Dea10 min read

Apa yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini, bisa dibilang bukan sebuah cerita fiksi. Tapi bagaimanapun juga, saya tidak bisa memaksa kepercayaan orang lain. Kalaupun seandainya saya bilang bahwa semua ini kejadian nyata, toh saya ragu kalian akan percaya. Jadi anggaplah ini sebagai sebuah cerita fiksi biasa, atau cerita fiksi yang berpura-pura nyata, seperti film Paranormal Activity atau The Fourth Kind. atau apa saja terserah. Yang penting, saya bisa menceritakan apa yang (dengan terpaksa) harus saya ceritakan.

***

Semenjak liburan kuliah sebulan yang lalu, saya selalu menderita kekacauan pola tidur. Sebenarnya itu juga disebabkan karena saya baru membeli modem, dan provider internet yang saya pakai ternyata hanya bisa bekerja dengan lancar pada pukul dua belas malam ke atas. Kenyataan itu diperparah dengan hobi baru saya, yaitu minum kopi sebanyak dua cangkir sehari (saya pikir saya mulai masuk dalam taraf kecanduan). Akibatnya, saya seringkali tetap terjaga hingga pukul tiga pagi, dan lebih sering lagi terjaga sampai matahari terbit. Ketika matahari terbit dan penghuni kamar kos yang lain baru mulai bangun, mandi pagi, dan melakukan aktivitas sehari-hari, saya malah baru mematikan lampu dan menarik selimut. Saya tahu bahwa ini merupakan pola hidup yang sangat tidak sehat. Saya jadi tidak sempat olahraga, jarang sarapan, dan sering masuk angin. Tidak menutup kemungkinan kondisi psikologis juga ikut terganggu, dan sebenarnya saya berharap begitu.

Kalian mungkin berpikir bahwa setiap kali saya begadang, saya menggunakannya untuk menulis novel atau cerpen. Tapi itu tidak benar. Saya sudah berusaha menulis cerpen atau melakukan kegiatan yang lain pada tengah malam, tapi akhirnya saya malah terjebak untuk browsing, nonton video konser di YouTube, atau sekadar mengunjungi forum Kaskus. Akibatnya keberadaan internet malah menghambat produktivitas, saya bahkan jadi jarang memasang tulisan di blog atau situs Kemudian.com.

Kira-kira beberapa minggu yang lalu, kalau tidak salah pada hari Selasa dini hari, saya mengalami kejadian itu. Waktu itu saya sedang asyik membaca Wikipedia untuk mencari referensi ide cerpen atau novel yang mungkin akan saya buat suatu saat. Kebetulan koneksi internet sedang lancar. Namun sekitar pukul dua, saya merasa sangat lapar. Perut ini rasanya benar-benar keroncongan dan badan pun terasa lemas. Satu-satunya yang terpikirkan adalah untuk pergi keluar kamar kos, lalu duduk dengan nyaman di warung indomi yang letaknya tak jauh dari tempat kos, sambil menyantap indomi rasa soto (Ya, adegan ini pernah saya masukkan ke cerpen yang saya buat). Akhirnya saya pun menuruti naluri perut itu dan keluar dari kamar.

Di depan tempat kos saya, ada sebuah bangunan tua yang sangat reot. Bangunan itu sudah ada dan sudah reot sejak pertama kali saya tinggal di tempat ini, sekitar empat tahun lalu. Bangunan itu memiliki dua lantai, dinding-dindingnya sudah hampir runtuh dan kayu-kayu rangkanya sudah keropos, kaca-kaca jendelanya juga sudah banyak yang bolong. Untunglah pada saat gempa Tasik dulu rumah tersebut tidak rubuh. Pada siang hari, halaman rumah reot itu biasanya dijadikan tempat bermain masak-masakan oleh anak-anak SD, sekaligus juga tempat membakar sampah oleh orangtua mereka. Saya pernah bertanya pada Ibu Kos mengenai asal-usul rumah itu, katanya rumah reot itu beserta tanahnya sebenarnya adalah milik seorang dosen ITB, namun entah kenapa tidak pernah ditempati atau direnovasi. Padahal, seandainya bangunan tersebut diperbaiki dan dijadikan tempat kos, saya yakin akan laku keras.

Namun karena saat itu adalah pukul dua dini hari, pemandangan rumah reot itu terasa sangat berbeda. Memang, biasanya setiap kali saya keluar malam, saya selalu berusaha untuk tidak menatap rumah itu secara langsung, terutama lantai duanya. Bukan kenapa-kenapa, wajar saja kan kalau saya merasa ngeri? Tapi pada Selasa itu, entah kenapa setelah membuka pintu gerbang, saya malah menoleh ke arah rumah itu, ke lubang pintu dari kayu yang tak lagi memiliki daun pintu. Pada saat itulah, saya melihat sesosok anak perempuan yang melongok dari dalam rumah. Hanya kepalanya saja yang terlihat, sepertinya tubuhnya berada di balik dinding. Awalnya saya sempat berpikir kalau itu adalah anak tetangga yang sering bermain di sekitar situ, tapi mana mungkin ada anak tetangga yang masuk ke dalam rumah reot itu pada pukul dua pagi? Seingat saya, anak itu tidak terlihat seperti hantu, ia tidak pucat, tidak bercahaya, tidak juga berdarah-darah. Ia tampak seperti anak manusia normal. Makanya saya sempat berpikir kalau ia anak gelandangan atau anak yang kabur dari rumah.

Lama-kelamaan, saya jadi sadar kalau anak itu sedang memperhatikan saya. Kami bertatapan selama beberapa detik, tapi rasanya lama sekali. Lalu dengan gerakan yang pelan, ia melambaikan tangannya kepada saya. Pada saat itulah sekujur tubuh saya jadi merinding. Saya tidak tahu apakah dia hantu atau manusia, saya tidak peduli, yang jelas cara dia melambaikan tangan membuat saya benar-benar merinding.

Saya tidak masuk lagi ke dalam kamar, sebab kalau saya masuk ke kamar, saya akan sendirian, dan itu membuat saya semakin ketakutan. Jadi saya pilih untuk berjalan cepat menuju warung indomi, tanpa membalas lambaian tangannya. Untunglah di warung ada banyak orang, beberapa adalah mahasiswa yang juga kebetulan sedang begadang. Saya makan dan minum di warung tersebut hingga pagi, tidak berani pulang (soalnya kalau saya pulang, saya pasti akan melewati rumah reot itu lagi, dan siapa tahu si anak kecil itu masih ada di sana?). Setelah matahari terbit, barulah saya berani pulang ke tempat kos.

Esoknya, saya kembali tidak bisa tidur. Bukan karena tidak mengantuk, saya justru merasa sangat mengantuk. Tapi karena rasa stres dan kelelahan, saya berulangkali mengalami erep-erep (ada yang menyebutnya dengan “tindihan”, atau bahasa ilmiahnya, “sleep paralysis”). Saat mengalami erep-erep, nafas saya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menindih badan saya. Setiap kali saya berusaha untuk bangun, rasa pusing langsung menyerang kepala. Sesekali juga saat mengalami erep-erep tubuh saya terasa seperti ditarik ke atas. Namun pada saat itu yang saya rasakan justru ada begitu banyak halusinasi (atau setidaknya saya berharap demikian). Saya mendengar suara orang yang berbisik-bisik di telinga saya, atau sebuah tangan yang mencolek-colek pundak saya. Bila saya membalikkan badan, saya melihat ada sosok anak kecil yang sedang duduk meringkuk di atas lemari, kadang juga melayang-layang di atap. Saya tidak tahu apakah anak itu sama dengan anak yang saya lihat di rumah kosong itu, tapi karena saya pikir itu cuma halusinasi akibat erep-erep, saya jadi tidak terlalu takut. Setelah melewati perjuangan berat, akhirnya malam itu saya berhasil tidur juga.

Karena tidak ingin menderita hal semacam itu lagi, saya pun berusaha memperbaiki pola tidur. Dua hari setelah kejadian itu, saya sudah membuat jadwal bahwa saya harus tidur pada pukul sebelas malam. Namun karena waktu itu saya baru membeli sebuah DVD film dan baru mulai menontonnya pada pukul setengah sebelas, akhirnya saya baru bisa mengakhiri aktivitas pada pukul dua belas malam lewat. Saya usahakan untuk langsung tidur, tidak ada lagi acara browsing atau buka email. Lampu kamar langsung saya matikan, komputer juga, lalu saya rebahan di atas kasur. Memang dasar sudah terbiasa begadang, saya benar-benar tidak mengantuk sama sekali. Saya jadi serba salah, membolak-balikkan badan. Menghadap kanan, telentang, lalu akhirnya menghadap kiri. Saat posisi badan miring ke kiri, saya merasa lebihn yaman, mungkin karena posisi itu menghadap tembok, jadinya pikiran saya tidak kemana-mana. Semenit, dua menit, akhirnya saya mulai mengantuk. Saya memejamkan mata dan mulai menikmati permulaan tidur. Namun pada saat itulah sebuah suara yang pelan namun berulang-ulang mengganggu telinga saya.

Clak, clak, clak. Begitu suaranya. Mau tidak mau, pendengaran saya jadi sensitif. Suara itu kedengarannya berasal dari belakang punggung saya, dari arah komputer. Tadinya saya kira itu adalah suara tetesan air bocor, kan bahaya kalau sampai kena komputer. Namun anehnya, saat itu tidak sedang hujan, jadi tidak mungkin ada yang bocor. Saya dengarkan terus suara itu, temponya statis. Lama-kelamaan saya sadar juga, bahwa suara itu adalah suara yang sangat familiar bagi telinga saya. Itu suara tombol keyboard komputer. Lebih khusus lagi, itu adalah suara tombol spasi yang ditekan berulang-ulang. Saya hafal betul suara tombol spasi itu, sebab saya menekannya berkali-kali setiap hari, dan karena memang tombolnya sudah agak kendor, jadi menimbulkan suara khas. Pertanyaannya, siapa yang saat itu menekan-nekan tombol spasi di komputer saya, padahal saya di kamar sendirian?

Meskipun ada perasaan takut dan ngeri, namun rasa penasaran saya sepertinya lebih besar. Akhirnya saya memberanikan diri untuk membalikkan badan, agar bisa melihat sesuatu apa yang sejak tadi ada di depan komputer saya. Namun ketika bada saya sudah menghadap kanan, suara itu langsung menghilang. Dan memang, tidak ada apa-apa atau siapa-siapa di depan komputer saya. Saya tidak tahu apakah harus merasa lega atau malah semakin takut.

Besok harinya, kejadian itu terulang lagi. Suara tombol spasi itu selalu terdengar tiap kali saya sudah mematikan lampu dan bersiap untuk tidur, dan selalu menghilang tiap kali saya memeriksanya. Perasaan saya jadi tidak bisa tenang. Rencana untuk memperbaiki pola tidur pun akhirnya gagal. Saya jadi sengaja begadang tiap malam karena tidak mau mendengar suara aneh itu lagi. Saya baru berani tidur setelah lewat waktu Shubuh.

Namun kemarin, hari rabu, saya ketiduran juga sekitar pukul tiga pagi. Dalam tidur itu saya bermimpi sesuatu yang sangat aneh, sebuah mimpi yang membuat saya berkenalan dengan Dea.

Dea adalah gadis kecil itu. Gadis kecil yang wajahnya pernah saya lihat di pintu rumah kosong, dan kemarin dia masuk ke dalam mimpi saya. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, anak kecil itu sama sekali tidak menyeramkan secara visual. Ia seperti anak kecil biasa, malah lumayan imut. Kalian tahu anaknya Uya Kuya yang bernama Cinta, yang sering muncul di acara reality show itu kan? Ya, wajahnya mirip-mirip seperti itu. Tidak benar-benar mirip sih, tapi senyum atau cara tertawanya yang mirip.

Dalam mimpi itu, saya berada di halaman rumah kosong. Saya sedang berdiri, dan gadis kecil itu tiba-tiba sudah ada di samping saya. Saat itulah ia mengajak saya berkenalan dan menyebutkan namanya. Kalau saya tidak salah ingat, kira-kira percakapan kami seperti ini.

“Kak, kenalin, aku Dea,” ucapnya sambil mengulurkan tangan, mengajak bersalaman.

Saya pun menyambut tangannya, bersalaman, dan memperkenalkan nama saya dengan jujur.

Setelah itu ia berbicara tentang sesuatu, sepertinya ia sedang curhat, tapi saya tidak ingat apa saja yang ia bicarakan. Entahlah, mungkin karena itu adalah sebuah mimpi, saya tidak bisa mengingat semua detilnya. Tapi ada sepotong bagian percakapan yang saya ingat dengan jelas dan tidak bisa saya lupakan hingga sekarang.

“Kak, aku mau cerita,” katanya.

“Tadi kan kamu udah cerita?” tanya saya. Dalam mimpi itu entah kenapa saya tidak merasa takut kepadanya.

“Bukan, maksudnya, aku mau diceritain,” ucapnya lagi.

“Mau diceritain cerita apa?”

“Bukan, maksudnya, aku mau Kakak ceritain tentang aku ke orang lain.”

“Buat apa?”

“Nanti, aku bakal datang ke mimpi orang-orang yang udah pernah dengar cerita tentang aku,” ia tersenyum, gigi-giginya kelihatan.

“Trus kamu mau ngapain di mimpi mereka?”

“Ada deh.”

Dan setelah itu, saya terbangun. Ada perasaan aneh setelah mengalami mimpi itu, saya merasa bahwa itu bukan mimpi, walaupun saya tahu saat itu saya sedang berbaring di atas kasur. Ketika saya memeriksa keadaan sekeliling, saya sadar kalau komputer saya dalam keadaan menyala. Anehnya, seingat saya, saya tidak menyalakan komputer malam itu. Entahlah, mungkin saya yang lupa. Atau mungkin, ada sesuatu yang lain yang membuat komputer itu menyala. Dea? Saya tidak tahu dan tidak mau membuat spekulasi.

Akhirnya, karena setelah mimpi kemarin saya selalu merasa dihantui, saya pun memutuskan untuk menuruti keinginan Dea. Saya menuliskan cerita ini dan menceritakan tentang dirinya, semampu yang saya ingat. Saya tidak tahu apakah Dea akan benar-benar datang ke dalam mimpi kalian karena kalian sudah membaca cerita ini, tapi jangan khawatir, karena saya pikir dia tidak berbahaya. Saya malah menduga, kalau dia datang ke mimpi kalian nanti malam, dia akan membuat permintaan yang sama pada kalian. Dia hanya ingin keberadaannya diceritakan pada orang lain.

Sekarang saya sudah selesai. Semoga saja setelah saya menceritakan semua ini, saya bisa benar-benar memperbaiki pola tidur saya dan tidak lagi diganggu dengan suara-suara keyboard komputer atau mimpi tentang Dea. Terima kasih telah membaca.

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).