Sakit2 min read

Ada perasaan lega yang muncul saat aku melangkahkan kaki ke kamar kos. Irama lagu itu, yang seharian tadi nonstop diputar di kantor, akhirnya bisa pudar juga dari memori otakku. Lagu itu benar-benar menimbulkan trauma. Aku bisa membayangkan, seandainya tahun depan perang dunia ketiga meletus, lagu itu pasti akan menjadi alat interogasi yang cukup ampuh.

Kututup pintu kamar erat-erat, lalu kuletakkan sebungkus empek-empek yang kubeli di perempatan jalan. Malam ini aku berencana untuk makan malam sambil mendengarkan beberapa musik dari laptop. Musik apa saja, yang penting bisa menetralisir sisa-sisa irama lagu itu dari kepala hingga benar-benar bersih seratus persen. Kunyalakan laptop, lalu kubuka program pemutar musik. Kukira aku sudah aman, kupikir semuanya akan berjalan mulus, tapi aku benar-benar salah. Belum sempat aku menekan tombol “play”, sebuah suara terdengar dari luar kamar.

Itu adalah suara anak tetangga. Merasa penasaran, aku mendekat dan mendengarkan suara itu baik-baik. Namun aku segera menyesal ketika menyadari apa yang sedang anak itu lakukan. Napasku sesak seketika dan tanganku gemetar.

Anak kecil usia TK itu sedang bernyanyi, menyanyikan lagu yang belum bisa ia pahami dengan otak polosnya, menebarkan teror dan kengerian ke dalam telingaku. Andai saja ia paham bahwa lagu itu diciptakan bukan untuk telinga manusia fana. Nada itu, nada dari kerak neraka yang meletup-letup. Irama itu, irama dari dentuman kehancuran di suatu sudut di jagat raya. Dan lirik itu, lirik durjana yang sanggup membangunkan mereka yang telah mati hanya untuk membunuhnya kembali.

“Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku. Sakitnya tuh di sini, melihat kauselingkuh,” dendang anak kecil itu tanpa menyadari kerusakan apa yang ia tengah ia perbuat di muka bumi.

Aku berusaha menjerit, tapi yang keluar dari tenggorokanku hanyalah desisan halus. Dapat kurasakan otakku meleleh menjadi bubur putih yang keluar dari lubang telinga; hangat, basah, dan kental. Lalu tanpa bisa kukendalikan, tubuhku terpelintir, wajahku mungkin sudah berubah seperti lukisan The Scream, dan entah apa yang terjadi selanjutnya.

Aku rasa, aku terjerembab ke dalam dimensi lain, sebuah dimensi yang mengerikan. Dalam dimensi itu, lagu tadi terdengar berulang-ulang, looping tanpa akhir, selama-lamanya, selama keabadian itu sendiri.

“Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini.”

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).