Burn Out dan Anxiety sebagai Alarm Kesadaran

Menurut artikel di situs WHO, lebih dari 1 miliar manusia di bumi hidup dengan gangguan kesehatan jiwa, sebagian besarnya adalah gangguan depresi dan anxiety (kecemasan). Bayangkan, satu miliar manusia. Itu jumlah yang masif. Sebagai gambaran, jumlah penduduk Indonesia adalah sekitar 285 juta jiwa. Dengan kata lain, jika semua orang dengan masalah kejiwaan itu dikumpulkan, mereka bisa membentuk 3,5 negara sebesar Indonesia yang penduduknya cemas dan depresi semua.

Membayangkan jumlah itu, tidak heran jika setiap harinya kita selalu berinteraksi dengan orang-orang cemas dan depresi. Di jalan, di tempat kerja, di dunia maya. Mungkin saya adalah salah satunya, mungkin kamu juga, mungkin kita semua. Kita semua lelah dan cemas.

Lalu, apa artinya satu miliar orang itu? Bagi banyak lembaga di dunia, ini adalah permasalahan ekonomi. Bukan, bukan sebagai penyebab, tapi sebagai dampak. Dalam artikel yang sama, WHO (lembaga yang mengurusi kesehatan dunia itu) mengatakan bahwa:

Dampak ekonomi dari gangguan kesehatan mental sangat mencengangkan. Meskipun biaya perawatan kesehatan sangat besar, biaya tidak langsung – khususnya dalam hal hilangnya produktivitas – jauh lebih besar. Depresi dan kecemasan saja diperkirakan merugikan ekonomi global sebesar US$ 1 triliun setiap tahunnya.

Ya, ya, ya. Kita depresi, cemas, dan sebagian di antara kita mungkin berpikiran untuk mengakhiri diri. Namun kamu tahu apa yang mencengangkan? Bahwa kita juga merugikan ekonomi dunia sebesar 1 triliun dolar setiap tahunnya! Apakah ini semacam gaslighting?

Namun, saya paham. Artikel itu mungkin mencoba membujuk lembaga-lembaga keuangan dan pemerintah-pemerintah negara di dunia untuk lebih banyak menganggarkan dana bagi penanganan kesehatan jiwa. Bagi para politisi dan kapitalis Machiavellian di atas sana, satu-satunya bahasa yang mereka pahami adalah uang dan kekuasaan. Ibaratnya, kita berbicara kepada mereka: “Hei! Hewan-hewan ternakmu ini banyak yang sakit. Mereka saling menggigit dan menyeruduk satu sama lain. Bermurah-hatilah dan luangkan dana untuk kesehatan mereka. Ini untuk kepentinganmu juga, lho! Sebab kalau dibiarkan, mereka tak akan bisa bertelur dan daging mereka jadi beracun. Peternakanmu bisa rugi satu triliun dolar setiap tahun!”.

Mendengar ancaman kerugian materi itu, kita harapkan Paman Gober sekalipun akan berpikir logis dan menyisihkan sebagian kekayaannya. Alternatifnya, Paman Gober mungkin malah akan menemukan ide jenius: Ia akan membuat pabrik obat untuk mengobati ternak yang sakit—dan semua orang harus membeli darinya.

Sayangnya, kita bukanlah WHO, IMF, Presiden, atau Paman Gober. Kamu mungkin hanyalah satu dari satu miliar orang dengan gangguan jiwa depresi atau kecemasan kronis. Sekarang lihat dirimu, dan ingatlah bahwa kesehatan jiwamu itu penting. Dirimu adalah manusia, bukan sekadar angka dalam spreadsheet. Persetan dengan kerugian ekonomi global.

Luka batin, sama seperti luka fisik, tidak muncul serta-merta tanpa sebab. Bayangkan jika kamu harus berkendara melintasi sebuah jalan yang berlubang, lalu kamu terjungkal, dan kakimu patah. Itu adalah luka fisik. Hal paling urgent yang harus kamu lakukan adalah menemui dokter. Dokter akan mendiagnosa seberapa parah kondisi kakimu dan memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan atau setidaknya meredakan rasa sakit itu. Namun, bukanlah wewenang dokter untuk memperbaiki jalan berlubang yang membuatmu celaka, dan bukan kepentingannya pula untuk menuntut pemerintah setempat segera memperbaiki jalanan tersebut.

Begitu pula dengan kesehatan jiwa dan gangguan mental. Faktor bawaan lahir memang bisa ikut berperan, tapi itu pembahasan tersendiri yang tak akan saya masuki di sini. Untuk sebagian besar dari kita, anxiety dan depresi tidak muncul tanpa sebab. Ada lubang di jalan yang memaksa kita menjadi seperti itu. Luka adalah akibatnya. Rasa sakit adalah reaksinya. Namun, ketika kita terlanjur mengalaminya, hal yang paling logis dan urgent untuk dilakukan adalah meminta bantuan profesional. Mereka akan membantu sesuai batas kewenangan mereka. Seorang dokter hanya bertugas mengobati luka di kakimu, bukan menambal lubang yang membuatmu celaka. Seorang psikolog/psikiater/terapis hanya bertugas menangani kondisi kejiwaanmu, mereka tidak mungkin menyelesaikan masalah pekerjaan/keluarga/keuanganmu yang membuatmu cemas. Selanjutnya, itu adalah tugasmu. Tugas kita.

Gangguan kesehatan mental seperti kecemasan adalah alarm. Namun bukan sekadar alarm untuk mengobati diri. Ini adalah alarm untuk bangun dari mimpi buruk yang terlalu lama dialami. Ada lubang di jalan, dan mengobati kaki kita saja tidak lantas berarti menambal jalan tersebut dan mencegah orang-orang berikutnya untuk terjatuh di lubang yang sama. Gangguan tersebut adalah alarm kesadaran bahwa ada yang salah, dan sebagai reaksi dari alarm tersebut, kita perlu melakukan setidaknya tiga hal: mengobati diri sendiri, menganalisis penyebab hingga ke akar-akarnya, serta melakukan apa pun dalam batas kemampuan kita untuk memperbaiki atau menghentikan penyebab tersebut.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, mengobati diri dilakukan dengan menghubungi tenaga profesional, menjalani terapi atau apa pun yang dianggap perlu. Tahap kedua, menganalisis akar penyebab, harus dilakukan dengan rasa ingin tahu yang tulus dan penuh gairah, bahkan nyaris ilmiah. Saya rasa, bentuk balas dendam dan pemberontakan paling manis terhadap hal-hal yang membuat kita sakit adalah dengan menganalisis, membedah, dan menelanjanginya satu demi satu. Kita mulai dengan mengapa, lalu bagaimana. Dalam tahap ini, kita harus bisa membedakan mana hal-hal yang bisa diubah segera dengan tindakan nyata; mana yang hanya bisa diubah dengan proses jangka panjang, kolektif, dan terstruktur; mana yang hanya bisa dipandang sebagai visi atau cita-cita; dan mana yang memang sama sekali tak bisa diubah karena merupakan bagian dari alam atau kenyataan. Kalau setelah ditelusuri ternyata sebagian penyebabnya tak bisa diubah, atau bahkan tak bisa ditemukan dengan pasti, itu juga merupakan hasil yang valid.

Tahap ketiga, yaitu tindakan nyata, harus dilakukan dengan hati-hati dan mawas diri. Ini adalah tahap yang sangat sensitif dan hanya dapat dilakukan setelah menjalankan tahap satu dan tahap dua. Kita tidak bisa menambal jalan berlubang kalau kaki kita masih patah dan tidak tahu di mana lubang itu berada. Berdasarkan analisis yang dilakukan di tahap dua, kita harus memilah mana faktor yang bisa kita perbaiki, mana yang belum, dan mana yang tidak bisa sama sekali. Mencoba memperbaiki hal-hal yang tidak bisa diubah hanya akan menimbulkan beban mental dan rasa bersalah yang justru memperburuk keadaan. Begitu pula sebaliknya, mengabaikan hal-hal yang bisa diperbaiki juga cepat atau lambat akan membuat kita kembali terpuruk di kondisi yang sama—seperti orang yang terbangun karena alarm kebakaran dan tidak mencoba memadamkan apinya.

Jika kamu atau orang yang kamu kenal sedang berada dalam tekanan psikologis berat atau punya pikiran untuk menyakiti diri, kamu bisa hubungi layanan Healing119.id/SEJIWA dari Kementerian Kesehatan lewat telepon 119 ekstensi 8, gratis dan siaga 24 jam, atau mengaksesnya via healing119.id. Untuk situasi yang mengancam nyawa, segera hubungi 119 atau datangi IGD/Puskesmas terdekat.

Calo: Parasit yang Hidup di Celah Sistem

Orang-orang percaya bahwa celah atau lubang kosong yang sunyi dan lembab merupakan tempat tinggal bangsa jin. Namun, tampaknya bukan hanya bangsa jin yang gemar hidup di dalam celah. Celah dan lubang memang tempat yang nyaman bagi entitas-entitas misterius untuk hidup dan berkembang biak, termasuk celah di dalam sistem. Bedanya, entitas yang hidup di dalam celah sistem bukanlah bangsa jin, melainkan bangsa gaib lain yang kita kenal dengan nama “calo”.

Calo adalah orang-orang yang menyadari keberadaan celah di dalam sistem, kemudian mereka menyusup dan mengambil keuntungan dari celah itu. Mereka tidak memproduksi nilai baru, tetapi hanya mengeksploitasi nilai yang sudah ada di dalam sistem untuk dapat bertahan hidup. Ada beberapa faktor yang dapat menimbulkan celah di dalam sistem, antara lain:

  1. Desain sistem yang memang sudah cacat sejak awal, baik secara disengaja (untuk tujuan eksploitatif) atau tidak disengaja (kesalahan dalam perancangan);
  2. Pelaksana/operator yang gagal menjalankan sistem sebagaimana mestinya;
  3. Pengguna yang tidak memiliki akses, pengetahuan, atau keahlian yang dipersyaratkan (hal ini bermuara kembali kepada faktor nomor 1 mengenai masalah desain sistem).

Oleh karena itu, keberadaan calo bisa dibilang merupakan simtom atau gejala atas sistem yang cacat. Mereka mengisi celah-celah kosong yang muncul karena salah satu atau ketiga faktor tadi. Keberadaannya adalah gejala alamiah, sebagaimana parasit atau benalu yang hidup di alam dan mengambil saripati kehidupan organisme lain untuk mempertahankan kehidupannya sendiri.

Dalam sebuah sistem pelayanan publik, calo dianggap sebagai pihak yang merugikan, tapi di sisi lain juga mendorong sistem yang cacat untuk dapat terus berjalan. Misalnya, sebuah instansi pemerintah membangun sistem untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mereka membangun serangkaian aturan dan prosedur (SOP) untuk mengumpulkan data, memverifikasi, dan mencatat pelayanan tersebut. Mereka juga mempekerjakan para pegawai sebagai operator untuk menjalankan sistem sesuai aturan. Di ujungnya, terdapat pihak yang menjadi pengguna dari sistem, yaitu masyarakat yang berhak mendapatkan pelayanan.

Namun sistem tersebut memiliki beberapa celah. Misalnya, terdapat aturan bahwa agar dapat menerima pelayanan, masyarakat harus memiliki Surat A, B, dan C, menghubungi Pihak A,B, dan C, serta memahami informasi A, B, dan C. Pada awalnya, semua persyaratan itu dibuat untuk memastikan sistem berjalan dengan adil dan akuntabel. Masalahnya, sebagian masyarakat tidak memiliki waktu, akses, atau kemampuan untuk memenuhi semua syarat tersebut. Di sinilah timbul celah yang dapat diisi oleh calo.

Para calo ini memiliki sumber daya tingkat menengah yang dapat diputar atau direproduksi di dalam celah tadi. Sumber daya mereka tidak cukup besar untuk membuat sistem baru, tapi masih lebih memadai daripada yang dimiliki masyarakat pengguna. Sumber daya ini bisa berupa uang, peralatan, waktu luang, pengetahuan, kemampuan, atau akses jejaring. Misalnya, calo punya waktu luang untuk membantu masyarakat mengurus surat A, B, dan C. Mereka mungkin juga memiliki pengetahuan untuk memahami peraturan A, B, dan C, atau memiliki kenalan di lembaga A, B, dan C.

Tentu saja, jasa “tambal celah” atau jasa perantara yang mereka lakukan tidaklah gratis. Mereka akan mengambil keuntungan dari sistem tersebut sebagai upah atas jasa mereka. Hal ini membuat keberadaan mereka, meski membantu menjalankan sistem, juga dianggap merugikan karena menggerogoti distribusi nilai di dalamnya. Misalnya, masyarakat yang seharusnya mendapatkan pelayanan secara gratis, karena menggunakan jasa calo, jadi harus mengeluarkan uang. Terlebih lagi, uang yang dikeluarkan tadi tidak masuk ke kantong operator atau pembuat sistem, tetapi masuk ke pihak luar (calo)—penyusup yang sejak awal tak direncanakan berada dalam sistem. Jika hal ini dibiarkan berlangsung terus menerus, lambat laun para calo akan mampu mengakumulasi modal secara masif, lalu menggunakannya untuk membuat subsistem mereka sendiri, dan pada satu titik akan bermutasi menjadi entitas yang lebih kuat, misalnya mafia. Pada tahap ini, sistem utama dapat diambil alih sepenuhnya.

Oleh karena itu, ketika keberadaan calo dianggap sebagai ancaman, pengelola sistem akan berusaha memberantas mereka. Namun, sebagaimana sebuah organisme parasit yang memiliki insting bertahan hidup, para calo akan melakukan pertahanan diri. Ketika sistem berusaha menutup satu atau dua celah yang berhasil diidentifikasi, para calo akan berusaha mempertahankan agar celah tersebut tetap terbuka, baik secara nyata maupun dengan cara mempengaruhi persepsi para inangnya.

Dalam upaya memberantas calo, pengelola sistem akan melakukan berbagai cara, tapi sering kali, upaya-upaya tersebut mengalami kegagalan atau justru menimbulkan paradoks.

Mencabut Paksa

Cara paling sederhana memberantas calo adalah lewat metode represif seperti ancaman atau hukuman sehingga memaksa para calo berhenti beroperasi. Namun ketika hal ini dilakukan tanpa memperbaiki celah yang ada, akibat yang ditimbulkan justru menjadi lebih fatal. Sistem yang sejak awal cacat akan berhenti total dan menghancurkan semua kepentingan di dalamnya. Dalam contoh pelayanan publik, masyarakat menjadi tidak mendapatkan hak mereka, dan pemerintah gagal menjalankan tugasnya—yang dapat berakhir dengan hilangnya legitimasi kekuasaan negara. Lagipula, selama celah tersebut tetap dibiarkan ada, cepat atau lambat calo-calo lain akan datang dan mengisinya kembali.

Jika dilihat dari sudut pandang ini, maka analogi sebelumnya bahwa calo merupakan parasit sebenarnya kurang tepat. Jika pengelola sistem mau mengakuinya, simbiosis yang terjadi bukanlah parasitisme, tapi lebih cenderung menjadi mutualisme.

Meningkatkan Kompleksitas

Cara lain adalah tindakan yang bersifat preventif. Anggaplah pengelola sistem telah berhasil memberantas calo secara represif—meski temporer. Untuk mencegah para calo lain menyusup lagi, sistem pun dibuat menjadi lebih ketat, lebih rumit, lebih sulit ditembus. Misalnya, dalam contoh pelayanan publik, petugas akan memberlakukan pemeriksaan yang lebih ketat untuk memastikan bahwa masyarakat yang menerima pelayanan bukanlah calo. Namun bagaimana caranya? Masyarakat tersebut harus mengisi Formulir A, B, dan C; mendaftarkan diri di website A, aplikasi B, dan platform C; serta, tentu saja, menandatangani Surat Pernyataan Bukan Calo di atas materai yang tidak gratis. Cara-cara ini dapat dipahami sebagai upaya untuk mengambil alih kendali sistem ke tangan operator. Konsekuensinya, operator harus bekerja ekstra. Mereka tidak hanya mendata dan mencatat pengguna, tetapi juga memastikan bahwa para pengguna tersebut bukanlah calo/parasit yang berusaha menyusup.

Dalam pergulatan yang berkelanjutan ini, sistem akan terus diperbarui dan dibuat semakin rumit, semakin besar, semakin berjenjang. Mau tak mau, operator pun harus memiliki sumber daya yang semakin besar pula untuk dapat mengimbangi dan mengendalikannya. Jika tidak, maka akan terjadi overload. Operator mengalami burn-out dan teralienasi. Tugas-tugas mereka menjadi semakin spesifik dan terfragmentasi. Akibatnya, tidak ada yang merasa bertanggung jawab karena setiap operator hanyalah kepingan kecil yang terlalu kecil untuk melihat keseluruhan sistem. Sistem yang semakin rumit pun membuat informasi menjadi semakin asimetris. Hanya segelintir operator yang telah mengalami pelatihan khusus bertahun-tahun, komitmen luar biasa, serta memiliki sertifikat A, B, dan C yang dianggap mampu memahami sistem besar ini.

Kompleksitas ini melahirkan paradoks. Semakin besar dan rumit sebuah sistem, semakin banyak pula celahnya. Celah-celah ini akan mengundang lebih banyak calo dari yang pernah ada sebelumnya, baik di sisi pengguna maupun di antara operator.

Merangkul dan Melegalkan

Pengelola sistem yang menyadari kemungkinan tadi, mungkin akan mencoba mencari jalur alternatif yang cukup radikal. Alih-alih memberantas calo dan mencegahnya tumbuh, ia dapat melakukan hal yang bertolak belakang: mengakui dan meresmikan keberadaan mereka.

Jika selama ini calolah yang membuat sistem cacat tetap berjalan, mungkin keberadaan mereka memang dibutuhkan sebagai bagian dari sistem. Para calo dapat diberikan penghasilan yang tetap. Dengan begitu, nilai yang mereka serap dari sistem dapat lebih terkendali dan diprediksi. Mereka pun dapat diikat oleh serangkaian aturan, atau dengan kata lain, menjadi bagian dari sistem. Namun, calo bukanlah satu atau beberapa individu tertentu. Mereka adalah fenomena. Jika sekelompok calo dirangkul dan diintegrasikan ke dalam sistem, mereka bukan lagi calo. Sistem mengubah calo menjadi operator, mengubah ekstraksi ilegal menjadi struktural. Masalah pada poin sebelumnya pun masih dapat terjadi. Apalagi, mengintegrasikan calo ke dalam sistem bukanlah hal yang mudah. Sistem akan melakukan seleksi, persaingan, dan penyesuaian untuk memaksa mereka menjadi tunduk dan akuntabel. Bukan tidak mungkin, proses ini justru akan melahirkan calonya para calo.

Sisyphus Bermain Whack-a-Mole

Pada akhirnya, apa yang dapat dilakukan pengelola sistem hanyalah berusaha sebaik mungkin menutup celah-celah yang telah teridentifikasi sembari mencegah agar sistem tidak berkembang menjadi terlalu rumit dan besar. Setiap satu celah ditutup, celah lain akan terbuka. Calo mungkin tidak dapat hilang sepenuhnya. Sebagian perlu dipukul, sebagian lagi perlu dirangkul, tetapi yang terpenting adalah memastikan keberadaan mereka tetap dalam batas yang bisa ditoleransi. Ini adalah pekerjaan yang melelahkan dan tak ada habisnya, bahkan terasa absurd, seperti Sisyphus yang bermain whack-a-mole.

Bagian dari Sistem yang Lebih Besar?

Coba kita bayangkan seorang petani yang memiliki sebidang kebun. Bagi petani, kebun itu adalah sebuah sistem tersendiri. Ketika terdapat parasit atau benalu di kebunnya, petani akan berusaha membasminya. Keberadaan benalu dapat mengganggu sistem yang ia ciptakan dan merusak hasil panen yang ia inginkan, sehingga ia menganggapnya sebagai hal buruk. Namun jika kita zoom out satu atau dua kali dari kebun petani, kita akan mendapati bahwa keberadaan benalu itu adalah hal yang alamiah. Benalu itu adalah bagian dari ekosistem alam, sebagaimana petani dan seluruh tanaman yang ada di dalam kebunnya. Ia pun memiliki perannya sendiri dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem. Apa yang membuatnya menjadi buruk adalah karena petani menciptakan sistem artifisial (kebun) untuk memenuhi kepentingannya (menghasilkan panen yang baik, laku dijual, dsb) sendiri.

Sistem pelayanan publik tadi dapat kita bayangkan sebagai sebuah sistem yang juga menjadi bagian dari sistem yang lebih tinggi, misalnya birokrasi, pemerintahan, negara, politik, dan ekonomi. Keberadaan calo bisa jadi adalah mekanisme sistem yang lebih tinggi untuk memastikan kepentingannya tetap berjalan. Kalau demikian, calo mungkin bukan sekedar penyusup di dalam sistem, tetapi juga agen rahasia dari sistem yang lebih tinggi yang sedang menjalankan peran alamiahnya.


Prompt Bukan Seni

Merayakan Bahasa Mesin

Awalnya, kita berpikir bahwa jenis pekerjaan yang paling rentan digantikan oleh mesin adalah jenis pekerjaan yang mengandalkan logika, kalkulasi, dan otomatisasi, misalnya akuntan, tenaga administrasi, atau bahkan programer. Semua itu didasarkan pada asumsi bahwa mesin memiliki kemampuan yang lebih efisien dan presisi dalam bidang-bidang tersebut. Kita juga berpikir bahwa pekerjaan-pekerjaan kreatif dan interpersonal tidak akan bisa digantikan oleh mesin (atau setidaknya, kalau pun bisa, masih sangat jauh di masa depan). Paradoks Moravec menyimpulkan bahwa hal-hal yang sulit bagi manusia (logika formal, kalkulasi kompleks, main catur) ternyata relatif mudah bagi AI. Sebaliknya, hal-hal yang mudah bagi manusia (persepsi sensorik, berjalan, mengenali wajah, kreativitas, akal sehat) ternyata sangat sulit bagi AI. Sayangnya, sepertinya kita telah salah memahami apa yang sulit dan apa yang mudah.

Continue reading Prompt Bukan Seni

Catatan tentang Versi Cetak Pertanyaan Paling Aneh

Dua tahun adalah waktu yang sebentar. Terutama jika yang kamu lakukan adalah mengambang dan membiarkan arus waktu menyeretmu ke mana saja ia mau. Konon, jika kamu berenang seperti ikan mati, niscaya tak ada yang perlu kamu takuti. Kecuali, tentu saja, ketika kamu tersadar bahwa hempasan air terjun sudah berada tepat di hadapanmu.

Sudah lama saya berniat mencetak kisah ini. Meski banyak yang sudah membacanya secara daring, saya merasa bahwa pembaca novel elektronik dan pembaca novel cetak hidup di dua habitat yang berbeda. Oleh karena itu, Pertanyaan Paling Aneh berhak untuk mendapatkan kehidupan keduanya dengan mewujud di dunia fisik ini.

Memang, Ketika para pemanang Wattys 2022 diumumkan, beberapa penerbit indie menawarkan saya untuk menerbitkan naskah ini. Namun saya tak mungkin menyetujuinya karena adanya perjanjian eksklusif dengan Wattpad yang harus saya patuhi, setidaknya selama satu tahun. 

Sekarang, saya sudah bebas. Setelah coba-coba mengirimkannya ke beberapa penerbit konvensional, saya merasa jenuh membayangkan harus menunggu tiga bulan sampai setengah tahun untuk mendapatkan jawaban yang sering kali nihil. Ini bukan hal yang baru. Saya pun maklum. Saya membayangkan betapa tingginya tumpukan naskah di meja dan email editor penerbit-penerbit itu. Mereka sudah terlalu banyak pekerjaan. Jika saya mengirimkan satu naskah lagi kepada mereka, saya mungkin bertanggung jawab membuat seorang pekerja kerah putih pulang lembur dan kurang tidur. Akhirnya, saya putuskan untuk menerbitkan naskah ini dengan modal sendiri.

Ini menjadi pengalaman yang menarik, terutama ketika saya merasa memiliki kebebasan untuk membuat keputusan artistik. Seperti yang kita ketahui, barang siapa memegang modal maka ialah yang berhak mengatur segalanya. Dalam mode penerbitan konvensional, penerbitlah yang berkuasa sebagai pemodal, sementara dalam self-publishing, penulislah pemodal yang berkuasa. 

Setelah beberapa kali mencoba membuat desain cover sendiri dan tidak suka dengan hasilnya, akhirnya saya mencoba mencari desainer atau ilustrator dengan style yang saya inginkan. Lewat berselancar dari satu jejaring mutual ke mutual lainnya di Instagram, saya tiba di halaman galeri Indra Nugroho a.k.a. Vortrakker. Karya-karyanya kebanyakan berupa ilustrasi untuk album band rock dan metal. Sejak dulu, saya menyukai style semacam itu: gelap tetapi rapi, seram tetapi penuh ketekunan, hanya saja saya tak pernah bisa membuatnya sendiri. 

Dengan perasaan ragu dan sungkan, saya mencoba menghubungi Vortrakker melalui email. Dalam hati, saya diliputi kecemasan. Apa mungkin seorang ilustrator yang biasa mengerjakan proyek untuk klien internasional mau menanggapi pesanan saya yang hanya penulis daring tidak terkenal dan tidak produktif ini? Namun tak lama kemudian, ia membalas email saya, bahkan langsung membaca sinopsis yang saya lampirkan dan menyatakan ketertarikannya. Setelah berkomunikasi lebih lanjut dan tawar-menawar, asumsi saya selama ini pun terkonfirmasi lagi: bahwa orang-orang dengan karya paling kelam dan menyeramkan biasanya adalah orang-orang yang paling humble dan ramah.

Setelah mendapatkan ilustrator, saya merasa bahwa saya juga membutuhkan editor, atau setidaknya korektor tulisan. Ada banyak editor lepas yang menawarkan jasa di internet, tapi tentu akan lebih baik jika saya mulai bertanya pada orang-orang yang saya kenal. Nadia Hapsari a.k.a Anthea Gillian adalah seorang kawan yang pernah sama-sama aktif di Kemudian.com bertahun-tahun yang lalu. Sosok ini ternyata sekarang aktif menulis dan berjejaring di Wattpad serta bekerja sebagai editor lepas. Tidak hanya bersedia mengedit naskah saya, ahli linguistik ini  juga memberikan banyak tips tentang self-publishing berdasarkan pengalamannya sendiri. 

Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Vortrakker yang telah mendesain sampul yang cadas ini dan Nadia yang sudah memperbaiki berbagai kesalahan di naskah saya. Selain itu, ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Devi yang telah membantu mencarikan rekomendasi dan tentunya kepada Wattpad yang telah menghantarkan cerita ini kepada ribuan mata.

Khusus untuk Mey, istri saya yang telah mendukung pembuatan karya ini sampai menggambarnya di atas kue tart: 

Terima kasih karena telah banyak menginspirasi; 

Terima kasih karena telah banyak memaklumi.

Terakhir tapi juga tak kalah penting, terima kasih sebesar-besarnya kepada para pembaca buku ini, baik yang pernah membacanya secara daring maupun yang baru pertama kali membacanya di cetakan ini. Sebagai ungkapan penghargaan dan sebagai upaya mempertebal buku yang singkat ini, saya menambahkan satu bab ekstra. 

Selamat membaca lagi. Dapatkan PPA versi cetak DI SINI.

Kesan Film Ngeri-Ngeri Sedap: Ternyata Bukan Biopic Soetan Bathugana

Saya menonton film ini dalam salah satu sesi acara Kemdikbud. Awalnya saya cukup pesimis, karena film komedi yang bertema kedaerahan dalam bayangan saya hanya akan menjadikan tradisi lokalnya sebagai “gimmick” belaka, seenaknya memaksakan setting destinasi wisata lokal demi meningkatkan pemasukan pemda, atau mengalienasi penonton luar daerah. Selain itu, membaca judulnya juga membuat saya bertanya-tanya, apakah ini film biopik tentang Soetan Bathugana?

Namun ternyata film ini di luar ekspektasi saya.

Saya memang bukan orang Batak dan tidak akrab dengan budaya Batak. Namun film ini berhasil membuat kehidupan orang Batak di tanah aslinya itu terasa relatable. Mungkin karena tema yang diangkat sangat universal: tentang keluarga, hubungan anak dan orangtua, serta tradisi dan modernitas. Memang ada beberapa adegan yang rasanya seperti “wah, pesanan pariwisata banget, nih”, tapi porsinya tidak berlebihan dan tidak terkesan maksa.

Sebagai sebuah film komedi, kelucuan yang ditampilkan tidak overdosis dan terasa bermakna. Kadang-kadang dalam satu adegan yang sama saya merasa bingung apakah harus tertawa atau menangis haru. Mungkin kombinasi perasasan yang berkonflik inilah yang membuat film ini diberi judul “Ngeri-Ngeri Sedap”.

Film ini cocok ditonton oleh orang Batak, orang Indonesia, dan orang pada umumnya.

Kesan Film KKN di Desa Penari: Azab Mahasiswa Tukang Zina

Sampai sekarang pun saya belum pernah membaca thread Twitternya yang viral itu. Alasan utamanya karena saya tidak suka dengan username dan profile picture akun Simpleman. Sebagai penulis konten horor yang fenomenal, dia harusnya menggunakan nama lain yang lebih … misterius, dark, atau jahat. Simpleman terdengar seperti pria bersahaja yang ingin membahagiakan keluarga, bukan penutur cerita seram. Meskipun begitu, saya juga menduga bahwa Simpleman ini mungkin masih ada hubungan kekerabatan dengan Slenderman.

Awalnya, saya pesimis dengan film ini karena tampak hanya mengeksploitasi hype cerita yang sedang viral. Apalagi ketika pandemi melanda dan produksi film ini tertunda cukup lama. Apakah tidak basi? Apakah rasanya akan seperti menonton film “2012” di tahun 2022?

Continue reading Kesan Film KKN di Desa Penari: Azab Mahasiswa Tukang Zina

Isolasi Mandiri

Sudah seminggu ini saya sekeluarga menjalani isolasi mandiri karena dinyatakan terjangkit Covid-19. Entah varian yang mana. Kemungkinan omicron karena gejalanya tidak terlalu berat. Awalnya saya merasakan demam ringan (37 – 38 derajat celcius), sakit tenggorokan, dan penurunan stamina yang drastis. Setelah beberapa hari, gejala demam dan lemas sudah menghilang, disusul anosmia yang cuma bertahan satu hari. Saat ini, saat menulis blog ini, gejala yang masih saya rasakan hanya batuk menjengkelkan dan kenaikan berat badan (tampaknya ini efek samping dari isoman, bukan dari virus Covid-19 itu sendiri).

Saya memang bukan early adopter. Saya agak bersyukur bahwa saya tertular Covid-19 pada masa sekarang, ketika saya sudah melakukan dua kali vaksinasi dan virus tersebut sudah bermutasi menjadi varian yang lebih lemah dari sebelumnya. Satu-satunya yang saya khawatirkan adalah saat anak-anak saya turut terjangkit penyakit ini. Mereka mungkin punya daya imun yang lebih kuat, tetapi mereka belum divaksin dan masih sulit untuk dibujuk melakukan swab test.

Selama menjalani isolasi mandiri, saya merasakan kepedulian dari orang-orang sekitar. Saya beberapa kali mendapatkan kiriman makanan dan sembako dari teman, keluarga, dan tetangga. Selain itu, petugas Puskesmas juga menghubungi untuk memastikan kondisi. Namun di luar itu, saya merasa sangat terbantu dengan adanya layanan-layanan seperti pesan antar, kurir instan, dan telemedisin. Belanja, membeli makan siang, mengirim dokumen kerja, dan konsultasi dengan dokter dapat dilakukan tanpa harus keluar rumah sama sekali. Tak hanya itu, kebutuhan hiburan dan komunikasi juga terpenuhi melalui perangkat elektronik. Semua itu bisa dilakukan berkat perkembangan teknologi digital dan jaringan internet.

Saya membayangkan bagaimana rasanya menjalani isolasi pada zaman ketika internet belum ditemukan. Isolasi berarti meminimalkan interaksi fisik dengan manusia lain. Pada masa ketika interaksi fisik menjadi sarat mutlak untuk survive, isolasi tentu adalah hal yang sulit. Pada masa itu, penjual dan pembeli harus bertemu untuk dapat bertransaksi, para pekerja harus duduk satu ruangan untuk rapat, dan kita harus datang ke kantor pos untuk mengirimkan surat. Bisa dibilang, isolasi mandiri adalah sebuah priviledge yang ada di zaman sekarang.

Lantas, apakah teknologi memang mempermudah kita melakukan isolasi di masa pandemi, atau justru teknologi memang telah mengondisikan kita untuk terbiasa mengisolasi diri?

Pada masa ketika teknologi belum begitu maju, manusia dituntut untuk selalu memiliki ikatan yang kuat dengan manusia-manusia lain dalam jumlah terbatas dan terkendali (membuat kelompok). Ini terjadi secara alamiah karena tuntutan kondisi alam dan sumber daya. Manusia kemudian mengembangkan teknologi agar dapat lebih mudah menaklukan alam dan mengelola sumber daya. Dengan semakin mudah dan efisiennya proses pemenuhan kebutuhan, manusia tidak lagi membutuhkan ikatan kolektif yang terlalu kuat dan dapat memberi ruang lebih luas bagi individualitas. Semakin efektif dan efisiennya teknologi dalam memenuhi kebutuhan kita, maka semakin luas juga ruang yang bisa kita berikan bagi sisi individualitas kita.

Seorang anak bayi selalu menganggap dirinya sebagai pusat alam semesta, sementara untuk memenuhi segala kebutuhannya ia bergantung pada orang tua atau pengasuh. Manusia modern pun dapat menjadi seperti itu. Jika kita dapat mengakselarasi kemajuan teknologi hingga titik ekstrim, manusia pun dapat memiliki “orang tua” lagi. Kita dapat menjadi bayi yang individualis murni. Setiap kali kita memiliki kebutuhan yang ingin dipenuhi, kita hanya perlu berteriak atau menangis, lalu mesin berteknologi canggih akan langsung bekerja memenuhi kebutuhan kita.

Namun bagaimana jika sang “bayi” bertingkah “nakal” dan menghambat “orang tua” menjalankan tugasnya? Hukuman apa yang akan ia terima?

Sepertinya saya sudah terlalu jauh melantur. Mungkin ini efek samping dari isolasi mandiri. Sekarang saya mulai lapar. Saya hanya perlu berteriak, “Ok Google! Pesan martabak dari GoFood!”

Kuliner Liar Januar

Bagi sebagian orang, merah berarti gairah, amarah, tanda berhenti, atau revolusi. Bagi sebagian lainnya, merah berarti darah. Seperti kutipan yang terkenal dari film PKI buatan Orde Baru dulu: Darah itu merah, Jenderal! Namun bagi bisikan-bisikan dalam kepala Januar, kutipan itu sedikit berbeda: Merah itu darah, Januar! Dan bukan hanya sekadar darah, tapi darah yang lebih spesifik, darah yang tidak bisa ia dapatkan dari ikan, ayam, atau hewan-hewan lain yang pernah ia makan hidup-hidup dalam acara reality show-nya: Kuliner Liar Januar.

Baca selengkapnya

Selamat Tahun Baru, Hantu-Hantu yang Selalu Menunggu

Sudah hampir sebulan pesan itu masuk ke inbox Facebook-ku, tapi aku tidak pernah menyadarinya. Mungkin karena pengirimnya tidak termasuk dalam friendlist, mungkin juga karena kotak masukku sudah penuh dengan berbagai spam. Namun, pada malam tahun baru itu aku tergoda untuk membukanya lewat ponsel.  

Isi pesan itu singkat: Kamu penulis Kara Reshita ya?  

Continue reading Selamat Tahun Baru, Hantu-Hantu yang Selalu Menunggu