengendapkan malam, dan malam menguap menjadi fajar. Setiap sore aku duduk di teras ini sambil memotret diriku sendiri, melihat perubahan yang ada pada wajahku. Aku ingin tahu, seperti apa ‘wajah penantian’ itu. Cuma tiga puluh hari, bagiku seperti seumur hidup. Mungkin ini yang Andra sebut sebagai ‘momentum’, suatu titik waktu yang terasa seperti keabadian, karena itulah aku memotretnya. Aku ingin menangkap momentum pada wajahku, kegairahanku, ketidaksabaranku untuk mengatakan sebuah jawaban.

Tepat sebulan hari yang dijanjikan, ia tak juga memberi kabar. Esoknya, kucoba hubungi lewat telepon, sudah tidak aktif. Kukirimkan email untuknya, namun selama seminggu tak juga ada balasan. Apa yang terjadi pada dirinya? Apakah dia sakit? Ataukah dia mengingkari janjinya? Tapi kenapa? Ratusan pertanyaan menyelimuti pikiranku bagaikan labirin yang tak berujung.

Kupotret lagi wajahku. Kini jauh lebih suram dari yang bisa kubayangkan. Ternyata wajah kecemasan itu seperti ini. Beberapa minggu kemudian aku mulai berusaha untuk melupakan kata-kata Andra, tapi waktu kudengar minggu ini Doni akan pulang ke Indonesia, harapan kembali muncul. Doni adalah orang yang baik. Semenjak Andra mengenalkanku dengannya, ia begitu perhatian padaku. Bahkan pernah sekali ia mengatakan suka padaku, tentu saja tak pernah kuanggap serius karena ia memang orang yang jarang serius. Oleh karena itu, aku tak sungkan untuk segera menemui Doni dan menceritakan semuanya kepadanya. Kukatakan padanya untuk menemui Andra begitu tiba di Indonesia dan memberi kabar padaku lewat email.

Aku hanya bisa terus berdoa semoga Andra baik-baik saja. Kuteruskan ritual memotret wajah setiap sore. Wajah kecemasan yang kutangkap kini telah berubah menjadi wajah kebingungan, sampai suatu hari aku membuka email dari Doni.

Dear Eva,
Aku tidak tahu harus dengan cara apa menjelaskan semua ini, aku tahu ini akan berat bagimu. Syukurlah Andra di sini baik-baik saja, kesehatannya terjaga. Namun ada satu hal yang kurang menyenangkan bagimu. Saat aku datang ke sini, Andra sudah bersama wanita lain, istrinya. Ia bilang ia merasa sangat bersalah padamu, makanya ia menghilang dan tidak menepati janjinya. Ia juga berpesan agar kau tidak menunggunya atau mencarinya lagi. Aku hanya berharap semoga kamu bisa memaafkan sahabatku itu.
Doni.

Kepalaku mendadak pening, seolah terjadi gempa dahsyat di seluruh negeri. Segera kumatikan komputer, lalu aku duduk lemas di atas tempat tidurku. Kuambil kamera dan kupotret setiap detik momentum di wajahku. Setiap kerutan di sudut bibir, setiap gurat merah di muka kulit, setiap tetes air mata yang mengalir pelan di pipiku. Tak ada satupun yang terlewat. Biar kuabadikan momentum ini, wajah kesedihan. Aku tahu aku tak bisa percaya begitu saja pada Doni, tapi hanya itu satu-satunya kabar yang kudengar.

Tiba-tiba muncul sebuah pikiran dalam kepalaku. Kucetak semua foto wajahku yang kupotret sejak kepergian Andra, lalu kukumpulkan. Foto yang penuh dengan wajah gelisah dan cemas, pikirku. Akan kuberikan foto-foto ini kepada Andra secara langsung. Aku ingin ia melihat perubahan wajahku setiap harinya. Aku ingin ia melihat apa yang telah diperbuatnya, walaupun bila seandainya aku memang harus melupakannya.

Dengan hati yang masih kacau aku ditemani Raras berangkat ke Indonesia. Dalam perjalanan, berkali-kali Raras mengingatkanku agar jangan terlalu percaya dulu pada cerita Doni. Menurutnya, Doni bisa saja berbuat licik untuk menjauhkan aku dan Andra, karena siapa tahu Doni pernah benar-benar menyukaiku tapi merasa ditolak. Aku hanya bisa mengira-ngira saja, kalaupun memang Doni berbohong, kenapa Andra melanggar janjinya padaku?

Guten Abend

“Nama saya Andra. Saya bekerja sebagai seniman dan fotografer semenjak lulus kuliah. Meskipun sudah tak memiliki orangtua dan belum berkeluarga, hidup saya berjalan dengan cukup baik dan bahagia. Namun, kira-kira tiga minggu yang lalu, saya divonis memiliki HIV positif. Waktu itu, hidup saya terasa mau runtuh, saya tak tahu apa yang harus saya lakukan dan apa yang telah saya lakukan. Yang saya ingat, setahun yang lalu sebelum saya pergi ke Jerman, saya sempat melakukan ekspedisi ke pedalaman Afrika untuk memotret kehidupan suku pedalaman. Di sana saya mengalami suatu kecelakaan dan terpaksa menerima tansfusi darah darurat. Sekarang, keberaaan virus ini memang bukan salah saya, tapi juga bukan salah siapapun. Saya tak ingin menyalahkan siapapun dan hanya bisa menerima saja. Setelah beberapa lama terlarut dalam kebimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk tidak berhenti berkarya. Bagi saya, Tuhan memberikan suatu peringatan kepada saya bahwa hidup ini bisa berakhir kapan saja –untuk siapapun, pengidap HIV atau bukan. Maka saya bertekad untuk memanfaatkan setiap tarikan nafas saya mulai saat ini dengan sebaik mungkin. Saat ini, saya mulai menjalani terapi antiretroviral dan saya masih baik-baik saja. Saya harap teman-teman juga tetap bersemangat menjalani hidup, dan tidak pernah berhenti berkarya.”

Tepuk tangan dan riuh sorak para hadirin menggema di ruangan yang cukup besar itu. Tak terasa, air mataku mengalir seperti anak sungai. Raras yang duduk di sampingku merangkulku dan berusaha menenangkan diriku. Tak pernah kubayangkan kami akan sampai di sini dan mendengar ucapan itu dari mulut Andra sendiri. Saat kami sampai di Indonesia, kami mendapat informasi dari teman-teman seprofesinya bahwa ia akan menghadiri sebuah acara seminar mengenai AIDS. Lalu kami pun menghadiri acara itu. Waktu itu aku tidak habis pikir kalau hal seperti ini yang akan terjadi.

Aku menghampiri Andra setelah acara selesai. Waktu melihatku, terlihat perubahan suasana di wajahnya. Seperti perpaduan antara rasa takut, sedih, dan kerinduan yang menjadi satu.

“Maaf, Eva…,” ucapnya tanpa berani menatap mataku secara langsung.

Aku menarik nafas berusaha menenangkan diri, “Aku sudah dengar ceritamu. Apakah itu artinya kata-kata Doni tidak benar?”

“Soal apa?” Tanyanya heran.

“Bahwa kau sudah menikah dengan wanita lain?” walau aku tahu jawabannya, tapi hatiku masih berteriak meminta konfirmasi.

“Eva, wanita yang ingin kunikahi adalah kamu, tak ada yang lain. Tapi…, aku tak ingin merusak kehidupanmu dengan keadaanku yang sekarang,” jawabnya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Tapi kenapa? Kenapa kamu tidak menepati janjimu untuk datang? Setidaknya kamu bisa menanyakannya kepadaku sekali lagi! Apakah kamu tidak tahu kalau aku sudah menyiapkan jawaban untukmu?” ucapku setengah berteriak.

Kubiarkan air mata yang kembali mengalir deras di wajahku. Kulihat mata Andra semakin basah dan sepertinya ia menahan diri agar tidak menangis. Kulihat gerakan nafas di tubuhnya yang berdenyut mencari ketenangan, seperti ada dua arus yang saling bertabrakan di dalam sana.

“Memangnya, setelah kau tahu aku memiliki HIV positif, kau mau menikah denganku…?”
Mendengar pertanyaanya, tiba-tiba saja kurasakan sebuah ombak besar yang menghantam setiap batu karang di jiwaku. Kemudian ombak itu berubah menjadi pusaran air raksasa yang menyedotku ke dalamnya dan meremukkan setiap inci tulang-tulang di tubuhku. Dadaku sesak. Jawaban bulat yang seolah sudah mengendap kuat di dalam dada, kini lumer dan membuatku kembali bimbang.

Pertanyaan yang tak pernah kubayangkan akan kutanyakan, kini muncul tiba-tiba. Akankah aku menikah dengannya? Kalau aku menikah dengannya, bagaimana dengan keluargaku? Selama ini mereka memang sangat liberal dalam menentukan calon pasangan anak-anaknya, tapi tak ada satu rekor pun yang menyatakan bahwa dalam anggota keluarga Fritz ada yang pernah menikah dengan pengidap AIDS! Terutama ayahku, ia adalah orang yang tegas. Ia menghargai keputusan anaknya dalam mengambil jalan hidupnya masing-masing, tapi ia juga tak segan-segan untuk memberikan sanksi. Mungkin ia akan mengusirku, tidak mengizinkan aku menginjakkan kaki di rumahnya lagi. Lalu aku akan tinggal bersama Andra. Berdua saja. Andra adalah seorang yatim piatu, dan aku ragu apakah kami akan memiliki keturunan bila menikah nanti. Lalu, aku mungkin akan kesepian tinggal di negeri orang. Dan satu rasa takut yang menggores perasaanku adalah, apabila suatu saat tubuh Andra dan obat-obatan yang terbatas tak lagi mampu menahan penyakit AIDS di tubuhnya. Pada titik itu aku mungkin akan ditinggal sendirian.

Terpikirkan dalam benakku untuk meninggalkan semua ini. Aku mungkin bisa saja melupakan Andra, tidak berkomunikasi dengannya lagi. Tapi aku tak sanggup membayangkan Andra hidup sendirian. Aku tahu ia mencintaiku, dan kalau seandainya ia tidak memiliki virus itu di dalam tubuhnya, semua ini pasti akan berjalan dengan lancar. Aku tahu kalau hal ini bukanlah kesalahannya. Picik sekali bila aku meninggalkannya karena tak mau menerima dia apa adanya.

Kebingungan itu terus hinggap dan terus kubawa kemanapun aku pergi, seperti bandul berat yang selalu menggelayuti pundakku. Ada sebuah lubang penyesalan di dalam dada ini, kenapa aku tidak menjawab pertanyaan Andra yang terakhir itu. Aku hanya bisa diam dan tak mengucapkan sepatah kata pun hingga aku kembali ke Jerman. Sebelum aku pergi dari hadapannya, aku dapat menyaksikan wajahnya yang sendu, seperti kerelaan dan ketidakrelaan yang berdiri bersebelahan. Matanya yang redup, seperti bukan sosok Andra yang selama ini aku kenal.

“Eva, sekarang semua pilihan ada padamu. Kamu punya dua pilihan utama, apakah kamu akan menikah dengan Andra yang telah divonis HIV positif, atau kamu akan melupakan semua itu dan tidak akan mengambil resiko apapun,” ujar Raras memperjelas keadaan.

“Aku tidak tahu, Ras. Kalaupun aku memutuskan untuk tetap menikahinya, bagaimana dengan orangtuaku? Apakah mereka mau menerimna Andra?” Tanyaku semakin gusar.

“Dalam hal itu kamu lagi-lagi punya dua pilihan. Pertama, kamu menikah dengan Andra tanpa memberitahu keluargamu tentang penyakit yang diderita Andra saat ini. Resikonya, suatu hari nanti cepat atau lambat, keluargamu pasti akan menyadari juga keadaan suamimu. Pilihan kedua, kamu jujur pada keluargamu, kamu meminta restu pada mereka. Resikonya, tentu saja apabila mereka tidak merestuimu atau malah mengusirmu dari keluarga.”

Aku membayangkan semua kemungkinan yang ada. Ini adalah pilihan terberat dalam hidupku. Setiap hari aku tidak berhenti berdoa, semoga saja aku mendapat jalan keluar dari masalah ini. Hingga pada suatu malam, masih dengan pikiran yang kalut, aku merasa harus mengambil satu keputusan yang pasti.

Dengan disesaki lantunan musik Mozart yang biasa kudengar dari komputerku, kuperhatikan lagi semua foto wajah yang tidak jadi kuberikan pada Andra. Kutempel semua foto-foto itu di dinding kamarku secara kronologis. Foto pertama yang kuambil setelah mengantar kepulangan Andra, sampai foto terakhir yang kuambil sepulang dari Indonesia setelah mengetahui penyakit yang diderita Andra.

Lihatlah Andra, apa yang telah kauperbuat pada wajahku dalam beberapa bulan terakhir ini? Gumamku dalam hati. Hampir semua foto wajah yang kutempel di dinding kamarku adalah wajah dengan nuansa suram. Kalau bukan kegelisahan, kecemasan, ketakutan, pastilah kekecewaan. Suasana suram itu ikut menyusup ke dalam hati dan pikiranku. Kalau yang ia perbuat selama ini hanya membuat hidupku jadi suram, mungkin sebaiknya aku melupakannya saja. Seolah melupakan kenangan-kenangan manis yang kurasakan bersamanya saat ia masih di Jerman, keadaan sekarang yang jauh berbeda membuat keyakinanku pudar. Auf Wiedersehen, selamat tinggal.

Kucopoti foto-foto itu dari dinding kamarku dengan hati yang sesak namun kupaksakan untuk merasa lega. Tapi tiba-tiba tanganku berhenti mencopoti foto-foto itu ketika kusadari ada sebuah foto wajah yang terlihat berbeda dari yang lainnya. Foto wajah pada hari ke-29 semenjak Andra pulang, satu hari menjelang hari yang dijanjikan. Dapat kusaksikan senyuman lebar pada bibirku di foto itu. Aura cerah penuh harapan dan kegembiraan yang belum pernah kulihat di foto manapun juga. Sangat kontras dengan foto-foto wajah sebelum dan sesudahnya, ini adalah foto dengan senyuman paling bahagia yang pernah kusaksikan sendiri. Aku tertegun. Perlahan mataku menjadi basah. Inikah isi hatiku yang sesungguhnya? Inikah keinginan nuraniku yang sesungguhnya? Mataku tak bisa lepas dari foto itu.

Paradies

“Hei lihat, itukah rumah kita?” ucapku sambil menunjuk sebuah rumah mungil di atas tanah Belanda yang datar.

“Iya, karena kita cuma tinggal berdua makanya sengaja kupilihkan rumah yang mungil saja,” jawab Andra sambil membuka pintu pagar dengan kunci yang dipegangnya.

“Hmm…, walaupun mungil tapi sangat indah,” ucapku pelan.

“Silakan masuk, Nona Eva,” ucap Andra sambil berlagak bak seorang pelayan kerajaan.

Aku segera masuk ke halaman rumah sambil mencubit perutnya ketika melewati pagar. Ia menjerit kecil sambil balas mendekapku. Gelora pangantin baru memang sulit dihindari, bahkan bagi kami yang menjalani pernikahan yang sedikit beresiko ini.

“Rumah sepupuku tidak jauh dari sini lho…,” ujarku.

“Sepupumu yang menikah dengan orang Belanda itu?” tanyanya.

“Iya. Setelah menata barang-barang, bagaimana kalau kita mengunjunginya?” Tanyaku sambil merangkul tangannya.

“Ide yang bagus!”

Kemudian aku duduk di kursi kecil di teras rumah, sementara Andra memeriksa barang bawaan kami. Kuamati pohon-pohon yang tumbuh rapi dan berbaris sejajar, seperti sudah diatur saat menanamnya.

“Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka sama sekali tak menghubungi semenjak pernikahan kita?” Tanya Andra sambil memindahkan sebuah kardus kecil.

“Seperti yang kau tahu, ayahku menepati janjinya. Sebagaimana yang ia katakan kepada kita berdua, bahwa ia merestui pernikahan kita dengan satu sanksi, kita tidak boleh tinggal di Jerman, ia tidak mau berurusan dengan kita,” jawabku dengan nada yang lebih serius.

“Aku masih ingat kata-kata itu,” ujar Andra dengan suara yang sedikit berat.

“Tenang saja. Seperti prediksi Raras, kata ibuku, cepat atau lambat sikap ayah pasti akan berubah. Ia hanya butuh waktu untuk berpikir,” ucapku disertai sebuah senyuman.

Perlahan, Andra berjalan ke arahku dan memeluk tubuhku dari belakang. Dapat kurasakan kehangatannya yang tak hentinya membuatku merasa nyaman.

“….dankeschön,” ucapnya pelan, hampir berbisik di telingaku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum lebar tanpa tahu harus menanggapi bagaimana. Meskipun awalnya ini adalah pilihan yang sulit, tapi aku yakin sekarang kalau memang inilah yang aku inginkan.

“Oh ya, foto ini bagaimana kalau kita pajang di kamar saja?” Tanya Andra tanpa melepaskan pelukannya.

Kulihat foto yang ada di tangannya. Ternyata itu dia, ‘foto hari ke-29’, foto ajaib yang telah membuatku berada di sini sekarang. Mungkin terdengar seperti cara konyol untuk membuat keputusan, tapi aku percaya bahwa peristiwa satu detik bisa sama pentingnya dengan peristiwa sepanjang masa.

“Ini adalah momentum, Sayang. Ini adalah foto dari sebuah momentum kebahagiaan,” ucapku.

“Kamu benar, tapi detik ini juga momentum. Hanya saja, momentum ini hanya bertahan sebentar. Kalau abadi, pasti inilah surga,” ucapnya lembut sambil mengecup pipiku.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).