Muhamad Rivai

Fiksi dan catatan lainnya

Month: November 2014

Sakit

Ada perasaan lega yang muncul saat aku melangkahkan kaki ke kamar kos. Irama lagu itu, yang seharian tadi nonstop diputar di kantor, akhirnya bisa pudar juga dari memori otakku. Lagu itu benar-benar menimbulkan trauma. Aku bisa membayangkan, seandainya tahun depan perang dunia ketiga meletus, lagu itu pasti akan menjadi alat interogasi yang cukup ampuh.

Kututup pintu kamar erat-erat, lalu kuletakkan sebungkus empek-empek yang kubeli di perempatan jalan. Malam ini aku berencana untuk makan malam sambil mendengarkan beberapa musik dari laptop. Musik apa saja, yang penting bisa menetralisir sisa-sisa irama lagu itu dari kepala hingga benar-benar bersih seratus persen. Kunyalakan laptop, lalu kubuka program pemutar musik. Kukira aku sudah aman, kupikir semuanya akan berjalan mulus, tapi aku benar-benar salah. Belum sempat aku menekan tombol “play”, sebuah suara terdengar dari luar kamar.

Itu adalah suara anak tetangga. Merasa penasaran, aku mendekat dan mendengarkan suara itu baik-baik. Namun aku segera menyesal ketika menyadari apa yang sedang anak itu lakukan. Napasku sesak seketika dan tanganku gemetar.

Anak kecil usia TK itu sedang bernyanyi, menyanyikan lagu yang belum bisa ia pahami dengan otak polosnya, menebarkan teror dan kengerian ke dalam telingaku. Andai saja ia paham bahwa lagu itu diciptakan bukan untuk telinga manusia fana. Nada itu, nada dari kerak neraka yang meletup-letup. Irama itu, irama dari dentuman kehancuran di suatu sudut di jagat raya. Dan lirik itu, lirik durjana yang sanggup membangunkan mereka yang telah mati hanya untuk membunuhnya kembali.

“Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku. Sakitnya tuh di sini, melihat kauselingkuh,” dendang anak kecil itu tanpa menyadari kerusakan apa yang ia tengah ia perbuat di muka bumi.

Aku berusaha menjerit, tapi yang keluar dari tenggorokanku hanyalah desisan halus. Dapat kurasakan otakku meleleh menjadi bubur putih yang keluar dari lubang telinga; hangat, basah, dan kental. Lalu tanpa bisa kukendalikan, tubuhku terpelintir, wajahku mungkin sudah berubah seperti lukisan The Scream, dan entah apa yang terjadi selanjutnya.

Aku rasa, aku terjerembab ke dalam dimensi lain, sebuah dimensi yang mengerikan. Dalam dimensi itu, lagu tadi terdengar berulang-ulang, looping tanpa akhir, selama-lamanya, selama keabadian itu sendiri.

“Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini. Sakit … sakit … sakitnya tuh di sini.”

Buku Mealova, Gratis!

Alkisah, pada suatu hari saya diajak oleh Tante Catz Link Tristan untuk berpartisipasi di proyek kumpulan cerpennya. Kali ini proyeknya memiliki tema yang unik, yaitu masakan dan cinta. Oleh karena itulah kumpulan cerpen tersebut diberi judul “Mealova” yang merupakan bentuk penggabungan dari kedua tema tersebut (tidak ada hubungannya dengan novel/film berjudul mirip yang dulu pernah populer).

Awalnya saya agak ragu dengan tawaran tersebut. Sebab, melihat komposisi penulis-penulis lain yang tampaknya kompeten menulis cerpen romantis, saya mungkin akan kesulitan mengimbangi. Insting romansa saya mungkin sudah terlanjur dikeruk habis semasa remaja. Namun saya pikir, bukankah ini tantangan yang bagus? Sepertinya saya memang butuh variasi dalam menulis.

Ketika menyetujui tawaran ini, Tante Catz meminta agar saya juga memasukkan ciri khas tulisan sendiri ke dalam proyek ini, lalu memadukannya dengan tema yang ditentukan. Sebuah ide pun muncul dengan sangat cepat dan–mungkin–sudah bisa ditebak. Mencoba memadukan tema masakan + percintaan + supranatural, saya akhirnya membuat cerpen berjudul … Nasi Kuning Sesaji.

Cerita ini memang masih berhubungan dengan hal-hal mistis yang “kehantu-hantuan”, tetapi ini bukan cerita bergenre horor. Meski pada akhirnya tetap mendapat kritik bahwa tema percintaannya kurang menonjol, tapi saya merasa senang menulis cerita ini, apalagi mendapat kesempatan satu buku dengan teman-teman penulis yang sangat antusias mengerjakan proyek ini (Catz Link Tristan, Glenn Alexei, Eva Sri Rahayu, Lily Zhang, Liz Lavender, Try Novianti, Alfian N. Budiarto, Renee Keefe, Raziel Raddian).

Buku kumpulan cerpen ini sudah diterbitkan oleh Grasindo pada tanggal 10 November lalu dan bisa ditemukan di toko-toko buku.

Nah, pada kesempatan ini saya ingin membagikan 2 buah buku Mealova gratis kepada kawan-kawan yang beruntung.


Caranya:
1. Kamu harus punya akun Twitter
2. Tulislah twit singkat yang menceritakan pengalaman paling manis/romantis kamu yang berhubungan dengan masakan. Saya yakin kamu lebih mampu dibandingkan saya.
3. Mention twitter saya @rivaimuhamad dan sertakan hashtag #mealovagratis
4. Waktunya adalah sejak pengumuman ini dibuat hingga tanggal 23 November pukul 12.00 siang.
5. Dua orang yang beruntung dengan twit paling menarik akan mendapatkan buku Mealova gratis! Pemenang diumumkan pada tanggal 24 November
6. Keputusan juri tidak dapat diganggu-gugat.

high score

New High Score!

Sejak kubelikan X-Box dan Kinect sebagai kado ulang tahunnya, adikku semakin hobi bermain video game. Ia melompat-lompat dan menari-nari di depan televisi setiap pulang sekolah. Kupikir ini adalah ide bagus. Selama ini ia selalu bermain game dengan duduk di depan komputer atau tiduran di atas kasur sambil memegang ponsel. Ia jadi jarang bergerak, sementara aku khawatir berat badannya yang semakin bertambah akan membuat tubuhnya tak sehat. Dengan game jenis baru ini, setidaknya peredaran darahnya menjadi lebih lancar, ia juga jadi tampak lebih bersemangat.

Kadang-kadang, aku bermain dengannya pada hari libur atau ketika aku pulang kerja lebih awal. Permainan yang sedang ia gandrungi adalah sebuah platform game yang mengharuskan pemain melompat-lompat agar tokoh dalam game tidak jatuh ke dalam jurang. Permainan itu sangat adiktif. Musiknya menyenangkan, sistem skor yang digunakan juga membuat kami berlomba-lomba untuk mengungguli satu sama lain. Aku pun menyukainya dan nyaris ketagihan. Namun lama kelamaan aku sadar, adikku sudah mulai keluar batas. Kadang ia bermain hingga larut malam, bahkan pada pagi hari ia menyempatkan diri untuk bermain sebelum sarapan. Aku tak bisa membiarkannya melakukan aktivitas fisik yang berlebihan, sebab sejak kecil ia memiliki kondisi jantung yang agak lemah.

Akhirnya, dengan berat hati, aku membuat peraturan. Ia hanya boleh bermain pada hari Sabtu dan Minggu, selebihnya ia harus belajar atau melakukan aktivitas lain yang tidak terlalu melelahkan. Aku berusaha tegas. Sejak orang tua kami meninggal, akulah yang bertanggung jawab untuk menjaganya.

Kukira ia benar-benar menurut. Sejak kubuat peraturan itu, aku memang tak pernah lagi melihat ia melompat-lompat di depan televisi setelah pulang sekolah. Namun adikku itu tak hanya lemah secara fisik, ia juga bebal dan kekanak-kanakan, bahkan kurasa ia agak terbelakang secara mental.

Suatu malam, aku terbangun dari tidurku karena harus buang air kecil. Ketika hendak kembali ke dalam kamar, aku menyadari ada cahaya-cahaya yang tidak biasa dari ruang tengah. Aku memeriksa ruangan itu dan mendapati adikku sedang bermain video game diam-diam dengan lampu ruangan yang dimatikan dan suara yang dikecilkan. Aku memarahinya habis-habisan. Kupaksa ia mematikan televisi dan masuk ke dalam kamarnya. Ia meminta maaf dan berjanji bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi. Rupanya ia sangat penasaran ingin memecahkan high score yang kucetak minggu lalu. Alasan yang kekanak-kanakan sekali.

Sayangnya, setelah kejadian itu, aku masih saja tak bisa tegas. Seharusnya aku menyembunyikan X-Box itu dan menguncinya di dalam lemari. Namun aku malah membiarkannya di tempat semula, entah karena malas atau terlalu percaya pada janji adikku. Hingga pada suatu malam, aku menyesali kelalaianku itu.

Saat itu aku harus kerja lembur hingga pukul sebelas malam. Aku sudah memesankan makanan untuk adikku lewat delivery service dan berpesan agar ia segera tidur setelah mengerjakan PR. Namun saat aku pulang tengah malam itu, aku menyadari bahwa televisi dan X-box sedang menyala di ruang tengah. Ia mengulanginya lagi. Namun kali ini adikku tidak sedang melompat-lompat, ia sudah terkapar di atas lantai, tak bergerak sedikit pun. Jantungnya sudah tidak berdetak. Aku terlambat.

Aku dirundung kesedihan sejak kejadian itu. Aku merasa gagal mengemban amanat kedua orangtuaku. Selama hampir dua minggu lamanya, aku tak bisa menonton televisi di ruang tengah karena hal itu hanya akan membuatku depresi. Hingga pada suatu sore di akhir pekan, aku memutuskan untuk bangkit dan menghadapi kesedihanku sendiri. Aku tak boleh berlarut-larut. Kunyalakan X-Box dan televisi, lalu kucoba memainkan game yang dulu dimainkan adikku. Hanya dengan begitulah aku bisa pulih dan mengikhlaskan kepergiannya.

Setelah beberapa kali bermain, aku menyadari bahwa high-score yang kucetak setiap sore selalu saja dipecahkan. Bukan olehku, tapi oleh pemain lain. Mungkinkah aku pernah salah memasukkan nama dan–karena terlalu sedihnya–malah memasukkan nama almarhum adikku sendiri?

Kemarin malam, aku terbangun dari tidur karena udara terasa panas dan aku merasa haus. Waktu itu kira-kira pukul setengah satu dini hari. Aku mengambil minum di dapur dan berniat untuk kembali ke kamar. Namun saat melintasi ruang tengah, aku melihat cahaya-cahaya berkilatan samar. Kulangkahkan kakiku ke arah ruangan itu. Pikirku, mungkin sebelum tidur aku lupa mematikan televisi, Namun ketika langkahku semakin dekat, aku bisa mendengar suara musik yang sangat familiar di telingaku.

Aku mengintip dari balik dinding. Lututku lemas, sekujur tubuhku merinding. Di sana, di depan televisi dan X-Box, aku dapat melihat siapa yang selama ini selalu memecahkan skorku. Adikku sendiri. Adikku yang sudah meninggal melompat-lompat di tengah ruangan yang gelap. Cahaya warna-warni dari layar televisi menyinari wajahnya yang pucat, matanya yang putih mendelik, dan bibirnya yang hitam tanpa ekspresi. Setiap kali ia mendarat, lalu melompat lagi, aku dapat mendengar suara gesekan samar dari kain kafan yang masih membungkus tubuhnya. Entah berapa kali ia melompat, aku tak menghitungnya, sebab aku jatuh pingsan ketika suara dari game berteriak nyaring, “New high score!”

 


Foto oleh: Morgan
Lisensi: Attribution 2.0 Generic

Powered by WordPress & Theme by Anders Norén