Mengusir Hantu Bernama Sayu (2)

Part 2: Urban Legend

Hujan tak kunjung reda. Para pegawai kantor bertahan di menara mereka, berteduh di antara jendela-jendela kaca dan tembok-tembok kaku. Sebagian yang cukup beruntung membawa mobil pribadi memutuskan untuk pulang sambil menerjang hujan, sementara yang lain berusaha untuk tetap sabar sambil bertanya-tanya apakah malam ini banjir akan kembali melanda ibukota. ​​

​​Meski tidak membawa kendaraan pribadi, Denny tidak bisa bertahan di kantor. Ia sudah cukup muak melihat meja kerjanya. Sudah seribu satu malam ia habiskan untuk lembur tetapi berkas pekerjaan masih saja menumpuk. Ia merasa dijajah.

Sambil keluar dari kubikel, ia memesan taksi online lewat ponselnya. Biasanya ia tidak akan memesan mobil bila bepergian seorang diri, tapi hujan deras ini tak memberinya pilihan. Apalagi ia teringat bahwa masih ada voucher diskon lima puluh persen yang sudah lama tak digunakan.

Sambil menunggu notifikasi di ponsel, ia turun menggunakan lift dari lantai enam, kemudian menyusuri lorong hingga ke lobi gedung tanpa bertegur sapa dengan siapa pun. Tak banyak yang mengenalnya di gedung ini. Ia baru dua bulan pindah dan sebagian besar waktunya ia habiskan di depan meja.

Selain satpam gedung yang sedang berjaga di samping pintu, hanya ada dua orang karyawan yang berdiri menunggu mobil di lobi. Musik lounge terdengar samar-samar dari pengeras suara. Melodinya bercampur dengan ritme suara hujan dari luar, menimbulkan ambience yang cocok untuk bermalas-malasan. Tiba-tiba, saku celana Denny terasa bergetar. Ia memeriksa ponselnya sekali lagi.

​​Kami menemukan pengemudi untuk Anda. Mohon memenunggu.

Continue reading Mengusir Hantu Bernama Sayu (2)

Mengusir Hantu Bernama Sayu (1)

Part 1: Atmosfero

Gantungan tasbih bergoyang-goyang ketika mobil yang Adam kemudikan mengerem mendadak. Malam itu, pukul dua puluh, cuaca lumayan cerah dan jalanan masih ramai dengan orang-orang yang pulang dari kantor menuju rumah masing-masing. Namun kali ini tujuan Adam bukanlah rumah, melainkan sebuah tempat yang baru pertama kali ia datangi.

“Di sini, Pak?” tanya Adam kepada Haris, manajernya yang sedang duduk di sampingnya sambil mengetik sesuatu di ponsel.

Haris menoleh.

“Oh iya, belok kiri ke sini. Masuk aja ke parkiran.”

Sejak siang tadi, Haris memang sudah meminta Adam untuk mengantarnya ke tempat ini. Alasannya, karena hari ini adalah tanggal ganjil dan mobil BMW yang ia miliki bernomor genap. Sementara itu, mobil Avanza Adam bernomor ganjil sehingga tidak akan terkena razia ganjil-genap. Meski Adam tentunya bukanlah supir pribadinya, tapi ia adalah stafnya yang paling akrab. Sudah dua tahun ini mereka bekerja bersama dan kedekatan Adam dengan bosnya seringkali membuat staf yang lain merasa iri.

Area parkir itu lumayan luas. Ada tiga buah mobil yang sudah diparkir di sana, semua terlihat lebih mewah dan bersih daripada mobilnya. Dalam hati, Adam menduga satu-satunya alasan Haris memintanya mengantar adalah untuk menutupi jejak agar tidak ada yang tahu (termasuk supir pribadinya) bahwa ia berkunjung ke tempat ini. Ia memarkikran mobilnya di sebelah Fortuner hitam dengan hati-hati. Tak jauh dari tempat parkir terdapat plang neon kecil bertuliskan “Atmosfero Relaxation” berwarna pink dan biru yang berkedip-kedip. Ia membayangkan, tempat ini mungkin semacam griya pijat, atau spa, atau apa pun yang berhubungan dengan suasana relaks.

Continue reading Mengusir Hantu Bernama Sayu (1)