Jembatan Surga10 min read

Untuk Adriane yang kiriman bukunya tersesat di Cimahi

 

Foto: Innah Wulandari

Seumur hidup, Adrian hanya pernah dua kali memberikan bunga kepada wanita dan ia menyesali keduanya. Bunga pertama adalah bunga mawar merah yang ia berikan kepada gadis cinta pertamanya saat SMP. Mawar itu diberikannya saat pulang sekolah dengan tangan yang gemetar karena gugup, tapi segera ditepis secara kasar oleh sang gadis. Sejak saat itu, Adrian menjadi trauma terhadap bunga mawar dan juga terhadap gadis populer yang sombong.

Pemberian bunga kedua yang ia sesali terjadi saat usianya sudah empat puluh tahun, saat ia sudah menjadi seorang dokter dan ilmuwan yang dihormati di bidangnya. Bunga itu bernama “Jembatan Surga”, sebuah bunga yang sangat langka yang ia berikan kepada Hana, wanita yang sangat ia cintai.
Hana adalah istri Adrian. Ketika masih muda, ia pernah menjadi perawat di sebuah rumah sakit tempat Adrian praktek. Di rumah sakit itulah mereka saling kenal dan menemukan kecocokan satu sama lain. Hana adalah gadis sederhana, ia tidak populer dan tidak begitu banyak bicara. Namun ketulusan Hana dan pengabdiannya terhadap kemanusiaan telah berhasil memikat hati Adrian. Mereka pun menikah dan berbulan madu di Jerman sembari Adrian melanjutkan pendidikannya.

Adrian bukanlah orang yang bisa diam di dalam klinik, menunggu pasien, menerima bayaran, lalu pulang dengan mobil mewah ke rumah megah seperti dokter-dokter kenalannya. Ia senang berpetualang, ia rela hidup susah dan melewati bahaya. Oleh karena itu, setiap kali Hana mengajaknya menjadi relawan untuk menolong korban bencana dan perang di belahan dunia manapun, Adrian tidak pernah menolak untuk ikut serta. Perjalanan ke tempat-tempat berbahaya yang jauh dari kenyamanan hidup memberikan sensasi tersendiri bagi mereka. Mungkin inilah cara mereka mengobati rasa kesepian karena kekurangan Adrian yang tidak bisa memberikan keturunan. Mereka tidak mengadopsi anak, tetapi mereka menjadi orangtua asuh bagi puluhan anak-anak yang membutuhkan.

Bencana tsunami di Aceh, gempa bumi di Cina, bahkan peperangan di Gaza telah berhasil mereka lewati dengan selamat. Adrian percaya, bahwa umur panjang yang ia miliki bersama Hana harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Namun apa yang tidak bisa dilakukan oleh bencana alam dan desingan peluru ternyata bisa dilakukan oleh lalu lintas kota.

Hana mengalami kecelakaan beruntun di jalan tol ketika ia baru pulang dari rumah adiknya. Kecelakaan itu diberitakan besar-besaran di media massa sebagai kecelakaan lalu lintas terbesar tahun ini. Lima belas orang meninggal dunia, sementara delapan lainnya luka berat.

Hana tidak meninggal dalam kecelakaan itu, tapi bagi Adrian, justru itulah yang paling memberatkannya. Pendarahan otak dan kelumpuhan tubuh Hana membuat wanita malang itu terus berada dalam keadaan koma. Adrian tidak pernah pergi kemana-mana lagi. Tanpa Hana yang mendampinginya, ia memilih untuk membuka praktek kecil di rumahnya sambil menemani Hana. Adrian sudah tidak percaya bahwa rumah sakit bisa menyembuhkan Hana, oleh karena itu ia membawanya ke rumah dan menyiapkan seluruh peralatan medis yang dapat menunjang kehidupannya meski dalam keadaan koma.

Sebulan, dua bulan, satu tahun, bahkan hampir dua tahun Hana tidak pernah sadar. Adrian hampir putus asa. Jauh di dalam hatinya, ia tahu Hana merasa menderita, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pada saat kesabarannya hampir habis itulah, seorang pasien datang ke kliniknya dan memberikan informasi penting.

“Ada sejenis bunga yang sangat langka dan tidak bernama. Aku menyebutnya bunga Jembatan Surga. Bunga ini cuma mekar seratus tahun sekali di puncak Jaya Wijaya dan belum dicatat dalam dunia medis atau biologi. Konon, sari pati bunga ini bisa membuat orang pergi ke surga,” ucap pasien itu.

“Omong kosong!” ucap Adrian kesal. Sebenarnya ia bisa saja mengusir pasien itu dan memakinya sebagai tukang obat atau  agen penjual narkotika, tapi ia tidak bisa melakukan itu karena sang pasien adalah temannya sendiri.

Dr. Harold, peneliti berkebangsaan Australia yang ia kenal dari sebuah seminar di London, adalah seorang ilmuwan dan petualang sejati. Berbeda dengan Adrian, Harold lebih tertarik pada ekspedisi melintasi alam daripada misi kemanusiaan. Minatnya pada legenda, metafisika, dan hal-hal tabu seringkali membuatnya dijauhi kalangan akademisi lainnya. Namun itulah yang membuat Adrian dan Hana berkenalan dengan Harold.

“Kamu boleh bilang ini omong kosong, Adrian, aku kan cuma bercerita. Jangan tersinggung dulu,” ucap Harold.

“Sejak awal aku sudah curiga, tidak mungkin kamu datang ke sini cuma untuk meminta obat sakit tenggorokan,” ujar Adrian.

“Soal bunga Jembatan Surga, itu tidak ada hubungannya dengan istrimu. Aku cuma mau bilang, bahwa aku sedang tertarik meneliti bunga itu. Aku datang ke Indonesia untuk mengambil sampelnya dari orang di Papua, lalu kebetulan aku mendengar keadaan Hana dari salah seorang teman, jadi aku sempatkan datang ke sini. Apa aku salah?”

Adrian berusaha mencerna perkataan Harold dan menenangkan dirinya. Perasaannya sedang terlalu sensitif. Lama mereka terdiam, lalu Harold mengeluarkan tiga buah tabung yang terbuat dari kaca tebal dan berisi cairan bening kental.

“Itu sampelnya?” tanya Adrian.

Harold hanya mengangguk sambil meletakkan tabung-tabung itu di atas meja. Adrian mengambil salah satu tabung dan memperhatikan isinya. Naluri penelitinya muncul ketika melihat cairan itu bergerak-gerak mengikuti gerakan tabung. Entah seperti apa bentuk asli bunga ini. Rasa ingin tahu dan sikap skeptiknya saling bergumul di dalam kepala.

Melihat reaksi itu, Harold tersenyum. Ia menceritakan asal-usul  bunga Jembatan Surga. “Menurut cerita masyarakat suku pedalaman,  seratus tahun yang lalu ada seorang pria yang tersesat di gunung dan hampir mati, lalu tanpa sengaja ia memakan bunga itu. Tak lama kemudian, orang itu mati, tapi ia mati dalam keadaan tersenyum. Sebagian masyarakat percaya bahwa bunga itu membuatnya pergi ke tempat yang lebih menyenangkan, tempat yang kita sebut sebagai surga.”

Adrian tidak percaya. Bagaimana mungkin orang mati bisa merasakan bahagia? Kalau memang bunga itu hanya membuatnya bahagia sesaat sebelum kematian, lalu apa bedanya dengan zat psikoaktif lain?

“Tidak, Adrian. Aku pikir bunga ini tidak sekadar membuat orang mengalami delusi atau melepaskan endorfin. Bunga ini membuat otak orang yang mengonsumsinya terus berada dalam kondisi bahagia, bahkan setelah jantungnya berhenti berdetak,” ucap Harold, “bukankah itu sama saja dengan pergi ke surga?”

“Mustahil. Pantas kamu selalu ditertawai peneliti lain karena hipotesismu yang tidak ilmiah itu. Aku curiga suatu saat kamu akan menyebarkan ramalan kiamat atau mendirikan sekte new age.” Adrian kembali meletakkan tabung itu di meja.

Harold menghela napas. Ia tidak ingin berdebat. Setelah menjelaskan rencana penelitiannya dan berbasa-basi sebentar mengenai keadaan Hana, ia pun bersiap pergi. Ia sengaja meninggalkan salah satu tabung sari bunga Jembatan Surga di meja Adrian. Sebagai tanda persahabatan, katanya, dan sebagai pertaruhan kalau penelitiannya sukses nanti.

Adrian tidak menoleh ke arah tabung itu sedikit pun. Baru setelah Harold pergi meninggalkan kliniknya, ia mulai melirik benda aneh itu. Tidak. Ia tidak akan menggunakannya. Ia tahu benar bahwa ia tidak boleh bermain-main dengan zat yang tidak dikenalnya itu. Sambil menahan diri, ia menyimpan tabung itu ke dalam lemari di laboratoriumnya, lalu kembali ke ruangan tempat Hana dirawat.


Musim hujan mulai membasahi bulan Desember, ranting-ranting pohon mangga di luar jendela bergoyang-goyang tertiup angin. Adrian duduk di depan meja kecil di sebelah Hana. Hari ini tidak ada pasien, ia bisa menemani Hana seharian. Sudah hampir dua bulan sejak kunjungan Harold dan Hana masih tetap seperti itu. Adrian sadar, garis-garis di layar ECG itu bisa berubah menjadi garis horizontal kapan saja, ia tak selalu bisa memprediksinya. Dua tahun ini ia sudah berusaha mempersiapkan diri untuk kehilangan Hana, tapi semua itu tak pernah cukup.

Ia teringat pada kelakar Hana saat mereka baru menikah. Ia bilang ia bahagia memiliki suami seorang dokter karena bisa menjaga tubuhnya dari segala macam penyakit. Ia bilang, semua manusia pasti akan mati, tapi tidak ada manusia yang ingin mati dalam keadaan menderita.

Hujan turun setiap malam dan setiap malam terasa panjang. Kegelisahan Adrian semakin menjadi-jadi. Pada suatu titik, pikiran rasionalnya menjadi tumpul. Ia mengambil tabung berisi cairan sari bunga Jembatan Surga yang ada di dalam lemari. Bila kata-kata Harold benar, mungkin ia bisa membuat Hana bahagia. Ia tidak ingin Hana meninggal dalam keadaan tidak bahagia, itulah satu-satunya isi pikiran Adrian. Ia menyuntikkan cairan itu ke tubuh Hana dengan perasaan pasrah. Ketika jarum suntik itu dicabut dari kulit Hana, ia baru merasakan kekhawatiran dan penyesalan yang luar biasa. Orang bodoh macam apa ia, bisa-bisanya menyuntikkan zat tidak dikenal secara sembarangan? Mana mungkin ia bisa termakan gosip tidak jelas dari omongan orang yang tidak jelas? Bagaimana bila ternyata ia telah meracuni istrinya sendiri?

Seluruh tubuh Adrian gemetar ketika kesadaran itu muncul. Rasa takut menggerogoti pikirannya dengan perlahan. Namun perasaan itu menjadi lega ketika ia melihat sebuah senyuman merekah di bibir Hana. Bibir pucat istrinya itu, yang sudah dua tahun selalu layu, kini tersenyum. Senyum yang sangat indah, Adrian tak bisa menahan diri untuk mengecupnya dan memeluk tubuhnya.

Hana tersenyum, Hana bahagia. Tak lama kemudian layar ECG menunjukkan garis lurus yang entah kenapa terlihat begitu damai. Ia telah pergi, tapi bibirnya tetap tersenyum. Mungkin yang dikatakan Harold benar. Mungkin cairan tadi memang bisa membawa orang pergi ke surga.

Bagi orang yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan, surga, dan neraka seperti Adrian, rasanya sulit untuk mengakui hal tersebut. Bila seseorang mati dalam keadaan bahagia, dan kematian itu adalah keabadian, bukankah itu artinya ia bahagia secara abadi? Bukankah itu sama saja dengan surga? Adrian berusaha mencari pembenaran, tapi itu tidak penting, yang penting ia bisa melihat senyuman Hana dan merekamnya dalam ingatan.

Ia melepaskan alat-alat medis yang tersambung ke tubuh Hana, lalu menarik selimut putih hingga menutupi wajah perempuan itu, seperti yang biasa dilakukan orang-orang terhadap orang meninggal. Setelah itu ia beranjak pergi dari ruang perawatan sambil menyeka air mata haru yang menggenang di matanya. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri dan menyusun ulang perasaannya.

Saat Adrian membuka pintu kamar, hujan deras sudah mulai turun di luar jendela. Kilat menyambar diikuti suara petir yang menggelegar. Lalu ketika suara petir itu hilang, ia bisa mendengar suara mendesis-desis yang samar. Suara desisan, lalu berubah menjadi desahan, lalu menjadi semakin berat seperti seseorang yang menghembuskan napas dengan paksa.

Ia menoleh ke arah suara itu, ke arah jasad Hana yang ditutupi selimut putih. Dengan ragu-ragu, ia berjalan kembali mendekati tempat tidur. Suara napas itu terdengar semakin berat dan nyaring, lalu ia bisa melihat selimut yang menutupi wajah Hana bergerak naik-turun, seperti ditiup-tiup. Perlahan-lahan, tangannya menyingkap selimut itu. Ia bisa melihat wajah Hana yang sangat tidak normal. Matanya melotot, mulutnya tersenyum lebar. Bukan lagi senyuman manis seperti yang ia lihat tadi, tapi sudah berubah menjadi seringai jahat yang mengerikan. Lalu mulut Hana terbuka tiba-tiba, rahangnya seperti ditarik dengan paksa, napasnya semakin kuat berhembus, lalu ia mulai mengeluarkan suara.

Suara tawa. Suara tawa yang sangat nyaring dan memekakkan telinga. Adrian mundur beberapa langkah dan jatuh menghantam meja peralatan di samping tempat tidur. Kakinya lemas melihat wajah mengerikan istrinya itu. Bagaimana mungkin ia bisa tertawa? Bukankah ia sudah mati? Seharusnya ia tidak bernapas dan tidak bisa tertawa. Apa yang ia tertawakan?

Suara tawa Hana semakin lama semakin tinggi, semakin melengking dan menyakitkan, seolah menertawai kebodohan suaminya yang ceroboh. Hingga pada suatu titik, tawanya terdengar seperti suara kuntilanak di film-film horor murahan. Adrian menutup telinganya, ia menjerit, ia tidak tahan mendengar suara itu. Lalu dengan gerakan yang tergesa, ia mengambil gunting di atas meja, lalu menusuk tenggorokan Hana, membocorkan jalan napasnya.

Suara tawa Hana mereda, berubah menjadi helaan napas pendek yang kasar, lalu hilang sama sekali. Mulutnya mengatup dalam posisi normal. Tidak ada senyum, tidak ada ekspresi apa-apa. Sementara itu, pandangan mata Adrian menjadi gelap, tubuhnya lemas dan ia jatuh pingsan.


Kebencian Adrian terhadap bunga benar-benar terwujud. Di pemakaman Hana, tak ada seorang pun yang membawa bunga. Adrian melarangnya dengan keras. Bahkan seluruh keponakan Hana sudah diingatkan sejak awal agar jangan ada yang menaburkan bunga atau air mawar. Ia lebih rela kuburan istrinya ditanami rumput liar daripada ditaburi bunga-bungaan.

Harold tak pernah bisa dihubungi. Adrian mencari orang itu hingga ke Australia, ke rumahnya, laboratorium, bahkan universitas tempat ia pernah mengajar, tapi Harold benar-benar menghilang. Hingga pada suatu hari, saat sedang menunggu penerbangan pulang ke Indonesia, ia membaca berita tentang praktek euthanasia ilegal.

Orang-orang sakit yang menginginkan kematian telah disuntikkan suatu zat tak dikenal, lalu mereka meninggal dalam keadaan tersenyum. Namun saat dimasukkan ke dalam peti mati dan hendak dikuburkan, mayat-mayat itu tertawa tanpa henti. Masyarakat setempat terpaksa membongkar kembali peti-peti itu dan memenggal kepala mayat-mayat di dalamnya agar mereka berhenti tertawa. Hingga kini, orang yang melakukan praktek ilegal itu masih buron.

 

Published by

Muhamad Rivai

Muhamad Rivai lahir di Jakarta pada tahun 1988, tapi pindah ke kota Karawang saat kelas tiga SD. Pada tahun 2006 ia pindah ke Bandung untuk mengikuti kuliah di FSRD ITB. Setelah lulus, ia pulang kembali ke Jakarta untuk menekuni dunia tulis-menulis sambil mencari nafkah sebagai pekerja. Tulisan-tulisannya berupa cerpen dan puisi selama ini dimuat di blog pribadi dan di situs Kemudian dengan nama someonefromthesky. Pernah menerbitkan buku kumpulan cerpen Setelah Gelap Datang (Indie Book Corner, 2012), menyumbangkan satu cerpen di buku Cerita Horor Kota (PlotPoint, 2013), dan pernah juga mempublikasikan kumpulan cerpen digital berjudul Distorsi Mimpi (2009).