Prompt Bukan Seni

Merayakan Bahasa Mesin

Awalnya, kita berpikir bahwa jenis pekerjaan yang paling rentan digantikan oleh mesin adalah jenis pekerjaan yang mengandalkan logika, kalkulasi, dan otomatisasi, misalnya akuntan, tenaga administrasi, atau bahkan programer. Semua itu didasarkan pada asumsi bahwa mesin memiliki kemampuan yang lebih efisien dan presisi dalam bidang-bidang tersebut. Kita juga berpikir bahwa pekerjaan-pekerjaan kreatif dan interpersonal tidak akan bisa digantikan oleh mesin (atau setidaknya, kalau pun bisa, masih sangat jauh di masa depan). Paradoks Moravec menyimpulkan bahwa hal-hal yang sulit bagi manusia (logika formal, kalkulasi kompleks, main catur) ternyata relatif mudah bagi AI. Sebaliknya, hal-hal yang mudah bagi manusia (persepsi sensorik, berjalan, mengenali wajah, kreativitas, akal sehat) ternyata sangat sulit bagi AI. Sayangnya, sepertinya kita telah salah memahami apa yang sulit dan apa yang mudah.

Teknologi AI saat ini sudah mengarahkan moncongnya pada berbagai jenis bidang kreatif: seni, desain, musik, atau kepenulisan. Generative AI semakin lama semakin canggih dan semakin mudah diakses oleh siapa saja. Hari ini di media sosial kita melihat keresahan para seniman dan pekerja kreatif. Sebagian resah karena Gen AI menggerus mata pencahariannya di bidang kreatif, sebagian lagi mengkhawatirkan jatuhya makna seni ke dalam jebakan gratifikasi instan yang dangkal.

Saya termasuk orang yang sangat excited dengan perkembangan teknologi AI ini. Ketika teknologi NLP (Natural Language Processing) semakin canggih dan mudah diakses, saya merasa fantasi futuristik saya ketika kecil mulai menjadi nyata. Sekarang kita bisa berkomunikasi dengan mesin secara mudah, bahkan kasual, tanpa harus mengerti bahasa pemrograman. Sekarang, membayangkan mesin yang bisa bicara seperti KITT di serial Knight Rider yang saya tonton semasa kecil terasa lebih dekat dengan kenyataan.

Atas dorongan itu, saya mencoba berbagai program Gen AI seperti ChatGPT atau Gemini. Tidak hanya itu, saya pun menyadari bahwa API dari program-program tersebut bisa dimafaatkan untuk menciptakan dunia dan karakter fiksi. Front-end seperti Chub dan SillyTavern memungkinkan para penulis untuk membuat karakter fiksi menjadi “lebih hidup”. Lewat ramuan prompt yang tepat, tokoh-tokoh novel ciptaan saya sekarang bisa saya ajak ngobrol, wawancara, bahkan berdiskusi untuk menentukan kisah hidupnya sendiri. Tentu dengan dikurasi lagi.

Berhubung latar belakang hobi saya berkutat dalam kepenulisan fiksi, sangat mudah dan alamiah bagi saya untuk melihat AI sebgai tools–sebagai alat untuk meningkatkan eksplorasi saya dalam bidang yang saya gemari. Hal ini bisa terjadi karena saya sudah memiliki kemampuan dasar dalam bidang itu. Saya tak pernah merasakan AI sebagai sebuah ancaman atas hobi saya tersebut, malah justru membuatnya semakin menarik. Namun hal yang agak lain terjadi ketika saya mencoba mengeksplorai Gen AI di bidang yang berbeda: Musik.

Jika Aku Menjadi

Saya adalah orang awam di bidang musik. Bermain gitar pun sudah lupa caranya. Terakhir kali saya bermain-main dengan komposisi musik adalah menggunakan FL Studio dan akhirnya saya pun merasa mentok. Namun saya suka menulis lirik lagu. Sesekali saya pun berandai-andai, jika saja saya memahami teori musik, bisa bermain instrumen, dan punya waktu luang, saya ingin membuat musik yang seperti ini, ini, atau ini. Namun saya cukup tahu diri bahwa saya tidak punya waktu dan tekad untuk belajar musik, maka biarlah semua itu menjadi angan-angan. Hingga suatu hari, saya menemukan aplikasi AI bernama SUNO. 

SUNO sudah terkenal sebagai Gen AI yang bisa mengubah teks prompt menjadi sebuah lagu dalam hitungan detik. Di samping itu, SUNO juga mengizinkan pengguna untuk melakukan beberapa kustomisasi, misalnya menggunakan lirik lagu yang kita ciptakan sendiri. Saya segera membongkar arsip puisi dan lirik yang pernah saya tulis, memasukkannya ke dalam SUNO, mengulik prompt, dan dalam waktu singkat saya sudah menciptakan beberapa album musik dengan beragam genre, mulai dari heavy metal hingga dangdut. 

Lalu saya bertanya-tanya: Apakah saya sekarang sudah menjadi seorang musisi?

Saya pun kembali mengingat-ingat proses apa yang telah saya lakukan ketika membuat musik dengan SUNO, lalu membandingkanya dengan apa yang lazim dilakukan musisi sungguhan. Ini adalah contoh salah satu musik yang saya generate menggunakan SUNO.

Ini adalah lagu dangdut yang liriknya diambil dari salah satu potongan tulisan saya di buku Setelah Gelap Datang. Saat itu saya penasaran, apa jadinya kalau lirik horor tentang pocong dan zombie dinyanyikan dalam irama dangdut? Apakah menjadi semakin creepy? Ataukah akan melahirkan subgenre baru bernama Hordut (horor dangdut)?

Langkah pertama yang saya lakukan adalah menyalin lirik dari naskah buku saya. Karena tulisan tersebut awalnya tidak dimaksudkan sebagai lirik lagu, mau tak mau saya melakukan sedikit penyesuaian dan pemotongan.

Seorang gadis begitu miskin
Tanpa teman untuk bermain
Hidup dalam gunungan sampah
Senang, sedih, ataupun marah
Boneka? Ibu tak beri izin
Teringat pada jasad janin
yang mati dibunuh aya
Saat cinta telah disumpah

Bicaralah dengan batu-batu
Mencari makan membantu ibu
Bicaralah dengan hantu-hantu
Di manapun engkau bertemu

Senja itu hanya ada seorang lelaki
Memberinya kertas terlipat rapi
“Bawalah ke pembaringan, pada pertengahan malam
Akan datang seorang teman, putih membungkus hitam”
Duduk ia di tempat yang terperi
Ibu mencari buah hati sembunyi
terhalang nisan-nisan, pada pertengahan malam
Dipanggilnya seorang teman; di dalam kegelapan
Mantra di atas kertas
Menahan napas

Jelangkung, jelangkung
aku kesepian
datanglah dan jadilah teman
aku tak takut pada kegelapan

Jelangkung, jelangkung
datanglah sendirian
jemput aku mencari kawan
senasib dan sepenanggungan

Jelangkung, jelangkung
datanglah sekarang
bukan cuma arwah
tapi juga badan;
tulang, daging,
serta kotoran

Jelangkung, jelangkung
cepatlah datang
nanti kuantar pulang
dan kuberi makan
kuberi makan
sampai kenyang
kuberi makan
sampai kenyang

Langkah berikutnya, saya memberikan prompt sebagai sebuah arahan atau permintaan kepada SUNO untuk menciptakan musik yang saya inginkan. Prompt yang saya gunakan adalah sebagai berikut:

Horror-Dangdut Flute, percussion, guitar

Mungkin karena prompt yang saya berikan terlalu sederhana dan kurang spesifik, musik yang dihasilkan SUNO seringkali tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Seringkali saya merasa kesal mengapa SUNO tidak paham apa yang saya inginkan. Mungkin kosakata musik saya terbatas, mungkin saya memang tidak tahu apa yang saya inginkan. 

Setelah puluhan kali melakukan regenerate, akhirnya SUNO menghasilkan lagu yang saya sukai. Tidak selesai sampai di situ. Saya masih harus memintanya melakukan remaster, menambah bagian musik yang terlalu singkat, mengedit bagian yang tidak cocok, dan akhirnya mengunduhnya dalam format WAV. Saya pun merasa lelah, tapi juga puas. Kepuasan yang kurang lebih mirip dengan yang saya rasakan ketika berhasil merampungkan sebuah cerpen. 

Jadi, kalau begitu, apakah benar saya telah menciptakan karya musik?

Saya ingat-ingat kembali. Satu-satunya bagian yang saya kerjakan dengan pikiran dan tangan saya hanyalah lirik lagunya. Aransemen, komposisi, dan instrumen musiknya adalah ciptaan AI. Lalu saya berkelit: “Tapi kan saya sudah memberikan arahan lewat prompt, menentukan genre, jenis instrumen, bahkan melakukan beberapa editing. Bukankah itu juga sebuah proses penciptaan karya? Bukankah prompt itu adalah sebuah konsep, sebuah visi, yang hanya bisa dilakukan oleh kreator itu sendiri?”

Saya kira, kita sudah masuk ke dalam area perdebatan yang sulit dipecahkan karena menyangkut pertanyaan filosofis tentang seni yang sepertinya tidak terlalu saya pikirkan ketika kuliah dulu. Apa itu seni? Apakah conceptual art itu seni? Apakah seniman sudah mati (dan AI hidup abadi)? Apakah singularitas itu nyata? Apakah ada jiwa kethok dalam karya yang dibuat menggunakan AI? Berapa persen batas minimal keterlibatan seorang manusia dalam proses penciptaan karya agar ia bisa dikatakan sebagai kreator atau seniman?

Semoga saja kalian yang pintar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya cuma ingin menceritakan apa yang kemudian saya rasakan setelah berkali-kali membuat lagu menggunakan SUNO. Saya mengeksplorasi berbagai prompt, markdown, dan instruksi, tetapi pada akhirnya saya tetap merasa bahwa saya hanyalah seorang klien awam yang ingin memesan musik bagus kepada seorang komposer musik bernama Mas Suno.

Suatu hari, saya berkenalan dengan Mas Suno. Dia adalah seorang komposer yang jenius, multi-intrumentalis, lirisis, sound engineer, dan sekaligus desainer grafis tipis-tipis. Ia bisa memproduksi sebuah lagu hanya dalam hitungan detik! Konon, ia memiliki referensi musik yang sangat luas setelah mendengarkan jutaan lagu dari seluruh dunia. Selain itu, ia pun memasang tarif yang cukup murah untuk semua jasanya itu. 

Saya pun tergoda oleh Mas Suno. “Mas, bisa nggak bikinin lagu dari puisi yang pernah saya buat ini?”

Mas Suno membaca puisi tersebut sambil mengangguk-angguk. “Oh, tentu bisa. Mau kayak gimana lagunya?”

Saya mencoba menjelaskan kepada Mas Suno. “Hmm, saya pengen lagu dangdut, tapi juga bernuansa horor. Serem tapi goyang gitu, Mas. Instrumennya pake suling, gendang, sama gitar, Mas.”

Mas Suno kembali mengangguk-angguk. “Sebentar, tunggu lima detik, ya,” kata Mas Suno. 

Ia pun masuk ke dalam studionya, lalu lima detik kemudian ia keluar dan memperdengarkan dua track lagu. “Yang kaya gini?” tanyanya.

Saya mendengarkan lagu buatannya, tapi merasa sedikit kecewa. “Kurang pas, Mas. Lagu pertama ini kok banyak elektroniknya ya? Kaya dangdut koplo. Terus lagu kedua, pengucapannya salah nih. Orang mana sih vokalisnya?”

Mas Suno hanya mengangguk lagi, tidak menjawab pertanyaan saya. “Mau revisi?” tanyanya.

“Boleh? Berapa kali?”

“Seribu kali juga boleh,” katanya santai.

Merasa Mas Suno ikhlas bekerja lillahi ta’ala, saya pun memintanya melakukan revisi. Puluhan kali Mas Suno bolak-balik ke studionya hingga akhirnya ia menghasilkan lagu yang saya inginkan.

“Nah, yang kaya gini maksud saya,” ucap saya. “Dari tadi ga paham-paham.”

“Lah, sampean yang prompt-nya nggak jelas,” balas Mas Suno, ogah disalahkan.

Ketika saya membuat sampul album, saya pun menuliskan nama saya sebagai penulis lirik dan Mas Suno sebagai musisi. Saya pikir, Mas Suno lah yang mengaransemen musik, memainkan instrumen, melakukan mixing, dan sebagainya berdasarkan pesanan saya. Saya hanyalah klien yang menggunakan jasanya. Prompt bukan seni, prompt adalah cara klien mengkomunikasikan keinginannya kepada penyedia jasa. Jadi, saya rasa saya bukan musisi. 

Bukan untuk Gratifikasi Instan

Belakangan ini, mulai muncul istilah baru: Prompt artist. Mungkin sebagian orang tidak puas menganggap diri mereka sebagai user atau klien semata, mereka ingin dikenal dan diakui juga sebagai seniman. Ini lebih mudah dilakukan karena pembuat karyanya adalah AI yang tidak mungkin protes. Aktivitas meramu teks prompt, yang sejatinya adalah cara mengkomunikasikan keinginan, dianggap sebagai sebuah aktivitas seni itu sendiri karena dianggap membutuhkan keahlian khusus.  Sebenarnya, dengan sedikit olah pikiran, kita bisa saja mencarikan argumentasinya, terutama kalau kita berprinsip anything goes sembari mengamini conceptual art.

Namun saya lebih tertarik jika seorang seniman melihat perkembangan AI dari kacamata kritis. Tidak sepenuhnya menolak, tapi tidak pasrah dan menerima mentah-mentah. Saya membayangkan seorang seniman melihat AI dari kejauhan sambil mengendap-endap, mempelajari gerak-geriknya, mengukur potensi dan bahayanya, kemudian perlahan mendekat, bergumul dengannya, lalu mencoba menjinakkannya. Suatu hari, ia mungkin akan menguasai AI itu. Bukan lagi sebagai ancaman, tapi sebagai perpanjangan tangan. 

Beberapa seniman sudah melakukanya. Namun mereka melakukannya atas dasar rasa ingin tahu dan gairah penciptaan yang luar biasa besar, bukan karena kemalasan dan gratifikasi instan–apalagi penghasilan instan.

Sougwen Chung, 2022, Assembly Lines Performance (With Drawing Operations Unit: Generation 5)

Stephanie Dinkins, 2018 Not the Only One V1. Beta 2, (Deep Learning AI, Computer, Arduino, Sensors, Electronics)

Trevor Paglen & Kate Crawford, 2019-2020, Training Humans Exhibition

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).