Potong-di-sini

Wajahmu adalah hal yang sudah tak asing, tapi terasa begitu baru. Cukup lama kita tak bertemu, agak kurus dirimu. Sekarang pakai kacamata pula. Kurang cocok, ya.
Hey, Nona, sudah berapa pertengkaran yang kita lewati? Sudah berapa percintaan yang kita lalui? Sudah berapa sering kukatakan aku akan pergi melupakanmu dan jangan cari aku lagi, tapi kini kita bicara disini, aku masih saja pencinta yang lalu. Rasanya rindu. Makin tua ya, ibumu. Lama juga kita tak pergi ke bioskop bersama. Ah, masih murah ya tiketnya? Tenang, biar aku yang bayar. Oh ya, mari bertukar buku cerita. Sebenarnya. Aku berpikir untuk bicara tentang kita lagi, jadi

———potong-di-sini———– >8

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).