Muhamad Rivai

Fiksi dan catatan lainnya

Month: March 2014

Lemari Pemakan Rambut

 

Widya tidak paham kenapa lemari tua itu selalu memakan rambutnya. Setiap kali ia duduk bersandar di pintu lemari, satu atau dua helai rambutnya selalu terjepit dan putus. Pagi tadi, lemari itu kembali memakan rambutnya sebagai sarapan. Saat itu Widya sedang bersolek sambil duduk membelakangi lemari, dan ketika ia bangkit berdiri, ia menjerit kesakitan karena kepalanya terasa ditarik dengan kuat. Ia menoleh. Dua helai rambut hitam panjangnya menjuntai di sela pintu lemari.

Read More

Hari Ini Saya Tidak Mengantuk

Seharian ini mata saya terasa jernih dan mulut saya hampir tidak menguap sama sekali, padahal saya yakin bahwa semalam saya kurang tidur. Sangat kurang. Kira-kira pukul setengah satu dini hari saya baru naik ke tempat tidur karena baru saja selesai mengetik di laptop. Sebelumnya saya sempat memeriksa kolong lemari karena ada seekor tikus kecil yang masuk beberapa jam lalu. Ada perasaan menyesal mengapa saya tidur selarut itu.

Posisi tidur sudah nyaman dan semua lampu di kamar telah padam. Saya berbalik ke kanan, telentang, balik ke kiri, lalu kembali ke kanan, tapi rasa kantuk tak juga muncul. Saya pejamkan mata, lalu mencoba mengosongkan pikiran, menghitung angka, atau membaca doa, tapi sia-sia. Satu jam berlalu, mata saya masih bisa terbuka lebar dan jernih. Padahal saya tidak meminum kopi dua hari belakangan ini karena batuk dan flu yang sedang menyerang. Oh, mungkin karena batuk itu. Mungkin karena tenggorokan saya terasa gatal setiap lima belas menit sekali sehingga saya tidak bisa tidur. Namun yang saya rasakan bukanlah rasa kantuk yang terganggu, melainkan rasa kantuk yang tidak muncul sama sekali.

Saya bergelut dengan waktu dan kebosanan hingga jam dinding menunjukkan pukul setengah empat pagi. Sebentar lagi Subuh. Saya bertanya-tanya, mungkinkah sebenarnya saya sempat tertidur tanpa sadar? Kalau tidak, gawat. Berarti hari ini saya harus pergi ke kantor tanpa tidur sama sekali. Saya membayangkan mata saya akan perih ketika menghadapi monitor komputer dan saya akan ketiduran saat mendengarkan khutbah Jumat. Anehnya, semua itu tak terjadi.

Sekarang sudah pukul lima sore dan mata saya masih terasa jernih. Tidak ada rasa kantuk yang menyerang siang tadi seperti siang-siang biasanya. Tubuh saya terasa lemas, tapi ada energi dan adrenalin yang mendorong kesadaran saya sepanjang hari, entah dari mana, entah untuk apa. Pertanyaan itu muncul lagi: benarkah saya tidak tidur tadi malam?

Lalu saya ingat bahwa semalam saya sempat bermimpi–yang artinya pasti saya sempat tertidur. Mimpi itu, mimpi yang sangat buruk itu, entah terjadi pada jam berapa. Dalam mimpi itu ada darah membanjiri lantai, ada potongan tubuh manusia bergeletakan, dan ada orang-orang yang saya kenal sedang mencincang manusia lain dengan santai seolah semua itu wajar. Dalam mimpi itu saya ketakutan; mata terbelalak lebar, jantung berdetak kencang, dan kaki merangkak sekuat tenaga. Saya tidak ingat apakah dalam mimpi itu saya berhasil melarikan diri atau masih terus berlari, berlari hingga sekarang.

Sekarang matahari mulai merangkak turun dan mata saya masih terasa jernih, terbuka lebar, seperti sedang mewaspadai sesuatu.

Illustration By: WaithamaiCC BY 2.0

Lelaki yang Menunggu Bayi

Menara listrik di tepi jalan terlihat seperti sepasang tanduk iblis yang sedang memintal benang. Telunjukku gelisah mengetuk-ngetuk setir mobil, sementara kakiku pegal menginjak kopling untuk menghadapi kemacetan tanpa ujung. Ketika aku berhasil melewati sumber kemacetan itu, aku melihat sebuah truk terguling di pinggir jalan. Di bagian belakang truk itu terdapat lukisan perempuan bahenol dengan huruf-huruf yang ditulis menggunakan cat merah: DEMI ISTRI RELA MATI.

Instingku menyimpulkan semua itu sebagai pertanda. Apakah sesuatu yang buruk terjadi pada istriku? Di dalam kota, mobilku kembali terhenti oleh lampu lalu-lintas yang menatap merah dan angka digital yang berhitung mundur, seolah bila angka itu habis maka bencana besar akan terjadi.

Ini adalah pertama kalinya istriku melahirkan dan aku datang terlambat. Aku tak menyangka ia akan melahirkan secepat ini. Terakhir kali kami bertemu tak ada tanda-tanda yang meyakinkan. Tetangganya, Pak Jamal dan Bu Jamal, membawa istriku ke bidan ketika mendengar ia menjerit-jerit sendirian di dalam kamar. Namun bidan menolaknya, ia menyarankan agar istriku dibawa ke rumah sakit karena tak dapat melahirkan secara normal. Pak Jamal meneleponku ketika aku masih melakukan meeting di luar kota. Dengan suara yang terbata-bata karena kebingungan, ia memintaku agar segera datang.

Read More

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén